Mencintai Atau Dicintai?

Mencintai Atau Dicintai?
Jodoh di Tangan Tuhan


__ADS_3

Selamat membaca semua :)).......


***


Makan malam yang cukup membingungkan bagi Aziz karena ucapan pada hatinya sendiri tidak bisa ia tarik kesimpulan yang jelas, karena pada akhirnya Fani memakan belut goreng bumbu kuning dan juga semangkuk gulai kambing yang dia makan berdua dengan Kakak Iparnya.


Sepanjang perjalanan pulang Aziz hanya diam membisu, mencoba menarik kesimpulan atas apa yang baru saja terjadi.


“Bang kamu kenapa?” tanya Syta.


“Lagi bingung aja.”


“Bingung kenapa, kayak orang habis putus cinta aja. Padahal pas berangkat tadi seneng banget, mau makan masakannya calon istri. Makanannya juga enak tadi, tapi kenapa jadi murung gini?” tanya Syta dengan heran.


“Kamu tahu cowok yang duduk di sampingnya Fani tadi?” tanya balik Aziz.


“Sepupunyakan? Ganteng banget itu Bang, mana mukanya mirip sama Teh Fani lagi,” jawab Syta yang semakin membuat Aziz frustasi, karena Aziz berpikir jika Fani dan Bagas mirip bukankah mereka benar-benar ditakdirkan berjodoh, karena sebagian orang bilang jika jodoh kita itu pasti ada mirip-miripnya.


“Dia itu bukan siapa-siapa, bukan juga sepupunya, cuma anak dari sahabat orang tuanya Fani dan bisa dibilang Bagas itu satu-satunya laki-laki yang lagi deket sama Fani,” jelas Aziz yang membuat Syta ikutan murung.


“Huhhhh…. Aku kira Abangku ini emang udah deket sama Teh Fani, tadi aku sampai jelasin kejadian sewaktu jemput Abang loh, biar nggak salah paham, eh malah aku yang salah mengartikan maksud Abang aku sendiri. Aku jadi ikutan sedih nih Bang, aku kira Bang Bagas itu sepupunya Teh Fani, untung tadi aku nggak jadi bilang buat dicomblangin sama Bang Bagas ke Teh Fani. Kalau tadi jadi bilang, mau di taruh mana muka aku ini.”


Aziz mendelikan matanya sebal, bisa-bisanya sang adik juga ikut terpesona dengan saingan meluluhkan hati pujaan hatinya.


“Kamu apa-apaan sih Dek, malah ikut ngefans sama si Bagas, nggak banget sih. Mending kamu sama temen Abang aja, udah kejamin luar dalemnya sama Abang.”


“Hiiiillllllliihh, temen Abang yang mana, yang udah kejamin luar dalemnya. Temen Abang itu udah sebelas dua belas sama Abang. Sama-sama sengkleknya, beda banget sama Bang Bagas yang kelihatan kalem, cool, dan berwibawa tentunya,” ucap Syta dengan sengaja memancing emosi Abangnya yang sedari tadi sudah terlihat mengatur nafasnya, berharap bisa menetralkan kembali emosinya.

__ADS_1


“Kamu itu dasar Adek durjana, lihat Abangnya susah makin seneng,” dengus Aziz.


“Huh, gituh aja ngambek katanya lakik belum apa-apa udah lembek. Jodoh di tangan Tuhan Bang, sebelum janur kuning melengkung tikung gih disepertiga malam.”


“Tumben omongan kamu bener, hahaha ada untungnya Abang galau gini, Adek sengkleknya jadi waras hahaha.”


“Ish…ish..ish… tak patut.”


***


Duduk melamun memandang langit temaram, mengingat makan malam yang sudah berlalu satu jam lalu. Aneh rasanya duduk dan makan bersama dengan dua pria yang terang-terangan pernah mengungkap rasa ketertarikannya secara langsung, canggung sudah pasti dirasa. Sedang hati masih meraba siapa yang sebenarnya pemberi hati paling tulus diantara keduanya, orang lama kah atau malah orang baru yang baru saja datang memasuki dunianya. Fani termenung cukup lama, menelaah apa yang sudah dia lewati selama ini.


“Dek, kamu kenapa? Ada masalah?” tanya seorang pria jangkung yang masih tampan diusianya yang akan memasuki usia 32 tahun itu.


“Eh, Abang. Nggak kok Bang, lagi mendalami peran aja hahaha, eh enggak-enggak becanda. Cuma lagi mencari jawaban dari perjalanan Fani  sampai bisa berada disini.”


“Kamu lupa ya sama yang pernah Abang bilang dulu, waktu kamu masih SMA? Setiap perjalanan akan menyisakan kisahnya tersendiri Dek. Begitupun dengan perjalananmu, coba deh inget-inget yang pernah Abang  katakan dulu.”


“Emh, iya..iya.. Fani ingat, apa yang ini Bang, ‘Jika saja tidak ada tugas yang harus aku selesaikan, niscaya Allah tidak akan mentakdirkan diriku berada disini. Setiap orang bukanlah sebatas dirinya sendiri, melainkan ada kekuatan takdir yang menggerakkannya’ yang ini bukan? Tapi kayaknya yang ini deh soalnya pas banget.”


“Iya yang itu. Kamu musti sadar dan ingat, semua hal yang terjadi pada jalan kehidupanmu selama ini tak pernah lepas dari peran takdir. Kalau ada masalah ya dihadapi jangan pernah lari, semua kejadian… semua peristiwa yang hadir dihidup kamu itu semuanya sudah pasti atas kehendakNya, jadi selesaikan dengan baik denganikhlas biar banyak pahala juga yang kamu dapat.”


“InsyaAllah Bang, makasih banyak ya selalu ada buat Fani, mau dalam suka dan suka Abang selalu ada. Ibarat taneman nih, Fani itu taneman yang baru tumbuh dan butuh penopang yang kuat dan penopang itu, ya Abang hehehe.”


“Kamu itu Dek, cepet banget berubah moodnya,” ucap Akbar sambil mengusap puncuk kepala Adiknya dan ikut tertawa.


“Dek, ini Abang cuma mau ngingetin ya bukan marah sama kamu, tadi juga Mbak kamu udah Abang ingetin juga, sekarang giliran kamu yang Abang ingetin. Sebelum Abang ngingetin, apa ada yang mau kamu ceritakan dulu sama Abang?” tanya Akbar sambil menatap Adiknya lekat.

__ADS_1


“Huuuuuuuhhhhh…” Fani menghembuskan nafasnya berat, sebelum menjawab pertanyaan saudara satu-satunya itu. Fani bisa menebak jika Akbar sedikit banyak sudah tahu mengenai pertemuan-pertamuannya yang tidak sengaja dengan Aziz, bukan karena Akbar memiliki mata-mata yang membututi Adik tersayangnya melainkan dari sang istri tercinta yang sudah pasti menceritakan semua yang sudah dialami Adiknya.


“Ya, seperti yang Abang tahu dari Mbak Qiana. Entah benar atau salah cara yang Fani ambil , tapi menurut Fani untuk saat ini, cara itu yang paling pas Bang.”


“Hm… tapi untuk yang satu tadi Abang nggak setuju ya. 20 juta itu cuma alibinya saja, terus kalau mau terima tamu orang yang baru kamu kenal meskipun itu kenalan Abang apalagi cowok, jangan pernah menerimanya kalau di rumah tidak ada Abang  atau Mang Didin, bahaya. Soalnya di rumah perempuan semua, sekalipun ada Dafa tapi dia masih kecil, jadi nggak bisa ngelindungin kalian kalau ada orang yang berniat jahat.”


“Astaghfirullah iya Bang, maaf Fani lupa kalau Abang nggak ada di rumah tadi. Untung aja tadi Abang sama Bang Bagas pulang lebih awal. Fani minta maaf Bang, bener-bener minta maaf. Fani lupa, padahal Mang Didin sewaktu habis bersihin kolam pas kita-kita lagi asyik berkebun sudah ngingetin aku Bang, musti bilang kalau sekiranya bakalan ada tamu dirumah,” ucap Fani dengan sendu dan sedikit panik ketika menyadari kesalahan yang telah ia perbuat.


“Iya nggak apa-apa Dek, sudah terjadi juga. Jangan bermain api ya Dek kalau kamu nggak mau terbakar, mantapkan hatimu untuk siapa dia sebenarnya mumpung belum terlalu jauh. Keduanya baik setahu Abang, tapi yang pasti keduanya juga punya kekurangan dan masa lalu yang mungkin tidak seperti yang kamu bayangkan. Dan ingat selalu libatkan Allah disetiap langkah yang kamu ambil.”


“Iya Bang, terimakasih sudah selalu mengingatkan Fani. Jodoh di tangan Tuhan ya Bang, semoga Fani bisa mendapatkan yang terbaik untuk Fani.”


“Aamiin Ya Rabb, semoga ya Dek. Ingat, selalu belajar dan berusaha menjadi lebih baik setiap harinya. Menjadi seorang istri dan ibu mungkin bisa dilakukan dengan naluri kamu sebagai seorang wanita, tapi untuk menjadi istri dan ibu yang baik untuk suami dan anak-anak kelak, wanita bukan hanya membutuhkan nalurinya saja tapi wanita juga butuh ilmu yang mumpuni untuk menjadikannya kebanggaan dan peneduh dalam rumahnya kelak,” pesan Akbar.


“Seperti Mama ya Bang, yang segala bisa. Jadi istri yang baik buat Papa, jadi ibu yang baik buat kita, di rumah juga Mama bisa jadi apa aja, mulai dari masak, beresin rumah, cuci baju, cuci piring, ah pekerjaan IRT sebagaimana mestinyalah Mamah bisa kerjakan semua, plus saling bahu-membahu sama Papa untuk mendidik kita, memberi


contoh yang baik untuk anak-anaknya, meskipun Mama lulusan kedokteran hewan tapi Mama bisa mengajarkan banyak hal untuk kita ya Bang,” ujar Fani sambil menerawang jauh kebelakang.


“Iya, sampai Abang nikah dan keluar dari rumah baru Mama minta dicariin asisten rumah tangga, Katanya biar rumah tetap rame hehehe, Mama..Mama.. jadi kangen lagi sama Mama,” sambung Akbar.


“Udah mau jam 10 nih, ayok masuk istirahat.”


***


Bagas: Thor, bagian aku kapan munculnya? Aku jadi kalah pemes sama si Bang Aziz nih. Tanggung jawab ya kalau Fani sampai ninggalin aku.


Othor: Ceileh, sabang napa BangBag…. Jodoh mah nggak bakal kemana xixixixixi….

__ADS_1


***


Terimakasih semua..... Sehat selalu ya dimanapun kalian berada.


__ADS_2