
"Tunggu! Mau kemana?" cegah Sifa menghentikan Zaki yang begitu nekat untuk menemui Ummi Humairah.
"Aku akan menemui wanita yang sudah melahirkan gadis di depanku. Aku akan memperlihatkan kertas ini. Aku sudah bayangkan seperti bagaimana kecewanya Ummi pada putri kesayangannya," ancam Zaki.
"Jangan gila, Tuan. Anda memang memang benar-benar menyebalkan!" kata Sifa dengan mengurangi volume suaranya.
Zaki mengumbar senyum. Ternyata apa yang diharapkannya akan segera terwujud. Terlihat Sifa sedang berfikir.
"Bagaimana?" tanya Zaki.
'Apakah ini yang di sebut nikah terpaksa?' Sifa tidak terpikir olehnya menikah dalam keadaan benar-benar terpaksa dengan seorang pria yang awal pertemuan mereka sudah berkesan sangat menyebalkan bagi Sifa.
"Ok! puas." Sifa benar-benar tidak menyangka hidupnya serumit yang sekarang.
"Bacalah kembali perjanjian kontrak kita yang sudah kamu tanda tangani."
Sifa baru ingat. Hari itu, Zaki pernah memintanya bertandatangan. Akan tetapi, bukankah hari itu kontrak kerja perusahaan?
Zaki yang paham apa yang ada dalam pikiran Sifa kini menatap bibir Sifa. Bahasa apa lagi yang akan keluar dari bibir seksi itu.
__ADS_1
"Tuan, anda sudah menipu saya. Tuan Zaki, anda benar-benar bisa melakukan apa saja untuk memenuhi ambisi anda! Anda benar-benar menyebalkan, Tuan."
"Hus! Ummi nanti mendengarnya. apa kami mau...."
"Mau apa nak Zaki?" tanya Ummi Humairah yang sempat mendengar perkataan Zaki sekilas.
"Aku mau melamar Sifa, Ummi." jawab Zaki dengan lantang.
Sifa menganga tidak percaya dengan barusan Zaki ucapkan. Bagaimana bisa pria itu langsung mengatakan hal tersebut tanpa merundingkan dengannya?
'Kak, Inayah, bagaimana bisa kamu punya teman kuliah menyebalkan seperti ini?' batin Sifa masih membekap mulutnya sendiri.
"Sifa, Apa maksudnya ini?"
"Ummi akan saya... "kembali ucapan Sifa dijawab okeh Zaki.
"Sebenarnya, Aku dan Sifa sudah lama menjalin hubungan ini, Ummi. Namun, baru hari ini aku berani untuk mengutarakan maksud saya pada Ummi.
"Oh Tuhan, mengapa aku harus dipertemukan pria seperti ini? Dosa apa yang pernah aku lakukan?" batin Sifa dengan wajah memerah dan memutar bola matanya sambil menggertakan giginya dan bernapas cepat.
__ADS_1
"Sifa?" lirih Ummi Humairah memicingkan matanya. Ada rasa curiga pada Sifa.
Sifa mengangguk dengan terpaksa mengikuti permainan Zaki. Dirinya merasa muak. wajah Zaki memerah dan terlihat berseri. Kini kemenangan berpihak padanya.
pertemuan pertamanya dengan Sifa, Zaki sudah memutuskan akan mendapatkan Sifa walau dengan cara memaksanya. Ditambah nenek Sofia terus meminta sesuatu yang sangat tidak lazim bagi Zaki.
"Lalu, kapan Nak Zaki akan membawa keluarganya kemari?"
"Sebentar malam, Ummi. Saya pastikan akan datang."
Sifa memukul jidatnya sendiri. Lalu, menghembuskan napas kasar. Melihat Sifa tidak berdaya Zaki benar-benar menikmati penderitaan Sifa yang sekarang.
"Baiklah, Nak Zaki. Ummi menghargai niat baik kamu. Bagaimana kalau Nak Zaki makan siang dulu," tawar Ummi Humairah.
"Dia sudah akan pulang, Ummi. Dia tidak bisa makan makanan murahan."
"Baik Ummi dengan senah hati." Senyum Zaki mengarah pada Sifa yeng memanyungkan bibirnya.
"Lihat saja nanti. Bibir itu akan habis aku mangsa," bisik Zaki mengikuti Ummi Humairah dengan meninggalkan Sifa mengepalkan tangannya. dan gigi Sifa terlihat greget ingin mencabik habis kulit Zaki.
__ADS_1