
Sifa pada akhirnya mengikuti perintah Ummi Humairah. "Terimakasih, Istriku" bisik Zaki entah mengapa dirinya ingin terus dekat dengan Sifa.
"baik saja, kan, Tuan?" ledek Sifa.
"Kenapa tidak baik. Memang kamu istriku, kan?"
Untungnya Ummi Humairah sudah tidak ditempat.
"Istri kontrak, Tuan." Kembali Sifa berbisik.
"Aku tidak peduli."
"Makanlah!" Sifat duduk kembali setelah menyendok kan nasi untuk Zaki.
Namun, kembali Zaki perutnya tidak bisa di ajak kompromi yang membuat Sifa cukup panik. "Saya tidak bisa makan. Nanti saja."
Zaki masuk kamar. Melihat Zaki menutup pintu kamar membuat Sifa bertanya-tanya. Sifa pun memutuskan menelpon Inayah.
***
Inayah sendiri tampak tidak sehat. Semenjak pulang dari puncak, Inayah kerap cepat lelah. Hingga ponsel miliknya berdering.
Inayah menjawab panggilan Sifa dan bertanya. "Iya Sifa, ada apa? Kenapa pagi-pagi menelpon?"
"Kak, Kenapa bulan ini aku belum dapat tamu bulanan. Ini sudah masuk 1 bulan 2 minggu. Harusnya pertengahan bulan kemarin, aku sudah dapat tamu. Akan tetapi, kok hingga pertengahan bulan ini aku belum dapat?"
Inayah terdiam. Dirinya juga harusnya sudah dapat tamu bulan kemarin. Inayah baru ke pikiran. Inayah melihat perutnya, Lalu menutup mulutnya.
"Kakak, apa kakak masih di sana? jawab dong, kak!"
"Coba kamu periksa dengan alat tes. Beli di apotik," saran Inayah.
"Maksud kakak?" tanya Sifa masih abu-abu.
Inayah tersenyum dan bahagia jika dirinya sama dengan Sifa. Inayah pun kembali berujar. "Siapa tahu kamu positif, Sifa."
"Halo... Sifa?" Inayah melihat panggilan Sifa sudah terputus. "Kenapa tuh, anak? Tidak biasanya!" Inayah jadi uring-uringan dengan Sifa.
Puas bertanya dan sibuk dengan memikirkan Sifa, Inayah penasaran dan segera masuk kamar mandi. Dan benar saja, terlihat dua garis merah di sana.
keluar dari kamar mandi dengan penuh senyum. Dirinya akan rencana memberi tahu Aditia tepat hari ulang tahun Aditia.
Inayah menatap dirinya di cermin dan tampak tidak ada yang aneh. Aditia yang baru datang joging mengerutkan kening melihat Inayah senyum sendiri.
"Sayang, buatkan es jeruk, dong!" pinta Aditia dengan lembut.
"Es jeruk? pagi seperti ini?" Inayah heran tidak biasanya Aditia meminta hal itu.
"Ham... sepertinya enak." Aditia mengusap sisa keringat yang bercucuran dari joging.
Inayah melihat tampan suaminya. Apakah manusia itu serius dalam berkata atau bercanda?
"Mas Adit, tidak bercanda, Kan?" Inayah Rasa tidak percaya dengan hobi baru dari sang suami.
"Ia, es jeruk. Beri gula sedikit saja. biarkan asam sedikit." lanjut Aditia menjelaskan.
Inayah keluar dan tersenyum. "Apa dia yang mengidam?"
__ADS_1
"Siapa yang mengidam, Kak?" timpal Alina.
"Tidak."
"Kak, jadi hari ini pindah rumah?" Alina ikut ke dapur.
"Iya, kenapa?" Inayah muai mengambil jeruk.
"Kami akan sunyi, kak," ujar Alina memperhatikan Inayah mengambil jeruk dari kulkas.
"Nona, pagi-pagi begini mau buat es jeruk?" Bibi Sumi ikut penasaran.
"Iya, Bibi. Tuan muda yang minta."
"Oh, mungkin haus dari joging." kata Bibi Sumi. "Tuan juga meminta bikin rujak. Nih mangganya."
"Rujak?" tanya Alina melihat Bibi Sumi mulai membuatkan bumbunya.
"Iya, kata Tuan mau makan nasi dengan rujak." lanjut Bibi Sumi.
"Aneh," gumam Alina.
Inayah yang sudah tahu penyebabnya sepertinya tidak heran lagi.
"Yasuda, Bibi. Biarkan saja. Bisa saja dia ingin menu baru
Bosan dengan menu makanan selama ini." Alina geleng kepala melihat Bibi Sumi dan Inayah dengan pesanan Aditia.
Aditia datang dengan sudah rapi akan ke kantor. "Mas mau ke kantor? Bukankah hari ini minggu?"
Aditia memukul jidatnya. "Astaga, kok lupa, Sayang."
"Alin?" tegur Aditia.
"Ya, kan aku hanya tanya."
"Alin?" tegur Aditia lagi.
Inayah hanya tertawa. Melihat Inayah tertawa, Aditia langsung menarik Inayah hingga Inayah duduk di pangkuannya.
"Mas, lepaskan! malu dengan Bibi!
"Susah kalau suami bucin," ujar Alina berbalik badan.
Bibi Sumi hanya tertawa melihat Inayah yang berulang kali memukul suaminya minta di lepaskan.
Mendengar keributan di bagian dapur, Ibu Hanum masuk. Dirinya ikut terkejut dengan Aditia masih posisi yang sama.
"Adit?" tegur Ibu Hanum.
Seketika Aditia melepaskan Inayah.
"Lho, Bibi, Siapa yang mau makan rujak pagi-pagi.
"Tuan muda, nyonya," jawab Bibi Sumi.
"Adit, benar kamu yang akan makan rujak. Tidak salah?" Ibu Hanum tampak serius bertanya.
__ADS_1
"Salahnya di mana Ibu? Orang mau." Aditia tampak menelan salivanya.
Ibu Hanum melihat Inayah. Seakan Ibu Hanum bisa menebak. Ibu Hanum mendekat dan berbisik
"Apa kamu merasakan ada keanehan? Kok Ibu merasa ada sesuatu, deh. Ayo katakan pada Ibu!"
"Benar, Ibu. Hanya saja aku akan memberitahunya di hari ulang tahunnya. Biarkan ini menjadi kejutan untuknya."
"Baiklah. Ibu akan jaga rahasia." Ibu Hanum tapak bahagia. Cucu ketiga akan segera hadir. Sungguh tidak bisa Ibu Hanum pungkiri. Dirinya terlalu bahagia.
Namun, Harus bisa memberi restu Inayah dan Aditia atas keputusan keduanya akan pindah rumah.
"Ibu akan membantu kalian bersiap. Bibi, panggil Nining untuk bantu Inayah berkemas. Menantuku tidak boleh capek. Bibi Sumi, nanti kalau di rumah baru Inayah, jangan biarkan dia bekerja."
Bibi Sumi rencananya akan dibawah oleh Aditia untuk bekerja di rumahnya. Aditia sejak dari dulu meminta agar Bibi Sumi bekerja untuknya kelak ada rumah sendiri.
***
Bagaimana. Kamu suka interiornya?" tanya Aditia setelah tiba di rumah baru mereka.
Rumah mereka dekat dengan lingkungan pondok. Inayah rencananya akan kembali bergabung setelah beberapa hari akan datang.
Sore hari tampak ramai, semua keluarga datang mengunjungi Inayah setelah pindah rumah. acara sederhana itu begitu sangat berkesan.
Sifa dan Zaki turut hadir. Terlihat Sifa berbeda. Melihat Inayah, Sifa langsung menarik tangan Inayah.
"Kak, Aku hamil." bisiknya.
"Bagus, dong. lantas apa kata Zaki?"
"Dia belum tahu. Namun, dia ingin membawa aku ke dokter. Karena kemarin malamnya, aku bilang jika aku tanda tanya, apa aku hamil atau tidak! Sifa terlihat tidak seperti wanita pada umunya yang bahagia akan kehamilan pertamanya.
"Sifa, apa kamu bahagia?" Inayah sedikit curiga pada adik tirinya itu.
"Kenapa kakak bertanya seperti itu?" Sifa terlihat was akan rahasianya dengan Zaki terbongkar.
"Kok kakak merasa ada yang kamu sembunyikan? Kamu dan Zaki bahagia, kan?"
Zaki datang dan menyelamatkan Sifa dari seribu pertanyaan dari Inayah.
Zaki merangkul Sifa. "Kenapa bertanya seperti itu pada istriku, Nyonya Aditia?"
"Alhamdulillah kalau pernikahan kalian baik-baik saja. Kuharap Tuan Zaki terus membahagiakan adik saya."
"Jelas, Nona. Dia istri saya. Saya sangat mencintainya."
Deg!
'Andai itu fakta, aku mungkin akan sangat bahagia.' Senyum palsu tersirat di wajah Sifa.
Inayah melihat Zaki merangkul Sifa. Tidak ada tanda-tanda mencurigakan perlakuan Zaki pada Inayah.
Alina tiba dengan membawa bayi mungilnya. Semua menyambut putra Alina dan Teo. Termasuk Ibu Hanum dan Ummi Humairah yang belum sama sekali melihat langsung baby Alan. Begitu juga dengan Raka dan Amira. Raka dan Amira imut bahagia hadirnya Baby Alan.
Sifa bisa melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Alina dan Teo. Bagaimana dengan nasib pernikahannya dan calon buah hatinya? Mengapa sekarang Sifa baru menyesal dengan perjanjian kontrak gila itu.
Berbeda dengan Zaki, dirinya sudah membayangkan Baby Alan adalah putranya. Ada rasa tidak mungkin akan memberikan keturunannya nanti pada sang nenek.
__ADS_1
Aditia menepuk bahu Zaki. "Tuan Zaki, sepertinya anda terlihat tertarik ingin menggendong baby Alan? Apa benar?"
✍️✍️✍️✍️✍️✍️✍️✍️ Terus dukung Author hingga cerita Author tamat, ya... 🤗🤗🤗🤗