Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
Fani & Syta


__ADS_3

Selamat membaca….


***


Dua hari berlalu setelah acara makan malam yang sedikit awkward untuk Fani, Adik dari Akbar itu sudah kembali tidur di rumah Nenek Mira bersama Tiwi. Sedangkan Bagas lelaki itu masih berada di rumah Akbar, tapi hanya untuk menumpang tidur dan mandi karena disibukkan oleh pekerjaannya. Sudah dua hari ini juga Fani tidak lagi bertemu dengan Aziz, cukup melegakan bagi Fani tapi cukup menyesakkan bagi Aziz.


“Teh, aku pamit pulang duluan ya. Kalau ada apa-apa di toko jangan sungkan-sungkan buat langsung telepon ke aku,” pamit wanita berkerudung peach itu.


“Muhun Teh, siap 86 pokokna mah.”


Wanita berkerudung peach itu pun tersenyum sebagai jawaban dan segera berlalu meninggalkan bangunan yang sudah memberinya pelajaran hidup tentang mengais rezeki, menghampiri mobil onlen yang sudah dipesannya tadi dan segera masuk ke dalamnya.


“Maaf Pak, sudah menunggu lama ya?”


“Tidak apa Neng, baru 5 menit nunggunya. Ini mau diantar sesuai aplikasi?”


“Muhun Pak.”


Perjalanan menuju mall dari toko kue hanya membutuhkan waktu kurang lebih 25 menit, perjalanan yang cukup cepat mengingat banyaknya lampu merah yang terlewati, juga beberapa titik kepadatan arus lalu lintas.


“Neng ini kembaliannya,” ucap sopir taxi onlen itu sedikit berteriak.


“Tidak usah, buat Bapak saja. Terimakasih sudah mengantarkan saya dengan selamat sampai tujuan,” jawab wanita berkerudung peach itu setelah membalikkan badannya menghadap taxi onlen yang baru saja ia tumpangi.


“Terimakasih Neng, semoga diberi kelimpahan rezeki yang halal.”


“Aamiin.”


Wanita itu berjalan dengan santai, matanya terlihat memindai area dalam mall mencari seseorang yang sudah berjanji akan bertemu di tempat itu. Dikeluarkannya gawai yang sedari tadi berada di dalam tas slempang miliknya, di usapnya layar gawai berlogo buah apel digigit itu, membaca satu per satu pesan yang masuk ke dalamnya.


“Hahh.. apa ini? Kenapa Mbak Tiwi batalin jalan-jalannya sih,” ucapnya kesal.


“Tahu gituh langsung pulang, rebahan di rumah kan mantul. Ah tapi kalau sudah terlanjur gini, mending jalan-jalan sendiri aja lah mubazir uang ongkosnya kalau tidak dimanfaatkan dengan baik,” ucapnya lirih.


Pada akhirnya Fani berkekliling mall sendirian, memasuki beberapa toko yang menjual sesuatu yang menarik baginya. Seperti sekarang ini, Fani sedang berada di dalam toko baju muslim. Mencoba mencari beberapa potong baju untuk dirinya sendiri, hitung-hitung sebagai rewad kepada dirinya sendiri karena sudah bertahan sejauh ini jauh dengan orang tua.


“Tehhhhh Faniiii….” Sapa seorang wanita berkemeja abu muda sebahu dengan rambut yang tergerai sebahu.


“Ya? Siapa?” tanya Fani yang tadi masih sibuk dengan beberapa model jubbah dihadapannya itu dan segera beralih menatap wanita yang menyapanya.


“Aku, Syta yang dua hari lalu ikut makan malam di rumah Teteh,” ucapnya dengan senyuman yang terus merekah manis di bibir tipisnya itu.


“Oh iya..iya… Adiknya Bang Aziz ya?”


“Iya Teh, Teteh nyari jubah ya? Mau Syta bantu pilihin modelnya?”


“Boleh. Kamu sama siapa disini?” tanya Fani.


“Sendirian tadi habis beli buku, terus keliling sebentar cuci mata ehh malah lihat Teteh disini. Teteh sama siapa kesini sama Bang Bagas ya?”


“Oh, enggak kok Teteh juga sendirian. Habis cari buku apa?”


“Oh ini, buku arsitektur buat tugas kuliah.”


“Wah kamu kuliah jurusan arsitek?” tanya Fani yang diangguki oleh Syta.


Dua wanita yang baru dua kali bertemu tapi seolah sudah kenal sangat lama terlebih beberapa selera mereka ternyata banyak kesamaan dibalik penampilannya yang bertolak belakang. Sesekali Syta memandang dalam, wanita yang sedang ada dihadapannya ini seolah mencari sesuatu dari diri Fani.


“Pantas saja Abang menyukainya, meskipun awal bertemu sikapnya sedikit agak cuek terhadapku tapi setelah bertemu kembali tadi, dikapnya sangat ramah dan seolah seperti sudah kenal cukup lama. Mana cantik, sholehah pula, istri idaman sekali Teteh satu ini. Dan satu-satunya wanita berkerudung yang mau dekat dengan Abang yang tengil dan nakal itu,” ucap Syta dalam hati.

__ADS_1


“Teteh… cari makan yuk Syta lapar nih.”


Fani sedikit memperlambat jalannya untuk menyamai langkah kaki perempuan yang satu setengah tahun lebih muda darinya. Dipandangnya wajah lesu Syta yang menyiratkan dia sedang benar-benar kelaparan, huh menggemaskan sekali pikirnya.


“Oke, terserah kamu mau makan dimana nanti Teteh yang bayarin hehehe. Itung-itung salam


perkenalan dari Teteh ya, dan dilarang untuk menolak.”


“Siap bos.”


Jauh dari lubuk hatinya Fani sangat senang bisa bertemu dengan Syta, meski kakaknya sedikit menyebalkan tapi Syta anak yang baik dan mudah membuat Fani nyaman meski usianya lebih muda tapi Syta cukup dewasa dan pintar untuk mengimbangi Fani.


Dan disinilah mereka sekarang, duduk berhadapan di restaurant Jepang yang menyajikan berbagai menu khas Jepang tapi tetap dijamin kehalalannya. Nuansa Jepang sangat kental terasa apalagi para pelayan mengenakan baju khas Jepang, terlebih lagu yang diputar terdengar agak mellow.


“Mbak, saya pesan minumannya hot macha, terus makanannya tempura sama chicken ramen spicy dikasih ekstra nori ya. Kalau kamu Dek pesan apa?” ucap Fani.


“Minumnya samain ya Mbak, makanannya aku pesan takoyaki isinya mix aja Mbak terus sama Katsudon ya.”


“Baik, saya ulangi pesanannya ya Kak. 2 hot macha, satu tempura, satu chicken ramen spicy ekstra nori, satu takoyaki mix, dan satu katsudon, ada tambahan lagi?” ucapnya ramah.


“Sudah Mbak, itu saja dulu.”


“Baik terimakasih, mohon ditunggu ya Kak.”


“Iya Mbak, terimakasih juga.”


“Tempatnya asyik ya nenangin banget, padahal di luar resto orang-orang rame banget. Untung kamu ngajak kesini tadi, jadi tahu tempat enak di mall ini,” ucap Fani sambil sesekali melirik kea rah pintu resto.


“Loh, Teteh nggak tahu tempat ini? Kirain tahu, tadi kayaknya udah hafal banget pas baru masuk hahaha aku ketipu sama wajah tenangnya Teteh ternyata.”


“Ehh, orang aku ke mall ini aja bisa dihitung pakai jari. Kesini juga paling-paling ke area bermain anak nemenin Dafa terus ke resto Korea yang dilantai dua tadi.”


“Iya, baru beberapa minggu disini. Tahunya Cuma jalan dari rumah Neneknya Mbak Qiana ke rumah Bang Akbar terus ke toko kue aja hahaha, sama jalan ke mall ini doang.”


“Ya Allah hahaha, aku kira asli orang Bandung, ternyata bukan.”


***


Fani POV


Syta, adik Bang Aziz ini orangnya asyik banget cara berbicaranya juga enak aku suka. Sekarang aku dan Syta tengah duduk di salah satu resto Jepang menunggu pesanan kami datang tentunya. Tempatnya aku suka, nyaman sekali dan terlihat sangat khas dengan Negara Jepang.


“Ini judulnya apa ya, intronya bagus banget enak didengernya,” ucapku ketika mendengar intro sebuah lagu yang sedang diputar.


“Bentar aku dengerin dulu liriknya Teh.”


Nobody knows who I really am


I never felt this empty before


and if i ever need someone to come along


who's gonna comfort me and keep me strong


(Tidak ada yang tahu siapa aku sebenarnya


Aku tidak pernah merasakan kekosongan ini sebelumnya


Dan jika aku membutuhkan seseorang untuk datang

__ADS_1


Siapa yang akan menghiburku, dan membuat aku kuat)


 “Oh ini lagunya Rie Fu, life is like a boat. Maknanya dalem banget ini, coba deh Teteh denger baik-baik tapi ini lagunya campur sama bahasa Jepang.” Jawab Syta. Emh iya sih baru awalnya saja, sudah aku rasakan bahwa lagu ini memiliki makna yang dalam ditambah instrument pengiringnya yang membuatnya semakin indah di dengar


mengalirkan pesan yang tersimpan disetiap baitnya.


we are all rowing a boat fate,


the waves keep on coming and we can't escape,


but if we ever get lost on our way,


the waves will guide you through another day


(Kita semua mendayung perahu nasib


Gelombang terus datang dan kita tidak dapat melarikan diri


Tetapi jika kita tersesat di jalan


Gelombang akan memandu kita di hari lain)


“Emh, iya betul dalem banget maknanya. Memang di dunia ini siapa sih yang tahu diri kita yang sebenarnya, bahkan kadang kita sendiri tidak bisa memahami diri kita sendiri. Cucok nih lagu, hidup seperti sebuah perahu.” Ucapku sambil menghayati bait demi bait lagu yang baru pertama kali aku dengar ini.


( tooku de iki wo shiteru toumei ni natta mitai


kurayami ni omoeta kedo mekakushi sareteta dake


inori wo sasagete atarashii hi wo matsu


azayaka ni hikaru umi sono hate made)


“Lah udah masuk ke bahasa jepangnya, jadi nggak bisa mengartikannya lagi, buta banget sama bahasa Jepang hehehe,” ucapku pada Syta.


“Hahaha, search aja sama Teteh di internet ada kok.” Ucapnya.


“Mbak ini makanannya, silahkan dinikmati.”


Huwaa akhirnya makanan kita datang, makan dulu ah sambil dengerin lagunya Rie Fu.


 


 


***


Othor: Fan…Faniii…. Napa jadi ngemall dah, katanya tadi mo curhat sama aku di alun-alun Bandung sambil nongki-nongki cantek.


Fani: Hilihhhh…. Salah situ juga napa batalin ketemuan aku sama Mbak Tiwi malah diketemuin sama Syta, kan jadi enak  keliling mallnya ampek lupa janji sama kamu Thor wkwkwk.


Othor: Oh…oke semua salah Othor!


Fani: Ceileh ngambekan banget dah Thor. Udah ah sorry ya Thor, aku mau ngelanjut vicall sama Mama and Papa nihh… ohya..buat readers tercintaahhhh jangan lupa like, komen dan subscribe ya… klik tanda lonceng juga jangan lupa..


Othor: Eitdah dikira ini aplikasi Yietibe, yang bener tuh gini JANGAN LUPA LLIKE, KOMEN, RATE DAN VOTE YA PLUSSS KLIK TANDA HATI UNTUK FAV.


Fani: Biasa aja thor kagak pake ngegas!!


***

__ADS_1


Terimakasih semua


__ADS_2