
Adam dinyatakan sadar dari komanya setelah satu minggu kemudian. Pertama Adam sebut namanya adalah Inayah.
"Ibu, aku ingin bertemu dengan Inayah," kata Adam dengan nada yang melemah.
"Nak, Inayah sudah bukan siapa-siapa kita lagi."
"Tolonglah, Ibu. Penuhi permintaanku. Aku tidak akan lagi meminta setelah ini. Telepon Inayah, Ibu. Aku hanya ingin bertemu dengannya yang terakhirnya," ujar Adam dengan suara melemah.
Ibu Zahra tidak sanggup menahan air matanya dan mengiyakan permintaan putranya. Tuan Danu menguatkan istrinya untuk menerima kenyataan.
Inayah datang. Adam tersenyum. Inayah terlihat sudah sedikit membaik.
"Aku bahagia melihatmu, Inayah. Kau terlihat gemuk,"canda Adam ditengah titik terlemahnya.
Kondisi Adam sangat memprihatinkan. Tubuhnya turun drastis akibat penyakit yang dideritanya.
"Aku hanya ingin mengatakan, Inayah. Temukan kebahagiaanmu. Maafkan semua kebohonganku, Inayah."
"Mas Adam, jangan banyak bicara. beristirahatlah."
"Kau benar Inayah. Aku akan beristirahat dengan tenang setelah kamu memaafkan aku."
Adam membukan oksigennya. Lalu memperbaiki posisinya. Adam tersenyum. Inayah yang melihat kondisi Adam segera memanggil dokter.
"Doker!" pekik Inayah.
Ibu Zahra dan Tuan Danu masuk dan melihat putranya kembali kritis.
"Adam!" teriak Ibu Zahra yang memberontak untuk mendekati Adam.
Aditia datang tepat waktu dan membantu Inayah menenangkan Ibu Zahra. Sementara Tuan Danu mendekati Adam yang menyiapkan diri.
Dan para tenaga medis sibuk dengan tugas masing-masing. Mereka masih saja melakukan pemeriksaan pada Adam yang jelas-jelasnya sudah tidak berdaya.
Tuan Danu meminta para petugas berhenti melakukan tugasnya dan mengatakan ikhlas apa pun yang terjadi. Aditia melihat Adam menghembuskan napas terakhirnya. Seketika air mata Aditia tak terbendung lagi.
__ADS_1
"Mengapa harus seperti ini, Adam?"
"Adam!" teriak Ibu Zahra dan mendekat ke sisi putranya setelah Tuan Danu mengusap mata Adam hingga benar-benar tertutup rapat untuk selamanya.
"Kamu tidak merasakan lagi, nak." teriak Ibu Zahra.
Inayah menatap lurus Adam. dan memeluk Ibu Zahra.
"Maafkan Adam, Inayah. Maafkan dia." tangis Ibu Zahra dalam pelukan Inayah.
Aditia teringat tulisan Adam.
"Aditia, Maafkan aku yang berani mengatakan, bahwa aku jatuh cinta pada Inayah. wajar saja tidak bisa kamu melupakannya. Namun yang paling menyakitkan setelah aku mengetahui siapa Inayah bagimu.
Inayah, bagaikan mutiara bagimu. Hingga aku tidak berani untuk mencintainya, karena aku menganggap kaulah yang pantas untuk Inayah.
Aku berusaha menyakitinya, agar saat aku memutuskan berpisah darinya aku tidak merasakan sakit. begitu pun Inayah. Berjanjilah padaku, bahwa kau akan kembali Memperjuangkannya, Aditia. Temukan hatimu yang hilang."
Inayah terlihat menahan air mata di sudut matanya melihat Adam terbaring tidak berdaya dan tidak bergerak sama sekali.
"Aku berjanji padamu, Inayah. Tidak akan lagi meninggalkanmu dan akan memperjuangkanmu."
***
Ibu?" desis Inayah menatap Ibu Zahra yang masih menangis di atas pusara Adam.
"Aku sudah kehilangan putraku, Inayah. Keputusan yang tepat, Adam menceraikan dirimu, Inayah. Kau tidak akan merasa sakit dengan kepergiannya seperti yang aku rasakan kini kehilangan sosoknya."
Inayah yang sedari tadi menahan air matanya seketika terisak mendengar Ibu Zahra mengatakan itu padanya.
Hati Aditia ikut nyeri ketika mata indah itu menjatuhkan Lara. Saat luka yang datang mendera, namun yang merasakan sesat ada di dalam dada.
"Inayah, bagaimana jika seandainya statusmu sekarang masih istri Adam. Kau akan merasakan kehilangannya."
"Sudah, Ibu. Cukup. Adam sudah tenang," ujar Tuan Danu.
__ADS_1
Tuan Danu segera merangkul istrinya yang kini sudah pingsan. sementara Inayah, masih tetap di tempatnya menatap batu nisan Adam.
"Akun sudah memaafkanmu, Mas."
Inayah berdiri dari tempatnya. seketika, Inayah melonjak kaget melihat Aditia di belakangnya. Mata keduanya bertemu.
Inayah meninggalkan tempat tersebut dan Aditia menatap sebentar batu nisan Adam. Lalu berjongkok dan berkata, "Terimakasih, telah menjaga Inayah untukku."
Aditia berdiri dari tempanya menuju parkiran. Namun, terlihat Inayah berdiri sedang kebingungan.
"Nona, kenapa?" Aditia sengaja menyapa kata NONA agar Inayah tidak merasa pernah mengenal dirinya.
"Mesin mobilku tidak mau menyala."
"Boleh aku periksa?"
"Silahkan."
Sekitar lima menit, Mobil Inayah kembali normal.
"Silahkan Nona. Mesin mobilnya sudah agus. kamu bisa mencobanya."
Wajah Aditia terlihat kena oli.
"Tuan, itu."
"Kenapa? ada apa dengan wajah saya?"
Inayah memberikan sapu tangan dan berkata, "Silahkan bercermin, Tuan. Dan bersihkan wajah anda. Terimakasih sebelumnya. Permisi."
Inayah masuk dalam mobilnya. dan Aditia tidak lepas terus mengikuti pandangan ke arah Inayah.
Aditia menatap sapu tangan yang diberikan Inayah. Dan memilih menyimpannya di saku celana dan mengambil tissue di mobilnya.
"Aku akan menaklukkan kembali hatimu, Inayah."
__ADS_1