Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
Bukan Perkara Mudah


__ADS_3

Selamat membaca....


***


Qiana POV


Hari-hari terus berlalu semanjak hari lamaran dan kembalinya aku ke Bandung, membuatku merenungi  dan belajar  banyak hal. Kehidupan terus berlanjut kadang di bawah, kadang di atas dan aku sangat paham akan hal itu, ini bukan hanya perkara rezeki  tapi tentang banyak hal yang lebih kompleks dari yang muncul di permukaan.


Dan di usia 26 tahun ini aku bertemu dengan sosok lelaki yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, lelaki yang awalnya aku kira cuek dan akan sulit diajak berbicara ternyata memiliki sejuta pesona yang luar biasa,


terlebih ketika dia datang padaku untuk mencari bukti tentang kebenaran bahwa Dafa adalah darah dagingnya, sangat gigih pikirku waktu itu. Sosoknya cenderung sama denganku, terlalu monoton dengan hal yang itu-itu saja, mungkin karena aku dan dia sama-sama pernah melalui hari-hari sepi yang kelabu.


Tapi jangan pernah lupa dengan kata-kata dari pahlawan wanita kita Raden Ajeng Kartini ‘HABIS GELAP TERBITLAH TERANG’ dalam konteks kehidupan kata-kata itu sangat mujarap untuk di jadikan pengingat dan penyemangat diri yang tengah terpuruk.


Dan sekarang jalan ku telah kembali terang meninggalkan terowongan gelap di belakang sana bahkan perjalananku kali ini tak lagi sendiri, sudah ada Dafa dan Mas Akbar yang siap menemani sisa perjalananku selama di dunia ini. Untuk kesekian kalinya juga, aku harus bersikap cuek dan bodo amat dengan orang-orang yang iri dan mengganggu ketentramanku di dunia ini, sekalipun masih ada rasa khawatir di dalam hati tapi aku harus menekannya agar aku bisa menjalani hidup dengan ketenangan yang hakiki, karena semua yang terjadi di kehidupanku sudah ada yang mengaturnya dengan sangat apik.


“Doooorrrrrrr……!!!” teriak Fani mengagetkanku yang tengah melamun sambil mengaduk bubur.


“Astagfirullah Dek, kamu itu yah obi banget ngagetin orang tau nggak,” ucapku sambil mengelus dada.


“Hehehe iya Mbak maaf ya, Mbak kok masak bubur ayam lagi?” tanyanya padaku.


“Hari ini Abang kamu kesini sebelum jemput orang tua Mbak di bandara, jadi Mbak  bikin buryam lagi.” Jawabku sambil tersenyum, hmm beberapa hari tidak bertemu Mas Akbar sudah berasa aneh rasanya mungkin taraf nyamanku terhadap Mas Akbar sudah meningkat hehehe.


“Aishhh… Mbak udah tahu ya kalau buryam itu makanan kesukaannya si Abang?” tanyanya sambil mendekatkan badannya ke sampingku.


“Iya.” Jawabku singkat.


“Oh iya Mbak, kalau keluarganya Mbak balik kesini kamarnya nggak muat dong, disini kan cuma ada dua kamar tidur,” ucap Fani dengan raut muka seriusnya, jarang-jarang aku bisa lihat muka serius Fani yang doyan banget

__ADS_1


becanda ini, gumussh.


“Tenang aja, muat kok. Tinggal kamu buka pintu yang deket ruang tengah itu nanti pasti kamu lihat banyak kamar di sana.” Jawabku sambil menunjuk kearah belakang tubuhku.


“Hah… serius Mbak? Boleh Fani ke sana?” tanya Fani dengan mata berbinar dan raut wajah keponya yang kebangetan, hehehe lucu juga Fani ini selalu menunjukkan apa yang dirasa dengan ekspresi-ekspresi yang menggelitik perut jika di perhatikan dengan seksama.


“Boleh kesana aja, di sana ada Bi Ani juga lagi bersih-bersih,” ucapku, tapi dia belum juga beranjak dari sisiku wajahnya menyiratkan seakan banyak hal yang ingin dia tanyakan.


“Eh, Mbak tapi ruangannya nggak serem kan? Apa itu gabung sama rumah sebelah yang kelihatan terawat tapi kosong itu?” tanyanya lagi padaku, sungguh jiwa keponya sangat tinggi calon adik iparku ini.


“Iya  rumah sebelah itu rumahnya Nenek Mira juga, cuman karena Nenek  tinggal sendiri di sini jadinya dipisah di kasih pintu sendiri dan di buka kalau anak-anaknya pada pulang, kumpul semua disini. Biar nggak ngerasa sepi banget kalau tinggal di rumah besar sendirian, tapi ruangan sebelah itu sering di tinggali sama Bi Ani dan Mang Didin kok, seminggu bisa 3 sampai 4 kali mereka nginep di sini.” Jawabku menjelaskan pada Fani, ternyata selain kepoan Fani juga parnoan hihihi.


“Alhamdulilah aman, aku kira kosong terus kan jadi mikir serem-serem akunya Mbak, hihihihi,” ucapnya sambil berlalu meninggalkanku.


Aku hanya tersenyum melihat kelakuan Fani yang cukup menghiburku, hmm begini rupanya memiliki seorang Adik, terlebih seorang Fani. Orang yang sangat humoris dan santai dalam menyikapi segala sesuatu meski kadang emosinya masih meledak-ledak, tapi ada kalanya dia bisa bersikap dewasa dan menjadi pendengar yang baik, seperti waktu itu saat Bella meenelepon dan mengancamku, Fani menjadi orang pertama yang membantuku.


Ting…tong….ting…tong….


Ceklek…


Plakk….


“Astagfirullah…” pekikku kaget, karena tiba-tiba ada seorang wanita yang menamparku dengan keras.


“Ada apa Qi…?” teriak Tiwi dari arah dalam dan aku tak menyahutinya sama sekali karena shock dengan wanita yang ada di hadapanku, dia wanita yang cukup gigih batinku.


“Bella?” ucapku.


“Yes, I am. Kenapa kaget kamu? Dasar murahan, nggak tau diri sukanya merebut kebahagian orang,” ucapnya dengan notasi tinggi, sarapanku kali ini bukan lagi bubur ayam atau wajah Mas Akbar lagi seperti hari kemarin, tapi kicauan Bella yang menyayat hati.

__ADS_1


“Kamu belum kapok ya Bell?” tanyaku lembut, karena percuma jika aku ikut-ikutan keras seperti dia, malah nguras tenaga.


‘Aku nggak akan pernah kapok sampai kamu kembaliin Akbar dan Dafa ke aku,” ucapnya lagi dengan penuh penekanan, seakan-akan Mas Akbar dan Dafa ini sebuah barang yang bisa dia buang dan pungut sesuka hati.


“Sudah lah Bell, jangan merendahkan harga dirimu sendiri dengan menjilat ludah sendiri. Semua sudah ada jalan takdirnya masing-masing. Jangan usik kehidupan orang lain, lebih baik fokus dengan hidupmu sendiri dan mulai semuanya dari awal,” ucap Tiwi dari arah belakangku.


“Kamu nggak usah ikut campur Tiw, jangan sampai aku menampar wajahmu juga,” ucapnya dengan badan yang sudah berusaha menerobos tubuhku dan Tiwi yang menghadap pintu, sampai lengan kokoh seseorang menariknya menjauh.


“Kamu sudah saya ingatkan ya, jangan macam-macam kamu!” ucap Mas Akbar dengan wajah datarnya.


“Kalian? Kenapa ada di sini lagi?” tanya Bella bingung, sama aku juga bingung karena di belakang Mas Akbar sudah ada keluargaku dan keluarga Mas Akbar yang tengah keluar dari mobilnya masing-masing.


“Waooowww… surprise…..” teriak Fani dari jendela kamar yang sudah terbuka lebar.


“Ini biar aku yang urus aja Bar, kamu sama yang lain masuk aja,” ucap Pak Bagas, Whaattt? Pak Bagas anak pemilik rumah sakit tempatku bekerja dulu.


“Bawa aja, kasih tahu dia tentang ketentraman dan kebahagian yang halal bukan yang kaleng-kaleng dengan merebut dari orang lain,” ucap Bang Reza yang sudah berdiri di belakang Mas Akbar.


“Jangan, aku masih mau ngasih pelajaran sama cewek murahan ini,” teriak Bella dengan emosi yang lebih meledak-ledak.


“Huh… dasar Makkk Lampir ngga tau diri.” Teriak Fani sambil membelalakkan matanya kea rah Bella.


Akhirnya Bella di seret pergi oleh Pak Bagas entah mau di bawa kemana, huwaa sarapan yang cukup mengenyangkan. Oh iya, kenapa jadi dua keluarga udah  pada datang, wahh Mas Akbar tipu-tipu rupanya.



Hidup di zaman sekarang memang bukan perkara mudah iri dan benci bukan dikubur dan di hilangkan malah semakin di pupuk. Tapi bukan kebahagiaan yang akan dituai malah sengsara yang berkepanjangan yang akan setia menamani hati yang sempit.


__ADS_1


**Terimakasih telah membaca… jangan bosen-bosen ya**.


__ADS_2