
Sifa melihat Zaki. Zaki menutup mulutnya dan terlihat salah tingkah. Sifa bangun dam melihat Zaki.
"Sudah jama berapa?"
"Ini batu jam 11 malam. Tidurlah kembali." Zaki berdiri dan ditarik oleh Sifa.
"Lakukanlah. Aku siap. Aku akan membantumu menyelesaikan semua masalahmu." sifa menatap Zaki.
Zaki duduk kembali. Melihat Sifa dari ujung kaki hingga kepala.
"Kita bisa melakukannya di lain waktu," ujar Zaki.
"Mengapa mesti ditunda? Aku ingin kita selesaikan semuanya. Apa lagi yang kamu tunggu?" Sifa hanya ingin urusannya dengan Zaki usai. Apa pun yang terjadi dalam pernikahannya Sifa sudah siap menerima segala konsekuensinya.
'Kupikir dulu Inayah adalah dirimu, Sifa. ternyata wanita itu adalah kamu. Bagaimana mungkin ini terjadi. Bagaimana mungkin selama ini aku mencintai orang yang salah?' batin Zaki.
***
Esok pagi tiba, Di kediaman Tuan Subari Ibu Hanum mengungkapkan tidak setujunya pada Aditia yang rencananya akan pindah.
"Ibu, cobalah mengerti. Ada Alina dan Teo yang akan bersama ibu setiap hari di sini. Ibu, kami juga tidak jauh dari ibu." Aditia mencoba membujuk Ibu Hanum.
"Baiklah.Tapi, kalian harus janji selalu kunjungi Ibu." Ibu Hanum terlihat sedih akan rencana Aditia berpisah rumah darinya.
"Tentu Ibu. Ia kan, Sayang?" Aditia meminta Inayah untuk membantunya berbicara.
"Iya Ibu. kami pasti akan mengunjungi Ibu. Kami menyayangi ibu."
Ibu Hanum tidak lagi menyahut. Aditia dan Inayah pamit. Aditia akan mengantar Inayah dan Rayyan ikut dengannya menuju pondok.
"Terlihat bunda sangat bahagia?" tanya Rayyan saat dalam perjalanan.
Aditia mengusap kepala Rayyan. "Jelas bunda bahagia. Karena bunda besar di sana."
"Apa di sana banyak ustadz, Ayah?"
"Kenapa kamu menanyakan Ustadz? Apa kamu bercita-cita akan jadi ustadz?" tanya Aditia.
pada Rayyan.
"Bagaimana aku akan jadi ustadz, Ayah. Cita-citaku ingin jadi dokter. ketika ayah dan Ibu sakit aku yang akan merawat kalian. kata Ibu seperti itu."
"Baiklah Boy. Ayah ikut Ibu saja."
Detik kemudian, Aditia mendapat telepon dari suruhannya dan seketika mobil terhenti.
"Mas hati-hati?" kata Inayah melihat Aditia begitu serius menerima panggilan telepon.
"Mas mengapa menatapku seperti itu?"
__ADS_1
"Tidak."Aditia berusaha menahan rasa cemburunya mengenai berita jika Zaki pernah diam-diam menaruh hati pada Inayah.
'Apa maksudnya Zaki selama ini. Salah mencintai bagaimana?' Aditia larut dalam pikirannya yang membuat Inayah juga heran dengan suaminya.
"Mas?" tegur Inayah. "Mas, mau berhenti sampai kapan kita di sini? Bukannya Mas pagi ini akan ada pertemuan?"
"Astaghfirullah, Iya. Maaf." Aditia kembali melanjutkan perjalanannya.
"Mas, ini bukan jalan menuju pondok, lho? Kok kita seperti ajan ke kantor? Ada apa, Mas?"
"Temani aku," jawab Aditia berubah pikiran.
Inayah ingin membantah, Namun itu bukan sifatnya. Inayah hanya heran melihat wajah maskulin itu tidak biasanya. Ada apa dengan Aditia?
Mobil mewah itu memasuki lingkungan perusahaan yang menjulang tinggi. Namun, Sampai di kantor, Terlihat reporter sedang Berkerumun di depan.
Aditia dan Inayah terkejut dengan hal itu. Melihat mobil Aditia, Para reporter mengerumuninya.
"Mas, Apa ini?"
"Ayah, kenapa banyak kamera. itu apa Bunda?" Rayyan penasaran.
"Bunda juga tidak tahu, Sayang. Tutup matamu." Inayah meminta Rayyan memeluknya.
Aditia dan Inayah serta Rayyan turun dari mobilnya. Sekilas pertanyaan tentang kebenaran Aditia yang pernah jadi napi.
"Mas, ada apa ini?" bisik Inayah.
Melihat Inayah pergi, Aditia kembali diserbu pertanyaan. Siapa yang membocorkan rahasianya?
"Tuan direktur, jawab pertanyaan kami. Apakah gosip yang tersebar mengenai isu tentang Anda benar adanya? Siapa itu Nona Amira? Dan siapa itu Nona Marina?"
Aditia cukup heran dengan semua masa lalunya yang kini terkuak kembali. Siapa dalang dari semua ini.
Inayah tampak panik. Juga takut. dan perasaan lainnya sudah bercampur menjadi satu. Teo yang baru juga tiba melihat Aditia di kerumuni oleh banyak reporter.
"Ada apa dengan Tuan Direktur?" Teo segera turun dari mobilnya dan menghampiri Aditia yang tampak kurang bersahabat.
"Tuan, bukankah anda sekretaris direktur. Tolong jelaskan pada kami, apa benar Direktur adalah mantan napi karena sebuah peristiwa percobaan pemer*** terhadap Nona Amira? Lantas apa hubungan dengan Nona Amira? Dan apa benar Tuan pernah gagal pernikahannya dengan Nona Marina?"
Teo berbalik melihat Aditia yang kini Teo bisa melihat wajah amarah itu.
"Itu hanya gosip. Jangan percaya." bantah Teo meminta agar Aditia masuk.
"Teo, cari tahu, siapa dalang dibalik semua ini?"
"Tuan direktur, Anda tidak bisa pergi begitu saja. Kami butuh penjelasan."
Aditia angkat bicara, "Jangan coba-coba membuat pemberitaan. Bila hal ini sampai di siarkan di TV, aku pastikan kalian akan menyesal!"
__ADS_1
Aditia melangkah pergi dengan disusul oleh Teo. Para reporter saling berbisik dan tidak mendapat informasi yang jelas.
Inayah cukup gelisah dengan pemberitaan yang di dengarnya masalah suaminya. Mengapa masa lalu suaminya kembali terkuak.
'Tidak mungkin kak Amira yang melakukannya, Kan? Aku mengenal kak Amira. Jika dia mau sejak dulu ia lakukan. Dan apa untungnya jika itu Kak Amira. Bukankah itu aibnya sendiri!' batin Inayah.
"Bunda, ada apa dengan ayah? Mengapa ayah dikerumuni seperti tadi? Apakah ayah nakal?"
Inayah cukup khawatir dengan Rayyan. Mengapa Rayyan harus menyaksikan dan mendengarkan.
"Bunda, mengapa bunda diam? Ayah kenapa bunda?"
"Sayang, putranya bunda yang pintar. Ayah hanya melakukan wawancara dengan mereka. Kalau Rayyan nanti besar dan sukses seperti ayah, Rayyan juga pasti akan diwawancarai. seperti ini, 'Tuan Rayyan Attaqi, Bagaimana bisa Anda sesukses ini. bisa berbagi pengalamannya?' seperti itu. Jadi, Rayyan mulai sekarang harus serius belajar."
Aditia terlihat sedih. karena keegoisannya tadi, Rayyan harus mendengar dan menyaksikan dirinya di kerumuni oleh para reporter.
'Ya Allah, mengapa masa lalu itu terus saja datang. Ampuni diriku Ya, Allah.' batin Aditia melangkah masuk menemui Inayah dan Rayyan.
"Itu ayah." Tunjuk Rayyan melihat ayahnya dengan wajah penyesalan.
Aditia langsung berjongkok dan memeluk Inayah dan Rayyan.
"Maafkan aku, Sayang," bisik Aditia.
***
Di lain tempat, seseorang tertawa puas dengan keadaan yang menimpa Aditia.
"Aku akan melihat kamu hancur, Aditia, putra Tuan Subari." Tawa itu menggema memenuhi ruangannya.
Bila perlu keluarganya akan hancur di tanganku. Bagaimana dulu, kamu Tuan Subari begitu angkuh dan sombong.
"Itu belum seberapa. Kamu pikir aku bisa tenang melihat keluargamu bahagia? Tidak. Aku akan bahagia bila Keluargamu hancur!"
"Cukup lama aku berjuang hingga saat ini aku bisa berdiri. Dan andai saja peristiwa itu tidak terjadi, aku sudah menjadi orang yang terpandang."
kembali memutar pemberitaan itu dan tertawa mendengar ancaman Aditia. "Sebarkan berita ini!"
***
Dilain tempat, Ibu Hanum begitu shock menyaksikan pemberitaan Aditia.
"Ayah!" panggil Ibu Hanum.
"Ada apa?" Tuan Subari datang dan melihat apa yang mereka saksikan dalam pemberitaan.
Tuan Subari berkacak pinggang dan frustasi. Segera dia menelpon menuju kantor.
***
__ADS_1
Terus berikan dukungannya. Terimakasih banyak yang sudah Subscriber. dan Terima๐๐banyak masih setia dengan cerita Author. ๐๐๐๐ love you pembaca setia AUTHOR.