Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
21. Persiapan Bertemu


__ADS_3

Di Jakarta, di hari yang sama Oma dan Tantenya Dafa tengah heboh membeli segala sesuatu untuk Dafa dan Qiana. Rasa rindu terhadap cucunya membuat wanita paruh baya itu kalap untuk membeli segala pernak-pernik balita yang menurutnya lucu. Setelah perceraian anak dan menantunya dulu, dia benar-benar kehilangan kontak dengan cucu pertamanya itu. Dan setelah 2 tahun terpisah kini hari yang dinantikan akan segera tiba, hari pertemuan dengan cucu pertamanya sudah di depan mata. Tak kalah antusias dengan mamanya, Fani pun memborong banyak barang untuk keponakan gembilnya.


"Ma, ini mainan sama baju buat Dafa kayaknya udah cukup deh Ma," Kata Fani sambil menunjuk barang bawaan miliknya dan milik Mamanya.


"Iya Mama rasa juga udah cukup ini, kalau kita gabungin 1 troli full isinya mainan sama baju Dafa doang. Sekarang kita cari gamis buat Bundanya Dafa ya," ajak Bu Rita.


"Ayo Mah, sekalian beliin kemeja buat Fani ya Ma," kata Fani sambil bergelayut ditangan Mamanya.


"Baru kemarin nodong uang Papa kamu sekarang mau nodong Abang kamu? Mentang-mentang Mama dibawain ATM cardnya, hm?" kata Bu Rita dan hanya dibalas cengiran oleh anak bungsunya.


"Yaudah enggak deh, nanti aja Fani minta sendiri ke Abang." pasrah Fani, takut kalau Mamanya ini malah mengomelinya di mall.


Akhirnya mereka menyelesaikan belanjanya dengan hati puas karena membelikan banyak barang untuk cucu dan juga calon mantu (menurut Mamanya Akbar hehe). Mereka sampai rumah waktu petang, dan segera bergegas menuju kamar mandi di kamar masing-masing untuk kembali menyegarkan tubuhnya.


***


Diwaktu yang sama di Surabaya, Setya tengah ditodong beribu pertanyaan oleh Mamanya, Bu Dewi. Mamanya ini sangat penasaran, bagaimana anaknya ini bisa bertemu kembali dengan Qiana setelah 8 tahun berpisah. Setya hanya mendengus sebal baru saja turun dari pesawat jam 2 siang, langsung ke rumah orang tua Qiana mengantar titipan Qiana dan baru sampai rumah pukul 4 sore tapi Mamanya ini malah tak memberikannya waktu untuk beristirahat, barang sebentar saja.


"Ma, udah dong nabti aja Setya ceritanya. Sekarang Setya capek banget Ma. Emang Tyo ngga cerita apa sama Mama?" Tanya Setya sambil menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.


"Cerita, tapi Mama kan mau tau langsung dari kamu yang pertama ketemu anak gadis Mama," Kata Bu Dewi antusias.


"Ma, Mama apaan sih. Udah ya ceritanya sama aja kok sama yang diceritain Tyo. Mama mending makan kuenya Qiana. Setya mau istirahat dulu, capek," kata Setya sambil beranjak dari sofa dan melangkah ke kamarnya, meninggalkan Mamanya yang sudah cemberut karena rasa penasarannya belum terjawab.

__ADS_1


Kalian pasti sudah paham dengan kata-kata, bahwa setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Ya, begitupun Bu Dewi. Dia sangat menginginkan Qiana menjadi menantunya sejak lama, karena dia tahu bibit, bebet, bobot dari Qiana dan keluarganya. Apalagi Qiana SMA, yang selalu menjadi partner lombanya Tyo, membuatnya semakin dekat dengan Qiana dan selalu menganggap Qiana seperti anak kandungnya sendiri. Hal itu lah yang membuat Bu Dewi selalu berharap dan berharap pada takdir baik, agar Qiana dapat bersanding dengan salah satu anaknya, di masa yang akan datang.


***


Matahari telah hilang dari peredarannya, dan telah digantikan dengan bulan dan bintang yang menghiasi langit malam. Semilir angin menerpa lembut wajah cantik yang tengah mendongakan kepalanya menatap indahnya langit malam itu.


"Sudah 8 tahun aku jauh dari orang tua dan Abang, bertemu hanya disaat lebaran saja di rumah ini," gumam Qiana dengan menatap langit malam.


"Ternyata banyak hal yang sudah aku lalui, sampai usiaku 26 tahun ini. Tahun depan usiaku sudah 27 tahun, hah waktu selalu saja cepat berlalu." gumam Qiana sambil menghembuskan nafasnya kasar.


"Sudah sejauh ini tapi tanda-tanda kehadirannya belum juga muncul. Sedangkan teman-teman seusiaku sudah banyak yang mengurus suami bahkan anak-anaknya. Tapi aku? dilirik cowok saja tidak pernah apalagi berpacaran, hm. Giliran ada yang nyuruh membuka hati, malah atas dasar Mamanya bukan karena dirinya pribadi. Apa aku terlalu buruk untuk mereka?" gumam Qiana frustasi karena diusianya yang semakin dekat dengan kepala 3 dia tak kunjung menemukan tambatan hatinya.


Karena malam semakin larut Qiana memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di samping tubuh mungil Dafa. Dipandangnya wajah mungil itu yang selalu menemani hari-harinya 2 tahun ini dan semakin intens, beberapa hari belakangan ini. Sedikit banyak kehadiran Dafa telah memberi warna baru dalam hidupnya. Hatinya semakin damai dan tenang semenjak Dafa hadir di kehidupannya, seolah menjadi penyejuk untuk hatinya yang tengah mendamba kehadiran imamnya.


***


"Pa, kerjaan kan udah beres. Akbar mau minta saran sama Papa nih." keluh Akbar.


"Minta saran apa Bang, kerjaan?" tanya Pak Amri sambil mencomot singkong keju dari piringnya.


"Bukan kerjaan pa, ini tentang Dafa. Akbar pingin banget bawa Dafa tinggal sama Akbar Pa. Apalagi sekarang ibu kandungnya lagi jalanin masa sidang disini. Ada rasa khawatir Abang, Pa. Tapi Abang juga takut kalau Abang belum bisa ngerawat Dafa sendiri seperti Qiana, nanti malah Dafa ngerasa kekurangan kasih sayang." jelas Dafa dengan wajah yang terlihat frustasi


"Kalau saran Papa, mending Dafa sama Qiana dulu. Kamu selesain masalah kamu sama ibu kandungnya Dafa dulu, sampai benar-benar clear dan dia dapat balasan yang setimpal. Nah saat Dafa sama Qiana, kamu bisa cari tahu gimana caranya Qiana merawat Dafa, atau kamu juga bisa ambil kesempatan buat dapetin hatinya Qiana, hahaha," ujar Pak Amri yang berujung menggoda anaknya.

__ADS_1


"Ah, Papa ujung-ujungnya selalu godain Abang kan. Tapi saran Papa boleh juga yang awal itu," kata Akbar mantap.


"Yaudah yuk masuk ke rumah, kita nonton kehebohan Nama sama Adek kamu Bang," kata Pak Amri.


"Hahaha, baiklah Pa ayo," Ucap Akbar.


Mereka berdua beranjak dari taman belakang dan segera menghampiri dua wanita ajaib di dalam rumah. Barang-barangnya sudah di masukan ke dalam mobil ternyata, karena ruabg keluarga sudah kembali bersih seperti sedia kala.


"Wahh, ternyata udah beres semua ya?" tanya Pak Amri.


"Dari mana aja sih kalian, ya udah selesai lah tuh lihat udah pada rapi." omel Bu Rita.


"Yaudah kalau gitu kita istirahat aja ke kamar masung-masing, besok kita kan berangkat pagi banget," Kata Pak Amri.


"Yaudah, Abang ke kamar dulu ya Ma, Pa, Dek," kata Akbar sambil berlalu dan mengacak rambut adeknya.


"Abang, ihh... ngeselin deh," Kata Fani sambil mengejar Abangnya, Mama Papanya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya yang sudah besar tapi masih saja seperti anak kecil jika bertemu.


"Yuk Pa,ke kamar Mama udah ngantuk banget nih," ajak Bu Rita dan diangguki oleh Pak Amri.



Seperti di Bandara, ada yang datang lalu ada yang pergi. Ada yang bahagia melihat orang yang dinantikan hadir, tapi tak sedikit juga yang merasa sedih akibat perpisahan. Di sadari atau tidak perpisahan dan pertemuan adalah sama-sama langkah awal untuk melanjutkan kehidupan yang lebih baik ~HA 💙🍃

__ADS_1


__ADS_2