Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 14. Kata Hati


__ADS_3

"Inayah, Aba ingin berbicara padamu," kata Aba Abdullah yang juga baru tiba dari mesjid setelah shalat isya.


"Iya Aba." Suara Inayah terdengar begitu berat. Pikirannya masih berkelana seputar tentang Aditia


"Duduklah!" pinta Aba Abdullah pada putrinya ketika inayah baru tiba dari rumah Raka.


Inayah pun mendaratkan bokongnya di atas sofa berwarna coklat tersebut. Inayah tidak sanggup menatap ke dua bola mata sang aba. Seorang ayah yang selalu mengajarkan kebaikan pada anak-anaknya.


Aba Abdullah menarik napas dalam dan tersenyum ke arah putrinya seperti biasanya.


"Aba tidak akan memaksakan keinginan Aba padamu, karena Aba percaya padamu. kau selalu mengambil keputusan yang tepat. Aba tidak ingin egois karena sejujurnya Inayalah yang akan menjalaninya."


"Tidak Aba. Aba tidak egois. Mungkin memang dia yang terbaik untukku. Aku sudah putuskan Aba. Aku menerima lamaran ... Kak Adam," jujur Inayah pada akhirnya.


"Kamu yakin? Jangan lakukan kerena terpaksa. Pernikahan itu suci, Inayah. Aba ingin kamu menjalani rumah tangga bukan karena dalam keadaan terpaksa. Bukan hanya kamu yang akan tersiksa, nak. Adam pun akan tidak bahagia bila di dalam hatimu masih ada seseorang yang menganggu pikiranmu. Inayah, tidaklah baik ketika kalian sudah menikah dan di pikiranmu masih ada nama pria lain. Adam mungkin tidak bisa membaca pikiranmu, Tapi..." Aba Abdullah tidak mampu melanjutkan kata-katanya.


"Maafkan Aba Inayah. mendengar semua kejadian itu, Aba mungkin sudah menilai dia seorang pria kurang baik. Bagaimana seorang pria yang harusnya melindungi martabat seorang wanita akan tega menghancurkan." ujar Aba lagi menatap Inayah.


Inayah hanya bisa meneteskan air mata. Bulir bening itu lolos begitu saja.

__ADS_1


"Maaf Inayah, Aba."


***


Aditia berkunjung di sebuah rumah sakit di mana Adam sekarang di tempatkan sebagai dokter umum. Aditia yang kebetulan datang memeriksakan kesehatannya dan bertemu dengan Adam di rumah sakit tersebut.


"Lalu, Bagaimana lamarannya. Apakah gadis yang kamu lamar sudah menerimamu?" tanya Aditia yang penasaran.


"Malam ini kembali pertemuan keluarga." senyum Adam tersirat.


"Semoga saja kalian berjodoh. tidak bernasib seperti diriku. dua kali gagal sebelumnya. kupikir kali ini kekecewaan itu tidak kembali terulang dan ternyata, aku harus kembali lagi ke cerita yang sama."


"Ya... mungkin saja apa yang kamu katakan itu benar adanya." ujar Aditia. "Oiya, aku berfikir akan memperbaiki diri dari semua kejadian yang pernah aku lalui. kejadian ini seakan mengetuk pintu hatiku untuk banyak belajar dari kesalahan sebelumnya. Mungkin, ini cara Allah memanggilku untuk lebih dekat dengannya."


"Aku salut padamu, bro. Aditia yang dulu kini sudah berubah, " ujar Adam dan menatap iba sahabatnya itu. lalu, Adam kembali menyelesaikan pekerjaannya setelah melayani pasiennya.


"Lantas apa rencanamu berikutnya?" tanya Adam lagi.


"Aku akan kembali mengurus perusahaan dan perhotelan. Tuan Subari menyerahkan sepenuhnya tanggung jawabnya padaku." Senyum Aditia. Panggilannya pada Ayahnya masih sering sebut nama.

__ADS_1


"Kuharap, hubungan kamu dan ayahmu bisa lebih baik lagi," ungkap Adam.


"Semoga saja," balas Aditia.


"Dan aku juga berharap kamu tidak lagi mengunjungi tempat kebiasaanmu menghabiskan uang yang hanya menyenangkan dunia saja." senyum Adam.


Aditia tersenyum mengingat masa kelamnya kala itu dan berkata, "Semenjak pertemuanku dengan Dia, Aku baru sadar makna kehidupan sesungguhnya. Namun ternyata aku tidak berjodoh dengannya. Pertemuan singkat itu memberiku sebuah makna kehidupan yang begitu berarti namun, Untuk bersamanya ternyata dia bukan garis takdirku untuk saling memiliki."


"Kau benar-benar berharap darinya?"


"Tentu saja. Namun, takdir berkata lain." Aditia menyapa lurus ke depan.


dan Adam hanya bisa menepuk bahu sahabatnya itu. Adam sangat mengerti kondisi sahabatnya, Aditia.


Kedua pria itu saling menatap. Melihat arloji di pergelangan tangannya, Aditia pun pamit.


"Aku pamit. Ada yang harus aku urus." ujar Aditia.


Aditia pun meninggalkan ruangan Adam. tepat di parkiran, Aditia tidak sengaja menyenggol pintu mobil milik seorang wanita.

__ADS_1


"Maaf." Kata Aditia. Begitu wanita itu menoleh Aditia begitu terkejut.


__ADS_2