
Selamat membaca...
***
Hari-hari menjelang pernikahan kesibukan Qiana tetap tampak seperti biasa, tidak ada kesibukan tambahan yang
berarti, karena semua telah disiapkan oleh WO yang telah di sepakati oleh kedua belah pihak tentunya. Hanya detak jantung dan pikirannya saja yang bertambah, selain ini yang pertama untuk Qiana, keluarga besarnya juga belum tampak datang untuk menemaninya.
"Masih kurang 3 hari lagi Mama, Papa dan semuanya dateng. Udah deg-degan kuadrat aku, yang jadi pengalihan cuma Dafa aja. Udah bener-bener butuh hiburan aku." gumam Qiana yang tengah sibuk memasak makan siang untuknya dan Dafa karena hari ini Bi Ani tidak bisa bekerja seperti biasa.
"Nda, Ayah ndak tini?" tanya Dafa yang sedari tadi duduk di kursi meja makan yang tak jauh dari tempat Qiana memasak.
"Ayah kesini hari minggu sama Nenek dan Kakek, ada Bang Leo dan Lea juga yang bareng sama Ayah kesini loh
Nak," ucap Qiana.
"Asyiik, Dafa punya teman main agi Nda," kata Dafa dengan hebohnya.
"Iya, tapi Dafa nanti jangan nakal ya Nak kalau ada Bang Leo dan Lea disini Dafa harus jadi tuan rumah yang baik harus rukun kalau mainan ya nggak boleh bertengkar dan rebutan mainan ya sayang," ucap Qiana.
"Iya Nda," kata Dafa.
Ting...tong...ting...tong...
Terdengar suara bell rumah pertanda Qiana memiliki seorang tamu di depan pintu rumahnya.di matikannya kompor yang masih menyala itu, dan di tinggalkannya menuju depan dengan Dafa yang berjalan di sisinya.
Ceklek...
"Loh kok nggak ada orang," ucap Qiana dengan raut muka bingung, di tengoknya ke kanan dan ke kiri tidak ada orang sama sekali.
"Apa Bella sudah tahu alamatku yang di Bandung, Ya Allah mana di rumah sepi," ucap Qiana lirih.
"Tiapa Nda tok indak ada olang?" tanya Dafa yang mengikuti tingkah Qiana yang sedang menengok ke kanan dan ke kiri.
"Dafa sini sayang, kamu Bunda gendong," ucap Qiana yang langsung menggendong dan mendekap erat tubuh Dafa, dia tampak sangat takut jika ternyata yang mengetuk pintu rumahnya tadi adalah Bella dan tiba-tiba muncul untuk membawa Dafa pergi darinya.
__ADS_1
"Doooooorrrrrr...." teriak Tiwi yang tiba-tiba muncul dari balik tiang, Dafa yang kaget sontak menangis kencang di gendongan Bundanya.
"Huwaa....Ndaa....atut.." kata Dafa.
"Astagfirullah... Kamu ini ya kurang kerjaan banget sih Tiw lihat anak aku nangiskan. Dafa cup-cup-cup Nak, itu Tante Tiwi," ucap Qiana sambil mengusap-usap punggung anaknya, sedangkan Tiwi, dia sudah berjalan mendekat ke arah Qiana dan Dafa.
"Assalamu'alaikum, Bundaaa..... Hallo ponakan Tante yang gemessyiiiinnn...Hehehhehe." sapa Tiwi dengan cengiran tanpa dosa.
"Wa'alaikumsalam, Tante Tiwi. Lama nggak ketemu kok jahilnya tambah parah ya," kata Qiana.
"Hahahaha, sorry Qi. Maaf ya sayang, Dafa," ucap Tiwi.
"Nda masyuk." rengek Dafa.
"Iya,ayo masuk Tiw." ajak Qiana.
Sampai di ruang keluarga, Dafa langsung meminta turun dari gendongan Qiana dan memilih bermian mobil-mobilan di depan tv.
"Duduk sini dulu, tasnya nanti aja di bawa ke kamar. Kamu ini, ke sini kok nggak bilang-bilang dulu, bukannya masih kerja ya? Harusnya mepet-mepet pas hari H aja biar nggak cuti lama-lama," kata Qiana.
"Makasih ya Tiw, kamu udah mau nemenin aku, khawatirin aku juga sampai cuti dari kerjaan. Maaf ya jadi ngerepotin kamu gini Tiw. Kamu juga udah di ceritain sama Mas Akbar kalau Bella udah namu ke rumah Papa di Surabaya?" tanya Qiana.
"Nggak usah makasih segala Bun, kita ini udah sahabatan lama jadi wajar dong kalau kita saling membantu dan saling dukung. Kalau tentang Bella aku tahunya dari Fani, soalnya dia beberapa kali nginep di rumah kamu yang di Jakarta, hehe maaf ya nggak izin dulu sama kamu," kata Tiwi.
"Nggak masalah, terserah kamu kalau sekiranya ada yang mau nginep-nginep asal jangan laki-laki aja ya Tiw hehehe. Oh iya tumben Fani mau nginep-nginep, dia ngga bilang kenapa mau nginep di rumah?" tanya Qiana dia khawatie jika calon adiknya itu sedang mendapat masalah lagi.
"Enggak ada masalah kok, dia nginep itu karena penasaran sama taman depan rumah. Dia sampai bikin sketsa gambarnya Qi, lucu banget dia. Haha padahal ya, kan bisa di foto aja." jawab Tiwi dengan di selingi tawa karena ingat tingkah lucu calon adik ipar sahabatnya itu.
"Ada-ada aja si Fani mah," ucap Qiana, "Astagfirullah aku tadi lagi masak Tiw, bentar aku nitip Dafa dulu mau lanjut masak, 10 menit lagi kamu nyusul ke belakang ya sama Dafa, kita makan siang sama-sama," lanjut Qiana.
"Siap Bun," kata Tiwi.
Qiana sibuk melanjutkan acara masaknya yang sempat tertunda tadi. Meninggalkan Tiwi yang sibuk menjahili Dafa di ruang keluarga.
"Tiwi, Dafa, ayo kita makan siang." teriak Qiana dari arah dapur.
__ADS_1
"Ashiap Bun." jawab Tiwi, yang langsung menggandeng Dafa menuju ruang makan.
***
Drrtt...drttt...ddrttt.... Getaran ponsel Tiwi, membuat fokusnya beralih. Diambilnya ponsel berwarna hitam dari dalam sakunya.
"Wahh, ada apa dia menghubungi ku." gumam Tiwi, ketika melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Siapa?" tanya Qiana.
"Biasa fansku," jawab Tiwi dan di balas gelengan oleh Qiana.
"Assalamu'alaikum, ada apa menelponku?" tanya Tiwi.
"Wa'alaikumsalam, aku hanya ingin tahu dimana kau. Karena rumahmu kosong." jawab wanita di sebrang sana.
"Aku di Bandung, jangan ganggu aku dan jangan menanyakan hal-hal aneh lagi," ucap Tiwi memperingatkan wanita yang meneleponnya.
"Hah, kau di Bandung dan tidak mengajakku? Bukannya kita ini berteman, tapi untuk mengajakku saja kau tidak, bahkan berpamitan padaku pun tidak. Menyebalkan." jawab wanita itu.
"Sudahlah, aku sedang makan siang. Jangan mengganggu, aku matikan teleponnya. Assalamu'alaikum," ujar Tiwi dan langsung mematikan sambungan teleponnya sebelum memdapat jawaban dari si penelepon.
***
Sore hari di Kota Bandung, Qiana, Dafa, dan Tiwi tampak sedang berjibaku di dapur. Ya, mereka bertiga sedang membuat kue coklat kesukaan Dafa dan juga cheese cake kesukaan Tiwi. Dapur yang semula tertata rapi, kini sudah berantakan dengan taburan tepung yang berserakan karena saling menjahili satu sama lain dengan mengoleskan tepung.
Ting....tongg....ting...tong...
"Siapa yang datang?" tanya Tiwi.
"Entahlah, aku tidak ada janji hari ini." jawab Qiana.
"Kedepan dulu sana," ucap Tiwi, Qiana menganggukinya dan langsung berjalan ke depan.
Ceklek... Pintu terbuka dan menampilkan sosok wanita dengan senyuman yang mengembang sempurna.
__ADS_1
"Astagaaa, kenapa hari ini banyak sekali tamu tak diundang datang ke rumahku," kata Qiana.