
Selamat membaca, semoga suka yaa
Hari-hari terus berlalu tibalah saat dimana keluarga Pak Amri dan juga Qiana harus On The Way ke Surabaya. Mewujudkan rencana lamaran Akbar dan Qiana. Setelah sampai Bandara Juanda keluarga Pak Amri memutuskan untuk langsung ke hotel tempatnya menginap, untuk segera beristirahat. Sedangkan Qiana dan Dafa keduanya telah di jemput Reza dan langsung pulang ke kediaman orang tua Qiana.
"Bang, kita jadi di Surabaya seminggu?" Tanya Fani dengan antusias karena setelah mensearching tempat-tempat yang bisa di kunjungi di wilayah Surabaya dan kota-kota sekiarnya banyak yang recommended untuk di kunjungi.
"Iya, kasihan Dafa kalau kita cuman sebentar disini nggak ada waktu buat badannya istirahat." Kata Akbar sambil mendudukan diri di sofa sebelah Mamanya.
"Asyikkkk..... Aku mau jalan-jalan ya Bang, kulineran sama ada beberapa tempat wisata yang pingin aku kunjungi mumpung di Surabya." Ucap Fani yang masih semangat.
"Kamu jangan aneh-aneh ya Fan, kita di Surabaya buat ngelamarin Qiana buat Abang kamu." Ujar Bu Rita yang mematahkan semangat Fani.
"Ah, Mama nggak asyik aaahh... masak seminggu cuman di hotel doang." Gerutu Fani.
"Kulineran nggak apa-apa deh, kalau tempat wisata kita ke pantai yuk sama wahana permainan di kota tetangga daerah Lamongan kata temen Papa tempatnya bagus. Kita ajak keluarganya Qiana juga, berangkatnya di hari ke-4 kita disini, biar Dafa cukup istirahat dulu." Kata Pak Amri memberikan solusi.
"Mau...mau...mau... Fani mau. Ahhh...asyiknya Fani mau searching dulu ah mau liat-liat." Kata Fani sambil menggulirkan layar Hpnya.
***
Dafa sedari di mobil dia sudah tertidur pulas di pangkuan Qiana. Bagaimana pun keadaanya anak kecil itu tetap menggemaskan, pipinya yang gembil membuat siapa saja yang melihatnya ingin mencium dan menggigitnya. Setelah sampai di rumah, Qiana merebahkan tubuh Dafa di kamarnya di susul sang Abang yang membawakan Qiana jus jeruk. Hari itu semua orang rumah tengah pergi ke Rumah Sakit menemani Oma Mira check up.
"Dek kamu udah yakin nih, sama pilihan kamu?" Tanya Reza.
__ADS_1
"Udahlah Bang, kalau nggak yakin kenapa dari awal Qia terima Akbar toh dia udah jalanin tantangan Qia dan jawab pertanyaan Papa dengan tegas dan yakin." Jawab Qiana.
"Hem, ya sudah kalau kamu yakin. Takutnya Abang, kamu tuh kepaksa karena adanya Dafa," Ucap Reza.
"Sebetulnya itu alasan utama Qia Bang, Qia pingin Dafa dapet kasih sayang utuh dari kedua orang tuanya. Tapi kadang Qia berfikir dari sudut pandang lain, kayak mikir aja mungkin adanya Dafa yang Qia adopsi dari panti adalah jalan takdir Qia untuk ketemu jodoh Qia Bang, gitu sih. Terus ya Bang kata Tyo, aku itu harus belajar menerima orang yang mencintai aku, lama-lama juga aku bakal cinta juga sama dia kalau dia bisa memberikan yang terbaik untuk aku. Jadi do'ain Qia ya Bang." Jawab Qiana dengan memandang wajah polos nan menggemaskan milik Dafa.
"Iya sih, bisa juga pemikiran kamu. Hem, Adek kecil Abang udah gede ya sekarang." Ucap Reza seraya mengusap lembut puncuk kepala Qiana. "Ini minum dulu, kita pindah ke balkon yuk ngobrol sambil nungguin orang rumah pada dateng." Ajak Reza sambil menyodorkan gelas yang berisi jus jeruk.
***
Ngobrol di balkon kamar sambil melihat matahari yang perlahan tenggelam, Qiana dan Reza larut dalam obrolan yang seru mengenang masa kecil membuat tawa juga tangis membaur jadi satu. Ya, kenangan baik dan buruk akan selalu ada sebagai pengingat bahwa masa itu pernah ada.
"Masa kecil kita terlalu indah untuk terlewati begitu saja ya Dek. Sekarang kamu udah mau jadi punya orang, jangan pernah berubah ya Dek. Abang selalu sayang sama kamu dimana pun kamu berada." Kata Reza sambil memandang semburat jingga di hadapannya.
"Abang bangga sama kamu tau nggak Dek? Kamu udah mandiri sejak lulus SMA pergi dari rumah tinggal di Jakarta sendirian dan tetep bisa jaga diri dengan baik tanpa ngecewain Mama dan Papa. Sedangkan Abang dari kecil nggak pernah jauh dari orang tua. Sekarang Abang udah nikah aja masih sama orang tua." Ujar Reza sambil tersenyum miring.
"Abang ih ngomong apaan coba, Abang itu bukan nggak mandiri cuman emang takdirnya di suruh jaga Mama sama Papa disini. Papa juga lebih butuh Abang buat ngelanjutin usaha keluarga Bang, kalau semua anaknya keluar dari rumah siapa yang nemenin orang tua kita di masa tuanya, apa Abang tega?" Kata Qiana.
"Iya ya Dek, ini udah takdir Allah buat Abang bisa jagain Mama sama Papa, untung juga Abang dapet jodohnya orang Surabaya, Santi juga masih punya adik 2 orang yang masih tinggal sama orang tuanya, jadi nggak masalah deh Abang boyong ke rumah sini. Kamu nanti kalau udah berumah tangga mau tinggal di mana Jakarta apa Bandung?" Tanya Reza.
"Di Bandung Bang, kan kerjaannya Mas Akbar di Bandung. Yang di Jakarta itu punya Papanya." Jawab Qiana.
"Papiiiii....... Lea puyangggg..." Teriak Lea.
__ADS_1
"Astaga Abang, Lea kenapa mirip sekali denganmu saat pulang ke rumah selalu berteriak seperi itu." Decak Qiana.
"Hahaha, Abang juga tidak tau Qi. Ayok kita turun sebelum teriakan Lea membangunkan Dafa." Ajak Reza.
***
Selepas sholat isya' terlihat Akbar dan Fani tengah berada di kerumunan orang banyak, ada penjual camilan, ada penjual makanan khas Surabaya, ada penjual aksesoris, ada penjual baju semua lengkap disini dengan diiringi alunan musik dangdut yang menggema di salah satu sudut lapangan. Ya Akbar dan Fani memutuskan untuk kulineran malam ini dan mereka pergi ke Lapangan KODAM Brawijaya, yang setiap malam akan menjadi tempat nongkrong muda-mudi Surabaya.
"Bang enak nih cobain deh, baby gurita bakarnya enak uuuhhhh bumbunya nampol abis. Ini juga enak Bang seger kopitannya." Ucap Fani seraya terus memakan camilan yang ada di tangannya.
"Udah makan aja ini Abag juga bungkus buat di makan di hotel, mau beli apalagi ini mumpung belum pulang." Tawar Akbar.
"Bungkusin Mama sama Papa itu yuk Bang, putu sama gethuk kayaknya itu makanan tradisional deh." Ajak Fani sambil menunjuk salah satu gerobak yang bertuliskan 'PUTU 1000/ptg, GETHUK 2000/ptg.'
"Boleh ayok buruan pesen dulu." Kata Akbar sambil menyodorkan uang 50an.
"Siap Bang," kata Fani seraya mengambil uang dari tangan Akbar.
Selepas membeli jajanan di KODAM Brawijaya, Fani dan Akbar pun bergegas kembali menuju hotel tempatnya menginap sebelum malam semakin larut.
***
tbc
__ADS_1