Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 38. Kekesalan Inayah Kemenangan Aditia


__ADS_3

Hai, Kak, Aku up lagi, nih. Aku hadiahkan lagi perjuangan Aditia mendapatkan kembali hatinya pernah hilang. 😃😃😃😃 semoga Up Author kali ini bikin gerget, ya. Cusss... 😍😍😍😍


****


"Desain ini milik aku. Dan aku akan membawanya pulang," begitu Inayah hendak merebut kertas itu yang ada di atas meja, tidak sengaja tangan Aditia bersentuhan dengan tangan Inayah.


Inayah segera mungkin menarik tangannya dan menatap Aditia dengan penuh kesal. kekesalan Inayah justru menjadi hiburan bagi Aditia.


Aditia tersenyum. "Maaf, aku tidak sengaja." Aditia menatap Inayah yang terlihat kesal padanya. "Bila kau marah, kau akan cepat tua."


Inayah kembali membulatkan matanya. Sangat terlihat jelas di mata Aditia, jika Inayah sedang marah.


lelah dengan Aditia, Inayah berdiri. "Aku tidak akan menerima tawaran kerja sama ini."


"Inayah, bekerja samalah dengan perusahaanku, di sini kamu akan mengembangkan bakatmu, Inayah. Tawarkan saja berapa kontrak yang kamu inginkan? Aku akan penuhi," tawar Aditia.


Inayah melihat ke arah Aditia. "Aku bilang, aku tidak tertarik. Jika tidak, ya tidak tertarik," Inayah berdiri dari tempat duduknya.


Bukan tanpa alasan Inayah Menghindari Aditia. Inayah sangat sadar siapa dirinya. dirinya hanyalah seorang janda.


"Maaf, permisi." Inayah mengambil tasnya dan lagi-lagi tali tasnya tersangkut di kursi.


Aditia membantu melepaskan tali tas Inayah. Mata keduanya kembali bertemu.


"Terimakasih,' ujar Inayah dan berlalu.


Aditia sangat bahagia telah menganggu Inayah. Dan kembali Aditia melihat hasil desain Inayah.


Aditia tersenyum setelah inayah pergi. Aditia sangat puas mengambil waktu Inayah begitu banyak.


"Aku tidak akan menyerah kali ini, Inayah. Akan aku perjuangkan dirimu," gumam Aditia.


Aditia mencium desain Inayah dan berdiri dari tempatnya.


"Tuan, apa tidak ingin ke rumah sakit?"


Aditia berbalik badan melihat Teo.


"Jangan salah paham, Tuan. Nona Alina masuk rumah sakit gara-gara jatuh dari tangga saat melakukan tugas membantu dalam pemotretan."


"Lalu, bagaimana keadaannya?"


"Nona sekarang di rumah sakit, Tuan. kakinya sedikit keseleo."


"Aku akan ke sana. Kamu naik taksi saja pulang."


"What? Tuan, Tuan tega padaku?" protes Teo.


"Jangan manja, Teo. Pulanglah!" ujar Aditia merebut kunci mobilnya dari Teo dan berlalu. Teo menyerahkan tas kerja milik tuannya.


"Oh Tuhan ... Mengapa ada orang di dunia ini seperti itu. Teganya dirimu, Tuan." Teo melihat isi dompetnya dan masih ada uang cash. "Cukuplah ongkos taksi." Teo memukul jidatnya.


***


"Siapa, sih, pria tadi, Inayah? sepertinya kalian saling kenal." cakap Rina penasaran dengan Aditia.


"Bukan siapa-siapa," elak Inayah.

__ADS_1


"Jika bukan siapa-siapa, lantas mengapa dia menatapmu sangat berbeda," protes Rina.


Inayah diam. Dan kembali berkata, "Kita bahas yang lain saja."


"Sepertinya pria itu menyukaimu." Rina tersenyum.


"Jangan bahas itu. Itu tidak mungkin dan tidak akan pernah terjadi."


"Inayah, apa dia masa lalumu?" tanya Rina makin penasaran. " Inayah, jawab dong."


"Aku katakan jangan bahas dia, Rina." Inayah diam. Tatapannya lurus ke depan.


"Baiklah. Jika kamu belum mau bercerita tentangnya tidak apa-apa. Akan tetapi, jika boleh aku sarankan. Jangan menutup hatimu, Inayah. Kebahagiaan terletak dalam diri seseorang. Aku bisa melihat di mata pria itu, dia terlihat sangat berharap padamu."


Rina tersenyum dan kembali fokus mengemudi dengan Inayah duduk di sampingnya.


"Inayah, jujur aku sangat penasaran."


"Simpan saja rasa penasaranmu." jawab Inayah melihat sahabatnya itu.


"Baiklah. Aku akan bersabar menunggu penjelasan darimu." Rina tidak berkomentar lagi.


****


Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Aditia mendapat telepon dari dokter Jimmy yang menanganinya selama ini waktu hilang ingatan.


"Iya, Profesor. Aku baik-baik saja. Bagaimana kabar Profesor?" tanya Aditia sambil menyetir dengan wajah tersenyum.


"Aditia, apakah kamu tidak pernah lagi merasa sakit kepala?"


"Sepertinya sudah tidak, Profesor. Namun aku masih belum sepenuhnya mendapatkan ingatanku. Aku merasa ada sesuatu yang ingin aku ketahui, akan tetapi Aku tidak tahu apa itu."


"Sejauh ini aku merasa rileks," imbuh aditia kembali tersenyum menikmati perjalanannya menuju rumah sakit melihat keadaan Alina.


"Sepertinya, Kamu terdengar sengat bahagia."


"Benar Profesor. Seorang wanita seakan memberiku kedamaian," jujur Aditia mengingat wajah Inayah.


"Itu hal bagus. Mungkin itu bisa membantumu untuk mendapatkan sepenuhnya ingatanmu."


"Aku akan ke luar kota besok untuk konferensi medis. Aku di sana mungkin selma 3 bulan. Jika kamu mengalami gejala apa pun, hubungi aku. Jangan sungkan."


"Terimakasih Profesor," ujar Aditia yang tampak serius mengemudi.


"Aku akan meminta asistenku mengirimkan jadwalku. Disitu ada rincian hotel dan nomor teleponku," kata Profesor Jimmy.


Aditia tersenyum mendengarnya. "Profesor jangan khawatir. Sampai saat ini, aku baik-baik saja."


"Baguslah kalau begitu. Sampai jumpa."


Aditia mengakhiri percakapannya dengan Profesor Jimmy yang dia kenal seorang dokter ahli Saraf juga sebagai psikiater.


Tiba di rumah sakit, Aditia langsung melapor. Setelah mendapat ruang rawat Alina. Aditia kembali melanjutkan langkahnya.


"Kak!" pekik Alina dengan nada manja.


"Kak, lihatlah! Kakiku sakit dan ini gara-gara kakak yang memberiku tugas mendampingi model itu. Aku tidak suka dengannya. Dia terlalu angkuh."

__ADS_1


"Alina, kau harus bekerja secara profesional. Biar bagaimana perusahaan kita maju berkat kerja keras mereka."


"Ya wajar dong, kak. Dia bekerja keras. mereka, kan di bayar," kata Alina tidak terima.


Aditia melihat ada parsel buah di atas meja. Setelah menyiapkan Mie pangsit pesanan Alina, Aditia memberikan pada adiknya dan berkata, "Siapa yang membawakan kamu parsel ini? Apa pacar kamu?"


"Aku dan Roy sudah putus, kak. Dia selingkuh dariku. Benar apa yang di katakan kakak, Roy itu tipe tidak setia."


"Lalu, yang membawakan kamu ini, siapa?"


"Kak Inayah," ujar Alina sambil menikmati makanannya."


Aditia tersenyum. Lalu, mengambil salah satu buah dan memakannya.


"Inayah?" ulang Aditia penasaran.


"Iya," jawab singkat Alina.


"Kak ini enak, lho. kakak beli di mana?" tanya Alina dan tidak di jawab oleh Aditia.


"Kak?!"


"Apa, sih, Alin?"


"Kak Aditia beli mie pangsit ini, di mana?"


"Rahasia," Aditia tertawa melihat adiknya merajuk.


"Kak, jawab dong?" paksa Alina melihat Aditia kembali melamun dan senyum-senyum sendiri.


"Kakak, ditanya kok melamun," kesal Alina.


"loh, kenapa kakak yang makan buah Alina. Buah itu, kan, Kak Inayah berikan untukku, kak," protes Alina.


"Enak."


"Tumben. kakak suka buah pir," Alina heran.


Aditia melihat buku yang tergeletak di atas meja dengan judul buku hijrah Cinta. "Ini buku siapa?"


"Di berikan kak Inayah juga. Aku yang pesan, Sih."


"Itu namanya bukan dikasih. Akan tetapi di pesan," protes Aditia pada adiknya.


"Tadi, kak Inayah datang menjemput Sifa," kata Alina melirik kakaknya.


"Gak tanya."


"Tapi, kakak kelihatan penasaran," ledek Alina lagi tersenyum.


"Sok tahu kamu."


Netra Aditia tertuju pada sebuah ponsel di bawah buku. "lantas, ini ponsel siapa?"


"Astaga, kak. Itu ponsel kak Inayah. bagaimana dong, kak."


"Biar aku yang amankan." Senyum terpatri di wajah tampan Aditia. Ia merasa penuh keberuntungan.

__ADS_1


'Inayah, mungkin kamu di ditakdirkan untukku. Nuktinya, ponselmu ada di tanganku. Kita akan bertemu lagi.' batin Aditia.


__ADS_2