
Selamat membaca... :)
****
Hidup berjalan sesuai dengan alur yang sudah tertulis apik di lauhulmahfuz, suka tidak suka memang begitulah alurnya, terima dan jalani dengan lapang dada, itu akan jauh lebih baik. Semburat jingga di ufuk barat, menemani sisa perjalanan menuju pusat Kota Bandung dimana kediaman Akbar berada. Sedari makan siang ala-ala piknik di tepian situ patenggang tadi, Fani terlihat lebih pendiam menahan emosi yang sedari tadi ia tahan.
Flashback ON
Makanan yang telah disiapkan dari rumah sudah di tata sedemikian rupa oleh Qiana dan Fani. Ada sushi yang dibuat Fani, ayam, udang, dan bawang Bombay crispy buatan Qiana, beberapa kue dan jus buah sebagai teman makan pun sudah tersaji di atas tikar.
Senyum Fani yang sedari tadi sudah terpasang manis pun pudar seketika, ketika sang Abang meminta tukang prank kemarin untuk ikut bergabung makan siang di bawah rindangnya pohon dan di tepian danau yang indah, semilir angin yang berhembus lembut pun tidak cukup untuk meredakan kekesalannya.
“Enak ya Fan, sejuk banget disini padahal udah siang nggak kerasa panasnya.” Ucap Bagas yang sedari tadi melihat perubahan ekspresi dari wajah Fani, yang mulai terlihat badmood
“Iya Bang, sejuk banget.” Jawab Fani dengan memaksakan senyumnya ke arah Bagas, sisi buruk Fani adalah jika marah atau kesal pada satu orang maka orang lainnya akan terkena imbasnya, dan sisi inilah yang berusaha Fani ubah sekuat tenaga.
“Ini enak banget makanannya, Bang Akbar. Pasti bahagia banget punya istri kayak istri Abang, perut ada yang manjain.” Ucap Aziz sambil melirik Fani sekilas.
“Alhamdulillah, Bundanya anak-anak memang suka sekali masak dan masakannya enak-enak semua mau jenis makanan apa aja kalau tangan istri yang meracik, wah... bukan main rasanya.” Timpal Akbar sambil menyuapi Dafa yang berada di pangkuan Qiana.
“Iya Bang Aziz, betul sekali masakannya Mbak Qiana ini enak sekali, semalam kita malam mingguan sambil makan yukgaejang dan bulgogi buatan Mbak Qiana bikin kita-kita nambah terus makannya, hahaha.” Ucap Bagas yang diakhiri gelak tawa.
“Eh yang semalam masak bulgoginya Fani tahu Gas.” Jawab Qiana sambil melirik Fani yang yang diam saja sedari tadi.
"Wah makanan kesukaanku itu Mbak, Bulgogi." ucap Aziz dan mendapatkan lirikan sinis dari Fani.
“Alhamdulillah, calon istriku pandai memasak hihi. Jadi inget dulu Bang, sewaktu Fani masih suka main masak-masakan kita disuruh makan masakannya, hahaha daun mentah Qi disuruh makan, lah apa kita dikira kambing wkwkwk.” Kelakar Bagas yang disambut gelak tawa oleh yang lainnya, sedangkan Fani sudah malu dibuatnya sambil mengingat perilaku masa kecilnya, berbeda lagi ekspresi yang terlihat dari wajah tampan Aziz dia terlihat begitu kecewa.
“Eh, enak aja kita, kamu doang kali yang rela makan. Aku mah langsung kabur hahaha.” Jawab Akbar.
“Hahaha, Dek kamu itu ada-ada aja. Tapi itu sushi buatannya Fani juga loh Gas, enakan?” tanya Qiana.
“Yee, kalo ini mah aku udah tahu orang pas buat aku lagi nungguin di meja makan.” Jawab Bagas yang langsung mendapat tatapan tak suka dari Aziz.
“Oh iya lupa.” Jawab Qiana.
__ADS_1
“Bang udah makannya?” tanya Fani.
“Udah, mau jalan-jalan?” tanya Bagas dan diangguki oleh Fani.
“Tapi Dafa udah tidur gimana?” tanya Bagas yang sadar diri musti menjaga sikap dan perilakunya di hadapan calon
kakak iparnya.
“Mau kemana? Aku ikut ya, barangkali kalian butuh di fotoin.” Potong Aziz.
“Nggak usah!!!!” jawab Fani tegas.
“Fani! Sudah kamu ikut aja Ziz gantiin Dafa buat mantau mereka.” Ucap Akbar.
Pada akhirnya jalan-jalan Fani dan Bagas harus dibuntuti Aziz yang berdalih ingin mengabadikan kegiatan mereka saat mengelilingi situ patenggang. Membuat Fani geram bukan main, belum tuntas rasa kesalnya sekarang sudah bertambah.
“Dek, Abang ke toilet sebentar ya.” Ucap Bagas.
“Ikut.” Jawab Fani yang disambut kekehan kecil dari bibir Bagas.
“Sssstt…sstt… Hey Fan!” goda Aziz dengan mata genitnya ketika tubuh Bagas sudah hilang di balik pepohonan.
“Nggak usah sok kenal dan sana jauh-jauh, jaga jarak!!" Timpal Fani dengan nada ketus, yang disambut senyuman oleh Aziz.
“Betulkan kataku, kita akan bertemu kembali haha.” Ucap Aziz dengan PDnya dna Fani hanya diam sambil mengotak-atik hpnya.
“Kamu tahu mitos yang beredar di tempat wisata ini?” Tanya Aziz, lagi-lagi Fani hanya terdiam, “Singgah di batu cinta dan mengelilingi pulau asmara, agar kisah cintanya abadi seperti kisah Ki Santang dan Dewi Rengganis. Apa kamu tidak sadar kita sudah melakukan itu, meski tadi bertiga dengan bocah ingusan itu tapi sekarang kita bedua. Bisa jadi di masa depan memang kita yang ditakdirkan untuk bersama, bukan seperti sekarang kamu dan bocah ingusan itu.”lanjut Aziz yang langsung mendapat tatapan tajam Fani.
“Jangan asal bicara kamu! Kita nggak seakrab dan nggak sekenal itu, mana mau aku sama laki-laki doyan bohong dan nggak bertanggung jawab kayak kamu.Dan jangan panggil Bang Bagas dengan sebutan bocah ingusan, dasar tua!” Ucap Fani tegas.
“Bohong dibagian mananya? Kemarin aku kan udah bilang itu prank buat konten youtube aku dan kamu apa belum di kasih kabar sama karyawan kamu? Hari ini si Wahyu ke toko kue buat bayar kerugian kemarin 2x lipat, jangan gara-gara kemarin aku nggak langsung ganti rugi terus kamu jadi ngejudge aku buruk dong. Dan terserah aku mau panggil dia apa, emang dia bocah ingusan. satu lagi aku belum tua ya, usiaku masih 29 tahun.” Jawab Aziz yang sudah tahu arah pembicaraan Fani.
“Sama aja tukang bohong, dasar tuaaaa!” Kata Fani.
“Beda!!! Lihat aja nanti kamu bakal jatuh cinta sama aku dan ngelupain boca ingusan itu!” ucap Aziz tanpa memperlihatkan emosinya.
__ADS_1
Tanpa memperdulikan ucapan Aziz Fani pun melangkah pergi meninggalkan Aziz, dan berjalan menyusul Bagas.
Flashback Off
Azan maghrib berkumandang dengan merdunya, membuyarkan lamunan Fani yang tengah duduk di depan tv sambil selonjoran selepas mandi tadi.
“Kamu kenapa?” tanya Bagas.
“Nggak kenapa-napa Bang, aku lagi merenungkan caranya belajar sabar xixixi susah ternyata ya.” Ucap Fani dengan mode cerianya, mencoba menetralkan perasaannya.
“Kamu itu ada-ada aja, ayo wudhu gantian. Kita jama’ah sama Qiana dan Abang kamu.” Ajak Bagas dan diangguki oleh Fani.
Makan malam kali ini sedikit berbeda karena semua makanan adalah hasil delivery di salah satu restaurant terkenal di Bandung. Dafa yang baru terbangun dari tidurnya semenjak dari Situ Patenggang pun ikut menikmati makan malam ini sambil bermanja-manja di pangkuan Bundanya.
“Oh iya boleh aku bertanya?” Tanya Bagas.
“Itu kau sudah bertanya, mau tanya apa lagi?” balas Akbar dengan sengaja menggoda Bagas.
“Eh, maksudku pertanyaan lain. Langsung aja lah males sama Bang Akbar. Ini nih aku tuh penasaran banget, kenapa Dafa sering self talk sama mainannya, kadang juga pas sendirian, Dafa nggak apa-apa kan? Dia nggak bisa lihat hantu kan Bang ?Qi?” tanya Bagas.
“Ya…Allah Bagas!!! Kamu itu umur udah mau 27 tahun masak nggak tahu hal semacam itu, malah disangka anakku bisa lihat yang enggak-enggak.” Kesal Akbar.
“Itu hal yang biasa Gas, untuk anak seusia Dafa self talk yang dilakukannya merupakan tanda perkembangan kognitifnya.” Ucap Qiana.
“Aku…aku mau jelasin hihihi, kebetulan aku kemarin habis baca-baca tentang tumbuh kembang anak usia 0 sampai 12 tahun.” Timpal Fani dengan sangat antusias.
“Sok atuh manga neng.” Jawab Qiana sambil terkekeh kecil melihat keantusiasan Fani.
“Hihihihi, jadi begini Bang Bagas. Tumbuh kembang anak itu ada tingkatanya Bang, nah diusia Dafa ini yang sudah mau masuk usia tiga tahun dia sekarang sedang mengalami perkembangan kognitifnya dengan di tandai dengan self talk seperti yang dikatakan Mbak Qiana tadi. Nah self talk ini menurut buku yang kemarin Fani baca, merupakan perkembangan dari pembicaraan internal dan eksternal di dalam diri anak. Tapi Bang, dalam fase ini anak belum bisa membedakan pembicaraan ke diri sendiri atau orang lain, nah aktivitas ini juga bisa dikatakan sebaga representasi dari rasa keingintahuan seorang anak dan kesiapannya untuk mengeksplorasi dan belajar. Jadi ponakan gembilku itu bukan indigo ya.” Jelas Fani sambil menggerak-gerakan tangannya di udara.
“Satu lagi anakku itu baru mulai self talk semenjak aku bawa pulang ke rumah usianya saat itu 2 setengah tahun, awalnya aku kira Dafa itu terlambat berbicara selama di panti karena dia jarang sekali berbicara dan berbaur dengan anak panti lainnya. Lalu saat aku konsultasikan ke dokter, ternyata salah satu faktornya dia jarang diajak berinteraksi dan dikenalkan dengan hal-hal baru, sehingga sepulang dari konsultasi, Mbak selalu mengajak Dafa berbicara dan bercerita tentang apa saja yang dilakukannya sepanjang hari sebelum tidur, terus membelikan banyak mainan-mainan yang bisa digunakan sebagai media berimajinasi dia. Seneng banget waktu liat dia mulai self talk dengan mobil-mobilan yang Mbak belikan waktu itu.” Ucap Qiana menceritakan pengalamannya mengenai perkembangan Dafa.
“Self talk sendiri dimulai pada anak usia 2 sampai 7 tahun tapi kadang masih ada yang sudah berusia 8 tahun tapi masih melakukan self talk. Perkembangan pesat tentang berkomunikasi dan berimajinasi anak-anak berada dikisaran usia 4 tahun, dan self talk akan hilang secara perlahan dengan seiring bertambahnya usia dan akan berubah menjadi suara batin anak (inner talk).” Jelas Qiana dan diangguki paham oleh Bagas, Fani dan Akbar, sedangkan yang menjadi topic pembicaraan sudah berkreasi membuat pulau di kerudung Bundanya.
**********
__ADS_1
Terimakasih telah mampir membaca....