Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 9 Perasaan Yang Rumit


__ADS_3

"Inayah, tunggu!" panggil Aditia.


Inayah berbalik dan terkejut.


"Kak Adit, kenapa bisa di tempat ini? dan apa yang kamu lakukan di sini?" Inayah terlihat begitu terkejut. Aditia datang di pondok tempat Inayah mengajar. Bagaimana bisa Aditia menemukan dirinya?


Sebelumnya, Aditia berniat akan menemui Amira di kediamannya untuk meminta penjelasan mengenai masa lalunya. Sesuai petunjuk yang Aditia dapat, Amira ternyata wanita yang pernah di cintai olehnya di masa lalu. Namun, begitu dia hendak turun dari mobilnya, secara tidak sengaja netranya tertuju pada sosok Inayah sedang masuk dalam mobilnya. Aditia yang penasaran mengikuti Inayah.


"Maaf, aku mengikutimu sampai di sini."


"Kak Adit, tolong pulanglah! Jangan sampai Kak Raka melihatmu. Kamu tahu, kan, ini di pondok. Ada banyak santri di sini."


"Inayah, aku hanya ingin berbicara denganmu. Mengapa kamu menghindariku?"


"Kenapa aku harus menghindarimu? karena kamu dan aku bukan mahram. Jadi tolong, Kak Adit. Jangan terus mengangguku."


"Apa kamu tahu sesuatu?" Tanya Aditia mantap inayah.


Jarak keduanya sekitar satu meter. Dengan posisi Inayah berdiri tegak dengan beberapa buku tebal dipeluk olehnya.


"Inayah, apa kamu percaya?" Aditia menatap Inayah.


"Pergilah Kak Adit. Maaf, bukan maksud aku mengusirmu." Inayah tidak sanggup menatap pria tersebut. Terlalu menyakitkan harus terjebak dalam perasaan.


"Baiklah, tapi tolong temui aku di tempat pertama kita bertemu."


"Aku sibuk," ujar Inayah.


"Aku akan menunggumu."


"Aku sangat sibuk hari ini. Tolong, jangan paksa aku."


"Aku akan tetap menunggumu di sana." Aditia berbalik meninggalkan Inayah.


"Aku tidak akan datang!"


Aditia tidak menghiraukan teriakan Inayah. Aditia yakin Inayah akan datang menemuinya.


Melihat kepergian Aditia, bulir bening jatuh seketika. Rasa sesal mengapa harus mengenal Aditia.


Inayah terkejut ketika seseorang menepuk bahunya. Begitu Inayah berbalik tenyata Aba Abdullah. Inayah segera mengusap air matanya.


"Aba?"


"Siapa pria tadi?"


"Bukan siapa-siapa Aba. Dia hanya bertanya seputar alamat."

__ADS_1


"Mengapa wajahmu terlihat sedih, nak?"


"Tidak Aba. Aku tidak apa-apa. Aku hanya lelah, Aba."


"Inayah, waktu kamu kecil kamu adalah gadis yang sangat anti berbohong. Aba sangat Ingat bagaimana kamu menangis dan mengatakan, 'Aba, jangan lapor aku sama Allah. Inayah tidak mau masuk neraka. Permen ini diberikan sama temanku. Dan Inayah janji setelah makan permen, Inayah akan sikat gigi.' Aba Abdullah tersenyum mengingat kelucuan Inayah di masa kecilnya. "Inayah, Aba percaya padamu, nak."


'Maafkan Inayah, Aba." Batin Inayah.


Aba Abdullah dan Inayah berhenti tepat di bawah pohon yang rindang dan duduk di sana. Berlalu-lalang santri lewat dan menyapa. Mereka menyambutnya dengan senyum.


Aba Abdullah kembali berujar.


"Inayah, Aba percaya padamu. Kamu wanita yang pandai menjaga diri. Kamu wanita yang bisa Aba percaya. Aba sudah cukup tua. Aba tidak tahu umur Aba."


'Apa maksud Aba berbicara seperti ini?' Inayah kembali membatin


"Pondok ini Aba bangun agar anak-anak bisa belajar mengenal Tuhannya lebih dekat lagi. Aba berharap kamu dan Raka bisa mengelola pondok ini dengan baik. Kelak kamu nanti bersuami, Aba harap, kamu dan suamimu bisa menetap di pondok ini."


"Aba, Inayah belum berfikir sejauh itu. Inayah masih—"


"Inayah, tidak baik menolak jodoh jika sudah datang. Setidaknya kamu bisa berfikir mulai dari sekarang. Aba sayang kamu, nak."


"Aba, mengapa Aba begitu yakin."


Aba Abdullah tersenyum menatap putrinya. Aba Abdullah berdiri dengan tongkatnya dan di bantu oleh Inayah. Setelahnya, Aba Abdullah pamit sambil mengusap kepala Inayah.


Inayah hanya menatap kepergian Aba Abdullah. Inayah duduk kembali di tempatnya sambil merenungi maksud ucapan Abanya barusan.


Seorang santri dengan seragam putih hijau datang dan memberikan lembaran kertas pada Inayah berupa tulisan kaligrafi.


"Tugas kami sudah selesai ibu Ustadzah."


"Husna, Apa Kayla sudah mengumpulkan juga tugasnya?"


Husna terdiam, dia tidak bisa menjawab.


"Yasudah, masuklah ke kelas kalian! Sekarang pelajaran bahasa Arab, kan? Ibu Syarifah pasti sudah di kelas. pergilah dan belajarlah dengan baik!" perintah Inayah.


"Tapi, Ibu Ustazah—"


"Ibu mengerti. Biarkan ini menjadi urusan ibu."


Husna pun meraih tangan Inayah dan berlalu. Setelah Siswanya berlalu, Inayah pun menuju ruang kantor bergabung dengan guru lainnya. Raka melihat Inayah sedikit aneh.


***


Seringai terpatri di wajah seorang pria tampan sedang berdiri menatap ombak bergulung saling kejar mengejar. Berulang kali melihat Arloji di pergelangan tangannya menunggu seseorang tidak kunjung tiba.

__ADS_1


"Inayah, Apa benar kamu tidak akan datang? Inayah, mengapa kamu tidak menemuiku?"


Aditia meghembuskan nafas panjangnya dan kembali mencoba untuk mendapatkan ingatannya. Akan tetapi, semua sia-sia yang ada hanya merasakan sakit di kepalanya.


Teo yang datang menyusul melihat tuan mudanya memegangi kepalanya sangat kuat. Teo bisa menebak jika tuan mudanya kembali mencoba mengingat masa lalunya.


Seorang memegangi bahunya mengira itu adalah Inayah. Begitu Aditia menoleh dan melihat siapa yang datang, wajahnya berubah mejadi raut kecewa.


"Kenapa kamu kemari? harusnya bukan kamu yang ada di sini."


"Tuan muda, sebenarnya sedari tadi aku mengikutimu naik ojol. Aku tidak ingin sesuatu terjadi pada Tuan Muda. Ayo Tuan kita kembali! Nona tidak akan datang. Ini sudah sore."


"Dari mana kamu tahu dia tidak akan datang, ha?"


"Tuan Muda, gadis seperti nona selalu menjaga martabatnya sebagai seorang wanita. Bertemu dengan pria yang bukan mahramnya dengan sengaja dan berduaan, tentu nona tidak akan pernah melakukannya karena merasa malu pada Tuhannya. Jadi, biar pun Tuan Muda menunggunya sampai malam, Tuan Muda tidak akan bertemu degannya."


"Lalu, aku harus bagaimana? katakan padaku."


"Melamarnya," ucap Teo begitu mudah.


"Mengajaknya menikah? begitu maksudmu?"


"Iya Tuan. Maaf."


Aditia tersenyum. Aditia sudah bayangkan dirinya datang melamar Inayah.


"Kalau begitu siapkan makan malam romantis dan antar aku ke toko emas," ujar Aditia dengan wajah berbinar.


"Maaf Tuan Muda. Gadis seperti nona di lamar bukan seperti itu. Akan tetapi, Tuan Muda langsung ke rumah nona dan menyampaikan niat baik Tuan. Sebelum tuan ke rumah nona, baiknya kita pulang dulu, Tuan. Tuan belum minum obat. Tuan juga belum istirahat."


***


"Ibu tidak setuju, Adit. Bagaimana bisa kamu mau mau melamar Inayah, nak. Itu tidak mungkin!


"Biarkan saja, jika Aditia mau melamarnya."


Ibu Hanum berbalik dan kaget mendengar suara bariton sang suami. wajar saja Ibu Hanum tidak percaya dengan barusan sang suami ucapkan. Selama ini setiap wanita yang di cintai putranya selalu ditentang olehnya. Terutama masalah status sosial dan lain sebagainya. Dan hari itu justru tuan Subari selaku ayah Aditia mendukung keinginan putranya. Apakah itu suaminya, pak Subari?


"Kenapa Ibu diam? Mengapa ibu menolak keinginan putramu?" Tanya Tuan Subari pada istrinya, Ibu Hanum.


"Ayah jangan pura-pura tidak tahu hal ini. Ini tidak mungkin. Siapa Amira, siapa Inayah."


"Ayah pikir ini tidak ada salahnya. Ayah hanya ingin yang terbaik buat putra saya. Sudah cukup banyak dosa yang aku perbuat pada putra kita selama ini. mungkin ini adalah teguran buat saya selaku ayahnya."


Ibu Hanum terdiam mendengar jawaban sang suami. Ibu Hanum masih tidak percaya jika itu suaminya.


"Teo, siapkan semuanya!" perintah Tuan Subari.

__ADS_1


"Jangan. Ibu tidak setuju. Walau aku tahu Aditia sangat mencintai Inayah, Tapi ini tidak mungkin. Inayah sudah tahu siapa Aditia. Dan bagaimana jika Aditia mengingat semuanya." Ibu Hanum menolak dengan keras.


Wahai pembaca setia aku. Terimakasih atas dukungan kalian. 😍😍😍 Tetap dukung Author. Jangan lupa tinggalkan, Like, komentar, dan masukkan dalam daftar favorit kalian biar selalu dapat pemberitahuan up terbarunya. see You. 🥰🥰🥰🥰🥰


__ADS_2