Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
22. Ketemu Cucu


__ADS_3

Sebelum matahari menampakan kemilau cahayanya, Akbar telah bersiap untuk melakukan perjalanan menuju Bandung bersama dengan Mama, Papa, dan Adiknya. Tampak raut wajah bahagia dari keempatnya, terlebih Bu Rita, ibu dari dua orang anak itu wajahnya sangat berbinar mendamba akan datangnya hari ini.


Sepanjang perjalanan, Bu Rita sibuk membicarakan tempat wisata yang akan mereka kunjungi bersama dengan Dafa dan Qiana yang disambut dengan antusias oleh Fani. Pak Amri, lebih memilih untuk melanjutkan tidurnya karena dia ingin, nanti ketika telah tiba di tempat tujuan bisa kuat menggendong cucunya lebih lama karena kondisi badannya yang fit. Sedangkan Akbar dia terlihat fokus mengemudikan mobilnya. Ya, keluarga itu memilih satu mobil dengan Akbar menggunakan mobilnya, kalau nanti pulang ke Jakarta Pak Amri akan menghubungi sopir pribadinya untuk menyusul ke Bandung.


***


"Nda, mau tue clat taya temalin," ucap Dafa.


"Dafa mau, kue coklat? Kita bikin aja ya Nak. Soalnya Bunda hari ini nggak ke toko," Ujar Qiana.


"Iya mau Nda," kata Dafa.


"Sebentar ya Bunda lihat bahan-bahannya dulu," Kata Qiana.


"Oteh, Nda. Yut mana?" tanya Dafa.


"Uyut, nyiram tanaman di belakang Nak." jawab Qiana.


Qiana belum tahu jika Akbar akan ke rumah Qiana pagi ini, dipikir Qiana, Akbar akan datang nanti sore. Jadilah pagi ini Qiana santai di rumah menemani Dafa bermain dan akan membuatkan anak gembilnya itu kue coklat kesukaannya, sesuai request sang anak.


"Ayo Dafa bantuin Bunda bikin kuenya, jangan ganggu Uyut yang lagi berkebun." ajak Qiana pada Dafa yang tengah mengekor Uyutnya menyirami tanamam di belakang rumah.


"Ndong ya Nda," kata Dafa sambil merentangkan tangannya dan disambut senang hati oleh Qiana.


Mereka pun asyik membuat kue coklat kesukaan Dafa, yang seharusnya sudah selesai dari satu jam yang lalu malah molor jadi 2 jam pembuatan karena keusilan Dafa. Namun hal itu tidak menjadikan Qiana kesal, malah senang dibuatnya karena bisa melihat Dafa tertawa bahagia dan terlihat menjadi anak yang aktif menggemaskan. Qiana teringat ketika Dafa masih dipanti, ia khawatir akan tumbuh kembang anaknya itu, takut jika perkembangannya tidak sesuai dengan usianya karena kurangnya perhatian. Tapi melihatnya sekarang membuat Qiana lega, karena pertumbuhan dan perkembangan Dafa sesuai dengan usianya cenderung lebih aktif dan pintar.


***


Mobil Akbar telah memasuki kawasan Bandung, dilihatnya lagi alamat yang dikirim Qiana kemarin. Tidak sulit menemukan alamat itu karena Akbar sudah lama menetap di Bandung.


"Nah itu, tuh Bang rumah no.120." heboh Fani yang menemukan nomor rumah Qiana yang menempel di pagar rumahnya.


"Nah iya itu tuh, Bang. Ayo Bang kamu turun dulu tanya ke orang yang nyuci mobil tuh," kata Bu Rita.


"Iya, Ma sabar dong. Akbar turun dulu nih," Kata Akbar sambil membuka pintu mobilnya.

__ADS_1


Dia berjalan mendekat ke arah orang yang tengah mencuci mobil hitam itu, ternyata dia Mang Didin sopir pribadi Nenek Qiana.


"Assalamualaikum Pak, mau tanya ini betul rumah Neneknya Qiana az-Zahra?" tanya Akbar.


"Wa'alaikumsalam, iya betul A' ini rumah Bu Mira Neneknya Teh Qia. Ada perlu apa ya A'?" Tanya Mang Didin.


"Saya mau bertamu Pak, apa Qiananya ada di rumah?" tanya Akbar.


"Iya ada, sebentar. Silahkan masuk dulu A, mobilnya di parkir di dalam sini aja jangan di taruh diluar watir aya maling," kata Mang Didin.


"Iya Pak." jawab Akbar.


Qiana, Dafa, dan Nenek (Bu Mira) tengah asyik menonton acara kartun di ruang keluarga dengan menikmati kue coklat yang di buatnya tadi. Dafa duduk di pangkuan Qiana dengan menggunakan kaos merah dengan gambar tokoh kartun kesukaannya Car, sedangkan Qiana tampak segar dengan gamis rumahannya serta kerudung instantnya. Ya Qiana tetap memakai kerudung karena di rumahnya ada Mang Didin.


Tiba-tiba Mang Didin datang, mengabarkan bahwa ada tamu yang sedang mencari Qiana. Qiana segera bangkit, dengan Dafa digendongannya. Dilangkahkan kakinya menuju pintu utama. Qiana kaget bukan main, ketika melihat empat orang berbeda usia telah berdiri di depan pintu dengan banyak kantong berwarna coklat ditangannya. Untung saja dia dan Dafa sudah tidak cemong dengan tepung seperti tadi.


"Ayah..." teriak Dafa.


"Assalamualaikum sayangnya Ayah" Kata Dafa.


"Wa'alaitumtalam"


"Mari silahkan masuk, Om, Tante, Mas Akbar, dan ini Adeknya Mas Akbar ya?" kata Qiana dengan senyum manisnya.


"Iya mbak, betul saya Fani adeknya Bang Akbar," ujar Fani dengan senyum yang mengembang.


Mereka pun duduk di sofa ruang tamu, Dafa langsung berpindah kedalam dekapan ayahnya, karena malu sedari tadi sudah jadi incaran godaan dari Oma, Opa, dan Tantenya. Sedangkan Qiana dia tengah memanggil Neneknya dan menyiapkan minuman serta camilan untuk keluarga Akbar.


"Assalamualaikum Nek" ucap Akbar seraya mencium punggung tangan Nenek Qiana yang baru menemuinya di ruang tamu.


"Wa'alaikumsalam, ini pasti Nak Akbar Ayahnya Dafa ya?" Kata Nenek Mira.


"Iya betul Nek, ini saya datang bersama Mama, Papa dan Adik saya. Maaf jadi merepotkan Nenek dan Qiana, karena mereka sudah sangat merindukan Dafa Nek jadi mereka ikut untuk menemui cucunya ini" ujar Akbar sambil menoel hidung Dafa yang di balas dengan kekehan kecil.


"Iya tidak apa-apa dan kedatangan Nak Akbar ini tidak merpotkan kami kok. Kami malah senang, terutama Dafa," kata Nenek Mira ramah.

__ADS_1


"Perkenalkan Bu saya Rita, Mamanya Akbar dan ini suami saya Amri serta itu si bungsu Fani namanya." sapa Bu Rita sambil memperkenalkan keluarganya.


"Saya Mira, Nak Rita. Panggil Ambu saja ya, anak saya juga ada yang seusia kamu." pinta Nenek Mira.


"Iya Ambu," kata Bu Rita.


Pembicaraan mereka terpotong karena Qiana masuk dengan nampan ditangannya, membawa minuman dan kue coklat buatannya tadi.


"Wah Nak Qiana ini repot-repot saja," ujar Bu Rita sembari tersenyum ramah.


"Ah, tidak repot kok Tante kebetulan tadi habis buat kue sama Dafa. Jadi silahkan dicicipi ya kue coklat buatan Dafa," ujar Qiana.


"Dafa itu nempel aja sama Ayah, udah salim belum sama Oma, Opa dan Tante Fani?" tanya Qiana, hanya mendapat gelengan dan wajah malu-malu dari Dafa membuat siapa saja yang melihatnya ingin mencubit pipi gembil itu


"Loh kok gitu sih, ayok salim dulu sama Oma, Opa, dan Tante Fani di sun juga ya Dafa," kata Qiana, bagi Qiana bagaimanapun mereka adalah keluarga kandung Dafa jadi Dafa harus mulai terbiasa dan dekat dengan mereka bagaiamana pun caranya.


"Ya, Nda Dafa mau talim tama tun Oma, Opa, tama Ante Fani," kata Dafa seraya turun dari pangkuan Akbar dan mulai menyalami Opa, Tante, dan Omanya.


"Uh pintarnya cucu Oma, sini ya Oma mau pangku Dafa." pinta Bu Rita, tanpa penolakan Dafa pun langsung naik ke pangkuan Bu Rita membuat Bu Rita tersenyum bangga karena tadi suaminya meminta hal yang sama kepada Dafa untuk duduk di pangkuannya namun mendapat penolakan dari Dafa.


"Dafa, tau tidak. Oma bawa mainan sama baju banyak loh buat Dafa," Kata Bu Rita sambil mengeluarkan isi dari paper bag bawaannya mata Dafa berbinar dan langsung bertepuk tangan senang karena mendapat banyak mainan dari Omanya.


"Wah Dafa dapat mainan banyak ya dari Oma, ayok bilang apa dulu ke Oma?" Kata Nenek Mira.


"Maatih Oma," kata Dafa seraya mencium pipi Omanya.


"Wah..wah... cucu Oma sudah ngga malu lagi ya sama Omanya udah mau sun duluan," kata Bu Rita.


Mereka larut dalam obrolan seputar Dafa, menceritakan bagaimana takdir membawanya menerima kasih sayang dari seorang perempuan bernama Qiana dan ditinggal pergi oleh ibu kandungnya sendiri sejak dirinya masih membutuhkan asi, dekapan dan kasih sayang ibu kandungnya.


```


Hidup terus bergulir tanpa menunggu kita siap atau tidak, salah atau benar, semuanya terlibas oleh detikan waktu tanpa bisa kita kembali dan mengulangnya. 🍃


```

__ADS_1


__ADS_2