Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 10 Lamaran


__ADS_3

Wahai pembaca setia aku. Terimakasih atas dukungan kalian. 😍😍😍 Tetap dukung Author. Jangan lupa tinggalkan, Like, komentar, dan masukkan dalam daftar favorit kalian biar selalu dapat pemberitahuan up terbarunya. see You. 🥰🥰🥰🥰🥰


...----------------...


Inayah begitu terkejut ketika pulang mendapati banyak orang di rumahnya. Seluruh tubuh Inayah gemetar dan terbayang perkataan Aba Abdullah beberapa hari yang lalu.


'Apakah ini maksud Aba?" Inayah sungguh tidak percaya jika apa yang dikatakan Abanya beberapa hari yang lalu ternyata benar adanya.


Terlihat Raka begitu akrab dengan pria di sampingnya. Jika bisa Inayah tebak Raka seperti mengenal baik pria itu.


Ummi Humaira menatap anak tirinya penuh makna. Walau Inayah tidak pernah mengatakan langsung pada Ummi Humaira, akan tetapi Ummi humaira bisa menebak, jika hati dan perasaan anak tirinya itu terjebak pada sosok pria lain.


Begitu pula dengan Bunda Fatima. Bunda Fatima tahu betul jika sebenarnya Inayah, putrinya tidak suka hidupnya di atur. Apa lagi menyangkut mada depannya.


kedua wanita paruh baya berhijab besar itu hanya bisa saling menganggukkan kepala agar salah satunya mengeluarkan suara. akhirnya Bunda Fatima pun berdiri dan menghampiri putrinya.


"Inayah, duduk nak. Ada yang yang akan kami sampaikan padamu," ujar Bunda Fatima melihat Inayah yang baru datang dari mengajar.


Inayah dengan langkah pelan duduk di antara Ummi Humaira dan Bunda Fatima. kedua wanita itu merupakan orang tua Inayah yang Inayah sangat cintai dan hormati.


Sementara Aba sendiri bergabung Dengan para tamu-tamunya bersama Raka dengan sosok pria yang Inayah tidak kenal sama sekali yang sedari tadi menatap dirinya dengan senyum tersirat di wajahnya.


Aba Abdullah pun membuka obrolan setelah Inayah duduk dan siap mendengar. Aba Abdullah berdeham melihat Adam sedari tadi menatap Inayah tidak berkedip sama sekali.


Jauh hari sebelum Adam dan keluarga datang di kediaman Aba Abdullah, sudah bertemu sebelumnya membicarakan perjodohan itu. Aba Abdullah awalnya ragu jika Inayah tidak akan setuju. Mengingat Inayah sudah memegang prinsip sendiri.


Namun, mengingat cerita Seputar pria yang bernama Aditia dari Raka, Aba Abdullah pun akhirnya mengambil keputusan. Tentu Raka sangat bahagia mendengar keputusan Abanya. Menurut Raka sebagai kakak Inayah, Adam adalah pria yang tepat untuk Inayah bukan Aditia.


"Inayah, kenalkan ini Tante Zahra dan Om Danu. Om Danu ini merupakan teman lama Aba. Kami dulu satu pondok di pesantren Al Muhajirin, dan di sana adalah putra mereka bernama Adam.


Inayah tersenyum dengan mengatup kedua tangannya pada tamu Abanya sebagai tanda perkenalan Inayah karena jarak mereka duduk cukup jauh. Senyum Inayah mampu membuat jantung Adam berpacu seperti lari kuda.

__ADS_1


"Nak Adam?" Panggil Aba Abdullah. Namun Adam masih tidak sadar yang membuat Aba Abdullah kembali mengulang perkataannya. Hingga mengundang tawa yang membuat Adam malu sendiri.


"Maaf Aba," ujar Adam.


"Nak Adam, ini putri saya, adik dari Raka."


Adam tersenyum ke arah Inayah dan Inayah segera memutus kontak mata dengan Adam. bagaimana bisa dihadapannya adalah Adam, akan tetapi bayangan Aditia di sana. Inayah segera melafazkan istighfar dalam hati.


kembali Aba Abdullah angkat bicara setelah acara perkenalan selesai.


"Inayah, kedatangan Om Danu dan keluarga hari ini ... datang dengan kabar baik," ujar Aba Abdullah melihat ke arah Inayah yang terlihat masih bingung.


Inayah masih menundukkan kepalanya menyimak pembicaraan Aba Abdullah. Kemudian, Aba Abdullah menatap Adam dan keluarga. lalu, melanjutkan ucapannya.


"Silahkan Tuan Danu. kami persilahkan." Aba Abdullah memberikan wewenang kepada Tuan Danu untuk menyampaikan maksud dan tujuannya.


Perasaan Inayah semakin tidak karuan dan sudah bisa menebak pertemuan tersebut. Ibu Fatimah menggenggam tangan putrinya dan tampak terasa dingin.


Deg!


Tidak salah dengarkah dia? Seseorang datang melamarnya. Namun bukan Pria yang Inayah harapkan. Mengapa Inayah begitu berharap jika harusnya Aditia yang datang bukan Adam?


'Ya Allah, Mengapa ujian hati ini begitu berat. Apa yang harus aku lakukan?' batin Inayah menoleh ke arah Raka dan mengingat semua perkataan Raka tentang Aditia kembali.


'Inayah, pikirkan dengan baik sebelum kamu mengambil keputusan. Ingat Inayah, siapa Aku siapa Amira.' Ucapan Raka terus terngiang di benak Inayah beberapa minggu yang lalu.


Terlihat begitu terkejut mendengar kabar tersebut. Secara tiba-tiba seorang datang ta'aruf dengannya. Apa yang ditakutkan oleh Inayah benar-benar terjadi. Ummi Humaira serta Ummi Fatima hanya saling pandang dan saling menguatkan. mereka hanya berbicara lewat mata jika Inayah mampu melewatinya.


Begitupun Inayah. Berulang kali Inayah mencoba menenangkan dirinya sendiri. Dan Ibu Fatimah mengelus lembut punggung putrinya membantu memberikan ketenangan.


Hingga pada akhirnya, Inayah pun angkat bicara dan berkata pada Aba Abdullah, "Aba, sebelumya Inayah minta maaf."

__ADS_1


Kata Maaf yang keluar dari bibir Inayah mampu membuat Adam terlihat kecewa sebelum mendengar Ucapan Inayah selanjutnya. Begitu juga dengan Raka. Raka terus menatap adiknya.


"Nak Inayah?" Ummi Humairah menepuk bahu Inayah dengan lembut agar Inayah memberikan penjelasan yang sejelas-jelasnya. Spontan Inayah terkejut. Terlihat Inayah serba salah dan merasa tidak enak hati pada semua orang yang hadir di tempat.


Inayah melihat ke arah Abanya yang juga menatapnya. Aba Abdullah yang paham maksud putrinya kembali mengulang ucapannya dan bertanya seputar kesediaan Inayah. Akan tetapi, belum sempat Aba Abdullah bertanya seputar kesediaan Inayah, Inayah pun sudah angkat bicara.


"Bolehkah aku meminta waktu tiga hari, Aba?" ungkap Inayah pada akhirnya.


Raka menatap adiknya terlihat kecewa. Sementara Adam sebagai calon dari Inayah tersenyum kearah Aba Abdullah dan Ayah Danu. Dalam hati Adam berharap, Itu bukan penolakan secara halus untuknya.


Aba menoleh ke arah Istri-istrinya. Ummi Humairah dan Ummi Fatimah pun mengangguk sebagai tanda agar Inayah diberi waktu untuk berfikir.


"Maaf Tuan Danu. sebelumnya kami minta maaf. Jangan salah paham. Nak Inayah hanya ingin lebih memantapkan hatinya. Bagaimana?"


Keluarga Adam tersenyum dan angkat bicara. "Tidak mengapa ustadz. Kami paham. Adam juga pasti paham," ujar Tuan Danu menatap putranya dan Adam juga tersenyum sebagai tanda setuju.


Tiba-tiba semua diam ketika Adam meminta waktu untuk berbicara berdua dengan Inayah.


"Bagaimana nak Inayah? Nak Adam ingin berbicara sesuatu pada Nak Inayah. Apa kamu bersedia?" tanya Ummi Humaira pada anak tirinya.


Inayah melihat kerah Ummi Fatimah. Ummi Fatimah pun mengangguk dan berbisik. "Tidak ada salahnya, nak. kamu saling mengenal dengan nak Adam."


Inayah pun mengangguk setuju. Hingga pada akhirnya keduanya pun di beri ruang untuk bisa saling berbicara. Melihat semua keluarga sudah berlalu, Adan pun dengan sedikit ragu angkat bicara.


Namun ternyata keduanya hampir bersamaan untuk saling mendahului. Hingga pada akhirnya Inayah pun diam.


"Maaf," ucap Adam yang kini duduk tepat dihadapan Inayah.


"Tidak mengapa. Kak Adam saja duluan."


"Apa kamu mencinta seseorang?" tanya Adam.

__ADS_1


Dengan pelan, Inayah mengangkat kepalanya menatap kedua manik mata hitam itu yang kini sedang menatapnya.


__ADS_2