Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
Untuk Calon Keponakan


__ADS_3

Seorang perempuan sepertinya musti dilengkapi sensor kepekaan yang tinggi seperti Mbak Qiana kali ya, hanya bercerita sekali tentang kegagalanku membina hubungan serius dengan lawan jenis beberapa bulan yang lalu. Menceritakan dia yang dulu pernah singgah, sifat, sikap, dan gayanya, awal pertemuan sampai akhir dari


kisah itu pun aku ceritakan pada Mbak Qiana yang waktu itu masih belum menikah dengan Abang.


Sekarang sosok lain datang, meski bukan dia yang pernah singgah tapi hampir semua yang melekat pada Bang Aziz adalah cerminan dia yang pernah menoreh luka cukup dalam di hati. Meski mulut bungkam, tak pernah menceritakannya pada Mama dan Papa alasan sebenarnya di balik keputusanku untuk mengakhiri ikatan tunangan waktu itu. Tapi ada sosok lembut penuh kasih sayang yang membuatku menceritakan semuanya, bukan karena aku tak percaya pada orang tuaku tapi takut membebani fikiran keduanya dan berimbas buruk pada silaturahmi kedua keluarga.


Hari ini tiba, hari dimana aku semakin kagum terhadap sosok iparku, tanpa perlu aku menjelaskan tentang apa yang membuatku kesal dan gundah, dengan senyuman tulusnya dia berhasil menguatkanku seolah berkata ‘Semua akan baik-baik saja’.


“Emangnya ada apa sih?” tanya Mbak Tiwi dengan muka penasarannya, hihihi lucu parah.


“Aziz yang nabrak taxi online kalian tadi itu, mempunyai tingkat kemiripan yang 11 12 sama mantan tunangannya Adek cantikku ini. Sama-sama tengil, SKSD gitu, eh lebih tepatnya mudah akrab dengan orang baru sih hihi dan itu tipe cowoknya Fani banget beberapa bulan yang lalu, tapi setelah pengkhianatan yang dilakukan oleh mantannya itu Fani jadi sedikit takut atau apa ya kata yang lebih tepat untuk menggambarkan perasaan Fani ketika bertemu dengan Aziz, ah.. pokoknya seperti itu lah, iya kan Dek?” ucap Mbak Qiana yang sudah ikut serta bersantai di atas kasur bersamaku dan Mbak Tiwi, tidak lupa Dafa yang kini sudah memainkan tangan kecilnya di atas perut Mbak Qiana.


“Iya kurang lebih betul apa yang dikatakan sama Mbak Qiana cucok sama apa yang sedang aku rasakan saat ini. Huhhhfft… sebenarnya aku nggak mau kayak gini dan aku sempat ingin mengabaikan rasa ketidaknyamanku, tapi setelah ucapannya Bang Aziz di Situ Patenggang itu jadi aku musti bikin tembok yang tinggi ke dia bukan apa-apa sih tapi hati juga kan musti di jaga dengan baik. Terlebih setiap pertemuan dengan Bang Aziz kan selalu memberi kesan yang kurang baik, jadi ya otomatis hati aku udah kesel bin sebel sama tuh orang.” Ucapku dengan mantap.


Aduh Gusti yang maha membolak balikan hati tetapkan hatiku di jalan yang lurus jalan yang Engkau Ridhoi, aamiin. Jujur saja kadang aku takut tiba-tiba rasaku terhadap Bang Bagas dan pada Bang Aziz di bolak-balikan, emh lebih tepatnya semua hal bukan hanya rasa tapi apa yang ada pada diriku saat ini tiba-tiba di putar balikan oleh Gusti Allah. Jalani saja Fan, jalani haahhhh.


“Pesan dari orang jaman baheula mah nyak, jangan terlalu benci sebab kita tidak tahu mana yang terbaik dan mana yang buruk untuk masa depan kita. Dan jangan terlalu benci, karena benci bisa dengan mudah bermetamorfosa jadi cinta, ulululu Bang Bagas ada saingannya sayyy, mana LDRan pula wkwk.” Ucap Mbak Tiwi dengan heboh sampai membuat Dafa yang sedang anteng terlonjak kaget.


“Eh, santai atuh Dafa jadi kaget nih.” Ucap Mbak Qiana sambil mengelus kepala Dafa lembut, “Pesen aku mah ya, pokoknya kamu itu Dek musti jaga hati dengan baik. Kalau mulai goyah dikit, inget perjuangannya Bagas inget rasa jatuh cinta pertama kamu ke Bagas, dan yang musti paling kamu ingat adalah rasa sakit dikhianati orang yang kamu sayangi. Cukup kamu merasakan disakiti jangan sampai menyakiti, jangan jadikan Bagas pelampiasan atas kesalahan orang lain, kalian sudah cukup dewasa untuk saling jatuh cinta ala anak SMP hihihi.” Sambungnya lagi.


“Iya Mbak, insya Allah Fani akan selalu mengingatnya.Terimakasih banyak ya Mbak-Mbakcuuu.” Ucapku sambil tersenyum hangat kepada kedua wanita di hadapanku ini.

__ADS_1


“Oh iya, aku lupa mau bilang. Seminggu lagi aku akan pulang ke Surabaya.” Kata Mbak Tiwi tiba-tiba sambil menutup botol minyak urut.


“Ada apa? Kok tiba-tiba mau pulang, kerjaan kamu gimana?” tanya Mbak Qiana.


“Aku sudah resign dari kerjaan aku di Jakarta, aku mampir ke Bandung dulu juga mau ngasih kunci rumah plus aku mau bilang kalau aku pulang karena Dimas bakalan ngelamar aku seminggu lagi. Do’akan ya.” Kata Mbak Tiwi menjelaskan.


“MasyaAllah selamat Tiwilllkuuu,  Ya Allah nggak nyangka Dimas mau ngelamar kamu tahun ini padahal kan rencananya tahun depan mepet nikahan.” Ucap Mbak Qiana.


“Alhamdulillah, dipercepat. Kayaknya Dimas udah nggak nahan buat bisa sehidup semati denganku hihihihi.” Jawab Mbak Tiwi nyeleneh.


“Kamu itu ya Tiw, kalau diinget-inget dulu cinta mati sama si Yovi wkwkwk eeh malah nikahnya sama Dimas sekarang.” Kata Mbak Qiana sambil terkekeh kecil.


“Eits, semenjak kelas 3 kan aku udah sama Dimas sampai sekarang dan nanti haha.” Jawab Mbak Tiwi lagi, jujur nggak paham sama orang-orang yang lagi di bahas sama kedua wanita ini.


“Iya Mas.” Jawab Mbak Qiana.


“Ayo keluar, ke depan tv kita nunggu adzan maghrib sambil makan seblak.” Ajak Mbak Qiana.


“Aku dituntut berdua ya, mau manja-manjaan xixixi.” Pintaku padahal bukan untuk manja-manjaan sih tapi emang kakiku sakit banget.


“Inggih, siap Ndoro.” Jawab Mbak Tiwi dengan nada jawanya.

__ADS_1


Dan disinilah kami semua, berada di depan tv melihat acara kartun si kembar dari negara tetangga, lima orang dewasa mengalah untuk tontonan sore ini demi si kecil Dafa. Awalnya aku tidak ingin bergabung karena setelah tahu bahwa Bang Aziz masih ada di rumah Abang dan ikut serta untuk menikmati sore hari dengan semangkuk seblak, tapi sudah kepalang tanggung dan dipaksa oleh kedua wanita di kanan dan kiriku, jadilah aku ikut duduk-duduk santai di depan tv.


“Fan, Tiw, besok nggak usah ke toko ya. Temenin aku sama Dafa berkebun di halaman belakang ya.” Pinta Mbak Qiana.


“Fani mah gimana bos aja, selalu siap laksanakan.” Ucapku sambil menyeruput kuah seblak terakhirku.


“Sebagai pengangguran aku selalu siap sedia wkwk.” Jawab Mbak Tiwi dengan terkekeh kecil.


“Oke sip deh. Oh iya Mas aku boleh pasang hidroponik nggak di belakang atau enggak ya disamping rumah deh, nanti aku tatain yang bagus tapi bantuin soalnya kan rangkain hidrponiknya nggak mungkin aku yang ngangkat.” Pinta Mbak Qia pada Abang.


“Boleh tapi nggak besok ya, soalnya kan Abang besok sampai 2 atau 3 hari kedepan kan di Jakarta.” Jawab Abang.


“Ah iya.” Jawab Mbak Qia yang tiba-tiba berubah murung, oopppss apa ini yang dikatakan mood orang hamil yang bikin orang disekitarnya panik dan kadang bisa buat orang darah tinggi juga wkwk.


“Boleh aku bantu Bang? Kebetulan besok aku tidak ada acara, setelah mengantar Abang ke Bandara aku langsung kesini buat bantu Teteh-Teteh ini berkebun.” Manis sekali ucapan tukang prank ini, sepertinya dia mulai mendekati Abang tersayangku untuk melancarkan aksinya.


Aku lihat raut wajah Mbak Qiana bingung, taulah orang ngidam macam mana. Hatinya pasti sedang bersorak gembira karena berkebunnya akan tetap jalan dengan bantuan Bang Aziz ketika Abang ke Jakarta, tapi disatu sisi pikirannya menolak karena mengingat adanya kehadiranku yang sudah tentu menyiratkan ketidaksetujuan. Ah, tapi apa boleh buat untuk calon keponakanku, aku pun mengangguk ketika Mbak Qiana seolah meminta persetujuan dari tatapannya.


Aahhaayyy… ternyata gencatan senjata akan mulai terjadi, bendera perang sudah mulai berkibar di depan mata. Abang Akbar sayang, jangan termakan bujuk rayunya yah. Ingat adik iparmu Bang Bagas seorang.


**********************************

__ADS_1


Well, terimakasih semua pembaca yang masih setia sampai di Bab ke 73 ini. Sehat selalu kalian dimana pun berada, jangan lupa jaga kesehatan ya. Oh iya mampir yuk di igeh saya hehehe, @inaazzahra2 tararengkyuu semua kecup jauh dari Surabaya.... muachhhh,.......


__ADS_2