
Semua keluarga besar akan menyambut kembalinya Aditia dan Inayah. Tuan Subari tidak main-main menyiapkan pesta penyambutan untuk anak dan menantunya serta cucunya, Rayyan.
Terlihat mobil mewah sudah memasuki lingkungan rumah besar tesebut. Degan Teo dan Alina yang menjemput mereka dari bandara.
"Ayah, mengapa rumah nenek banyak bunganya?" tanya Rayyan dengan mainan pesawat di tangannya.
"Mungkin, Paman sama bibi yang akan menikah," jawab Aditia.
Inayah tidak menimpali percakapan anak dan ayah itu. Alina hanya menahan tawa melihat kelucuan Rayyan bersama ayahnya.
"Ayah, belakangan turun. Rayyan yang duluan di gendong opa dan oma."
"Kamu curang Rayyan!" timpal Aditia.
"Jangan protes, Ayah! Hus." Rayyan menutup mulut ayahnya dengan jari telunjuknya.
Semua orang tertawa melihat hal itu. Teo berbisik. "Sepertinya, Rayyan Fotocopy, deh."
"Apa maksudmu, Teo?"
"Bisa saja Rayyan meniru gaya ayahnya karena pernah melihat langsung ayahnya menggoda ibunya Rayyan." tawa Teo menggandeng Alina ikut masuk.
Aditia tersenyum sendiri. Ibu Hanum datang menegurnya. "Aditia?"
"Ibu." Aditia memeluk wanita paruh baya itu.
__ADS_1
Keadaan Aditia kembali sudah tampak tidak terlalu menyedihkan bagi Ibu Hanum.
"Akhirnya kamu kembali, nak." kata Ibu Fatimah meyambut kembalinya sang menantu dengan Inayah di samping Ibu Fatimah.
"Ibu, bagaimana kabarnya?" tanya Aditia meraih tangan wanita itu.
"Ibu baik, nak. kami semua baik," jawab Ibi Fatimah melihat Aditia terlihat lebih baik.
"Ibu, Kak Aditia sejauh ini alhamdulillah sudah baik," jelas Inayah.
Ayolah kita masuk," ajak Tuan Subari pada semua orang.
Aditia begitu kagum dengan pesta penyambutan untuk dirinya. "Selamat satang kembali, Tuan." Teo mengulang memeluk Aditia.
"Jangan memanggilku tuan. Saya bukan tuanmu lagi. Apa kamu mau istrimu memarahi aku." canda Aditia merangkul Teo.
"Nenek, kata ayah aku bisa punya adik."
Inayah, Alina dan Sifa menoleh dan begitu juga dengan Aditia dan teo.
"Adik?" ulang Ummi Humairah.
"Iya, nenek. Ayah akan memberiku adik yang lucu. Ayah sering menggoda ibu." Rayyan tampak serius.
Di umurnya yang sekian Rayyan termasuk anak yang begitu aktif dalam segala hal. kemampuan daya tangkapnya begitu kuat.
__ADS_1
Semua orang tertawa. sorot mata ibu Hanum menyoroti Aditia menggaruk kepalanya tidak gatal yang sudah ditumbuhi rambut.
"Itu ayah, Oma." Tunjuk Rayyan pada Ibu Hanum. Rayyan melihat Aditia bersama Teo. "Rayyan tidak bohong. kata mama, kita tidak boleh berbohong. karena Allah tidak suka jika kita berbohong. Ayah kalau berbohong. Ibu marah!"
"Kenapa ibu marah?" tanya Ibu Fatimah.
"Nenek, ibu marah karena ayah sikap bohong. karena bohong itu dosa. dan ayah suka menggoda ibu. juga, ibu marah karena ayah malas makan obat. kalau aku sakit. Aku tidak malas minum obat. Ayah manja." lanjut Rayyan dengan ocehannya.
Semua orang kembali tertawa. Aditia melangkah menuju di mana Rayyan dikelilingi oleh neneknya.
"Coba lihat mereka. Akan ada pertunjukan drama." Tunjuk Inayah melihat Aditia sudah duduk di samping Rayyan.
Alina dan Asifa melihat Rayyan dan Aditia.
"Ibu, jangan percaya Rayyan. itu tidak benar." kata Aditia.
"Ayah yang bohong. Ayah sering di marah ibu. karena Rayyan lebih pintar dari ayah. Ia, kan bunda?"
"Ah, ayah lebih pintar. buktinya ayah sering disayang oleh bunda." Aditia memancing Rayyan.
"karena ayah curang, Oma, nenek!" benar saja Rayyan terpancing.
"Kenapa ayah curang?" tanya Ibu Hanum.
"Iya, Ayah merajuk sehingga ibu sayang ayah."
__ADS_1
kembali orang tertawa. Rayyan semakin tertawa saat telinga Aditia ditarik oleh ibu Hanum. "Makanya, ayah jagan curang." oceh Rayyan lagi.
"Ibu juga bilang. Rayyan harus rajin shalat. Biar ayah dan ibu masuk surga." Rayyan melipat dua tangganya di bagian dada.