Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
13. Dafrendra Amri Atmadja


__ADS_3

Selamat membaca...


***


Perjalanan dari RS ke rumah Qiana tidak memerlukan waktu tempuh yang lama. Sesampainya di kediaman Qiana, Akbar segera berlari masuk mencari keberadaan Dafa. Dilihatnya Dafa tengah asyik bermain dan bercanda bersama Setya dan Tyo. Di dekapnya tubuh mungil itu ke pelukkannya. Lagi-lagi air matanya menetes, mulutnya kelu untuk sekedar mengucapkan rasa bahagia di hatinya. Tangan mungil Dafa membelai surai belakang Akbar sampai ke tengkuknya seakan tahu apa yang di rasakan oleh Ayahnya.


Qiana masih setia berdiri di belakang Akbar memperhatikan dengan seksama interaksi antara Akbar dan Dafa yang begitu mengharukan baginya. Beda dengan pemikiran Setya dan Tyo yang menatap Akbar dengan ekspresi jengah.


"Maaf... maaf ya nak maafin Ayahmu ini," Lirih Akbar kepada Dafa.


"Ayah tenapa minta maaf tama Dafa? Ayah ndak natal tama Dafa yang natal tama Dafa itu om tembal, tuka godain Dafa," Ucap Dafa dengan polosnya. Akbar hanya diam dan mempererat pelukannya.


"Setya, Tyo kalian udah lama disini? Kemana Tiwi?" Kata Qiana mencoba mengalihkan perhatian si kembar yang menatap aneh pada Akbar.


"Kita udah dari pagi disini, Tiwi lagi nyuci di belakang tadi," Jawab Setya.


"Yaudah kita makan siang bareng aja ya habis ini, sebentar aku ke dapur dulu," Kata Qiana.


Setelah makan siang, Dafa sudah di tidurkan oleh Qiana dan sekarang Dafa ditemani Tiwi di Kamar Qiana. Setya dan Tyo pun tadi sudah berpamitan pulang. Dan di sinilah sekarang di ruang tamu, Akbar dan Qiana tengah mengobrolkan Dafa.


"Sepertinya saya harus ke panti Bu Qiana, untuk menanyakan langsung kepada Bu Panti kejadian Dafa 2 tahun silam barangkali ada barang atau apapun itu yang ditinggalkan oleh mantan istri saya ketika meninggalkan Dafa di panti itu," Ucap Akbar sambil menatap serius ke arah Qiana.


"Saya rasa itu memang diperlukan Pak. Oh iya Pak bagaimana dengan pengasuhan Dafa kedepannya? Apa Bapak akan membawa Dafa pergi dan tinggal bersama dengan Bapak?" Kata Qiana dengan tatapan sendunya.


"Kalau tentang itu, mungkin saya akan melakukannya bertahap Bu. Bagaimana pun juga Dafa perlu beradaptasi dengan saya lagi, sekalipun dia sudah menganggap saya sebagai Ayahnya dari sewaktu pertama kali bertemu tapi untuk tinggal bersama saya rasa dia akan sedikit sulit terlebih dia sudah mendapat kasih sayang dari Anda," Jawab Akbar.

__ADS_1


"Mohon maaf sebelumnya Pak, sebetulnya saya sudah ada rencana resign dari RS dan akan membawa Dafa tinggal bersama saya dan Nenek saya di Bandung. Kemungkinan anda tidak bisa sesering sekarang untuk bertemu dengan Dafa," Kata Qiana.


"Tidak masalah, saya juga di Jakarta hanya meninjau perusahaan orang tua saya karena kemarin sempat ada masalah. Aslinya juga saya tinggal di Bandung karena usaha saya sendiri ada di sana," Ucap Akbar santai.


"Baiklah pak, jadi saya akan tetap pindah dan membawa Dafa sampai dia bisa menerima dan mau tinggal bersama dengan Bapak, nanti saya akanmemberiya penjelasan perlahan," Ucap Qiana dengan sendu.


Sebetulnya sudah dari tadi dia menahan air matanya. Pikirannya menerawang jauh kedepan, di tinggalkan malaikat kecilnya adalah suatu kesedihan luar biasa baginya. Bagaimana tidak, dia sudah menunggu dua tahun untuk membawa Dafa tinggal bersamanya, bekerja dengan giat mengumpulkan pundi-pundi rupiah agar bisa segera resign dan mengembangkan toko kuenya untuk menghidupi Dafa, seperti sia-sia ketika dia harus menelan mentah-mentah bahwa Dafa masih memiliki seorang Ayah yang masi peduli dan mengkhawatirkannya.


"Apa Bu Qiana, bersedia untuk ikut saya ke panti sekarang?" Tanya Akbar.


"Iya baiklah Pak saya ikut." Jawab Qiana, "Sebentar Pak Akbar saya pamit ke Tiwi terlebih dahulu," Lanjut Qiana.


"Biak, saya tunggu di mobil saja Bu Qiana," Kata Akbar sambil beranjak menuju mobilnya.


"Awas saja kamu, dasar Ibu jahanam tega sekali meninggalkan darah dagingku sendiri di panti. Sedangkan dia sibuk bersenang-senang dengan selingkuhannya dan uang yang aku transferkan tiap bulan pasti di buatnya untuk berfoya-foya," Batin Akbar sambil mengepalkan tangannya untuk meredam segala emosi yang tengah dia rasakan.


***


Sesampainya di panti, Ibu panti yang mendapat cerita haru itu pun menitikan air matanya. Dia segera bangkit dan mengambil kotak kecil yang terbuat dari kayu, di dalamnya terdapat surat dan pakaian bayi yang tersimpan rapi di dalamnya. Ya,semua itu barang Dafa saat pertama kali di temukan di panti itu. Diserahkannya barang itu kepada Akbar, Akbar terbelalak ketika membaca surat itu. Sebegitu tidak punya hati, ternyata mantan istrinya itu. Dia pun baru tahu nama lengkap Dafa yang ternyata sama dengan nama Rendra anaknya, bagaimanapun mereka orang yang sama dengan nama panggilan yang berbeda. Dafrendra Amri Atmadja, bayi kecil itu sekarang sudah tumbuh dengan baik, dan selama 2 tahun dia kehilangan kesempatan untuk mengetahui tumbuh kembang bayi mungil itu.


Dalam hatinya dia merutuki kebodohannya yang percaya dengan bualan mantan istrinya dan termakan janji yang akan merawat buah hati mereka dengan baik. Tapi setelah melihat keadaan Dafa yang ternyata di besarkan di panti, membuat hatinya mendesir pilu.


Setelah mengetahui cerita itu pun, Akbar dan Qiana segera kembali ke rumah Qiana.


"Bu Qiana, boleh saya memanggil Ibu dengan nama saja?" Tanya Akbar sambil fokus menyetir.

__ADS_1


"Boleh pak silahkan saja, dari segi usia pun anda lebih tua dari saya jadi terserah anda saja," Kata Qiana.


"Baiklah kalau begitu, Qiana. Dan satu lagi panggil saya dengan Mas saja bagaimana pun saya bukan Bapak kamu dan kita sedang tidak terikat dalam pekerjaan" Kata Akbar.


"Iya baikalah, Mas." Jawab Qiana pasrah.


"Kita pergi beli keperluan Dafa dulu bagaimana Qi?" Tanya Akbar.


"Keperluan apa Pak, eh Mas?" Kata Qiana dengan kaku.


"Ya, keperluannya seperti baju, mainan atau apapun itu yang diinginkan Dafa," Kata Akbar.


"Keperluan Dafa masih baru semua Mas, beberapa hari yang lalu saya pergi bersama Dafa dan Tiwi untuk keperluan Dafa dan belanja bulanan," Jawab Qiana.


"Yah, telat dong saya. Padahal saya mau membelikan Dafa baju yang lucu-lucu," Kata Akbar dengan raut wajah yang menjadi sendu.


"Maaf Mas," Kata Qiana tak enak hati.


"Ya sudah bagaimana jika kita segera pulang dan mengajak Dafa bermain kemana pun dia inginkan. Saya ingin membahagiakannya, mulai dari memberikannya perhatian kecil sampai yang paling besar," Ucap Akbar dengan antusias.


Qiana POV


Aku baru bertemu dengan Mas Akbar beberapa kali tapi sungguh orang ini sulit di tebak suasana hatinya, kadang begitu cuek, dingin, dan jaim naudzubillah  sekarang hangat sekali. Senyumnya manis sekali seperti senyuman Dafa. Takdir Allah memang unik untuk Mas Akbar, memisahkan danmempertemukan anaknya dengan cara luar biasa. Aku penasaran sekali bagaimana rupa Ibu Dafa yang tega membuang bayinya sendiri di panti asuhan.


***

__ADS_1


Terimakasih sudah mampir...


__ADS_2