Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
6. Maaf


__ADS_3

~Tak perlu tampak sepadan untuk berjalan beriringan, kadang buah yang manis harus bercampur dengan buah yang masam untuk menjadi harmoni unik di lidah~.


Satu jam yang lalu


“Qiana, kamu langsung masuk temuin Bu Pur ya bilang kita dateng ajak Setiya juga.” Perintah Bagas.


“Iya Pak Bagas, mari Pak Setya” ajak Qiana canggung.


“Ehm, panggil Setya aja Qiana jangan terlalu formal padaku,” Kata Setya dingin dan hanya mendapat anggukan dari Qiana.


Dalam hati setia merutuki dirinya, selalu saja dingin pada Qiana semenjak kejadian itu. Dia ingin meminta maaf tapi kebiasaanya belum berubah, selalu saja memperlihatkan sisi dinginnya.


“Assalamualaikum Bu Pur.” Salam Qiana.


“Wa'alaikumsalam, Nak Qia.” Jawab Bu Pur sambil tersenyum.


“Duduk dulu Nak Qia sama temannya, saya kebelakang dulu manggil Tono sama Sumi,” Kata Bu Pur, beliau sudah sangat hafal dengan kedatangan Qiana jika memakai pakaian kerja seperti ini pasti urusannya dengan yayasan dan pastinya membawa barang-barang keperluan panti.


“Huuuuwaaa….huwaaa…huwaa..” suara tangis balita berkisar 2 setangah tahunan keluar dari salah satu kamar panti, dengan mengusap air matanya yang turun dengan deras dilihat anak itu baru saja bangun dari tidurnya.


“Huwwaaa… B..bundaa… ndong,” Kata balita itu dengan suara isakan sambil mengangkat tangan mungilnya kedepan, meminta gendong pada Qiana.


“Cup..cupp…cup…Dafa kenapa nangis sayang?” Tanya Qiana lembut sambil mengangkat tubuh Dafa kedekapannya.


“D..da fa angen cama bunda,” Kata Dafa masih dengan isakannya.


Dafa mengalungkan tanganya ke leher Qiana yang tertutup jilbab dan menyenderkan kepalanya. Dafa memang dekat dengan Qiana semenjak Dafa datang ke panti ini. 2 tahun yang lalu Dafa bayi ditemukan di depan panti dengan surat di sampingnya. Keesokkannya Qiana mendapat jadwal kunjungan ke panti mewakili RS seperti biasanya dan melihat Dafa kecil, hatinya teriris orang tua seperti apa yang tega menelantarkan buah hatinya sendiri. Ingin sekali dia merawat Dafa membawanya pulang, mendekapnya setiap saat tapi dia urungkan karena dia masih single kalau Dafa ikut Qia bagaimana Dafa ketika dia sibuk bekerja di RS. Karena seringnya Qia mengunjungi Dafa, membuat Dafa nyaman berada dekat dengan Qia, dan memanggilnya dengan sebutan Bunda.

__ADS_1


Setya hanya memandang kagum pada Qiana, ternyata dia memang keibuan dan tidak pernah berubah semenjak pertama kali dia bertemu. Selalu dekat dengan anak kecil dengan begitu mudahnya.


“Dafa kok disini sayang?” Tanya Bu pur ketika melihat Dafa dalam gendongan Qiana.


“Ah, ini dia menangis Bu dan minta gendong Qia. Oh iya Bu di depan ada Pak Bagas, tadi beliau nyuruh saya bertanya ke Ibu barang-barangnya ditaruh di tempat biasa atau mau langsung dipakai, di bawa ke dapur?” Tanya Qia.


“Di tempat biasa aja nak, Tono kamu aja yang kedepan sekalian bantu Pak Bagas dan yang lainnya bawa barang-barangnya ke tempat biasa.” Perintah Bu Pur.


Dan disinilah sekarang di taman samping panti duduk di bawah pohon mendengar celotehan khas bayi dari mulut kecil Dafa. Sesekali mereka terlihat tertawa lepas, melupakan yang telah berlalu. Tadi Qiana dan Setya sempat menyusuri panti melakukan pengecekan apa saja yang perlu dibenahi secara fisik bangunan, tinggal nanti melihat data-data panti untuk melihat sistem administrasinya untuk pengembangan panti. Sekalipun masih biacara seperlunya, tapi kehadiran Dafa di tengah-tengah mereka cukup mencairkan suasana.


***


Semenjak kejadian beberapa waktu lalu di panti komunikasi antara Qiana dan setya perlahan membaik tak secanggung saat pertama kali bertemu kembali. Hari ini mereka herencana akan menghabiskan waktu libur bersama ke Bandung mengunjungi rumah nenek Qiana. Perjalanan yang cukup lama membuat Setya berkesempatan berbicara lebih banyak tanpa takut terganggu oleh orang-orang disekitarnya seperti saat mereka berada di RS.


"Qi, aku ngerasa banyak salah sama kamu. Apalagi semenjak kejadian itu. Aku bener-bener keterlaluan sama kamu, udah nge.." Ucap Setya terpotong.


Setya kembali memfokuskan pandangannya ke depan, mungkin dia paham dengan keadaan Qiana saat ini. Apalagi yang perlu dia harapkan, sedangkan Qiana dengan baik hati menerima penawaran Setya yang ingin mengantarnya ke Bandung. Bukankah itu sudah pertanda baik, bahwa Qiana telah memaafkannya dan bersikap biasa saja. Tapi hati Setya tak bisa berbohong, dia masih merasa bersalah sebelum meminta maaf langsung pada Qiana.


"Oke, sorry Qi," Kata Setya.


"Nope, Set. Aku paham kok. Oh ya nanti mampir di toko kue depan itu dulu ya," Ucap Qiana sambil menunjuk toko dekat pertigaan. Setia mengangguk paham.


"Waw, tema tokonya bagus banget Qi. Bisa dijadikan edukasi buat anak-anak kecil ini." Decak kagum terucap dari mulut Setya dengan antusias sambil memandangi setiap detail yang ada di toko kue tersebut. Ada beberapa tanaman buah yang tumbuh di hidroponik dengan penjelasan lengkap dan kolam ikan yang terhubung dengan bagian ujung hidroponik. Cukup mengesankan batin Setya, sangat jarang toko kue dengan detail seperti itu, pikirnya. Qiana hanya tersenyum kecil mendengar Setya mengagumi toko ini.


" Eh Mbak Qia datang lebih awal ternyata, padahal jadwal Mbak masih minggu deoan buat ngecek keadaan toko. Mbak mau minum apa biar saya buatkan," Ujar salah satu pegawai toko pada Qiana, Setya hanya memandangnya penasaran. Kenapa bisa seakrab itu batin Setya.


"Iya Mbak, udah kangen sama nenek biar sekalian aja. saya keruangan ya Mbak, mau ambil laporan bulan ini, ngga usah buat minuman Mbak saya langsung aja udah capek, mau tutup juga kan toko?" Jawab Qiana sambil melenggang masuk ke dalam ruangannya diikuti oleh Setya dibelakangnya.

__ADS_1


"Toko ini punya kamu Qi?" Tanya Setya dengan nada heran.


"Ya begitulah." Jawab Qiana singkat.


"Cukup gede buat ukuran toko kue Qi, pasti keuntungan tiap bulannya udah ngelebihi gaji kamu sama aku di RS?" tanya setya penasaran.


"Apasih set, ngomongin keuntungan toko kue. Tuh itung keuntungan kamu sama bisnis alat medismu itu mana cabangnya banyak banget lagi" kilah Qiana sambil memasukan beberapa laporan yang telah terauaun rapih diatas meja kerjanya.


"Yuk, udah selesai. Kamu mau nyoba rotinya atau langsung ke rumah nenek?" Tanya Qiana sambil berjalan keluar ruangan.


"Langsung ke rumah Nenek aja, kalau roti mah gampang ntar kamu bikinin aja," Jawab Setya santai Qiana hanya memutar bola matanya malas.


Sesampainya di rumah Nenek Qiana, Setya langsung menghampiri Nenek Qiana dengan senyum ramahnya.


"Wah kamu diantar siapa ini Nak?" Tanya Nenek Qiana.


"Kenalin Nek saya Setya temennya Qiana dari Surabaya, kebetulan sekarang kita satu tempat kerja di Jakarta." Jawab Setya dengan nada yang sangat ramah.


"Ayok masuk, nanti kamu tidur di kamarnya Qiana. Biar Qiana tidur sama Nenek malam ini. Kalian udah pada makan?" Tanya Nenek sambil menarik tangan Qiana.


" Iya Nek, kita udah makan kok tadi. Nenek udah makan?" Tanya Qiana.


"Udah, kok. Yaudah ayok istirahat biar besok bisa jalan-jalan lihat Bandung ya Nak Setya. jangan sungkan-sungkan," Kata Nenek ramah dan diangguki Setya dengan antusias.


Qiana tak bisa menebak bagaimana alur hidupnya bisa seperti ini mengunjungi Kota Kelahirannya dengan adik dari seorang yang Qiana kagumi. Dan sialnya, dulu orang yang diajaknya ini adalah orang yang telah mengobrak-abrik kehidupannya.


"Ngga tahu bakal seperti apa kalau seandainya Qiana tak pindah ke Surabaya. Mungkin akan sulit menemukan sosok wanita lembut namun kuat sepertinya." Gumam Setya ketika telah masuk ke dalam kamar Qiana. Disana terpampang dengam jelas foto-foto Qiana waktu kecil sampai beranjak dewasa. Ada fotonya juga disana tapi tidak berdua dengan Qiana melainkan bertiga dengan kakak kembarnya.

__ADS_1


Bandung terlalu indah untuk ku buat semellow ini, batin Setya.


__ADS_2