
Selamat Membaca…..
***
Fani Pov
Sudah sebulan semenjak hari kelulusanku, sebulan pula aku membantu Papa mengelola perusahaannya dibantu Abangku dan juga Bang Bagas. Sedikit demi sedikit aku mulai mengaplikasikan materi-materi yang dulu diberikan oleh dosen sewaktu kuliah, meski praktek yang aku jalani tak semudah ketika aku mengenyam materinya tapi tetap saja itu bukan alasan untu aku menyerah. Perusahaan yang dulu Papa bangun dengan jerih payahnya, tak mungkin aku bangkrutkan sendiri bukan? Mangkannya aku akan terus belajar dan belajar agar perusahaan keluarga ini terus berkembang.
Sewaktu kuliah dulu aku pernah bermimpi untuk membuat sebuah restaurant di Negara Korea Selatan, meski usaha Papa dan Abang tidak menggeluti dunia kuliner tapi aku rasa usaha kuliner merupakan usaha yang paling mudah untuk aku tekuni sebagai seorang wanita hehehe, emh dan tentunya menguntungkan untuk dompet dan juga
peyuttt aku.
“Nak kamu serius mau ke Korea?” tanya Mama yang kini sudah duduk di sampingku.
“Eh, Mama ngagetin aja. InsyaAllah Ma,” jawabku seraya menaruh buku di atas nakas.
“Buka usaha di Indonesia aja kenapa sih Nak? Jauh-jauh ke Korea segala,” ucap Mama memelas. Iya, sudah hampir dua minggu belakangan ini Mama dan Papa bergantian membujukku agar membatalkan niatku untuk pergi ke Korea.
“Ini itu mimpi aku Ma sudah lama aku nantikan. Uang sudah terkumpul meskipun sebagian dari uangnya Papa hehehe, temen aku juga disana sudah survei lokasinya, pangsa pasar, segala macem deh pokoknya dan menurut analisa kita, usaha ini akan menguntungkan sekali Ma. Ini bakalan jadi petualangan terakhir aku sebelum nikah deh Ma, janji. Atau enggak Mama sama Papa ikut aku aja ke Korea,” ujarku menjelaskan kepada sang Ibu Ratu untuk kesekian kalinya.
“Selalu aja gini, nggak mau ngalah sekali-kali sama Mama. Masak selalu Mama yang ngalah kamu nggak pernah sekali aja ngalah sama Mama,” rajuk Mama sambil melipat tangannya di depan dada.
Aku hanya tersenyum kepada Mama sambil mengusap-usap bahunya, entah bagaimana caranya aku pada Mama dan Papa untuk keinginanku yang satu ini. Sebelumnya Mama dan Papa mendukung seratus persen jika aku akan membuat usaha sendiri, tapi ketika aku menyebutkan tempatnya mereka langsung memboikot izin yang sudah
dikeluarkan.
Sementara Abang dan Mbak Qiana belum aku kasih tahu sama sekali tentang keinginanku ini, apalagi Bang Bagas. Aku khawatir mereka juga tidak akan mengizinkanku untuk pergi ke sana.
“Ayo ke bawah dulu, kita sarapan,” ajak Mama.
“Iya Ma,” jawabku seraya berdiri dan berjalan mengekor di belakang Mama.
Dari tangga aku sudah melihat Papa duduk di depan meja makan, beliau sudah rapih dengan setelan kerjanya.
“Pagi Pa,” sapaku dan langsung mendudukan diri di kursi samping Mama.
__ADS_1
“Pagi Nak, kamu kok belum siap-siap ke kantor?” tanya Papa.
“Fani agak siangan ya Pa ke kantornya, ada yang musti Fani urus dulu,” jawabku.
“Jangan lupa jam 09.00 ada rapat sama klien baru, kita harus menangkan tender kali ini Fan dan Papa percaya sama kamu,” ucap Papa seraya menerima sodoran sepiring nasi goreng dari Mama.
“Iya Pa, Fani nggak lupa kok sebelum jam 09.00 Fani sudah sampai di kantor. Urusan Fani cuma sebentar, tapi penting jadi nggak bisa ditunda setelah rapat,” ucapku menjelaskan.
“Iya, nggak apa-apa yang penting jangan sampai telat,” ucap Papa, seraya menyendokkan nasi goreng ke dalam mulutnya. Aku pun mengambil nasi goreng dan telur mata sapi untuk sarapan pagi ini.
“Udah ah, di meja makan kok bahas kerjaan,” kata Mama sedikit cemberut, hehehe Mama adalah orang yang paling anti sama urusan kantor dibicarakan di meja makan seperti ini, katanya sih bikin nafsu makan hilang.
“Iya Mamaku yang cantik,” ucapku.
Suara bising kendaraan bermotor mengiringi perjalanan pagiku, seperti biasa Jakarta selalu bising dengan kendaraan yang hilir mudik. Aku sudah cukup kebal dengan hal yang satu ini, karena sedari aku kecil ya sudah seperti ini keadaan Ibu Kota Negara terlebih saat musim hujan, huwa sudah macet banyak genangan dimana-mana.
“Akhirnya sampai juga,” ucapku ketika melihat gedung yang aku tuju sudah di depan mata.
Aku pun memarkirkan mobilku dan berjalan ke dalam gedung itu, gedung yang beberapa hari lalu aku kunjung untuk mengurus visa kerjaku. Beberapa dokumen lain aku sengaja tidak mengurusnya sendiri, melainkan meminta bantuan kepada pengacara keluarga agar aku tidak terlihat terlalu sibuk di luar rumah maupun kantor.
Seorang pria berpenampilan rapih menyodorkan visa kerjaku yang sudah jadi, ah bahagianya. Tinggal menunggu dokumen-dokumen lain dan mengantongi izin dari Mama-Papa.
Aku melihat jam mungil yang bertengger cantik di pergelangan tanganku sebelah kiri, ternyata 38 menit lagi sudah jam 09.00, untung saja gedung ini tak seberapa jauh dari kantor Papa.
“Alhamdulillah sudah lengang,” ucapku saat memasuki jalanan dan bergabung dengan pengendara lain.
Tak sampai 25 menit aku sudah sampai di dalam ruangan yang Papa khusus siapkan untukku selama ikut mengelola perusahaan Papa. Disana aku melihat bahan untuk meeting kali ini, wah ternyata Papa akan melakukan kerja sama dengan perusahaan Korea. Sebuah kebetulan sekali, batinku.
Drrrrttt….drrttt…ddrttt….
Tukang Prank is calling…
Wah…wah… ada apa ini, tumben sekali Bang Aziz menghubungiku. Padahal aku dan dia sudah hampir sebulan ini tidak pernah berkomunikasi lagi, kau kira dia sudah menyerah.
“Assalamu’alaikum… My Heart…” sapanya dari sebrang sana.
__ADS_1
“Wa’alaikumsalam… Bang Aziz, stop panggil aku dengan sebutan itu Bang,” ucapku sebal.
“Oh ayolah, itu sebutan paling pas untukmu,” ini gombalan apa Tuhan.
“Stop gombal recehnya Bang, ada perlu apa?” tanyaku.
“Oh ini, minggu depan aku ada ke Jakarta ayo kita ketemu. Aku udah kangen berat,” ucapnya.
“Nggak mau ah,” jawabku.
“Ayolah, My Heart jarang-jarang kita ketemu berduaan,” rayunya lagi.
“No, Bang,” jawabku.
“Ayolah sekali aja, kita makan malem bareng satu kali ajaaa, beneran,” ucapnya dengan nada memelas, hmmm apa aku iyain aja ya? Kan sebentar lagi juga aku bakalan ke Korea, pasti lama nggak ketemu lagi sama Bang Aziz.
“Hm, boleh deh tapi makan siang aja ya?” jawabku.
“Oke, nggak masalah,” jawabnya dengan nada senang.
“Yaudah Bang, aku ada rapat nih udah ya. Assalamu’alaikum,” kataku menutup obrolan.
“Siap, My Heart. Wa’alaikumsalam, semangat kerjanya,” ucapnya.
Saat aku menaruh ponselku diatas meja kerja dan meraih bahan rapat, tatapan mataku terhenti pada jemari tanganku.
“Ya…Allah… aku lupa sudah menerima lamaran non formalnya Aa Bagas,” ucapku seraya menatap lekat jari manisku yang sudah ada cincin pemberian Aa Bagas.
Ya, sebulan yang lalu tepat saat hari wisudaku Aa Bagas memberikan cincin ini sebagai tanda aku menerima lamarannya. Tapi hanya lamaran yang baru aku dan A Bagas aja yang tahu, belum dengn kedua keluarga besar, istilahnya mah tanda komitmen kita hehehe. Hadiah wisuda S1 aku dari Bang Bagas ya ini, cincin sama sepatu
keluaran terbaru dari salah satu brand terkenal, katanya biar langkahku saat menemani A Bagas tetap mulus, wkwk gombal mode on.
“Ya udah deh, nanti kalau ketemu sama Bang Aziz aku ngajak A Bagas sekalian biar Bang Aziz berhenti berusaha dan segera mencari wanita lain. SEMANGAT RAPAT FANI, SEMANGAT…SEMANGAT!!!”
***
__ADS_1
Terimakasih telah membaca semua….
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak… love you all… selamat istirahat....