Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
23. Petunjukkah Ini?


__ADS_3

~Panjatan do'a-do'a yang telah lama membumbung di angkasa, bukankah hanya waktu yang akan menjawab?~.


Obrolan antara dua keluarga itu berlangsung lama dan penuh canda tawa. Qiana dan Fani sudah tak nampak di ruang tamu, mereka berdua tengah berada di dapur, memasak untuk makan siang dibantu Bi Ani istri Mang Didin yang bekerja sebagai ART di rumah Nenek Qiana. Sebetulnya Qiana sudah melarang Fani untuk ikut memasak, tapi anak itu memaksa karena ingin sekalian mengobrol dengan Qiana.


Bagi Fani, Qiana merupakan sosok Kakak perempuan yang bisa menjadi panutan dan contoh yang baik untuk Fani. Ini merupakan pengalaman pertama bagi Fani merasakan kecocokan dan kagum terhadap orang yang baru pertama kali dia temui, selain mendengar cerita dari Akbar tentang kebaikan Qiana hari ini Fani menyadari bahwa Qiana bukan hanya cantik hati saja namun juga cantik rupa dan lembut tutur katanya. Beda sekali dengan Fani yang sangat bawel dan terkesan grasa-grusu tanpa piir panjang saat melakukan apapun.


"Mbak Qiana, aku mau tanya boleh?" Tanya Fani sambil memotong-motong sayuran.


"Boleh, tanya aja kalau Mbak bisa jawab ya Mbak jawab, Dek." Jawab Qiana.


"Em, sebelumnya maaf ya Mbak. Fani takut nyinggung perasaan Mbak, tapi Fani penasaran banget hehe," ujar Fani.


"Iya ngga apa-apa tanyain aja daripada penasaran kan." jawab Qiana sambil menghaluskan bumbu.


"Gini ya Mbak, kalau Fani liat-liat nih ya, Mbak itu udah cantik, dewasa, mapan, sholehah lagi. Tapi Mbak Qiana kenapa masih melajang sampai usia 26 bentar lagi masuk 27 kan Mbak? Maaf ya Mbak, aku tanya hal ini lagi padahal tadi Mama di depan udah nanya, tapi Mbak Qiana malah senyum aja ngak jawab pertanyaan Mama." Tanya Fani penasaran, karena dia yang usianya masih 22 tahun sudah bertunangan dan akan menikah akhir tahun ini tapi Qiana diusianya yang sudah matang dia masih setia seorang diri.


"Hahaha, kirain mau tanya apa kamu Dek. Ternyata nanya ini, hmm gimana ya jawabnya. Simplenya sih, jodoh Mbak belum datang Dek kayaknya masih otw nyampek Pasteur bentar lagi nyampek hahaha," canda Qiana.


"Eh si Mbak aku kira bakal kesinggung malah becanda, aku heran aja sama Mbak bukan PDKT sama cowok-cowok tampan dan aduhai malah milih adopsi Dafa dan merawatnya pakai acara resign dari RS juga, disanakan banyak dokter-dokter muda yang cihuy. Resign dari situ juga kan mempersempit Mbak ketemu orang-orang yang mungkin ada jodohnya Mbak disana," ujar Fani dengan segala pemikirannya.


"Kamu ya pemikirannya lucu banget tau ngga Dek, gini ya kalau menurut Mbak. Mau dimana aja Mbak berada kalau jodohnya belum dateng ya mau digimanain lagi. Yang penting Mbak udah berusaha dengan caranya Mbak sendiri tapi tetap berpegang pada agama kita. Mbak rasa adanya Dafa dan kepindahan Mbak ke Bandung ini ya sudah garis takdirnya Mbak, jadi ngga usah risau soal jodoh, kalau sudah waktunya pasti datang, Menikah juga bukan perkara mudah Dek," Jawab Qiana.

__ADS_1


"Hmmm, betul juga sih Mbak. Makin kagum Fani sama Mbak." puji Fani.


Mereka pun sibuk dengan acara memasaknya, sebelum adzan dhuhur berkumandang aktifitas mereka telah usai. Qiana dan Fani berjalan beriringan menuju ruang tamu dengan sesekali tertawa bersama, entah pembicaraan apa yang sedang mereka bahas sampai tawanya terdengar begitu lepas. Membuat perhatian semua orang yang ada di ruang tamu tertuju pada mereka berdua.


"Kok, pada ngelihatin kita sih?" tanya Fani yang hanya mendapat gelengan.


"Ah, enggak kok jangan ke PDan deh Dek" kilah Bu Rita.


"Udah selesai kalian masaknya?" tanya Nenek Mira.


"Sudah Nek, ayok kita siap-siap sholat duhur bentar lagi adzan. Om sama Mas Akbar kalau mau sholat di masjid, bisa bareng sama Mang Didin ya. Kalau mau di sini juga nggak apa-apa," Kata Qiana.


"Kita ikut Mang Didin aja, Bar. Ayok Dafa ikut Opa sama Ayah ya ke masjid kita sholat jama'ah," ujar Pak Amri dan diangguki semangat oleh Dafa.


"Iya boleh Nak, ikut Opa sama Ayah. Tapi janji ya, Dafa ngga boleh jail dan nakal ya Nak" Seru Qiana.


"Tiap Nda" kata Dafa.


"Yaudah kalian siap-siap dulu" Kata Nenek Mira.


"Dafa ikut Bunda dulu, Bunda gantiin baju Dafa dulu sama makein Dafa sarung ya," Kata Qiana.

__ADS_1


Dafa sudah keluar dari kamar Qiana, dia tampak lucu dengan sarung khusus anak-anak dengan sajadah mini yang bertengger di pundaknya, kopyah bulatnya yang membalut kepala Dafa menambah kesan imut menggemaskan. Style Dafa kali ini membuat Fani terhipnotis, ingin sekali menguyel-uyel ponakannya yang unyuk sekali.


"Ayo, Ayah Opa." Ajak Dafa semangat, karena baru kali ini dia akan sholat ke masjid selama tinggal bersama dengan Qiana, Dafa hanya ikut sholat dengan Qiana di musholla rumah.


***


Seusai sholat dhuhur, mereka beekumpul di ruang keluarga untuk makan siang. Karena meja makan di rumah Nenek Qiana tidak cukup untuk menampung mereka semua. Alhasil, mereka makan bersama di atas tikar. Terlihat binar bahagia di wajah Dafa, dia selalu ingin dekat dengan Ayahnya juga Bundanya.


"Pa, lihat deh itu," Kata Bu Rita sambil melirik ke arah Dafa, Akbar, dan Qiana.


Saat ini Dafa tengah dalam pangkuan Akbar tetapi meminta disuapi makan oleh Qiana. Sehingga mereka tampak seperti keluarga bahagia. Akbar dan Qiana pun tampak menikmati moment itu, terlebih Dafa sangat terlihat bahagia dengan perhatian yang di berikan Akbar dan juga Qiana.


"Serasi sekali ya Ma, jadi ingat waktu kita punya Akbar dulu," Kata Pak Amri.


"Iya, tapi bukan itu yang Mama maksud. Papa sadar nggak kalau ini itu suatu tanda dari Allah,"Kata Bu Rita.


"Tanda apa Ma?" tanya Pak Amri dengan mengernyitkan dahinya.


"Tanda, kalau Qiana itu jodoh aslinya Akbar. Soalnya kita jadi bisa ketemu Dafa lagi juga karena Qiana. Apalagi Dafa udah deket banget sama Qiana," ujar Bu Rita yang sedari tadi bisik-bisik dengan Pak Amri.


Pak Amri mengangguk-anggukan kepalanya, pertanda setuju dengan apa yang diucapkan istrinya itu. Di dalam hatinya, dia sangat bersyukur bisa melihat anaknya kembali tersenyum bahagia, dia juga beesyukur telah dipertemukan kembali dengan cucunya dan dia berharap Qiana adalah jawaban atas do'a-do'anya selama ini untuk anak sulungnya itu.

__ADS_1


Dalam cinta, hancur itu lebih mudah daripada bertahan. Oleh sebab itu jika dirasa diri belum lagi mampu untuk membuka hati. Lebih baik belajar untuk menguatkan hati untuk membangun pondasi cinta yang baru.


__ADS_2