Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
Gara-Gara Video


__ADS_3

Selamat membaca semua…


***


Author POV


Musim dingin di Korea pada bulan Desember tidak menyurutkan semangat gadis muslim yang kini tengah berjalan menuju tempat tinggalnya dari restaurant yang ia rintis bersama dengan Andin. Semangatnya kembali datang setelah menghabiskan waktu hampir 3 jam mengobrol dengan Aziz, saudara tiri dari pria yang sudah berani masuk dalam kehidupannya. Awalnya dia sangat tidak nyaman dengan kehadiran Aziz dihdapannya, tapi Allah maha mendengar apa yang dia rasa dan mungkin juga karena ada seseorang yang jauh disana yang sedang bersimpuh dan berdo’a untuknya juga.


Tenang dan senang… membaur menjadi satu dalam hatinya yang sebulan ini hampir tandus padahal di Korea sedang musim dingin. Sepanjang jalan tak henti-hentinya gadis itu menebar senyuman manisnya pada setiap orang yang berpapasan dengannya. Tak peduli bagaimana Aziz kini yang mungkin sedang meratapi nasibnya di restaurant bersama dengan Andin, ah siapa suruh dia begitu egois di usianya yang akan memasuki usia 30 tahun,2 bulan lagi.


Ting…


Gadis berpakaian tertutup dibalut dengan jaket tebal tidak lupa dengan kerudung bermodel simple itu sudah memasuki apartemen sahabatnya, Andin. Tangannya bergerak lincah menekan-nekan pengontrol suhu ruangan agar tetap hangat, lalu dia melepas jaketnya dan duduk di sofa depan tv. Tanganya sibuk mengobrak-abrik isi tasnya mencari gawai yang tadi sempat dia masukan ke dalam tas sebelum pulang dari restaurant. Rasanya dia ingin segera menghubungi orang yang jauh disana, berbagi rasa bahagia yang dia rasa saat ini.


“A Bagas lagi apa ya, ngganggu nggak ya? Hmm coba aja lah.” Gadis itu pun menggeser-geser layar gawainya dengan penuh semangat, berharap yang berada jauh disana menjawab panggilan teleponnya dengan cepat.


Tut..tut..tut… percobaan sekali, dua kali, tiga kali, gagal… teleponnya masuk tapi tidak diangkat. Dadanya seketika sesak, takut jika Bagas disana sudah benar-benar pasrah akan hubungannya.


“Arrgghhh… tapi tadi dia di rumah ngobrol sama Tante dan Om. Apa dia tidur ya, tadi kan pamit ke kamar?” dia terus mencoba dan mencoba, meski rasa khawatir begitu dominan ia rasa tetap saja tak menyurutkan usahanya untuk menghubungi Bagas.


“Assalamu’alaikum.” Suara berat disebrang sana sudah terdengar, membuat degup jantungnya berpacu


dua kali lebih cepat dari biasanya. Senyum manis itu kembali terbit di wajahnya yang sempat murung.


“Wa’alaikumsalam A. Apa kabar?” ucapnya lembut.


“Alhamdulillah baik, gimana urusan kamu di Korea masih lama?” Ah padahal gadis itu ingin mendengar orang terkasihnya bertanya tentang kabarnya atau menyatakan rasa rindunya, tapi di luar dugaan malah menanyakan pekerjaannya.


“Ishh, Aa ini nggak nanya kabarku dulu atau bilang rindu gituh malah menanyakan pekerjaan.” Sewotnya, mengundang gelak tawa dari sebrang sana.


“Hahaha, Aa tahu tanpa bertanya tentang kabarmu. Suaramu saja penuh dengan semangat, sudah pasti kamu baik-baik saja disana… entah dengan hatimu,” lirihnya.


“Hmmm, terimakasih sudah mengerti aku A. Maaf tidak pernah mengabari selama satu bulan ini.”


“Aku juga minta maaf tidak pernah menanyakan kabarmu selama kamu pergi.”

__ADS_1


Hening… hanya terdengar nafas yang berhembus dari keduanya.


“A… tadi Fani ketemu sama Bang Aziz.” Ucap Fani seraya berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum.


“Terus? Ngobrol apa aja?” tanya Bagas.


“Abang mau tahu obrolan kami dari awal apa langsung intinya?” tanyanya lembut, seraya meraih gelas yang sudah terisi air minum.


Glek…glek..glek…


“Minum sambil duduk Fani…” suaa berat itu mengingatkan, seolah tahu apa yang sedang gadisnya lakukan di sebrang telepon saat ini.


“Hehehehe, Aa tahu aja. Bentar-bentar Fani ngisi air lagi terus duduk,” jawabnya dengan kekehan kecil.


“Kamu itu kebiasaan, habis ambil minum nggak nyari kursi dulu langsung aja sikat.”


“Hehehe, iya A biasa tempat baru nggak kayak di rumah, disini kursinya lumayan berjarak hehehe,” jawabnya seraya mendudukan tubuhnya di kursi meja makan.


“Ayo cerita,” ucap Bagas.


“Hm, jadi gini Bang tadi itu kan aku mau keluar dari tempat makan ternyata Bang Aziz juga ada di tempat yang sama dan dia manggil aku. Terus ngajakin ngobrol, tapi tenang aja aku ngobrolnya nggak berdua kok ditemenin Andin. Biasalah dia ngegombal gituh, bilang kangen sama aku, nanya kapan aku balik dan ngasih keputusan buat hubungan kita yang rumit ini. Banyak sih sebenernya yang kita obrolin A, sampai hampir 3 jam an disana.”


“Lalu?”


“Saat Bang Aziz asyik bercerita kesana-kemari ada notif pesan masuk dari Syta, ternyata dia ngirim video. Aa tahu video yang dikirim itu video kamu loh A,” ucapnya menggantung.


“Maksud kamu? Video Aa yang apa, perasaan disini Aa nggak ngapa-ngapain  dan nggak pernah ngevideo apapun dan nggak pernah divideo siapapun tuh,” jawabnya dengan gusar takut jikalau video yang enggak-enggak, hasil editan untuk memojokkannya dan benar-benar menyerah atas hubungannya.


“Hehehe, santai dong Aanya.  Videonya hot banget loh a, aku suka.” Tambah gusarlah yang disebrang telepon, merasa tidak pernah melakukan apa-apa, apalagi yang hot.


“Kamu ini bicara apa sih Fan, yang jelas dong malah godain Aa.”


“Hehehe, tadi Aa ngobrolkan sama Om dan Tante di ruang keluarga. Aa pakai kaos biru navy celana selutut warna abu-abu kan?” tanya Fani.


“Hm, kok tahu? Video apa yang Syta kirim, buruan kasih tahu,” ucapnya penasaran.

__ADS_1


“Iya tadi itu Syta ngerekam Aa, waktu Aa sama Om dan Tante ngobrolin permasalahan kita terus dikirim ke Bang Aziz.”


“Apa Bang Aziz masih marah padaku dan Mama?” tanyanya lirih, Bagas masih tidak berharap banyak Aziz akan mengerti tentang situasi yang begitu rumit ini, apalagi Aziz merasa menjadi pihak yang paling dirugikan dalam permasalahan ini.


“Alhamdulillah A, Bang Aziz sudah mau menerima kembali Tante Eni dan juga keluarga barunya.”


“Hah? Apa kamu lebih memilih Bang Aziz daripada aku Dek?” tanyanya dengan lemas.


“Enggak Aa, Bang Aziz sudah menerima tanpa syarat dan aku tetap akan bersama dengan Aa,” ucap Fani bahagia.


“Alhamdulillah… tapi Bang Aziz nggak apa-apa kan?” Ah sesakit apapun hatinya akibat rasa iri yang bersarang dihati Aziz, bagaimana pun juga lelaki itu sudah menjadi Abang tirinya. Dan sebagai orang yang pernah merelakan cintanya untuk memilih orang lain, Bagas juga paham jika Aziz saat ini mungkin sedang patah hati. Tidak ada


salahnya jika dia bertanya pada Fani, karena dia cukup mengkhawatirkan saudara tirinya itu.


“Bang Aziz terlihat menyesal karena tidak mampu memahami Maminya sendiri, dia juga merasa sangat egois setelah mendengar jawaban Aa tadi saat mengobrol dengan Om dan Tante, dia malu sama umur katanya. Dia juga tidak mau mengulangi kesalahan yang sama dengan Papinya, yang menutup mata, telinga serta hati atas kenyataan yang ada. Tadi juga untung ada Andin yang ikut memprovokasi agar Bang Aziz menerima semua takdir ini dengan lapang dada,” jelas Fani.


“Alhamdulillah…. Ya Allah, ah kayaknya aku harus mentraktir Syta hahaha. Sekarang Bang Aziz dimana? Aku mau bilang terimakasih juga kepadanya karena sudah mau melapangkan hatinya, untuk menerima semua takdir yang sudah ditetapkan Allah ini.” Rasa khawatir yang sedari tadi mendera hatinya sudah berubah menjadi rasa bahagia


tak terkira, penantiannya tak sia-sia.


“Iya A Alhamdulillah, tadi Aa tahu nggak? Awalnya aku punya ide buat bikin ilfeel Bang Aziz hehehe. Awal-awal ngobrol aku sengaja nyusut ingus hahaha, kebetulan musim dingin disini, terus ya aku sendawa keras banget hehehe, mukanya Bang Aziz tad udah merah banget A hahaha. Kayaknya beneran deh dia cuma obsesi aja sama aku soalnya selama kenalkan Bang Aziz nggak tau aku luar dalem. Beda sama Aa yang udah tau aku dari orok,” ucapnya sambil terkekeh sedangkan Bagas disebrang sana sudah tertawa dengan keras mendengar cerita Fani.


“Kamu itu ya, ada-ada aja. Hah… tapi emang kamu jorok Dek nggak usah pura-pura juga udah emang nyatanya kek gituh,” goda Bagas.


“Ish..ish…ish… tak patut… Eh…A tapi ada masalah satu lagi dan ini Fani minta bantuan Aa banget.” Ucapnya lirih.


“Apa itu?”


“Bantuin Bang Aziz buat meminta maaf pada Tante Eni, karena Bang Aziz malu merasa tak enak hati dengan Maminya.”


“Iya Dek, pasti Aa akan bantu. Dan ini akan menjadi hadiah ulang tahun terbaik untuk Mama.”


***


Selamat hari IBU untuk semua IBU dan calon IBU…. Kalian wanita hebat, tangguh, dan cerdas, selamat mengemban peran penting dalam kehidupan… MENCETAK GENERASI HEBAT…

__ADS_1


***


Terimakasih telah membaca….


__ADS_2