Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 61. Rapuh Tanpamu


__ADS_3

Cukup jauh perjalan menuju di mana Aditia berada. Inayah terlihat heran mengapa tempat yang mereka tuju bukan semacam tempat yang ada dalam pikirannya. bukankah suaminya dalam tahanan?


Inayah ingin mengatakan rumah sakit bukan juga. Lalu tempat apakah itu? Cukup lama Inayah melihat sekelilingnya.


"Mengapa kita di sini?" tanya Inayah. Melihat bangunan cukup bersih.


"Kamu akan tahu setelah masuk, nak," kata Tuan Subari meminta menantunya untuk turun dari mobil.


Inayah pun mengikuti langkah ayah mertua dan Ibu mertua. Sementara Rayyan digendong oleh Bibi Sumi dan suster Ira membawa perlengkapan Rayyan.


RUANG KEMOTERAPI KHUSUS KANKER.


Inayah menoleh ke arah ayah mertua dan Ibu Hanum hanya menahan air matanya untuk tidak keluar lagi.


"Masuklah." Pinta Tuan Subari meminta Inayah masuk ke dalam.


Jantung Inayah kembali berpacu. Apa maksud ayah mertua memintanya masuk. Siapa yang sakit di sini?


Sebelum masuk, Inayah di haruskan memakai baju khusus. Terlihat Teo sang asisten Aditia berdiri di ujung yang belum menyadari kedatangan Inayah.


"Teo?"


Teo berbalik dan melihat Inayah di belakangnya.


"Nona, anda di ...." Teo mendapat kode dari Tuan Subari agar Teo keluar dari ruangan itu.


"Silahkan, Nona," kata Teo meninggalkan Inayah yang masih dalam kebingungan.


"Nona Inayah?" sapa seorang perawat yang memakai pakaian serba putih.


Inayah mengangguk. Perawat itu tersenyum dan meminta kembali pada Inayah untuk berganti sandal yang sudah disiapkan.


'Apa maksudnya ini?' batin Inayah yang belum paham. Namun, kata hatinya mengatakan ada yang tidak beres.


Jantung Inayah kembali berpacu ketika melihat siapa di ujung sedang melakukan kemo. Aditia belum menyadari kehadiran Inayah. Terlihat Aditia sesekali menatap dokter di depannya yang mengajaknya berbicara.


"Bagaimana bisa kamu melawan semua ini seorang diri, Mas? Apa aku tidak berarti untukmu?" sahut Inayah setelah dokter yang menangani suaminya sudah usai.


"Inayah?" Aditia terdiam di sebuah kursi khusus. Dirinya tidak tahu mengapa Inayah bisa menemukan dirinya.


"Kamu terlalu jahat padaku, Mas. Mengapa kamu menyembunyikan ini dariku!" Inayah memperhatikan kondisi suaminya dari ujung kaki hingga kepala.


"Aku membencimu, Mas!"


Adia berdiri dari tempatnya walau sebenarnya dirinya belum terlalu mampu untuk berdiri. Inayah berlari, dan langsung memeluk suaminya. Tangis keduanya pecah. Untungnya sudah tidak ada petugas di dalam ruangan itu kecuali mereka berdua.


Rindu akan belaian kasih sayang, dan ketegaran. Walau semua itu telah berlalu dan kini telah tersalurkan. Setelah merasa cukup, Aditia kembali memasangkan penutup wajah istrinya dan kembali memeluknya.

__ADS_1


"Maafkan aku, Inayah. Aku sangat merindukanmu, Sayang."


Inayah tidak lagi menyahut. Inayah merindukan pelukan hangat itu dari suaminya.


"Inayah?" panggil Aditia dengan tangan Inayah melingkar penuh di tubuhnya.


"Sayang, aku tidak mampu berdiri lama," lirih Aditia.


Inayah melepaskan pelukannya. Aditia kembali duduk di tempat sebelumnya. Inayah berlutut di depan suaminya dan menyandarkan kepalanya di pangkuan Aditia.


"Mas, mengapa kamu ada disini? mengapa kamu tidak mengatakan ini padaku? Mengapa Mas?!" Inayah terus terisak.


"Apakah sudah lama Mas Aditia di tempat ini?"Iinayah mengangkat kepalanya dan menatap wajah suaminya.


"Mengapa kamu hanya diam, Mas?"


"Aku tidak tahu harus mengatakan apa padamu, Inayah." Aditia kembali memeluk istrinya dan Inayah juga memeluk erat tubuh pria itu yang selama ini dirindukan olehnya.


"Kamu pasti sangat menderita selama ini, Sayang. Maafkan aku," ungkap Aditia.


Entah sudah berapa kali kata Maaf keluar dari bibirnya dan entah sudah berapa kecupan singkat mendarat di kening sang istri.


Aditia memegang kedua wajah istrinya dan berkata, "Aku akan menjelaskan semuanya setelah kita di rumah, Sayang."


Aditia menempelkan kepalanya dengan kepala sang istri. Kembali adegan romantis sebelumnya berlanjut cukup lama.


"Kau dan Rayyan penyemangatku, Inayah."


"Mas, kamu tahu nama anak kita?" tanya Inayah pada Aditia dan Aditia tersenyum sambil mengangguk.


Inayah pun membatu Aditia untuk berdiri dan berpindah pada kursi roda yang sudah disiapkan oleh Teo sebelumnya.


"Aku merindukanmu, Inayah. Aku mencintaimu dan anak kita."


"Mas, berjanjilah padaku. kamu tidak akan pergi lagi meninggalkan kami."


Aditia menatap sendu sang istri. lalu, mengecup kening Inayah dan mengajaknya keluar dari tempat itu menuju di mana keluarga sudah menunggu. Inayah pun mendorong kursi roda suaminya keluar dari ruangan kemo tersebut.


Sesekali Aditia menoleh melihat Inayah. Begitu pun Inayah. Aditia meletakkan tangannya di atas tangan Inayah yang sedang mendorong kursi roda miliknya.


Tepat di depan pintu, kedua mata Aditia terlihat berair menyambut kehadiran Rayyan yang selama ini dirindukan untuk di peluk olehnya.


Rayyan pun berpindah tangan dalam pelukan Aditia. Baby Rayyan menatap Aditia, sang ayah.


"Ini Ayah, Rayyan. Kamu jagoan Ayah. Aditia kembali memeluk Rayyan dan mengecup pipi tembem putranya.


"Dia mirip kamu, Mas."

__ADS_1


"Dia juga mirip kamu, Sayang." Aditia tersenyum.


"Maafkan Ayah, Rayyan. Jagoan Ayah dan Bunda." kembali Aditia memeluk putranya itu dengan penuh cinta dan kasih.


Aditia pun memeluk keluarga kecilnya dengan penuh kerinduan. Kerinduan yang cukup lama karena sebuah hal yang memisahkan mereka. Dan kembali ujian yang mempertemukan mereka lagi.


"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Tuan Subari pada Akhirnya.


Inayah pun melepaskan pelukan dari suaminya yang masih duduk di kursi rodanya dan Rayyan dalam gendongan Aditia yang kini sedang menatapnya sabil terus berceloteh.


" BA”, “ma”, “da”, “ga”, atau yang lainnya. Tidak hanya mengucapkan “ba-ba-ba-ba”, ia kini sudah bisa berceloteh “ba-ga”, “ma-ga”, dan lain-lain. 


Aditia menjawab pertanyaan sang ayah setelah usai menanggapi celoteh Rayyan.


"Kata dokter. Aku harus terus memeriksakan diri."


"Teruslah berusaha, Nak. tidaklah sebuah penyakit pasti ada obatnya," ujar sang ayah.


"Baiklah, kita pulang hari ini. Dan jelaskan semuanya pada istrimu."


"Pasti Ayah," ungkap Aditia dan kembali Aditia mengusap punggung tangan Inayah, lalu mengecup tangan istrinya dengan penuh kasih. Dan Rayyan sesekali menarik hidung sang ayah.


"Suster Ira, ambil Rayyan. Tuan akan menemui dokternya dulu," perintah Ibu Hanum.


Setelah bertemu dengan dokter Zain. Aditia meminta Teo untuk mengurus semua administrasi. Dan Inayah yang dibantu oleh Bibi Sumi menyiapkan barang suaminya yang ada diruang rawat sebelumya.


Sementara Aditia sendiri, tampak terus tertawa dengan kelucuan Rayyan. Dan tiba saja, kepalanya kembali terasa sakit.


"Mas, kamu baik-baik saja? Baiknya Rayyan dengan Suster Ira dulu, Mas." Inayah megambil Rayyan dan memberikan pada Suster Ira.


"Apa sangat sakit, Mas?" tanya Inayah panik.


"Aku baik saja, Sayang. Aku hanya butuh istirahat."


"Aku sangat rapuh tanpamu, Mas." Inayah kembali memeluk suaminya sebelum keluar dari ruang inap Aditia sebelumnya.


"Aku juga sama, Inayah. Ayo kita pulang. Kita kembali ke rumah kita."


Inayah kembali membantu Aditia berdiri kemudian memberikan Kursi rodanya. Adita tidak lepas menatap istrinya. Jantung keduanya kembali berpacu.


***


Ujian cinta kalian benar-benar berat, Ya. Selanjutnya. akan penjelasan Aditia mengapa bisa berada di rumah sakit.


Ayo mana pendukung Aditia dan Inayah.... Author istirahat dulu tangan Author keseleo ketika beberapa ribu kata. 🤭🤭


Terus beri dukungannya biar semangat Author bertambah. Author minta kopi dulu.

__ADS_1


Siapa yang mau cerita Alina dan Sifa di lanjutkan.Tinggalkan komen di kolom komentar. 👇👇👇


__ADS_2