
Zaki tertawa saat Aditia mengatakan jika dirinya terlihat ingin menggendong Baby Alan.
"Aku takut. Aku tidak biasa." Zaki menatap penuh kasih baby Alan.
Aditia ikut tertawa mendengar ucapan Zaki. "Kau harus belajar, Tuan Zaki. Tatapan seorang ayah terlihat jelas di matamu. Apa... kau sudah jatuh cinta dengan istrimu?" tawa Aditia menepuk bahu Zaki.
"Jangan menundanya, Tuan Zaki. Jangan sampai menyesal," lanjut Aditia
"Jangan salah alamat mencintai istri orang, Tuan Zaki. Karena, Inayah hanya milikku," singgung Aditia.
Zaki terlihat salah tingkah bahwa Aditia mengetahui fakta tentang dirinya sempat salah mencintai.
"Tidak usah meledekku, Tuan, Aditia. Aku paham dan aku cukup tahu diri. Tenang saja." Zaki tersenyum.
Aditia memasukkan kedua tangannya disaku celana. Lalu, Aditia mengikuti arah pandangan Zaki yang sedari tadi memperhatikan Sifa.
"Kalau cinta pada istri sendiri, mengapa tidak diungkapkan saja. Lucu." ledek Aditia dan memberikan minuman pada Zaki. Apa istrimu hamil?"
Zaki menatap jauh Sifa yang tampak sedang bercengkrama dengan Alina dan Inayah. Alina berulang kali mengelus perut rata Sifa.
"Aku tidak tahu."
"Bagaimana jika dia hamil? Apa itu artinya Sifa akan kamu ceriakan setelah melahirkan?"
Zaki menoleh dengan Aditia tampak santai mengatakan hal itu.
"Aku tahu semuanya, Tuan Zaki. Namun, sebelum itu terjadi. Aku ingatkan bahwa, kau tidak akan pernah bisa menemukan wanita sama seperti Sifa. Dia anak yang baik walau pembawaannya terlihat sedikit egois."
"Aku lebih tahu sifat Sifa. Jangan mengajariku, Tuan Aditia. Jika kau ingin tahu sebuah kebenaran tentang orang tuamu dan alasan nenek Sofia, temui Tuan Subari. Kuharap, setelah kau mengetahui faktanya, Kontrakmu dengan Sifa berubah menjadi pernikahan tanpa ada perjanjian." Aditia menepuk bahu Zaki.
Zaki dan Sifa tidak sengaja tatapan keduanya bertemu. Zaki melangkah ke arah Sifa dan berkata, "Ayo, kita ke rumah sakit."
"Sekarang? Apa tidak bisa sebentar lagi?" Sifa terlihat masih betah tinggal di rumah Inayah.
"Ini sudah sedikit larut. Kapan-kapan kami masih bisa menemui Nona inayah. Ayo kita pulang!" ajak Zaki.
Sementara Inayah dan Aditia, terlihat sibuk mengantar tamunya untuk pulang. Ada banyak kado diberikan oleh sanak keluarga dan apara kerabat.
Sebenarnya, Inayah tidak mengharapkan hali itu. Namun, apa boleh buat. Mau tidak mau Inayah menerima dengan senang hati kado pemberian mereka. Entah apa isinya. Bahkan ada yang memberinya amplop. Mungkin itu sudah merupakan tradisi dalam keluarga turun temurun Inayah dan Aditia.
Usai mengantar tamunya, Sifa dan Zaki pun pamit pada pemilik rumah. Yaitu pada Aditia dan Inayah.
"Kak, Aku pulang, ya?"
"Semoga saja, kalian terus berbahagia." Inayah memeluk Sifa.
Setelahnya Sifa pamit pada Ibu Fatimah dan lainnya, lalu pamit dengan Ummi Humairah yang rencananya akan bermalam di rumah Inayah bersama Ibu Fatimah.
"Ummi tidak pulang. Jangan lupa kunci rumah dengan baik, Sifa. Kamu kebiasaan."
Asifa ingat di mana saat Zaki kembali dari luar kota, Ternyata dirinya tidak mengunci pintu kamar dan pintu utama.
"Iya Ummi. Sifa pamit." Sifa dan Zaki pamit untuk ke rumah sakit.
__ADS_1
"Semoga hasilnya baik." doa Ummi Humairah dan lainnya. Sifa tersenyum dengan ucapan Umminya.
'Mengapa aku rasa takut. Mengapa aku tidak menginginkan hal itu terjadi. Hal dimana nantinya, Zaki akan memisahkan aku dan anakku. Pernikahan gila dan tidak masuk akal.' Sifa membatin.
"Sifa, ayo masuk!" Zaki sedari tadi membukakan pintu mobil untuk Sifa yang terlihat melamun."
Raka dan Amira melihat hal itu ikut bertanya dalam hati. Lalu, Raka melihat ke arah Amira.
"Sayang, Ada apa dengan Sifa dan Zaki? Sepertinya ada yang tidak beres antara keduanya. Aku mengenal Sifa. Tidak biasanya seperti itu."
"Sudahlah, Mas Raka. Bisa saja Sifa memang benar hamil dan itu pengaruh hormon kehamilannya. Sudahlah, ayo kita pulang." Amira mengajak Raka untuk pulang.
"Sayang, apa yang tadi kamu perbincangkan dengan Aditia. Aku melihat kamu sedikit diam saat Aditia mengajakmu berbicara. Ada apa?" Raka terlihat cemburu.
"Mas Raka, Aditia hanya mengatakan jika Rayyan kerap ingin ke rumah bermalam. Tidur bareng dengan Kak Habibi. Itu saja."
"Dia tidak sedang menggodamu, Kan?"
"Astaghfirullah, Mas. Ya tidaklah. Apa mas tidak sadar, Aditia itu bucin akut pada adikmu." tawa Amira ketika mereka sudah dalam perjalanan untuk kembali ke rumah.
"Iya juga, sih. Aditia terlihat begitu bucin dengan Inayah." Raka menimpali.
"Aku lihat, Sepertinya Inayah terlihat gemuk deh. Apa dia hamil?" Amira kembali membahas seputar Inayah.
"Baiknya kita bahas yang lain saja." Ujar Raka.
***
Sementara Inayah dan Aditia, tidak ada hentinya mengucap rasa syukur malam itu. Akhirnya mereka bisa dengan aman tinggal di rumah sendiri.
"Ini jam 21:45 lho, Mas. Apa tidak bisa pekerjaan itu di tunda hingga besok?"
Inayah duduk di samping Aditia dengan mata sang suami tertuju pada layar laptop.
"Gak bisa, Sayang. Besok ada meeting penting!"
"Aku Di anggurin, dong!" Inayah terlihat merajuk.
Melihat Inayah bergelut manja Aditia sedikit heran dengan sikap Inayah tidak biasanya.
"Mas, sudah dong kerjanya. Kan bisa besok. Minta saja sama sekretaris kamu kerja semuanya."
Aditia tertawa dengan Sikap aneh Inayah yang tidak biasanya kedengaran egois.
"Apakah ini istriku?"
"Bukan. Istri tetangga." Inayah menutup paksa Laptop Aditia.
Aditia membalikkan bahunya dan menatap Inayah. "kenapa istriku seperti Ini?"
Seketika tubuh Inayah melayang. "Sedari tadi kamu menggangguku. Apa kamu sedang merindukan aku?"
"Tidak. Siapa bilang? Turunkan aku, Mas Adit!"
__ADS_1
"Tidak." ujar Aditia hingga mereka mengulang kembali momen indah itu.
***
Lain halnya Alina, Teo terlihat sibuk dengan baby kecilnya. Dimana Alina sedari tadi menggoda suaminya.
"Alin, jangan seperti ini!" Teo berusaha keras menahan keinginannya disebabkan Alina belum bisa untuk dia sentuh.
"Alin, Cukup!" Teo berbalik badan dengan menggelitik Alina. Sedari tadi Alina menguji kesabarannya.
"Kak Teo lucu saat seperti ini."
"Bagi kamu lucu, Sayang. Aku yang tersiksa. Lain kali jangan menggodaku seperti itu."
Alina membisikkan sesuatu pada Teo yang membuat Teo terpaku ditempat.
"Alina?"
Tiba-tiba saja Baby Alan menangis dan segera Alina memberikan Asi untuk Alan.
Teo mengecup kening Alina dan berkata, Terimakasih Alina. Ternyata kau adalah jodohku. kamu menerima aku apa adanya."
Alina menatap wajah.Teo penuh kasih.
***
Berbeda dengan Zaki dan Sifa, semenjak kembali dari rumah sakit dan mengetahui Sifa hamil, Zaki langsung memeluk Sifa begitu erat. Pelukan Zaki menjadi tanda tanya untuk Sifa.
"Setelah anak ini lahir aku harap, aku tidak melihatnya. Aku takut tidak bisa melupakannya." ujar Sifa yang masih berada dalam pelukan Zaki. Sifa menganggap pelukan Zaki merupakan pelukan hanya karena Zaki bahagia.
"Tuan, apakah boleh nanti aku sesekali mengunjungi anakku kelak dia lahir?"
"Tentu saja. Mengapa tidak." Zaki terus memeluk Sifa.
"Semoga Tuan kelak nanti menemukan wanita sesuai kriteria Tuan Zaki." Sifa merasa begitu sedih dalam hati.
"Aku akan mencari wanita yang sama persis dengan dirimu." Zaki meraih tangan Sifa agar memeluknya. Hingga tangan Sifa melingkar penuh diperut Zaki.
'Sifa, kau tidak tahu saja bagaimana aku mencintaimu. Domba kecil. Ternyata kau adalah domba kecilku selama ini yang aku cari.'
Mana ada yang sama persis denganku!" Tawa Sifa berusaha menipis kesedihannya.
"Ada. Aku fotocooy."
"Memangnya aku kertas, Tuan?"
Zaki kembali memeluk Sifa.
"Tuan lepaskan aku!"
"Biarkan seperti ini dulu, Sifa."
Zaki ingat bagaimana saat Sifa masih kecil dan menangis. Sementara dirinya sudah kelas Satu SMP dan Sifa masih duduk dibangku kelas 5 SD. Zaki menemukan Sifa menangis dan memberinya gantungan kunci boneka domba. karena nama belakang mereka Sama, Zaki mengira Sifa adalah Inayah hingga mati-matian Zaki mengejar cinta Inayah saat masih duduk di bangku perkuliahan dulu.
__ADS_1
Karena Sifa berhasil membuatnya terus tertawa hari itu hingga Zaki memutuskan untuk menikahi Sifa secara paksa. Juga untuk menjalankan janjinya pada nenek Sofia.
✍️✍️✍️✍️✍️✍️✍️✍️🙏🙏🙏🙏