Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 45. Janji Suci


__ADS_3

Denyut jantung Aditia berdebar.


semua seakan berubah. Senyum itu tidak pernah luput hingga memutar musik dan meresapinya.


Denyut jantungku berdebar


Terasa indahnya


Dunia ini kita yang punya


Akulah mataharimu


Kaulah kekasihku


Kita kan bersama selamanya


Lagu itu seakan mewakili perasaan Aditia yang sekarang. Sangat terlihat Aditia begitu tegang.


Wanita dambaan akan menjadi pelipur lara baik dalam suka maupun dalam duka. Juga sebagai pelindung syahwatnya. yaitu INAYAH.


Cukup lama menenangkan hati Aditia hingga tiba di sebuah mesjid tempat untuk ijab qabul. Tidak percaya dan tidak menyangka perjuangannya selama ini akan berakhir.


Tidak ada yang pernah tahu seperti apa kehidupan selanjutnya. Namun, Aditia tidak peduli. Baginya sekarang adalah ingin menikmati hidup bersama orang yang di cintai olehnya. Tidak ingin ada paksaan dalam hidupnya tentang cinta.


"Ya Allah, Hari ini aku akan mengambil sebuah tanggung jawab yang akan aku bawa hingga mati. Maka dari itu, aku memohon pada-Mu Ya Rab. Bantu aku memenuhi tangung jawabku sebagai seorang suami."


Duduk dengan penuh percaya diri walau sebenarnya perasaan Aditia bercampur aduk. Begitu pun Inayah yang kini telah mengambil tempat duduk tidak jauh dari tempat Aditia akan melaksanakan ijab kabul.


Dengan di dampingi Ummi Humairah dan Ibu Fatimah, Inayah terlihat gugup walau pernikahan itu bukan yang pertama baginya. Namun tetap saja, Inayah merasa gugup. Bahkan jari jemarinya terlihat berair.


Dengan gaun serba putih yang di kenakan olehnya, Inayah terlihat lebih bersinar. Wajahnya yang tertutupi kain seadanya terlihat jelas mata itu menyimpan sebuah raut bahwa Inayah bahagia.


Inayah sudah berjanji dalam dirinya, apa pun yang terjadi kedepannya Inayah percaya bahwa hidup adalah ibadah. Hidup adalah perjuangan.


"Ya Allah, Hari ini detik ini aku minta padamu jadikan aku sebagai istri sebenarnya yang mengabadikan diriku pada suamiku karena Engkau."


Bulir bening itu jatuh juga ketika Inayah mengingat sebuah hadist:


"Tidaklah pantas bagi seorang manusia untuk sujud kepada manusia yang lain. Seandainya pantas/boleh bagi seseorang untuk sujud kepada seorang yang lain, niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya, dikarenakan besarnya hak suaminya terhadapnya."


Inayah berkeyakinan bahwa di dalam satu rumah tangga pasti ada gulungan ombak yang menghantam. Namun tidak ujian turun melainkan di dalamnya ada hikmah ada sebuah mutiara berharga bila mampu memaknainya.


Raka yang mengambil alih sebagai wali dari Inayah mulai berjabat tangan dengan Aditia hingga mengundang para tamu undangan diam sejenak.

__ADS_1


Sedetik kemudian bulir bening terlihat di sudut matanya mengingat Almarhum Aba Abdullah yang kini sudah tenang di Pangkuan Sang Ilahi.


Ketika kata SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA... Jantung Inayah berpacu hebat. Sangat berbeda dirasakan ketika pernikahan pertamanya.


Hingga terdengar suara SAH. Aditia pun terlihat begitu lega. bagaikan memenangkan sebuah tender besar, Aditia tidak bisa mengukur kebahagiaan setelah mengucapkan ijab qabul. Kini Inayah sudah menjadi ISTRINYA.


Aditia berjabat tangan kembali dengan Raka dam memeluknya. "Aku tidak akan menjanjikanmu. Namun, satu kamu harus tahu aku mencintai Inayah Karena Fillah."


Raka menepuk bahu Aditia dan mengusap bulir bening yang tertahan di sudut matanya.


"Doa kami untuk kalian," ungkap Raka.


Jika sebelumnya Raka begitu membenci Aditia. Dan Kini justru Aditia yang mampu mengambil hati Inayah. Sebuah keyakinan Raka mengambil keputusan setelah sebelumnya Aditia datang pada Raka meminta Izin dan menunjukkan kesungguhan Aditia dan meminta maaf pada Amira dan keluarganya.


Raka juga telah menyusuri kehidupan Aditia dulu hingga yang sekarang. Raka mengetahui jika ternyata selama Ini, Aditia bukanlah Aditia yang penuh kebahagiaan dalam hidupnya dulu. Ada begitu banyak lika-liku kehidupan yang membuatnya jatuh bangkit hingga menemukan kebahagiaannya setelah bertemu dengan Inayah, adiknya.


Amira dari jarak jauh melihat kebahagiaan itu, berharap Inayah mendapatkan kebahagiaannya bersama Aditia. Begitu pun sebaliknya. Amira berharap Aditia menemukan kebahagiaannya bersama Inayah."


Inayah dengan di jemput oleh Ibu Hanum dan di dampingi oleh Ibu Fatimah berdiri dari tempatnya menuju di mana Aditia telang menanti momen berikutnya.


Mata Aditia tidak luput memandang belahan jiwanya. Kini, keduanya duduk saling berhadapan untuk Aditia memasangkan cincin berlian yang akan di sematkan di jari milik Inayah.


Inayah terlihat gugup ketika Aditia meminta Inayah mengulurkan tangannya. Aditia tersenyum melihat tingkah Inayah.


"Kenapa tanganmu dingin?" bisik Aditia sambil menyematkan cincin terebut di jari Inayah.


"Tidak," elak Inayah merasa malu dan segera menarik tangannya.


Kembali mata keduanya bertemu hingga terdengar suara agar memberi satu kecupan bagian dahi sang mempelai wanita.


Inayah geleng kepala merasa malu sendiri. Aditia kembali memberi kode sebagai izin ahar Inayah mengizinkannya. Hingga pada akhirnya satu kecup mendarat di kening Inayah dengan bait doa terucap di bibir Aditia dan Inayah mengaminkan.


"Apa perlu aku juga berikan di buah cery itu?" goda Aditia ketika usai mengecup kening Inayah.


Kembali Inayah merotasikan matanya. Aditia tersenyum melihat Inayah.


Acara terus berlanjut hingga doa di pimpin oleh pak penghulu sebagai penutup acara dan setelahnya berlanjut memberi doa restu.


Aditia berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantu Inayah berdiri. Inayah pun pada akhirnya meraih tangan sang suami. Hingga tangan kedua terpaut.


Ada rasa indah yang tidak bisa di ucapkan degan kata-kata ketika kekasih mejadi halal menggenggam tangan tersebut. Hingga kedua tangan itu bersemai.


"Sekarang bawalah istrimu menuju hotel untuk beristirahat sebelum acara resepsi sebentar malam, Adit," ujar Ibu Hanum

__ADS_1


Aditia bukannya menjawab. Aditia sibuk menatap Inayah yang sedang berbincang degan sahabatnya di sampingnya.


Inayah menoleh melihat Aditia.


"Matamu begitu indah Inayah," lirih Aditia seketika.


"Mas, Mas sadar? Ibu berbicara denganmu," bisik Inayah sambil menyikut lengan Aditia dengan lembut.


"Sakit, Sayang," canda Aditia padahal itu tidak sakit. Inayah tidak sampai melakukan sekuat itu.


"Ibu berbicara dengan Mas Adit."


Aditia menoleh dan Ibu hanum geleng kepala melihat tingkah putranya itu yang baru beberapa menit melakukan ijab kabul.


Semua orang di sana mentertawakan Aditia yang terlihat bucin pada sang istri.


"Salahnya di mana? Aku hanya memandang kekasih halalku." Aditia merangkul pinggang ramping Inayah secara tiba-tiba. hingga tubuh Inayah menempel rapat di tubuh Aditia.


"Mas, lepaskan. Ini di mesjid. dan liga semua mata menatap kemari. Malu, Mas." Inayah meminta dilepaskan


"Lepaskan, Mas Adit!" bisik Inayah lagi dengan suara begitu lembut ditelinga Aditia. Inayah merasa malu dengan tingkah Aditia. untungnya para tamu undangan sudah kembali. Tinggal menyisakan keluarga inti


Sekejap, Aditia melepaskan Inayah dan meminta maaf.


Ada rasa cemburu melihat pasangan tersebut begitu romantis. Ibu Fatimah bahagia melihat putrinya diperlakukan bagaikan ratu di depan semua orang berharap kebahagiaan terus terbina.


"Adit, bawa Inayah pulang ke hotel. kami akan menyusul ke sana." ulang Ibu Hanum pada putranya.


Inayah dan Aditia pun menurut saja. Teo ikut bahagia dengan pernikahan tuannya. Begitu juga Alina dan Asifa.


***


Sepanjang perjalanan menuju hotel Inayah masih tidak bisa menatap Aditia yang kini sudah berstatus sebagai suaminya. Rasa malu malu untuk menatap langsung pria itu masih terasa besar dalam diri Inayah. Sentuhan pertama Aditia saat menyentuh tangannya masih terasa sangat membekas.


Apa lagi kecupan pertama di dahinya dan pelukan pertama Aditia saat di tempat ijab qabul membuat Inayah tidak habis pikir dengan pria di sampingnya hingga semua mata menatap mereka.


Aditia tersenyum melihat Inayah hingga tumbuh ide. Aditia menutup tirai bagian depan yang membuat Teo sedikit curiga.


"Tutup telinga Teo."


Teo tidak habis pikir dengan tuanya.


Jantung Inayah kembali berpacu ketika Aditia meraih kembali tangannya.

__ADS_1


"Mas Adit?" tegur Inayah ketika Aditia mendekat ke arahnya.


__ADS_2