
~Kamu tahu bukan? Kita ini tidak bisa memutar waktu walau hanya sekadar kembali ke masa-masa bahagia atau masa-masa sulit untuk mencoba memperbaikinya. Maka pergunakan waktu yang ada sebaik-baiknya, agar ketika terkenang tak memilukan hati.~
Tak terasa matahari akan segera tenggelam, Qiana masih saja terdiam dalam lamunannya. Dia sedang duduk di balkon kamar Setya. Memandang kosong kearah langit yang memancarkan semburat jingga.
“Huwaa…huwaaa…nda…nda…Dafa atut.” Teriak Dafa memecah lamunan Qiana.
“Ah, iya sayang Bunda disini.” Sahut Qiana yang langsung berlari masuk kedalam kamar Setya. Didekapnya Dafa yang masih terisak dalam tangisannya. Selama tinggal bersamanya Dafa jarang sekali menangis ketika bangun tidur, mungkin Dafa habis mimpi buruk, pikir Qiana.
“Berhenti nangisnya ya sayang, ayok kita pulang ke rumah Kakek, nanti Dafa ada teman main loh di rumah Kakek.”Bujuk Qiana.
“Benelan Nda? Dafa ada teman balu?” Tanya Dafa antusias, sambil mengucek matanya.
Qiana dan Dafa berpamitan pada Papa Gito karena hari akan segera malam, Mama Dewi pun sudah pulang dar Rumah Sakit untuk bergantian berjaga dengan suaminya. Pernikahan Tyo tetap akan dilangsungkan namun hanya ijab saja itu pun dilakukan di Rumah Sakit. Hidup memang bukan milik Qiana seorang namun entah beberapa hari ini ia merasa menjadi tokoh utama disetiap peristiwa dari orang-orang terdekatnya.
***
Ting…tong…ting..tong…
Ceklek
“Assalamualaikum Tan, Qiana sama Dafanya ada?” Tanya seorang lelaki tampan dengan setelan casualnya tak lupa tas punggung yang disampirkan di bahu kanannya.
“Wa’alaikumsalam, Ya Allah Nak Akbar kok ada di Surabaya. Masuk-masuk pasti capek ya,” Kata Mama Qiana.
“Iya, Tan. Permisi ya Akbar masuk rumah tante,” Ucap Akbar sungkan.
“Kamu ini, udah kaya ke rumah siapa aja duduk dulu ya disini. Sebentar, tante panggilin Qiana sama Dafa dulu di kamar mereka juga baru dateng dari rumahnya Alm.Setya,” Kata Mama Qiana sambil beranjak.
__ADS_1
***
“Ayahhhh….” Teriak Dafa yang berada dalam gendongan Qiana.
Akbar berdiri dari duduknya, berjalan ke arah Qiana dan Dafa. Diamatinya wajah Qiana berasa ada sesuatu yang lain di wajah teduh itu.
“Uh, anak Ayah. Cuman berapa hari Ayah ngga ketemu kok udah tambah berat gini sayang?” Tanya Akbar sambil mengangkat tubuh Dafa ke dekapannya.
“Dafa ndak belat Ayah, Nda aja tuat endong Dafa,” Kata Dafa yang dibalas anggukan oleh Akbar. Dafa pun menyandarkan kepalanya pada pundak Akbar.
“Emh, Qi. Maaf ya aku mau nanya,” Kata Akbar sungkan yang hanya dibalas anggukan oleh Qiana.
“Kamu abis nangis?” Tanya Akbar, lagi-lagi hanya diangguki oleh Qiana.
“Kamu kalau ada masalah sekiranya nggak bisa kamu tanggung sendiri, kamu bisa berbagi sama Allah di sholatmu dan kamu juga bisa cerita ke orang yang kamu percayai siapa tahu orang itu juga bisa jadi perantara atas curhatan kamu ke Allah dengan saran masukan dari orang itu. Jangan dipendem sendiri ya, kasihan Dafa nanti ikut sedih kalau Bundanya sedih kayak gini,” Ucap Akbar yang tak sadar tengah mengusap puncuk kepala Qiana yang terlapisi hijab itu. Sontak membuat Qiana memundurkan badannya.
“Nggak apa-apa aku paham kok Mas. Makasih ya sarannya. Kamu mau kesini kok nggak ada ngabarin Mas?” Tanya Qiana.
“Iya nggak apa-apa sengaja aja," Kata Akbar.
“Dek, ayok makan malam dulu.” Teraiak Bang Reza yang belum tahu kalau ada tamu.
“Ishhh, si Abang malu-maluin aja ada tamu juga," Kata Qiana setelah Abangnya ini muncul di ruang tamu.
“Hehehe, mana Abang tahu. Ini Ayahnya Dafa?Ganteng gini dek cocok sama kamu,” Kata Reza cengengesan.
Akbar di buat salah tingkah oleh Abangnya Qiana, yang terlihat sedikit lebih tua dari dirinya.
__ADS_1
“Apaan sih Abang, awas ah mau nidurin Dafa dulu nih kasihan Mas Akbar udah capek gitu gendong Dafa. Nanti aku nyusul sama Mas Akbar ke meja makan,” Kata Qiana sambil mendorong tubuh Abangnya yang sedang menggodanya.
***
Makan malam pun telah usai, anak-anak balita di rumah itupun telah tertidur lelap. Kini tinggalah para orang dewasa berkumpul di ruang keluarga. Pembahasan kali ini nampaknya lebih serius karena si biang lawak sedang memasang wajah datarnya yang sulit di tebak.
Deg
Deg
Deg
Hati Qiana sudah berdetak kencang, entahlah apa yang di dengarnya sedari tadi ini hanya candaan belaka atau benar-benar keseriusan dari lelaki yang dikenalnya dalam hitungan bulan ini. Sulit Qiana mempercayai pendengarannya, karena bagi Qiana yang sudah kenal lama saja tidak ada yang seberani ini menyatakan perasaannya secara langsung di hadapan keluarga besarnya, jangankan dihadapan keluarga besarnya menyatakan perasaannya di hadapan Qiana sendiri saja hampir tidak ada, kecuali Setya 3 bulan yang lalu itu pun tidak dengan jujur dan keberanian yang utuh.
“Jadi niat kamu datang kesini selain ingin bertemu dengan Dafa kamu juga ingin melamar anak saya?” Tanya Pak Rizal.
“Betul Om, saya rasa selama kenal dengan Qiana selama kurang lebih jalan 5 bulan ini saya yakin dengan perasaan saya, saya tahu saya memiliki banyak kekurangan apalagi status saya yang duda anak 1 ini. Saya tidak bisa menjanjikan apapun pada Om, Tante, Nenek, dan Bang Reza, tapi saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk melindungi dan menyayangi Qiana dengan jiwa-raga saya,”Ucap Akbar yakin.
Pak Rizal menghembuskan nafas kasar, bagaimana pun juga hal ini adalah sesuatu yang dinantikannya. Menyaksikan anak gadis satu-satunya di pinang oleh lelaki yang akan menggantikannya melindungi, menyayangi, dan mengajari anak gadisnya ini. Tapi di satu sisi, Pak Rizal juga merasa berat untuk melepas anak gadisnya ini, takut apabila lelaki dihadapannya ini hanya main-main saja, terlebih Akbar pernah gagal dalam membina rumah tangganya dulu.
“Saya sebagai orang tua Qiana, hanya bisa menerima dan berdo’a yang terbaik untuk kedepannya. Saya juga salut dengan keberanian Nak Akbar ini. Tapi keputusan ada pada Qiana sepenuhnya, kami sebagai orang tua hanya bisa mendukung apapun keputusan yang Qiana ambil” Ujar Pak Rizal
Semakin gemetarlah tangan Qiana dihadapkan dengan situasi seperti ini, sesuatu yang dinantikan sejak lama akhirnya tiba juga. Laki-laki yang berani mengutarakan isi hati dengan tegas dan penuh keyakinan. Meskipun Qiana masih bingung dengan sikon seperti ini, karena Akbar tidak membicarakannya lebih dulu dengan Qiana tapi ada perasaan bahagia di hatinya. Dan dia mengingat percakapannya dengan Tyo.
~*Coba bukalah hatimu untuk orang yang mencintaimu, jangan paksakan hatimu untuk terus mencintai masa lalumu itu. Cobalah merasakan bagaimana rasanya dicintai, pasti hatimu akan tergerak dan membuka secara perlahan mempersilahkannya masuk. Apalagi dia yang mencintaimu adalah seseorang yang mengenal dan mencintai Tuhannya, tak lama pasti kau akan bertekuk lutut pada kelembutannya*.~
__ADS_1