Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
You Know Me So Well :)


__ADS_3

Badan yang letih kadang tak ada apa-apanya dibanding jiwa yang  lelah, dan ya sore ini Fani merasakan jiwa yang lelah, entah mengapa bertemu dengan Aziz membuat kehidupanya jungkir balik, ah bukan kehidupannya tapi mood dan pikirannya. Padahal niat hati ingin belajar menjadi pribadi yang lebih kalem dan pembawaan yang tenang, tapi saat bertemu dengan Aziz hatinya selalu berontak ingin mencaci maki kelakuan Aziz yang dirasanya cukup tidak punya pemikiran panjang.


Bahkan saat di rumah pun, tempat yang seharusnya memberi ketenangan luar biasa selepas kesibukannya di luar rumah, kembali harus merasakan kekesalan karena hadirnya tamu tak di undang.


Fani POV


Aku melihat Mbak Tiwi dan Mbak Qiana sedang berbicara serius sembari berjalan menuju kamarku di rumah Abang, sayup-sayup aku mendengar mereka menyebut namaku beberapa kali, ah paling Mbak Tiwi menceritakan kejadian tadi.


“Eh, jangan cerita macem-macem sama bumilnya aku.” Ucapku yang kini sudah berdiri di samping Mbak Qiana seraya memeluk tubuhnya yang sudah sedikit berisi.


“Ontyyy…. Hiks.. itu Bunda aku hiks.. ndak boyehh di peyuk-peyuk!” teriak Dafa sambil sesenggukan, ternyata ada yang suka kesel kalau Bundanya di peluk sama orang lain, hihihi mau aku terusin peluknya tapi kasihan juga liat ponakan aku satu ini.


“Sayangnya Bunda sini Nak. Mas belum mandi?” tanya Mbak Qiana yang melihat Abang turun dengan masih menggunakan pakaian kerjanya.


“Iya, Mas lupa tadi mau tanya Fani.” Jawab Mas Akbar sambil melirikku.


“Mau tanya apa Bang?” tanyaku seraya melepas pelukan di tubuh Mbak Qiana.


“Tadi di endoapril Abang kayak lihat Aziz disana. Bener nggak sih?” tanya Akbar.


Ting…tong…ting..tong…


“Terimakasih ya Allah sudah menghadirkan tamu disaat Bang Akbar menanyakan hal yang sedang tidak ingin aku bahas.” Ucapku dalam hati.


“Bentar ya Bang, aku bukain pintu dulu.” Ujarku sembari berjalan menuju pintu utama, meninggalkan Dafa yang sudah nangkrot di gendongan Mbak Qiana meski sudah di larang Abang dan Mbak Tiwi yang sudah terlihat sangat awkward hihihi. Ya begitulah nasib ngeliat yang sudah halal sedang diri masih single.


Oh iya kalau di rumah Abang jangan berharap ada pelayan yang bakal membantu entah dalam hal beberes, cuci baju, masak, atau bahkan sekadar membuka pintu ketika ada tamu seperti saat ini. Bukan karena Abang pelit sampai nggak mau ngeluariin uang untuk menggaji pelayan atau pun nggak kasihan sama istrinya, tapi justru ini semua atas kemauan Mbak Qiana. Katanya sih pingin mengumpulkan pahala sebanyak-banyak dalam sisa hidupnya dengan menjadikan perjalanan rumah tangganya sebagai ladang pahala.


Ceklek… pintu utama sudah ku buka dari dalam dan….


Jeder…jeder…jeder…


“Assalamu’alaikum My Heart,  masyaAllah cantik sekali bidadariku ini pakai daster plus kerudung rumahan kayak gini, jadi pingin cepet-cepet halalin deh.” Gombalan yang ngga ada faedahnya sama sekali, malah bikin aku ilfeel to the max.

__ADS_1


“Wa’alaikumsalam, silahkan duduk.” Jawabku acuh, lalu langsung saja aku tinggal masuk ke dalam untuk memanggil Abang. Nggak mungkin kan ya, dia nyari aku jauh-jauh kesini.


“Eh, temenin dulu napa, masak iya tamu tampan ini di tinggal sendiri disini.” Ucapnya sambil tersenyum genit.


“Bomat…wleeekkk..” ucapku sambil menjulurkan lidah ke arahnya dan berjalan cepat ke ruang tengah.


Hossshhh…hossshhh…hossshh… nafasku tak beraturan selain karena jalan cepat juga karena menahan emosi jiwa wkwk.


“Bang ada temen Abang yang ketemu kita waktu liburan di Situ Patenggang tuh di depan.” Ucapku, “Aku mau sholat ashar dulu tadi belum sempet sholat, soalnya ada insiden di jalan. Bye.” Pamitku sambil menarik Mbak Tiwi agar mengikutiku ke kamar.


“Eiittsss… sebentar tolong ambilin susunya Dafa di kamar. Dafa mau ikut Bundanya masak seblak di dapur biar anteng.” Pinta Abang.


“Oki doki.” Aku pun menuju kamar Dafa terlebih dahulu dan Mbak Tiwi sudah masuk ke kamarku.


***


Entah hati dan fikiranku ini sedang mengalami trauma, atau apa aku tidak tahu yang aku tahu saat melihat Bang Aziz ada ketakutan tersendiri yang tersembunyi dan sebisa mungkin ku balut dengan keketusanku dan mungkin juga amarah. Atau mungkin aku belum mengikhlaskan kejadian yang menyedihkan itu? Ah entahlah.


Bruggh…


“Awwhh, Ya Allah sakit..” rintihku saat pantattku mendarat sempurna di lantai, yap karena kurang hati-hati dan sibuk dengan lamunanku kakiku salah berpijak di tangga terakhir yang mengakibatkan aku jatuh terduduk. Saat mencoba bangun pun nihil, kakiku sakit teramat pun dibagian pantatku. Samar aku mendengar suara langkah kaki yang jalan dengan cepat menuju arahku.


“Abang…. Sakit, bantuin..” ucapku sambil merengek, jujur pingin nangis karena sakit yang tidak berdarah  tapi menyebabkan lebam atau salah urat ini.


Tanpa banyak bicara Abang langsung membopongku menuju kamar, meninggalkan pria berperawakan tinggi yang menatapku dengan penuh kekhawatiran di depan anak tangga menuju lantai dua.


“Fani kenapa kamu?” tanya Mbak Tiwi yang baru saja melipat mukenahnya.


“Habis akrobat tadi depan xixixi, auuuwwhhh… Abang pelan dong.” Jawabku yang diakhiri dengan teriakan karena setelah Abang menaruhku di kasur tangannya sedikit mengurut pergelangan kakiku.


“Kamu olesin minyak urut sendiri, Abang mau kedepan lagi.” Pamitnya dan aku hanya menganggukinya.


“Ehhh…. Bang susunya Dafa tadi ngegelinding pas aku bawa hehe. Di cari ya Bang.” Ucapku sambil cengengesan.

__ADS_1


Ku lihat Mbak Tiwi mendekat sambil membawa minyak urut, Alhamdulillah masih dipertemukan oleh orang-orang baik.


“Gini amat nasib-nasib.” Gerutuku sambil memandang kaki kananku yang nyut-nyutan bukan main.


“Kamu abis ngapain sih bisa sampek kayak gini?” tanya Mbak Tiwi sambil membuka penutup minyak urut.


“Eittss, jangan di buka dulu aku mau sholat ashar baru nnanti diolesi sama itu.” Ucapku dan beranjak berdiri tapi lagi-lagi limbung.


“Mbak Tiwi cantik, minta tolong dipapah dong hihi.” Ucapku dengan muka yang udah aku mode kiyowo tingkat akut.


“Ayo.” Jawabnya.


Maha baik Allah dengan segala perintahNya, tidak pernah membebani kita dalam menjalankannya. Seperti saat ini, saat kaki tidak kuat untuk berdiri aku masih bisa melaksanakan perintahNya dengan duduk bersimpuh menghadap kiblat, menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslim.


“Udah selesai? Duduk sini ya, Mbak olesi sama minyak urut.” Ucap Mbak Tiwi saat melihatku sudah melipat mukena yang tadi aku gunakan sholat.


“Iya, makasih ya Mbak.” Ucapku.


“Kamu ada masalah apa sama orang yang nabrak taxi onlen kita tadi? Tamunya Abang kamu si Aa-Aa tadi kan?” tanya Mbak Tiwi sambil mengusapkan telapak tangannya yang sudah berbalur minyak urut.


“Kalau disebut masalah lebih tepatnya enggak sih Mbak, cuman bawaannya kesel aja kalau lihat mukanya. Nu ka hiji nyak, gini aku ketemu sama dia karena ada insiden di toko kue dia marah-marah sama karyawan toko dan hampir mempora-porandakan toko, Mbak tahu? Kue yang di etalase dekat kolam ikan, semuanya berceceran di lantai, ini makanan loh Mbak makanan. Kebangetan banget kan, terus nyuruh aku mecat karyawankku, alibinya karena karyawanku itu numpahin jus ke kemejanya. Udah di ajak bicara enak-enakan sampai emosi tingkat dewa, eh ternyata cuma prank Mbak.” Ceritaku pada Mbak Tiwi.


“Next, pertemuan kedua kita ketemu di Situ Patenggang dia ngintilin aku sama Bang Bagas. Sampai pas kita abis keliling danau Bang Bagas pingin ke toilet, tinggalah aku berdua sama dia eh dia bilang gini Mbak ‘Lihat aja nanti kamu bakal jatuh cinta sama aku dan ngelupain bocah ingusan itu!’ gila kan? Mana ngatain Bang Bagas bocah ingusan pula.” Sambungku dengan menggebu-gebu, mungkin juga hidungku sudah kembang kempis jika dilihat dari jarak dekat karena menahan emosi hihihi.


“Terus yang ketiga tadi ya?” tanya Mbak Tiwi dan aku mengangguk tanda mengiyakan pertanyaannya.


“Ah, tapi Mbak lihat masih ada satu yang kamu sembunyiin Dek.” Kata Mbak Qiana yang sudah berdiri di dekat pintu sambil menggenggam Dafa yang sudah tampak seperti badut karena mukanya penuh dengan bedak bayi xixixi.


“You know me so well Mbak Qi.” Ucapku lirih, ya ini lah hebatnya iparku tanpa menceritakan detailnya dia sudah paham dengan apa yang aku pikirkan dan rasa. Entah kepekaannya berada di level berapa, yang aku tahu dia selalu bisa memahamiku.


“Emangnya ada apa sih?” tanya Mbak Tiwi dengan muka penasarannya, hihihi lucu parah.


****

__ADS_1


Hai...hai... terimakasih readers hihi jangan lupa like, komen, dan votenya ya...


sehat selalu.... bye..bye... :)


__ADS_2