Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 35. Rencana Aditia


__ADS_3

Masuk tiga bulan setelah kepergian Adam, Inayah berkunjung di rumah yang pernah Adam dan Inayah tempati.


Selama bercerai, ini pertama kalinya Inayah menginjakkan kembali kakinya. Tidak ada yang berubah. Terpampang foto pernikahan mereka dan seketika bulir bening terlihat di sudut mata Inayah.


"Mas, Adam. Aku sudah memaafkanmu. Mengapa serasa sulit melupakanmu. kau telah berhasil merebut hatiku, Mas Adam. Astaghfirullah."


Inayah masuk di dalam kamar. Inayah duduk di atas kasur dan menemukan pakaian Adam yang habis terlipat di atas kasur. Berlanjut, Inayah membuka lemari pakaiannya. Semua tertata rapi. sama seperti dulu.


Kembali Inayah meneteskan air mata. "Andai kau jujur dan kita sama-sama terbuka, ini tidak akan terjadi, Mas." lirih Inayah.


Hari itu, Inayah akan terbuka dengan Adam. Namun, Adam pulang dengan wajah yang tidak bisa Inayah gambarkan.


Setelah mengambil pakaiannya, Inayah pun meninggalkan rumah itu. "Selamat tinggal masa laluku."


Sebenarnya rumah itu diberikan untuk Inayah, Namun, Inayah menolaknya dan mengatakan tidak berhak untuk menerimanya. Bukan tanpa alasan Inayah menolak.


Inayah berlanjut menuju pondok seperti biasanya. Dan tersenyum mendapati Husna kembali ceria. Begitu melihat Inayah, Husna terdiam.


"Ibu ustadzah Inayah?" panggil Husna.


Inayah berhenti. Husna menghampiri dan berkata, "Ibu, terimakasih."


"Terimakasih?" ulang Inayah.


"Iya," ujar Husna. "Ibu ustadzah,


aku ingin bicara."


"Ayo, kita duduk di sana!" tunjuk Inayah sebuah pohon yang cukup rindang.


Semilir angin melambaikan ujung hijabnya. Husna terus menatap Inayah dan memuji Inayah di dalam hati.


"Bagaimana, Husna, pertemuanmu dengan pria itu? Apa kalian saling cocok?" tanya Inayah lembut.


"Dia seperti seorang kakak yang memberikan support untuk aku."


"Maksudnya, Husna?" tanya Inayah lagi yang tidak bisa menebak ucapan Husna.


"Sejujurnya, Aku memuji ciptaan-Nya. Pandangan pertama, pria itu mampu mendebarkan jantungku. Bukan berarti aku ... Akan tetapi, aku hanya kagum dengan sosoknya. Dia berkata apa adanya."


Inayah terus menyimak ucapan Husna.


"Apa kau menyukainya?"


"Aku tidak bisa memprediksikan cinta atau hanya sekedar mengaguminya," jawab Husna.


"Lantas? Apa dia menyetujui perjodohan ini?"


Husna geleng kepala.


"Kenapa bisa?" Inayah kembali bertanya.


"Dia mengatakan. 'Dia ingin menikah dengan pilihannya sendiri. Dia tidak ingin menikah karena terpaksa.' Husna tersenyum. "Aku bisa melihat dari kedua bola matanya, jika dia mencintai wanita lain," senyum Husna mengembang menatap Inayah.


"Kenapa Husna menatap ibu seperti itu?"

__ADS_1


"Tidak. Ibu cantik. dibalik penutup wajah biru Ibu menyembunyikan sebuah keindahan."


"Sebenarnya, ini bukan kewajiban. menutupi wajah selembar kain bukanlah aurat. Jangan terlalu memujiku, Husna," kata Inayah menepuk bahu Husna.


"Lalu, apa jawabanmu?" tanya Inayah lagi mengalihkan perhatian Husna.


Husna menatap lurus mengingat Aditia dan berkata, "Aku mengangguk setuju. Apa lagi saat dia mengatakan 'Aku masih di bawah umur. Dan meminta aku untuk meraih impianku. Di situ aku merasa seperti memiliki seorang kakak laki-laki yang bisa memahamiku. Dia juga mengatakan kepadaku 'Lebih baik dia menolak sekarang, karena takutnya dia tidak bisa memenuhi tangung jawabnya sebagai seorang suami.'


Inayah tersenyum. Dan kembali berkata, "Bisa jadi dia punya pilihan. Akan tetapi, Kamu bersyukur harusnya. Bagaimana jika seandainya kalian menikah dan tidak menemukan kebahagiaan. Apa arti pernikahan kalian tanpa dibarengi dengan perasaan saling mencintai dan mengasihi."


Husna tersenyum dan setuju dengan apa yang dikatakan Inayah.


"Ustadzah, Inayah?" panggil Husna lagi.


"Kenapa Husna?" tanya Inayah lagi.


"Aku mendukung Ibu dengan Tuan Aditia. Aku yakin, Tuan Aditia sangat mencintai Ibu ustadzah," ujar Husna tersenyum lalu pergi setelah mengatakan hal itu pada Inayah.


Inayah terdiam mencerna kalimat Husna.


***


Persiapan Aditia memimpin kembali perusahaannya sebagai direktur.


Teo sibuk memberikan perintah untuk semua pegawai kantor mempersiapkan diri menjemput direktur terbaru mereka.


Semua sibuk membersihkan dan menata kantor semaksimal mungkin. Teo sangat mengenal bagaimana direktur barunya. Sangat anti dengan namanya debu.


Hingga waktu tiba, Semua karyawan kantor berjejer rapi menyambut kedatangannya. seringai terpatri wajah tampan Aditia turun dari mobil.


Tidak ada senyum di wajahnya. yang tampak hanya wajah datar semata. Sehingga karyawan kantor merasa tegang.


Tepat di dekat seorang wanita berhijab, Aditia terhenti. "Siapa namamu?"


"Asifa," jawabnya dengan gugup. Asifa baru pertama kalinya melihat langsung Aditia. Selama ini Asifa hanya me dengar nama itu dari Alina. Asifa tersenyum dan mengingat Inayah, kakaknya.


"Kamu, siapa namamu?"


Aditia berhenti tepat di depan adiknya, Alina yang hari itu Alina dan Syifa bekerja sebagai anak magang.


'Apa, sih kak. lebai, deh. Awas saja pulang sebentar akan aku ulek-ulek kamu." batin Alina yang kesal dengan kakaknya, Aditia.


Tidak ada yang tahu di kantor itu siapa Alina bagi Aditia. yang mereka tahu hanya seorang pegawai yang magang di tempat tersebut. Ini semua Ulah Aditia dan Tuan Subari sengaja menyembunyikan identitas Alina. yang bertujuan Alina benar-benar serius dalam pekerjaannya.


"Siapa namamu?" tanya kembali Aditia dengan wajah datarnya.


"Alina, Tuan direktur," jawab Alina dengan suara sedikit judes.


"Ingat posisimu saat di kantor. ini bukan di rumah. Serius bekerja. kamu paham," bisik Aditia pada Alina.


"Kalian anak magang di sini? tanya Aditia menunjuk Syifa dan Alina.


"I... Iya, Tuan direktur." jawab Asifa gugup. "kami baru tadi pagi masuk."


"Ok," jawab Aditia melanjutkan perjalanannya.

__ADS_1


Semua karyawan kantor berbisik setelah Aditia berlalu. "Wajah tampan, tetapi bikin tegang." bisik mereka.


"Hari ini, akan ada kunjungan ke pusat perbelanjaan, Tuan." ujar Teo yang kini Aditia masih memeriksa semua keadaan kantor.


Aditia berhenti tepat di depan Sebuah meja dan melihat hasil desain berhijab. lengkap dengan penutup wajahnya.


Semua saling melemparkan pandangan takut ada kesalahan yang mereka perbuat.


"Hasil desain siapa ini?" tanya Aditia.


Tidak ada yang menyahut. Asifa pun maju dan berkata, "Desain kakak saya. Saya mencoba belajar darinya."


Aditia menoleh melihat Asifa tampak ketakutan.


"Ini aku bawa," Aditia mengambil desain itu. Asifa hanya terdiam dan mendapat jempol dari Teo. Asifa membalas senyum itu.


Aditia kembali melanjutkan langkahnya yang diikuti oleh rombongan. Tiba di pusat perbelanjaan, Aditia kembali berhenti dan melihat pakaian muslimah.


"Apa yang bisa kami bantu, Tuan? ini desain terbaru kami. Apa Tuan berminat?" tanya karyawan toko.


"Siapa yang mendesain ini?" tanya Aditia.


"Seorang wanita dengan talenta yang sangat bagus. Kami membeli hasil desainnya dan memproduksinya."


"Namanya?" tanya Aditia.


"Inayah Sita Renata Abdullah. itu nama lengkapnya, Tuan."


"Apa dia memakai penutup wajah?" tanya Aditia.


"Iya, Tuan."


"Teo, Cari tahu nomor pemilik desain ini. Nomornya dengan saya sudah tidak aktif."


"Tuan muda ingin bekerja sama dengannya?"


"Jangan banyak tanya, Teo. laksanakan tugasmu."


"Baik Tuan direktur. Tugas akan segera saya laksanakan."


Langkah itu terus berlanjut. Aditia juga mengunjungi ruang yang akan ditempati untuk mengadakan konferensi pers.


Aditia berdiri dengan memasukkan kedua tangannya di saku celana. Teo maju dan meminta para pekerja untuk menyalakan lampu. Teo tersenyum dengan hasil maksimal dan berkata pada tuannya,


"Semuanya sudah beres, Tuan? Apa ada yang ingin di tambahkan?"


"Pastikan keamanannya." Aditia melihat tulisan di depan WAJAH BARU. "Pastikan konferensi pers esok berjalan dengan baik. Apa kau menjaminnya?"


"Aku pastikan," jawab Teo.


"Jangan lupa terus pantau kinerja Alina. Pastikan dia serius dalam bekerja. Apa kau dengar?"


"Akan saya pantau, Tuan."


"Bagus." Teo menundukkan kepalanya sebagai bentuk rasa hormat nya.

__ADS_1


Aditia berbalik dengan wajah maskulinnya. Teo terdiam dan melirik tuannya sudah berlalu dan segera menyusulnya.


__ADS_2