Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 39. Menemui Inayah


__ADS_3

Assalamu'alaikum, semangat pagi semua. Jumat berkah. Kali ini Author kembali Up dengan keseruan Aditia dan Inayah lagi. mana hadiah buat Author? 🤭🤭😍😍


Maaf, ya. Bila masih banyak terdapat TYPO. Author sudah baca loh sebelum Up. ☺☺☺


***


Inayah tiba di rumah Ummi Humairah mengantar Asifa dan mendapati Ummi Humairah terlihat bersedih.


"Ummi kenapa? Apa yang terjadi?" Inayah melepaskan tasnya dan duduk di samping Ummi Humairah.


"Ummi tidak tahu. Dosa apa yang Ummi perbuat hingga anak yang mewakafkan tanah untuk mendirikan panti asuhan datang dan meminta kami meninggalkan panti asuhan permata bundaku. bangunan panti asuhan akan segera di gusur.


"Apa maksud Ummi?" tanya Inayah tidak percaya barusan di dengar olehnya.


"Bagaimana bisa Ummi? tanya Asifa pula.


"Ummi juga tidak tahu, Asifa, Inayah. Andai kita punya uang banyak, kita bisa membeli tanah itu." Ummi Humairah meneteskan air mata. Ini kedua kalinya dalam hidup Inayah melihat Ibu tirinya itu meneteskan air mata setelah Abanya meninggal.


"Andai Aba masih ada, mungkin ini bisa teratasi." Kembali Ummi Humairah meneteskan air mata yang membuat Inayah ikut larut dalam kesedihan.


Inayah teringat dengan tawaran Aditia sebelumnya.


'Apakah ini jalan yang harus aku ambil untuk membantu Ummi?' Inayah berperan dengan pikirannya sendiri.


"Aku akan membantu Ummi semampuku. Kita akan sama-sama mencari jalan keluarnya, Ummi," timpal Inayah.


"Terimakasih, Nak. Namun, apa yang harus kita lakukan?" Ummi Humairah tidak tahu apa yang akan di perbuat. Pikirannya saat sekarang sedang kalut.


Asifa juga berfikir. Bagaimana bisa membantu Umminya. Sementara dirinya juga baru terjun langsung ke perusahaan sebagai anak magang.


"Maafkan Sifa, Ummi. Sifa belum bisa membantu Ummi." Asifa bersedih.


Inayah menggenggam tangan adik tirinya itu dan berujar, "Asifa, fokus saja dulu dengan tugas kuliah kamu yang sekarang, dek. Semoga di tempat magang kamu yang sekarang kelak akan menjadikanmu sukses dalam meraih cita-cita."


Inayah terus terpikir dengan tawaran Aditia. Inayah tidak akan malu menjilat ludahnya sendiri jika itu kebaikan. Tidak ada cara lain.


Inayah mencari ponselnya. Berulang kali, Inayah mencari di dalam tasnya. Bahkan seluruh isi tasnya sudah dia keluarkan.


"Cari apa, kak?" tanya Asifa heran.


"Ponsel aku, Sifa. Apa kamu Melihatnya?" tanya Inayah dengan gusar.


"Sepertinya, kakak tidak pernah main Hp," imbuh Asifa."Jangan-jangan.... "


"Jangan-jangan apa, Sifa?"


"Kak, coba ingat, deh. Tadi di rumah sakit kakak sepertinya pegang ponsel. Apa mungkin—"


"Oh, tidak mungkin. Lalu, bagaimana ini?"


"Bentar, kak. Aku hubungi Alina dulu."


Asifa pun mencoba menghubungi nomor Alina. Namun, tidak aktif.

__ADS_1


"Bagaimana?" tanya Inayah penuh kecemasan.


"Ponselnya di luar jangkauan, kak. Bisa jadi kehabisan baterai. Bentar aku hubungi ulang."


Baiknya kamu pulang dulu, Nak. takutnya ibu akan mencarimu," ujar Ummi Humairah yang mengerti kecemasan Inayah.


"Tetapi, Ummi baik-baik saja, kan?"


"Jangan cemaskan Ummi. Ummi baik-baik saja. InsyaAllah. Di mana kesulitan pasti ada kemudahan. Ummi yakin, suatu hari nanti akan ada solusi terbaik dalam setiap masalah yang sekarang kita hadapi."


Inayah pamit pada Ummi Humairah. Sepanjang perjalanan pulang, Inayah terus terpikir dengan ponselnya. Juga mengenai tawaran Aditia.


Bagaimana jika ada orang lain yang menemukan ponselnya. Aditia mungkin?


"Semoga saja bukan orang itu yang menemukan ponselku."


***


Sementara Aditia sendiri, sedari tadi menatap foto Inayah yang terpasang sebagai wallpaper di layar ponsel milik Inayah. Bahkan foto tersebut sudah Aditia dokumentasikan.


Pulang membersihkan badan dan di sambut oleh pembantunya. Aditia bertanya seputar kabar Ayah dan Ibunya.


"Tuan, Ibu tadi menelpon dengan bibi. Katanya ponsel Tuan tidak bisa di hubungi."


"Kok bisa. Ponsel saya aktif terus, Bibi. Apakah mungkin faktor jaringan?" pikir Aditia. "Ya sudah. Nanti aku hubungi Ibu."


Aditia kembali berkata, "Bibi, besok masak masakan kesukaan Alina. Sekarang dia rumah sakit. Jangan katakan ini pada Ibu dan ayah."


"Apa yang terjadi, Tuan. Lalu siapa yang akan menemani Nona, Tuan?"


Aditia berlalu segera membersihkan diri dan berganti. Setelahnya kembali bersiap untuk pergi lagi setelah menunaikan kewajibannya di waktu masuk magrib.


"Tuan, tidak makan dulu?"


"Aku akan makan di luar. Aku bermalam di rumah sakit. Bibi, tolong bersihkan kamarku. Jangan sampai ada debu sedikit pun. Paham bibi? Aku tidak mau kamarku dibersihkan menunggu besok."


"Paham, Tuan Muda," sahut Bibi Sumi menaikkan jempol.


Aditia berlalu menuju rumah Inayah. Tiba di rumah Inayah, Ibu Fatimah cukup terkejut dengan kedatangan Aditia bertamu.


"Bagaimana kabarnya, Ibu?"


"Baik. Kami sangat baik. Bila Ibu boleh bertanya, kedatangan Nak Aditia kemari ada perlu apa?" tanya Ibu Fatimah.


"Begini, Ibu. Saya kemari ada perlu dengan Inayah. Apa Inayah ada?"


"Inayah belum pulang, Nak."


"Inayah belum pulang?" tanya Aditia mengulang perkataan Ibu Fatimah. terlihat raut kecemasan dalam diri Aditia.


'Kemana Inayah? Apa dia belum kembali dari rumah Ummi Humairah?' batin Aditia menatap kosong.


"Ibu, bolehkah aku menunggu Inayah sebentar?"

__ADS_1


"Nak Aditia mau menunggu Inayah? kalau begitu masuklah di dalam. Aku akan panggilkan Raka."


Amira turun dari lantai atas dan melihat Aditia duduk di ruang tamu bersama Ibu mertua. Amira cukup tidak percaya mengapa Aditia ada di rumah tersebut.


Aditia juga melihat Amira. Walau rasa itu sudah tidak ada di antara keduanya. Namun, tetap saja. Amira dan Aditia pernah ada hubungan sebelumnya. Hal itulah yang membuat Amira terlihat seperti orang yang serba salah.


"Nak Amira, panggil Raka. Sampaikan pada Raka di panggil oleh Ibu."


"Baik, Ibu. Akan saya panggilkan."


Amira segera memanggil Raka. Sementara Aditia sendiri menikmati teh buatan Ibu Fatimah. Aditia berfikir, mungkin ini saatnya bertanya seputar tentang Inayah pada Raka sebagai kepala keluarga di rumah tersebut menggantikan almarhum Aba Abdullah.


Raka datang dan langsung berjabat tangan dengan Aditia. semenjak hari itu, Raka memutuskan untuk menjalin silaturahmi dengan baik bersama Aditia dan keluarga. Semua karena pesan Aba Abdullah. Bukan karena Inayah, akan tetapi, memang karena hubungan kemanusiaan.


"Bagaimana kabarnya? Kami dengar di pemberitaan perusahaan anda begitu maju. Selamat atas kesuksesannya," basa basi Raka.


"Terimakasih," ujar Aditia. "Raka, bolehkah aku bertanya seputar Inayah?"


"Apa yang ingin kamu tanyakan tentang Inayah?"


"Jika seandainya aku datang secara baik-baik. Apakah Inayah tidak keberatan?"


Raka tersenyum dan berkata, "Alhamdulillah atas niatmu dan terimakasih sebelumnya. Kami menghargainya. Namun, kami tidak bisa memberikan jawaban. Karena setelah pernikahan Inayah, kamu tahu sendiri bagaimana keadaan Inayah sekarang."


"Aku sangat mengerti dengan Inayah. Namun, jika kamu mengizinkan, aku ingin meyakinkan Inayah, jika aku serius dengannya."


"Ternyata, kau laki-laki tidak mudah menyerah juga. Bagaimana jika seandainya, Inayah tidak siap. Apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Raka serius pada Aditia.


"Maka aku akan cukup bersabar untuk tetap menunggunya. Mungkin dalam seumur hidupku tidak akan menikah bila Inayah kembali menolakku."


"Jangan berkata seperti itu, Tuan. Anda bisa mendapatkan banyak wanita melebihi dari adikku."


"Benar, Akan tetapi, hanya satu wanita dalam hatiku sekarang, yaitu Inayah. Memang banyak wanita di luar sana. Namun, hanya Inayah yang mampu merebut hatiku. Tidak ada yang lain."


"Kalau begitu, jadilah perjaka selamanya," ledek Raka pada Aditia.


"Apa kamu tega melihatku kerjakan selamanya? Apa kamu tidak mau membantuku sedikit pun?"


"Aku tidak akan membantumu. Aku sudah tidak punya wewenang mengatur hidup Inayah. Beda saat dulu belum menikah. Inayah berhak menentukan pilihan hidupnya sendiri." Raka mengenang kesalahannya pada Inayah.


"Kamu benar-benar tidak kasihan padaku?"


"Itu urusan kamu tuan, Aditia. Silahkan kamu berbuat. Namun, satu hal, jangan membuat adik saya bersedih."


"Baiklah, Itu artinya kau memberikan aku lampu hijau."


Di luar, Inayah tiba dan melihat mobil Aditia terparkir.


"Dia lagi?" Ada hal apa orang itu kemari?" gumam Inayah cukup lama berada di dalam mobilnya.


Turun dari mobilnya, Inayah pun melangkah masuk di dalam rumah. Salam Inayah di jawab oleh semua orang yang ada di ruang tamu.


"Inayah, Duduklah. Aditia ada perlu denganmu."

__ADS_1


Inayah menarik nafas dan kemudian duduk. Raka dan Ibu Fatimah memberikan waktu ke pada Inayah dan Aditia.


__ADS_2