Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
42. Ada Tamu


__ADS_3

Berita acara lamaran yang di hadiri oleh kedua keluarga itu pun, terdengar ke telinga Tyo dan keluarganya. Tyo yang kondisinya sudah membaik dan mulai melakukan aktifitas seperti biasa, langsung pergi ke kediaman Qiana selepas isya' bersama dengan Bu Dewi, Pak Gito, dan Sinta istrinya yang baru di nikahinya kurang dari sebulan itu.


Tyo tidak menyangka ucapannya akan langsung di turuti oleh Qiana, untuk membuka hati pada pria yang mencintainya dengan tulus. Bertemu dengan Akbar beberapa kali sudah cukup membuat Tyo tahu, jika lelaki itu telah menaruh hati pada sahabatnya.


"Dek... Sinta, ayo buruan sudah di tunggu Mama," Kata Tyo di depan pintu kamarnya.


"Iya Mas, sebentar," Ucap Sinta, tak lama pintu kamar terbuka memperlihatkan Sinta dengan setelan gamisnya tampak sangat manis dan meneduhkan, tak kalah cantik dengan Qiana.


"Ayo Mas." Ajak Sinta, mereka pun segera berjalan menghampiri Bu Dewi yang sudah menunggunya tak sabaran di ruang tamu bersama suaminya.


"Ayo buruan kalian ini lama sekali, Mama sudah merindukan Qiana," Kata Bu Dewi yang tampak sangat antusias.


"Iya ayo Ma," sahut Tyo.


Tyo tampak menahan senyumnya ketika melihat Mama dan Papanya tampak antusias untuk berkunjung ke rumah Qiana. Jujur saja semenjak kepergian Setya, sangat sulit untuk membuat Mama dan Papanya terlihat ceraj seperti malam ini.


Mereka berempat pun segera masuk ke dalam mobil untuk melakukan perjalanan menuju rumah orang tua Qiana.


***


Di rumah orang tua Qiana tampak sudah sepi dan kembali rapi seperti sedia kala, hiasan-hiasan yang sengaja di pasang di rumah itu untuk acara lamaran tadi pagi pun sudah tak tampak lagi. Keluarga Akbar sudah kembali ke hotel sejak jam 2 siang tadi, mereka berencana untuk beristirahat dengan baik sebelum melakukan acara wisata ke kota tetangga, lusa.


"Leo, tolong jagain Dafa sebentar Tante mau nganter Lea ke kamar mandi dulu," Kata Qiana, kepada Leo yang tengah asyik menggambar.


"Baik, Tante. Jangan lama-lama ya," ucap Leo.


"Kak Leo, Dafa lapal," Kata Dafa sambil menarik ujung kaos Leo, Leo yang tengah asyik menggambar merasa terganggu tapi dia tak tampak marah.


"Sebentar kita tunggu Bunda, Mamiku masih memasak dengan Nenek jadi tunggu dulu," Kata Leo seraya beranjak dari posisi telungkupnya, di rapikannya kertas gambar dan pensil warna yang dia gunakan.

__ADS_1


"Tiap, Kak," Kata Dafa dan mendudukan dirinya di samping Leo.


Dari arah luar kamar, samar terdengar suara derap langkah yang mendekat, betul saja tak lama berselang pintu kamar Leo terbuka menampilkan sang Mami yang tersenyum hangat ke arahnya.


"Mana Tante Qia?" tanya Santi.


"Tante masih di kamar mandi membantu Lea," Jawab Leo.


"Ayo kita turun, makan malam dulu," Kata Santi.


Ceklek...


"Eh Mbak, udah matang Mbak?" Tanya Qiana seraya berjalan mendekat ke arah Santi, di gendongannya sudah ada Lea yang bergelayut manja.


"Iya ayo kita makan dulu, Lea turun dari gendongan Tante jalan sama Dafa dan Kak Leo," Kata Santi.


Saat semua anggota keluarga Pak Rizal telah duduk di posisi masing-masing, tiba-tiba terdengar suara bel rumah yang di oencet seseorang dari luar.


"Biar Qiana yang keluar," Kata Qiana dan langsung berdiri menuju pintu utama.


Ceklek..


"Assalamu'alaikum Nak," Kata Bu Dewi dengan senyum yang mengembang indah, ketika melihat siapa yang membukakan pintu.


"Wa'alaikumsalam Mama, Papa, Tyo, Sinta," Kata Qiana dan langsung mengabsen tamunya.


"Ya Allah, Nak kamu lamaran nggak bilang-bilang sama Papa ya nakal kamu ini," Kata Pak Gito yang sudah tampak tak sabaran mendengar penjelasan Qiana.


"Masuk dulu yuk Ma Pa, jangan ngobrol di pintu pamali," Kata Qiana sambil mempersilahkan masuk tamunya.

__ADS_1


"Ini sudah pada makan malam belum, hayu ke ruang makan ya kita makan sama-sama dulu," Ucap Qiana.


"Aduh Mama tiap kesini kok yo selalu Pas makan malam terus. Kita tunggu di ruang tamu aja ya Nak," Kata Bu Dewi sungkan.


"Eh jangan dong Ma, hayuk ah kita ke ruang makan, makan dulu baru nanti kita ngobrol-ngobrol." Ajak Qiana.


Akhirnya mereka ikut makan malam bersama dengan keluarga Qiana. Seusai makan mereka duduk di ruang keluarga untuk berbincang-bincang malam, meninggalkan ketiga anak kecil yang sibuk dengan mainannya di ruang main bersama dengan istri Reza.


"Qiana tadi pagi katanya lamaran kok nggak bilang sama Mama," kata Bu Dewi dengan muka sendunya, membuat Qiana merasa tak enak hati.


"Maaf ya Mbak, kita tadi cuma ngundang keluarga Papanya anak-anak aja ini acaranya juga termasuk dadakan," Kata Bu Rima sungkan.


"Iya Ma, Qiana aja baru pulang dari Jakarta kemarin. Maafin ya Ma, Pa, Yo, Sin," Kata Qiana.


"Nggak apa Qi, yang penting kamu bahagia sama pilihan kamu. Kita cuma bisa mendo'akan yang terbaik buat kamu," Ucap Tyo.


"Kalau Setya masih ada, rasa-rasanya kamu bakal jadi anak gadis Papa Nak. Tapi takdir berkata lain," Ucap Pak Gito dengan sendu, pikirannya masih menerawang jauh ke hari dimana dia membaca curhatan anak kembarnya setelah kepulangan Qiana dari rumahnya waktu itu.


"Pa!" tegur Tyo, dia sangat paham apa yang di rasakan Papanya saat ini karena dia pun sudah tau tentang isi buku sampul coklat itu, karena setelah Papanya membaca buku itu, beliau menyerahkannya pada Tyo agar segera menyimpannya dan menjauhkannya dari istrinya. Pak Gito takut jika istrinya semakin larut dalam kesedihan.


"Maaf, Nak. Jangan hiraukan Papa ya, Mama dulu juga sempat berharap sama kamu. Tapi ternyata bukan takdir Mama punya mantu kamu, anak Mama dari SMA," Kata Bu Dewi dengan sendu, Bu Rima dan Nenek Mira tampak sedih mendengar penuturan suami istri itu. Qiana tampak larut dengan pemikirannya, apakah ini saat yang tepat untuk membahas isi buku itu dengan keluarga Setya dan meminta maaf.


"Ma, Pa, maaf ya sebetulnya Setya juga sewaktu di Jakarta bilang sama Qiana kalau Setya ingin hubungan Qiana dan Setya lebih dari sahabat. Tapi waktu itu Setya bilang karena Mama yang menginginkannya, bukan karena Setya yang menginginkannya. Jadi Qiana menolak ajakan Setya, tapi setelah tau dari tulisan Setya, Qiana merasa bersalah ternyata Setya sudah menyukai Qiana semenjak SMA dan maaf karena ketidak pekaan Qiana semuanya jadi begini," Ucap Qiana dengan air mata yang sudah menumpuk di pelupuk matanya, dia masih benar-benar merasa bersalah dengan kisah hidup Setya yang harus di laluinya selama 8 tahun belakangan ini.


"Bukan salah kamu Nak, sudah garis takdirnya seperti. Hanya saja Papa berharap kamu mendapatkan orang yang tulus mencintai kamu, agar Setya di sana tenang meninggalkan gadis yang di sukainya bertemu dengan laki-laki baik," Kata Pak Gito.


"Aamiin, insyaAllah Mas, Qia mendapatkan jodoh yang baik," Ucap Pak Rizal.


"Mama sekeluarga ingin kamu tidak.melupakan kita setelah menikah, tetap jadi anak gadis Mama ya sayang," Ujar Bu Dewi seraya berdiri dan berjalan mendekat ke arah Qiana untuk memeluknya, tak di sangka tangisnya pecah ketika harus mengingat Setya yang ternyata mencintai gadis yang kini dalam dekapannya.

__ADS_1


***


Jika hatimu telah memilih, kepada siapa dia akan berlabuh. Jangan biarkan terlalu lama, untuk mengungkapkan. Diterima atau tidak, itu urusan belakang, yang penting hati menjadi tenang.


__ADS_2