
Fani POV
Aku akan bercerita sedikit tentangku, namaku Fanindira Atmadja usiaku kini sudah 22 tahun dan aku anak bungsu dari dua bersaudara. Aku memiliki kakak laki-laki yang kini tinggal di Bandung bersama keluarga kecilnya. Sedari kecil aku sudah hidup dengan di penuhi rasa kasih sayang dan kecukupan financial dari kedua orang tuaku dan juga Abang.
Terlahir dari keluarga berada tak selamanya menguntungkan bagiku, karena acap kali aku di pandang sebelah mata oleh teman-temanku yang selalu mengira apa yang aku peroleh adalah hasil tangan kekuasaan kedua orang tuaku, padahal itu salah besar karena selama ini aku selalu melakukan apapun dengan pikiran dan kerja kerasku sendiri.
Jika Fani remaja selalu memikirkan apa yang dikatakan orang dan berusaha menyenangkan hati semua orang yang dikenal, berbeda dengan Fani yang sekarang. Ya, sudah semenjak usiaku menginjak usia 18 tahun aku perlahan mengubah carapandang dan pola pikirku agar lebih dewasa dalam bersikap. Jika dikatakan manja, sebetulnya aku tidak terlalu manja baik pada kedua orang tuaku maupun pada Abang, hanya saat-saat tertentu saja aku manja, seperti saat jatuh sakit misalnya. Aku juga bukan termasuk anak bungsu yang dekat dan selalu bercerita tentang permasalahanku terhadap kedua orang tuaku atau Abang, semuanya jika aku bisa kerjakan sendiri aku akan berusaha menyelesaikannya tanpa campur tangan orang lain.
Aku sadar jika aku tak selalu bisa menyenangkan hati semua orang atau menyanggupi semua keinginan orang-orang yang ada di sekitarku, begitupun aku tidak bisa menggiring pemikiran mereka untuk menyukaiku. Karena mungkin beberapa dari mereka tidak mengenal ku dengan baik.
Seperti yang sering aku renungkan dalam beberapa tahun terakhir, beberapa orang mungkin mengenalku pendiam, keras kepala dan sombong, tapi untuk beberapa orang lainnya aku dikenal si cerewet yang tak bisa diam, lalu beberapa lainnya melebeliku dengan sosok lembut keibuan, dan nyaman bercerita denganku bahkan tak sungkan untuk bersandar di pundakku ketika bersedih.
Ada juga yang mengatakan jika aku cuek bukan main, tapi ada juga yang mengatakan jika aku sangat perhatian dan peduli pada sesama, ada juga yang merasa tak penting untuk menyapaku saat berpapasan denganku di jalan misalnya, tapi tak sedikit pula dari mereka tanpa ragu memelukku bila tak sengaja bertemu.
Aku menyadari jika beberapa orang yang ku kenal memiliki penafsiran sendiri tentangku, lalu memilih pergi, tapi tak sedikit pula yang baru mendengarku dari orang lain atau media sosial, tapi sudah merasa sangat mengenali. Dan sisanya tetap tinggal meski seringkali merasa kecewa dengan segala kekuranganku, tetap mendampingi langkahku tanpa peduli seberapa menyebalkannya aku dihadapan mereka.
Beberapa tahun terakhir aku meresapi semua ini, setiap perlakuan yang aku terima dari orang-orang sekitarku selalu aku telaah, bukan kurang kerjaan tapi aku hanya ingin belajar dari rupa-rupa perlakuan dan penfsiran mereka tentangku agar kedepannya aku tidak salah dalam memperlakukan orang-orang disekitarku.
Terlebih saat aku bertemu dengan sosok Kakak perempuan yang entah mengapa baru pertama kali bertemu dengannya aku merasakan dia sejalan dengan pemikiranku dan akan sangat menyenangkan bila bisa bercerita apa saja dengannya. Dari kisah hidupnya yang sedikit banyak aku tahu dari cerita orang-orang di sekitarnya, aku bisa menarik kesimpulan yang relevan juga dengan apa yang aku renungkan beberapa tahun terakhir ini.
Kehidupan yang sangat kompleks ini, membuat orang lain memiliki rupa-rupa penilaian tentang diri kita, baik dan
__ADS_1
buruk sudah pasti ada di benak mereka. Untuk saat ini aku bisa mengatakan bahwa aku sudah tidak peduli dengan semua itu, terserah mereka akan berfikiran apa tentangku, ini hidupku dan aku yang menjalaninya sebagai pemeran utama kisah kehidupanku. Jika aku saat remaja memilih untuk membela atau menunjukkan jika apa yang diucapkan mereka adalah sebuah kekeliruan, maka aku yang sekarang akan memilih diam tanpa harus membela atau menunjukan apapun itu, mau di benci atau di cintai, keduanya adalah dua hal yang pasti akan kita rasakan, jangan terlalu terpengaruh.
Penilaian manusia bukanlah segalanya, cukup penilaian Allah saja yang mempengaruhi langkah kita kini dan kedepannya. Berusaha lebih baik setiap harinya bukan untuk melampaui orang lain, tapi untuk melampaui diri kita sendiri di hari-hari yang telah lalu, adalah usaha untuk mengalihkan kita dari rupa-rupa penilaian dari orang lain terhadap kita.
“Fan, ayo turun katanya mau beli kue.” Tegur Mama sambil menepuk bahuku, menyadarkanku dari lamunan dan
pemikiranku sejak di perjalanan tadi.
“Ah, iya Ma bentar aku mau sambil telepon Dafa siapa tahu dia pingin di beliin kue.” Jawabku sambil meraih telepon genggam dan turun dari mobil bersama Papa dan Mama.
Suara sambungan telepon disebrang sana sudah aku dengar, tapi tak kunjung diangkat. Sambil meneruskan langkahku menuju toko kue milik Mbak Qiana, aku menghubunginya untuk ke tiga kalinya.
“Alhamdulillah diangkat juga, Assalamu’alaikum Mbak…” sapaku
“Astaga kenapa sih harus Abang yang angkat teleponnya? Orang aku nelpon kakak ipar aku, mana Mbak Qiananya atau Dafa aku mau ngobrol sama mereka aja nggak mau sama Abang,” ucapku ketus, masih syebeeelll kemarin abis di usilin Abang yang bilang ke Bang Bagas kalau aku marah sama Bang Bagas karena nggak dateng ke sidangku ataupun ke acara makan-makan sama Mama dan Papa, padahal aku sama sekali nggak marah sama Bang Bagas. Dan karena aduan itu malem-malem sepulang lembur dari kantor Bang Bagas datang ke rumah sambil bawa hadiah, dengan muka letihnya dan stelan kerjanya membuatku merutuki aduan Abang. Kasihan sekali casuku…(calon suamiku hehehe).
“Hahahaha, masih ngambek kamu? Padahal senengkan dapat kejutan dari BangGas mu itu semalam?” godaan Bang Akbar semakin menjadi, padahalkan yang dipikiranku bukan senengnya aja pas Bang Bagas tiba-tiba datang, tapi kasihan melihatnya harus ke rumah malam-malam sedangkan tubuhnya sudah membutuhkan kasur untuk beristirahat.
“Ih, apaan sih Bang jangan panggil Bang Bagas disingkat gituh deh kedengernya sama kuping aku tuh buang gas, jorok banget sih Bang nyingkatnya yang keren dikit lah.” Protesku, daripada terus membahas kejutan Bang Bagas semalam mending aku alihkan dengan yang lain. Ekor mataku menangkap Mama dan Papa yang sedang menggelengkan kepalanya sambil tersenyum ke arahku.
“Hahahaha,,, buang gas dek? Telinga kamu aja tuh yang bermasalah. Bentar-bentar kalau kamu jangan-jangan manggil Bagas jadi BangBag ya? Biar kedenger di kuping kamu itu Bambang wkwkwkwk Bambang Tamvan…” goda Bak Akbar dengan tawa puasnya di sebrang sana.
__ADS_1
“Ihhhh…Abang mana Mbak Qiana atau Dafa, jangan ngonong terus, nyebelin!” seruku sedikit berteriak sehingga membuat perhatian beberapa pengunjung teralihkan ke arahku, ah masa bodoh dengan orang lain toh nggak kenal ini hehe. Dari sebrang telepon sana terdengarjelas kekehan Bang Reza dan suara omelan perempuan.
“Halo Dek, kamu dimana? Jam berapa sampainya?” tanya seorang wanita dengan suara lembutnya, dan sudah dpastikan ini adalah suara Mbak Qiana.
“Ah… akhirnya Mbak Qiana juga yang bicara. Ini aku sama Mama , Papa masih di toko kue Mbak. Mbak mau di belikan apa barangkali Dafa juga.” Ucapku.
“Eh… kenapa musti beli ambil aja Dek, bilang ke bagian kasir namanya Teh Lani suruh bungkuskan seperti yang biasa Mbak bungkus kalau mau pulang dari toko gitu ya sama kamu dan Mama, Papa ambil aja yang disuka nggak usah bayar itu usaha kita bersama hehehe.” Jawab Mbak Qia yang diakhiri candaan yang sebenernya garing, masa tokonya disebut toko kita bersama hihi… tapi ya sudahlah.
“Assssyyyiiiiaappp… Mbakcuuu… yaudah Fani tutup ya… Assalamu’alaikum” salamku sebelum mengakhiri panggilanku.
“Wa’alaikumsalam.” Jawab Mbak Qiana dan langsung menutup panggilan.
“Ma.. Pa.. sudah?” tanyaku sambil menhampiri Mama dan Papa.
“Iya sudah ayo ke kasir, eh kamu kok ngga ambil apa-apa?” tanya Mama bingung setelah melihat kedua tanagnku tidak membawa nampan seperti Mama.
“Hehehe, iya udah samain aja sama Mama dan Papa, sama Mbak Qia tadi pesen ke Fani buat di bungkuskan kue seperti yang Mbak Qia bungkus kalau pulang dari sini ke pegawainya.” Jawabku menjelaskan pada Mama dan Papa.
Dua paper bag berukuran sedang sudah berada dalam genggaman, saatnya melanjutkan perjalanan menuju rumah baru Abang tercintahhh.
__ADS_1
Pemanasan dulu sebelum kita masuk ke part petualangan hidupnya si Fani. Petualangan disini bukan berarti berpetualang keluar masuk hutan ya hehehe…. Tapi petualangan yang berarti perjalanan hidup yang mungkin berliku atau lurus-lurus saja..