
Suasana diantara keduanya hening. Pernikahan terjadi lewat ta'aruf. Hingga pada akhirnya Adam pun mendahului kembali buka obrolan.
"Dr. Karin adalah temanku. pembawaannya memang seperti itu." ujar Adam.
Terlihat Inayah kecewa karena Adam tidak mengakui hubungan sebenarnya. Inayah ingat betul bagaimana Tatapan Dr. Karin terhadap Adam dan bagaimana tatapan Dr. karim terhadap dirinya.
Inayah pun berbalik setelah mendengar pengakuan Adam. Dan Adam duduk di tepi ranjang menatap Inayah membuka riasannya satu persatu. Begitu pun Inayah. keduanya saling menatap lewat pantulan cermin.
Adam berdiri dari tempatnya dan berdiri tepat di belakang Inayah dan berkata, "Mungkin kamu tidak pernah menyangka akan menikah seperti ini. Maafkan aku, karena aku tidak bisa menolak perjodohan ini." Adam membantu membuka riasan Inayah. "Apa kamu pernah pacaran?"
Inayah berhenti membuka riasannya dan Adam menatapnya di balik kaca.
"Aku tidak pernah pacaran. Hanya aku pernah mengagumi seseorang," jawab Inayah apa adanya. "Namun aku sadar, itu salah. Hingga pada akhirnya aku memutuskan menerima lamaran darimu. Aku berkata apa adanya. Dan kuharap engkau mau bersabar."
Adan tersenyum dan di balas oleh Inayah. Inayah berdiri setelah semua riasannya terlepas. Adam mundur dan berkata, "Bolehkah aku melihat wajahmu?"
Inayah pun dengan pelan berbalik hingga posisi keduanya saling berhadapan.
"Jika aku belum di izin—" ucapan Adam terpotong dengan suara lembut Inayah.
"Kamu adalah suamiku."
Adam kembali tersenyum dan mulai mengangkat tangannya. dengan pelan Adam pun membuka penutup wajah Inayah dan memandang Inayah dengan lekat. Keduanya saling menatap.
"Aku mencintaimu, Inayah." ungkap Adam lagi. Lalu tangan Adam memegang wajah Inayah.
__ADS_1
Bagi inayah ini pertama kalinya seseorang bersentuhan kulit secara langsung dengannya kecuali Abanya dan ibunya waktu masih kecil.
Terlihat wajah Inayah merona ketika Adam mengutarakan kembali isi hatinya dan memujinya.
Adam kembali mengingat kata-kata Inayah agar dirinya mau bersabar. Hingga Adam memutuskan untuk tidak meminta lebih dari sekedar melihat wajah Inayah.
"Aku yang duluan ke kamar mandi atau kamu?" tanya Adam mengalihkan pembicaraan. Adam takut akan meminta lebih dan Inayah belum siap.
"Silahkan," ucap Inayah.
Begitu Adam masuk kamar mandi panggilan telepon milik Adam masuk. tertulis di sana SAHABAT BRO MEMANGGIL.
Inayah tidak memiliki keberanian untuk mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Kenapa kamu tidak menjawabnya?" tanya Adam yang sudah keluar dari kamar mandi membuat Inayah melonjak kaget dengan suara Adam tiba-tiba.
"Mulai sekarang aku izinkan." Adam mengedipkan matanya sebelah kanan.
Inayah kembali merona dan masuk kamar mandi. Sebelumnya Inayah pikir Adam hanya memakai handuk keluar. Melihat Adam keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap, Inayah merasa terselamatkan.
beberapa menit kemudian, Inayah keluar dari kamar mandi. Inayah melihat Adam sedang berbicara dengan seseorang sambil tertawa.
"Aku tidak akan mengenalkan istriku denganmu lewat percakapan telepon," jawab Adam melirik Inayah terlihat kaku.
percakapan Adam dan Aditia cukup lama hingga akhirnya suasana kembali hening setelah Adam usai percakapan teleponnya.
__ADS_1
Usai menelpon Adam pun melepaskan Ponselnya dan menyimpan di atas meja. Adam berbalik dan melihat Inayah sedang membaca buku.
"ini malam pertama kita," bisik Adam di telinga Inayah.
Deg!"
Jantung Inayah berpacu. Adam tersenyum melihat Inayah terlihat gugup.
"Aku tahu kewajiban aku. Tapi, maafkan aku. Seperti tadi aku bilang. Agar Kak Adam mau bersabar menungguku hingga aku siap," kata Inayah bersusah payah menelan salivanya karena Adam begitu dekat dengannya.
"Aku hanya bercanda. Aku tidak akan memaksamu," bisik Adam lagi. "Aku mengerti perasaanmu. Mari kita saling mengenal satu sama lain."
Inayah menoleh menatap Adam yang juga menatap dirinya.
"Katakan padaku, apa yang ingin kamu tanyakan tentangku?"
Inayah pun mulai berfikir keras. Apa saatnya Inayah mengorek masa lalu Adam?
***
Sementara Aditia geleng kepala melihat ponsel miliknya. Aditia tersenyum mengingat betapa bahagianya terdengar suara Adam di malam pengantinnya. Aditia pun menuju balkon kamarnya menatap langit.
"Inayah, apakah kamu bahagia dengan pernikahanmu? Kamu pasti bahagia." gumam Aditia tidak ada curiga sedikit pun.
Sebenarnya, Aditia sangat penasaran ingin tahu siapa suami dari Inayah. Aditia sempat dengar kabar, jika suami Inayah adalah seorang dokter.
__ADS_1
"Bukankah rumah sakit itu tempat Adam bekerja?" pikir Aditia.