Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 95. Periksa kandungan


__ADS_3

Zaki tidak habis cara meminta Sifa untuk tetap makan. Walau sifa hanya memakan sedikit, Zaki cukup lega.


Nenek Sofia datang dan meminta Zaki ikut dengannya. Zaki dan Sifa mengikuti nenek Sofia.


"Apa yang akan nenek bicarakan?" Nenek Sofia memberikan sebuah foto lama seorang wanita.


"Ini siapa? kenapa tuan Subari ada bersamanya?"


"Tuan Subari adalah mantan kekasih ibumu. lepas dari tuan Subari, ibumu menjalin hubungan dengan ayahmu, yang merupakan sahabat Tuan subari. Mereka menikah dan Nenek kembali menentangnya karena ayahmu diam-diam menikahi ibumu. Nenek marah dan memisahkan mereka. Nenek menyesal. karena nenek, ibumu *** diri. Itulah mengapa nenek menutupi tentang ibumu selama ini darimu." Nenek Sofia berharap Zaki memaafkannya.


Deg!


Zaki mengangkat wajahnya.


"Mengapa nenek egois! mengapa nenek tidak paham juga! Andai nenek tidak egois. Ibu tidak meninggalkan kami!" Zaki menyesali tindakan ibunya dan keegoisan Nenek Sofia.


Sifa pun begitu. Bukanlah bunuh diri adalah dosa?


"Nenek menentang mereka, kerena Tuan Subari dan ayah saat itu miskin, kan! kenapa nenek, kenapa di pikiran nenek harta dan hata yang terlintas?!"teriak Zaki.


Pria yang tidak menampakkan marahnya selama bersamanya Sifa hati itu menyaksikan amarah itu memuncak di sertai rasa kecewa.


"Cukup! Nenek juga menyesal!" Nenek Sofia duduk tak berdaya. inilah yang ditakutkan Nenek Sofia mengapa dirinya menyembunyikan rapat tentang Ibunya.


"Nenek menyesali setelah ibu tidak ada di dunia ini. Untuk apa?! Aku yakin, Suami Yolanda pergi meninggalkannya dan membawa anaknya itu pasti nenek juga, ia kan! jawab, nenek!"


"Dan nenek memintaku memiliki anak agar aku memberikan anakku pada Yolanda. karena untuk menutupi penyesalan nenek pada Yolanda. Aku tahu rencana nenek! Aku tidak menyangka Nenek egois ini! Dan..." Zaki frustasi.


Sifa hanya diam mendengar kesedihan Zaki yang begitu buruk.


"Mulai hari ini aku akan membawa Yolanda dan merawatnya."


"Apa maksudmu, Zaki? Kau ingin pergi meninggalkan nenek? Dan kau ingin membawa Yolanda? begitu, tidak akan, Zaki!"


"Walau nenek menghalangiku seribu cara, aku akan menentang nenek lima ribu cara! Ingat nenek, semua tentang perusahaan ada dalam genggamanku. Bila nenek mencoba menghalangiku aku tidak akan pernah melihat nenek. Selama ini aku bersabar mengikuti semua jari telunjuk nenek, bahkan masa mudaku hampir aku habiskan di perusahaan. Aku tidak mengerti jalan pikiran nenek." Zaki meninggalkan nenek Sofia yang tengah duduk menyesali semua masa lalunya.


"Sifa, kau juga akan pergi?"


Belum sempat Sifa menjawab pertanyaan Nenek Sofia, Zaki sudah merangkulnya untuk ikut bersamanya.


Untuk saat ini Sifa memilih diam. Percuma bicara dengan suaminya dalam keadaan masih dengan emosi.


"Kemas barang Yolanda!" perintah Zaki pada penjaga Yolanda.


"Tapi, Tuan...."


"Aku katakan, kemas barang Yolanda, sekarang!"

__ADS_1


"Ayah, Ibu akan dibawah kemana? Apa kita akan ke rumah ayah, apa Ghifari akan punya teman?"


"Kita pergi di sini. Ibu Yolanda akan ikut bersama Ghifari."


Ghifari sebenarnya anak kandung Yolanda yang dinyatakan di depan nenek Sofia anak angkat untuk Yolanda. Zaki menemukan suami Yolanda dan menceritakan alasan meninggalkan Yolanda dan membawa anaknya.


"Maafkan aku, nenek. Akun ingin nenek berfikir jernih. Agar keegoisan nenek bisa nenek tinggalkan. Aku ingin anak-anak ku tumbuh tanpa ada tekanan." Zaki membatin Nenek Sofia terus menyesali perbuatannya."


"Kak, lalu kita akan kemana?" tanya Sifa.


"Kita akan tinggal di dekat rumah Ummi."


"Benarkah? Sejak kapan kamu rencanakan ini?"


"Sejak dulu. Rumah yang ada didekat rumah Ummi adalah rumah peninggalan ayah."


"Jadi, rumah kosong itu rumahmu?"


"Rumah kita biarkan di sana. Anak-anak kelak akan menempatinya. Aku ingin punya banyak anak darimu."


Setelah semua terkemas Zaki membawa Yolanda dengan Ghifari. Semua pelayanan yang ada di rumah itu ikut bersedih dengan keputusan Zaki.


"Aku akan dibawah kemana? anak saya dimana?" ujar Yolanda yang belum sepenuhnya sembuh.


"Anakmu ada, dek. Ghifari bersama kita. Aku ingin membawamu menghirup udara segar. Bukankah selama ini kamu terkurung dari rumah besar ini? Saatnya kamu melihat dunia kembali, dek."


"Cegah zaki! cepat!" perintah nenek Sofia. Akan tetapi, para bodyguard tidak bergerak sama sekali.


"Maafkan kami nyonya. Gaji kami akan dipotong bila kami menuruti keinginan nyonya besar." kata para bodyguard.


Nenek Sofia hanya bisa menatap kepergian Zaki dengan Sifa bersama Yolanda dan Ghifari.


***


Sementara Inayah sendiri sedang membantu Aditia berkemas untuk jadwal berangkatnya sore hari. mengatur barang-barangnya agar tidak ada yang ketinggalan.


Aditia masuk kamar dan meminta Inayah untuk bersiap. " Berhentilah mengerjakan itu. ikut denganku siang ini!"


"Mas, Ini belum siap dan kamu akan membawaku kemana?"


"Berhenti melakukan itu. Ini lebih penting. Biar Bibi Sumi mengerjakan sisanya," kata Aditia tidak menjelaskan kemana akan membawa Inayah.


Lepas berganti, Aditia dan Inayah meninggalkan ke rumah menuju sebuah tempat yang Inayah tidak tahu.


"Sayang, kenapa  kamu membawaku ke rumah sakit? Siapa yang sakit?" Inayah heran ketika sampai di rumah sakit.


"Lupa-kah kamu? Atau memang tidak ingat? Bukankah hari ini jadwal pemeriksaan kamu, Sayang?"

__ADS_1


Inayah kembali kembali diam dan benar saja, dirinya memang lupa. Hingga mereka menuju dokter kandungan. Setelah mengambil nomor antrian, Aditia kembali duduk di samping Inayah sambil menunggu nama terpanggil.


Sekitar satu jam menunggu, Nama lengkap Inayah dipanggil. Aditia pun membantu Inayah untuk berdiri dengan perut yang sudah nampak.


lalu mengandeng Inayah masuk keruang dokter kandungan. Tentu kemesraan itu mengundang banyak mata sehingga beberapa ibu hamil yang tanpa di temani sang suami merasa cemburu.


"Mari nona, tuan, silahkan duduk," Sambut Dokter Alea dengan ramah pada pasiennya.


"Ada keluhan?" tanya Dokter Alea. Aditia sengaja berganti dokter kandungan untuk Inayah saat hamilkan Rayyan. Dokter Alea menyapa sepasang suami istri yang kini sudah di depannya.


"Tidak ada. Selama ini aku merasa baik-baik saja," ujar Inayah.


Dokter Alea tersenyum dan berdiri sambil mempersilakan Inayah berbaring  "Mari, Nona, kita periksa dulu."


Inayah pun berdiri dengan tas Selempang miliknya diambil oleh Aditia. Tanpa di persilahkan, Aditia berdiri menuju dekat Inayah.


"Hati-hati," ujar Aditia ketika Inayah hendak mendaratkan bokongnya di atas bad pasien. kemudian, Inayah duduk di atas bad pasien, lalu merebahkan tubuhnya dengan terlentang.


Asisten Dokter Alea pun angkat bicara. "Posisi di perbaiki, nona. Maaf ya... Bajunya kami buka sedikit, karena mau di USG.


Inayah hanya mengangguk dan tampaklah perut itu terlihat dengan jelas. Aditia tersenyum melihat perut istrinya. Asisten Dokter Alea mulai memberikan gel di area perut Inayah, hingga Dokter Alea mulai menekan alat USG itu dan tampaklah  terlihat di monitor calon bayi mereka.


Wajah Aditia yang tadinya datar berubah jadi sebuah senyum di sana. Aditia begitu bahagia melihat buah hati mereka di monitor. Tak henti-hentinya mengecup kening Inayah.


"Bagaimana, dok, kandungan istri saya? Apa semua baik?" tanya Aditia pada dokter Alea.


"Jika dilihat, dia tampak sehat, Tuan, Nona," timpalnya. Bahkan Dokter Alea Juga memeriksa detak jantung calon buah hati mereka.


"Suara apakah itu, Dok?" Sahut Inayah yang sedari tadi ingin bertanya seputar kondisi calon buah hati mereka.


Dokter Alea tersenyum dan menjawab, "itu detak jantungnya."


"Itu bagaimana maksudnya, Dokter?" Aditia ingin memastikan.


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, semuanya baik-baik saja.


Kemudian, asisten Dokter Alea membantu membersihkan sisa gel dengan tissue dan meminta Inayah untuk bangun.


"Ok, Nona, pemeriksaannya sudah selesai." Senyum ramah terlihat di wajah asisten dokter itu.


"Terimakasih, jawab Aditia kembali datar mewakili istrinya. Kemudian membantu Inayah untuk bangun.


"Selamat,ya, Tuan, Nona, mohon jaga dengan baik kandungannya."


"Tentunya, dokter. Kami permisi." Aditia kembali merangkul pundak istrinya.


"Terimakasih, Dokter," ucap Inayah sembari memohon diri. Dokter Alea hanya mengangguk.

__ADS_1


🙏🙏🙏✍️✍️✍️✍️✍️✍️✍️ Terus berikan dukungannya buat Author.


__ADS_2