Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 63. Permintaan Tuan Subari


__ADS_3

Zaki berhenti melambaikan tangannya pada Rayyan setelah Aditia menyadari keberadaannya. Zaki pun meninggalkan tempatnya.


"Kenapa, Mas?" tanya Inayah melihat suaminya melihat ke atas di rumah Zaki.


"Tidak apa-apa. Ayo kita masuk ke dalam. Sepertinya hujan akan turun."


"Hujan? Ini tidak mendung, Mas." Inayah mendorong kursi roda milik Aditia.


"Rayyan sini, Mas. ujar Inayah memindahkan Rayyan di box miliknya setelah mereka sampai di kamar Rayyan."


"Mengapa tidak memilih kamar lantai atas, Sayang?" tanya Aditia.


"Mas, aku pikir disini lebih aman untuk Rayyan. Kelak Rayyan sudah mulai merangkak akan sangat repot bila kamar kita dan kamar Rayyan di lantai atas."


"Bundanya Rayyan memang jenius dalam hal mengurus dan memikirkan keselamatan Rayyan," puji Aditia dan membantu Inayah mengambil popok Rayyan.


Inayah tersenyum dan meraih popok Rayyan dari tangan suaminya.


"Boleh aku mencoba memakaikan Rayyan popoknya?"


"Boleh, aku akan memindahkan Rayyan di atas kasurnya." Inayah memindahkan Rayyan. Setelahnya, Aditia berpindah naik ke atas tempat tidur Rayyan dan mencoba memakaikan Rayyan popoknya.


Namun, tiba-tiba saja Rayyan mengeluarkan air seni sehingga baju yang digunakan Aditia basah. Inayah tertawa melihat suaminya basah karena ulah Rayyan.


"Woi boy! Mengapa kamu menyemprot ayah." Aditia terkejut.


Rayyan tertawa dengan suara lucunya sambil terus berceloteh dan mengusap jempol kakinya. Inayah ikut mentertawakan suaminya dan segera membantu Aditia.


Bibi Sumi ikut bahagia melihat keluarga kecil itu kembali bersama.


"Nona, Tuan, semoga terus bahagia.' batin Bibi Sumi yang kebetulan lewat di depan kamar Rayyan dengan pintunya terbuka.


Sebenarnya rasa sakit di bagian kepala Aditia masih terus menyiksa. Hanya saja, Aditia bukan pria yang mau mendiamkan dan duduk di tempat merasakan penyakitnya. Aditia memilih beraktivitas agar rasa sakit itu tidak terlalu di rasakan olehnya.


"Ya Allah, Angkat penyakit suamiku." Diam-diam Inayah meneteskan air mata melihat Aditia dan Rayyan bermain.


"Sayang, ada apa?" tanya Aditia tiba-tiba memeluk Inayah dari belakang melihat Inayah terlihat serius memperbaiki perlengkapan Rayyan.


Inayah melihat kaki Aditia terlihat gemetar. "Mas, Apa tubuhmu tiba-tiba merasakan lemas?"


Aditia mengangguk dan berkata, "ia, terkadang."


"Mas, baiknya segera kita melakukan pengobatan. Jagan ditunda."


"Pastinya."


Inayah dan aditia duduk di atas kasur melihat Rayyan dengan aktivitasnya.


***


Alina sendiri kini duduk di kursi kebesarannya dan memikirkan nasibnya. Ibu Hanum masih terus mendesaknya. Sifa masuk dan memberikan dokumen untuk Alina ditanda tangani.


"Apa yang sedang kamu pikirkan? Aku dengar hari ini kak inayah akan pulang bersama Rayyan. Dan juga... bersama Tuan direktur."


"Benarkah?" Alina diam. "Apa kak Inayah sudah tahu semuanya?"


"Benar. Kita tunggu saja amarah kak Inayah. Dia pasti kecewa dengan kita semua," tebak Sifa.


"Siapa kecewa?" tanya Teo yang tiba-tiba datang.


"Kak Teo!" teriak Alina.


"Mau apa?" Teo menghentikan Alina yang hendak memeluknya.


Alina baru sadar apa yang barusan akan di lakukan olehnya. Mengapa dirinya begitu bahagia melihat Teo datang. Alina bingung dengan dirinya.


"Aku bahagia saja kamu datang. Itu artinya aku tidak perlu capek membaca dokumen sebanyak ini!" Alina memperlihatkan dokumen bertumpuk di atas meja. Yang sebenarnya Alina tidak paham dengannya.


Teo menepuk jidatnya. Apa yang ada dalam pikirannya benar adanya. Alina sangat kesulitan tanpa dirinya sebagai sekretaris.

__ADS_1


"Baiklah, aku pamit. Dokumennya sudah selesai tada tangan. Tuan Teo, selamat bekerja lembur." Tawa Sifa.


Alina menertawakan Teo yang sedang berfikir melihat dokumen bertumpuk di atas meja.


"Nona, selama ini apa yang nona kerja? Harusnya, Nona lebih serius menangani perusahaan." Teo terus berceloteh dan Alina terus memperhatikan Teo terlihat serius membaca dokumen.


"Ayo, tanda tangan. Jangan di pikirkan Arjun saat bekerja."


"Tidak. Dia sudah aku buang dari pikiranku. Aku baru sadar jika...."


"Jika apa? Ayo tanda tangan!" kata Teo.


"Aku yang bosnya atau kamu, sih." hela napas panjang Alina.


"Kalau Nona ibu bosnya, harusnya Nona lebih serius," ujar Teo kembali membaca dokumen selanjutnya.


"Aku capek Teo. Aku lebih baik tinggal di rumah urus suami."


"Suami? memang Nona sudah dapat calonnya?" Teo tertawa.


"Belum, Arjuna menolakku."


"Kasihan dirimu, Nona. Baiknya nona serius saja jadi direktur."


"Jangan meledekku seperti itu, kak Teo."


Kembali Teo tertawa mentertawakan Alina. Lalu, meminta Alina menandatangani dokumen yang sudah di baca olehnya sambil memberikan Alina semangat serius bekerja.


Tua Subari datang dan melihat Alina terlihat serius bekerja dengan Teo mendampinginya. Tuan Subari berdeham. Alina dan Teo menoleh.


"Tuan?" sapa Teo berdiri menyambut tuan besarnya.


"Kau sudah masuk bekerja, Teo?"


"Iya, Tuan."


"Baik, Tuan. Akan saya menyusul sebentar," kata Teo sambil melihat dokumen yang diberikan olehnya.


"Baiklah. Aku menunggumu." terlihat Tuan Subari begitu serius.


"Ayah kapan datang? Apa kak Aditia juga bersama ayah?" tanya Alina melihat ayahnya duduk di sofa.


"Iya, Mereka sekarang ada di rumah. Dan rencananya Inayah akan menemui keluarganya."


"Ayah mau minum apa?" tanya Alina.


"Ayah tidak mau apa-apa. Ayah hanya datang memantau pekerjaanmu."


Alina diam. Ia sadar akan kesalahan sebelumnya.


"Tapi, ayah bangga. Kamu sudah bekerja keras, Alin."


"Terimakasih, ayah."


Tuan Subari tersenyum. Dan Teo pamit untuk memberikan waktu berdua Alina dan Ayahnya.


"Alina, pikirkan permintaan ibumu. Ayah harap kau tidak salah pilih."


"Aku menyerah, ayah. Aku mana saja yang terbaik buat Alina."


Alina menyerah. Dirinya terlalu bodoh mengharapkan Arjuna yang tidak sama sekali melihatnya.


"Baiklah, Itu keputusanmu. Tuan Zaki besok akan datang. kamu dan Teo temui dia."


"Aku tidak bisa ayah. Besok saya akan ujian skripsi. Biarkan Sifa yang menemani Teo."


"Apa Sifa sudah selesai ujian?"


"Iya. Dua hari yang lalu," kata Alina.

__ADS_1


"Baiklah."


Tuan Subari meninggalkan ruangan Alina dan menelpon Sifa untuk menggantikan dirinya menemui klien bersama Teo esok hari.


***


"Maaf, Tuan, apa yang ingin Tuan sampaikan pada saya?" tanya Teo pada Tuan Subari terlihat serius dalam pertemuan mereka.


Teo sedikit bingung. Kesalahan apa yang di perbuat olehnya?


"Sebelumnya, saya minta maaf jika ini menurutmu tidak logis. menikahlah dengan Alina."


Deg!


Bagaimana bisa Tuannya meminta dirinya menikahi putrinya. Sementara dirinya tidak pernah sama sekali punya keberanian melirik atau jatuh cinta pada putri tuannya itu. Siapa dirinya? hanya sekretaris pribadi yang selama ini sudah mejadi kepercayaan keluarga tersebut.


"Teo, aku serius dengan ucapanku. Aku yakin, kamu bisa menjadi suami Alina. Kamu cukup mengenal Alina," ujar Tuan Subari.


"Cinta bisa tumbuh seiring kalian hidup bersama. Ada banyak bisa hidup bersama karena perjodohan. Ada juga bertahun-tajun pacaran ujung-ujung setelah menikah juga bercerai. Jadi, perjodohan tidak ada salahnya. Semua tergantung yang menjalani."


"Tuan, bagaimana bisa ini mejadi keputusan, Tuan. masud saya... saya hanya ... dan ini tidak mungkin Tuan."


"Teo, jangan merendahkan dirimu sendiri. Nikahilah Alina. Aku cukup tenang jika Alina menikah denganmu. Aku sudah mengenalmu, Teo. Tidak ada salahnya aku menitipkan putriku padamu."


Teo terdiam sejenak. "Berikan saya waktu beberapa hari, Tuan, untuk memikirkan hal ini."


"Teo, jangan khawatirkan Alina. Aku yakin Alina juga pasti setuju." kata Taun Subari.


"Apa kau mencintai seseorang?" tanya Tuan Subari.


"Tidak ada Tuan. Wanita yang saya cintai sudah menikah dengan orang lain beberapa minggu lalu."


Tuan Subari mentertawakan sekretaris putranya. "Jangan bersedih, Teo. Hal seperti itu wajar.


Pesan singkat masuk di ponsel Teo. Teo membuka WA dan pesan dari Aditia.


"Terima lamaran Tuan Subari. Jika tidak, kamu akan saya pecat."


Teo tersenyum membaca pesan singkat dari Aditia.


"Akan saya pikirkan, Tuan. Besok akan saya berikan jawabannya."


Tuan Subari tersenyum dan menepuk bahu Teo dan meninggalkan Teo seorang diri duduk dalam pikiran berkelana.


***


"Mas kenapa tersenyum?" tanya Inayah melihat Aditia tersenyum sambil menatap ponselnya.


"Tuan Subari menyerahkan putrinya pada Teo. Aku sih sangat setuju. Aku cukup mengenal Teo. Dia pria baik dan pekerja keras walau kedua orang tuanya sudah tidak ada. Teo hanya tinggal bersama kakek dan neneknya.


"Apa?! tanya Inayah melihat suaminya berbaring karena tubuh aditia tiba-tiba kembali melemah


"lebih cepat mereka menikah akan lebih baik. Setidaknya, ada yang menjalankan perusahaan setelah saya tidak disini."


"Mas, apa maksudmu?" tanya Inayah dengan perkataan suaminya. Inayah berdiri dan duduk disamping Aditia.


"Hei, kenapa menangis, Sayang. maksud saya setelah kita keluar negri untuk berobat."


Inayah tidak lagi menimpali ucapan Aditia. Aditia menyandarkan tubuhnya, lalu kembali memasukkan tubuh sang istri dalam dekapannya.


"Maafkan aku yang selalu membuatmu bersedih. Semua akan baik saja. lihatlah, wajahmu akan jadi jelek bila tidak tersenyum. Aku baru sadar, sekarang Inayah ternyata sangat mencintai Aditia. Kenapa tidak sejak dulu?" ledek Aditia menghibur Inayah.


Inayah memukul dada bidan suaminya dan kembali memeluk suaminya.


***


Bagaimana kisah Sifa, ya? 🤗🤗🤗 Apa jawaban Teo? dan bagaimana kelucuan Rayyan.


Terus dukung Author. 😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2