
Selamat Membaca…
***
Pagi hari ini rumah Papa sudah ramai orang, ada yang sibuk membersihkan rumah, ada yang sibuk mendekor taman belakang, ah pokoknya semua jenis kesibukan untuk acara empat bulanan sedang berlangsung di dalam dan di luar rumah. Khusus hari ini juga aku tidak pergi ke kantor Papa karena membantu Mama untuk menyiapkan segala keperluan acara nanti.
“Dek, tadi Abang telepon jam berapa ya?” tanya Mama.
“Sekitar jam tujuhan Ma, katanya tadi tinggal nungguin Dafa selesai sarapan baru berangkat ke Jakarta,” jawabku.
“Naik apa mereka?” tanya Mama lagi.
“Katanya mobilan aja Ma,” jawabku, terlihat Mama menggelengkan kepalanya.
“Kenapa nggak naik pesawat aja sih Abang kamu itu, biar kesininya itu cepet Qiana bisa istirahat dulu sebelum acara nanti malam. Bandung Jakarta itu sekarang udah nggak kayak dulu, udah sering macet sekarang mah. Khawatir Mama sama kandungannya Qiana, takut kecapekan,” kata Mama dengan raut wajah yang benar-benar terlihat khawatir, aduh jadi pingin punya Mama mertua yang sama perhatiannya kayak Mama ke Mbak Qiana.
“Itu kata Abang bawaannya banyak Ma, musti pakai mobil.”
“Ck, dia kan bisa naik pesawat terus barang-barangnya diantar sama Mang Didin. Masak gituh aja nggak kepikiran. Dia juga nggak mikirin kondisi fisiknya sendiri, nyetir sendirian pulang-pergi kan cukup melelahkan,” ucap Mama menggebu-gebu, tapi ada betulnya juga apa yang diucapkan Mama.
“Sudahlah Ma, biarkan saja Abang pasti tahu yang terbaik untuk keluarganya. Mending kita mulai menghubungi keluarga kita yang di Jakarta Ma sekalian sama sahabat-sahabatnya Mama, Papa, kalau sahabatnya Abang katanya nanti dihubungi sendiri, oh iya Ma buat anak panti mending minta bantuan Aa Bagas hehehe kan
itu masih satu yayasan sama punyanya si Om,” kataku pada Mama, hmm sebetulnya aku sedikit khawatir jika keluarga atau sahabat Papa, Mama, dan Abang banyak yang tidak bisa hadir karena kabar acara empat bulanannya Mbak Qiana yang mendadak. Ah, tapi semoga banyak yang datang biar banyak yang mendo’akan si
jabang bayi dan ibunya.
“Yaudah ayok, tapi di kamar kamu aja ya. Disini orang-orang pada sibuk, nanti kita malah ganggu,” ajak Mama. Betul juga sih barang-barang yang di ruang tamu pada dipindahin deket ruang keluarga, biar nata karpetnya enak dan anak panti bisa duduk dengan nyaman tanpa berhimpitan.
“Ayok Ma.”
Aku dan Mama memulainya dengan menghubungi keluarga Papa lalu keluarga Mama, mengirim pesan ke
__ADS_1
grup WA keluarga untuk hadir diacara empat bulanan istrinya Abang. Untuk yang di wilayah Jakarta katanya kebetulan acara nanti sore kosong dan akan disempatkan untuk datang, lalu beberapa keluarga Papa dan Mama yang berada di luar Jakarta seperti yang berada di Bandung, Serang, Yogyakarta, dan Malang tidak bisa meluangkan waktunya karena acara tinggal hitungan jam lagi, mereka hanya bisa ikut mendo’akan dari jauh agar ibu dan si jabang bayi yang masih dalam buaian itu diberi kesehatan dan keselamatan.
“Dek, udah berasa jadi customer service ya. Awalnya tadi Mama mau kirim di grup dulu biar semua keluarga tahu, takutnya kalau di telepeon satu-satu dulu nanti ada yang kelewat jadi nggak enakkan ya. Habis itu maunya Mama setelah kita ngirim pesan di grup, Mama mau nelepon Uwa sama Budhe-Budhe kamu biar mereka merasa dihargai, bagaimana pun Mama sama Papamu ini kan anak bontot. Eh malah habis ngirim di grup pada telepon semua satu-satu,” ucap Mama dengan suara yang terdengar sudah serak, menelepon dan ditelepon oleh sanak keluarga dan sahabat untuk mengkonfirmasi kehadiran dan ketidakhadiran tapi kebanyakan dari yang dihubungi Mama malah bercerita kemana-mana, tidak fokus dengan satu pembicaraan saja, biasalah Ibu-ibu jika sudah bersua dengan temannya hehehe.
“Sabar Mamaku sayang, suara Mama tambah seksoy ginih aku dengernya. Udah hampir satu setengah jam loh Ma ini, Mama teleponannya.”
“Kamu itu seneng banget godain Mama, oh iya kamu ya yang telepon Tante Eni, kabarin suruh kemari sekalian Bagas juga suruh datang ya, tapi suruh datang lebih awal bilang habis dhuhur gituh. Mama mau nemuin Papa kamu dulu,” ucap Mama seraya beranjak dari kasur dan melangkah keluar dari kamar.
***
Taman belakang rumah sudah ramai dengan anak-anak panti, teman tumbuh Dafa dulu sebelum diadopsi oleh Mbak Qiana. Ibu pantinya sudah terlihat sepuh, tapi masih sangat terlihat semangat saat menemani anak-anak panti bermain. Aku ini sedang duduk di gazebo belakang, melihat anak-anak kecil sedang berlarian kesana-kemari. Ternyata hanya dengan melihat dan mendengar tawa anak-anak kecil itu, hatiku sudah merasa tentram dan sangat nyaman, ahhh apalagi nanti jika sudah bisa melihat tawa anak sendiri dan menemani tumbuh kembangnya, pasti akan terasa lebih menggetarkan jiwa ragaku ini.
“Dek dipanggil Tante Rita, ini udah jam 10 katanya kamu disuruh bantuin masak buat makan siang karena bibi-bibi pada repot ngurus acara buat nanti sore,” ucap A Bagas yang sudah duduk di sampingku, dia sudah ada di rumah sejak 30 menit yang lalu bersamaan dengan datangnya anak-anak panti.
“Iya A, mau bantuin?” tanyaku sambil tersenyum.
“Hayuk aja,” jawabnya seraya tersenyum.
“Ini ayamnya udah aku cuci, bumbunya mana biar aku yang ungkep,” katanya sambil memperlihatkan hasil kerjanya, yaitu ayam yang sudah A Bagas potong dan cuci bersih.
“Bumbunya yang warna kuning, masih di atas cobek A,” jawabku sambil menyiapkan bahan-bahan untuk membuat sambal terasi.
“Oke.”
Menu makan siang kali ini aku membuat penyetan ayam, tahu, tempe, dan juga tidak lupa lalapan terong, daun kemangi, dan mentimun. Dari masak bersama ini aku dapat melihat A Bagas yang tampak sangat familiar dengan perabot dapur, bahkan beberapa jenis rempah pun dia tahu. Kira-kira bisa masak sendiri nggak ya? Hmm, jadi sadar kalau akau sama A Bagas sudah sangat lama tidak sedekat ini. Semenjak Papanya menikah lagi dan A Bagas lebih memilih mondok di Bandung lalu melanjutkan studinya di Surabaya, dan baru kembali setahun terakhir ini itu pun tidak langsung bertemu denganku kembali. Tapi sekalinya bertemu sudah berani memintaku pada Papa dan Mama kala di Bandung saat itu.
“Assalamu’alaikum… Onty Fani…Om Bagas…” tiba-tiba terdengar suara anak kecil menyapaku dan A Bagas, kami pun serempak membalikkan tubuh dan melihat ke arah sumber suara. Ternyata sudah ada makhluk kecil menggemaskan, dipunggungnya masih bertengger tampan tas dinosaurus berwarna hijau, acchhh menggemaskan sekali.
“Wa’alaikumsalam, Ya Allah…. Ponakan Onty, kok sudah sampai Nak?” tanyaku yang langsung berjongkok mensejajarkan tinggiku dengan Dafa.
“Tadi Dafa naik pesawat,” jawabnya sambil memegang pipiku, terlihat dia mengatupkan bibirnya dan menekan pipiku dengan tangannya, hahaha rupanya dia gemas denganku.
__ADS_1
“Dafa gemes ya sama pipinya Onty, keliatan kayak bakpao ya Daf,” kata A Bagas yang sudah berdiri di belakangku. Pipiku terlihat bulat pasti karena model kerudung instant yang aku pakai ini, hahaha tapi biarlah memang dasarnya pipiku berisi.
“Pipi Onty, empuk hihiihihi,” jawab Dafa sambil terus menekan-nekan pipiku.
“Terimakasih Dafa, sudah mewakili Om untuk menekan pipi bakpao Ontymu ini,” ujar A Bagas sambil terkekeh.
“A, tolong kecilin dulu apinya kita ke ruang keluarga dulu nemuin Abang sama Mbak.”
“Iya,”
Benar saja di ruang keluarga sudah ada Mama, Papa, Abang, dan Mbak, tapi yang aku heran kenapa hanya ada satu ransel saja tidak ada dus-dus kue yang katanya mau dibawa dari Bandung. Apa mungkin masih di depan kali ya. Hmm, aku pun berjalan mendekat bersama dengan A Bagas yang tengah menggendong Dafa, ku salami Abang dan Mbak tak lupa mengusap perut Mbak Qiana yang tidak terlihat seperti Ibu hamil yang baru empat bulan, melainkan besarnya perut Mbak Qiana sudah terlihat seperti Ibu hamil 6 bulanan.
“Kue-kuenya mana? Katanya mau bawa dari Bandung?” tanyaku penasaran.
“Ada di mobil,” jawab Abang dengan santai.
“Loh, kata Dafa tadi naik pesawat,” ucapku.
“Iya, mobilnya dibawa temen Abang,” jawabnya lagi, di bawa temennya? Tememnnya yang mana, meni enak pisan si Abang mah.
“Kalau naik pesawat kenapa baru sampai rumah jam sebelasan Bang?” tanyaku lagi, karena tadi sewaktu telepon katanya paling lambat jam setengah delapan sudah berangkat dari rumah.
“Tadi Abang berangkat jam sembilanan, nggak sampai sejam udah nyampek bandara cuman jalan dari arah bandara ke rumah sedikit macet jadinya baru sampek deh,” jawab Abang.
"Oh, macam tuh."
"Fani... Bagas... masakan kalian jangan ditinggal lama-lama gosong nanti," ucap Mama.
"Ululu, lagi masak bersama nih calon pasangan pejuang LDR," goda Mbak Qiana, yang membuat A Bagas mengernyitkan dahinya heran. Mati aku!!!!
***
__ADS_1
Terimakasih telah membaca….