
Melihat Teo menemani Alina untuk mencari makanan yang di inginkan oleh Alina sore malam itu, Aditia yang tengah duduk bersantai bersama keluarga menoleh ke arah Inayah
"Sayang, Saat kamu mengidamkan Rayyan, Apa kamu pernah mau makan sesuatu di malam seperti ini?" Tanya Aditia dengan Rayyan berbaring dan kepala Rayyan tepat di atas paha Aditia dan Aditia mengusap lembut kepala sang putra.
Sementara Inayah sendiri, di samping Aditia mengupas buah. Lalu, buah jeruk itu, Inayah masukkan dalam mulut Aditia. Inayah lalu menjawab pertanyaan Aditia.
"Iya, Ingin makan sesuatu.Dan Bibi Sumi membuatkan. Alhamdulillahnya, Selama Mas Aditia tidak di sisiku Allah memberiku rasa untuk bisa menahan apa pun yang aku inginkan."
Aditia menarik kepala istrinya agar Inayah menyandarkan kepalanya di pundaknya.
"Minggu depan kamu bersiap. Kita akan terbang ke suatu tempat."
"Tidak perlu, Mas," tolak Inayah.
"Tidak. Setelah itu kita akan pindah rumah dekat dari pondoknya Aba. bukankah kamu menginginkan Hari itu?"
"Lalu, bagiamana rumah kita di sana, Mas?"
"Dekat rumah Tuan Zaki? Sudah aku jual."
"Lho kenapa dijual, Mas? Mas Aditia tidak bilang."
"Hasil penjualan rumah itu sudah aku transfer rekening pribadimu," ucap Aditia.
Inayah tidak lagi berkata-kata. Yang ada nantinya perdebatan tersebut akan panjang sapanjang tembok negri cina.
"Kamu tahu siapa yang membelinya?"
"Siapa?" tanya Inayah penasaran.
"Tuan Zaki. katanya untuk Sifa.
"Bagaimana kabar Sifa sekarang. Apa dia baik? Aku menelponnya selalu sibuk."
"Mungkin memang sibuk. Sibuk mengurus Zaki." canda Aditia.
"Pikiran mas kesana lagi." Inayah memukul pundak suaminya.
Aditia tertawa. Rayyan menyahut. "Ayah, Sedari tadi ayah tertawa. Apa ayah tidak capek tertawa?"
Rayyan bangun dan melihat ayah dan ibunya. "Ibu, sedari tadi kalian berisik. Aku ke kamar saja deh. Susa orang dewasa. tidak pengertian."
"Woi boy! mau kemana?"
"Aku mau tidur ayah. Rayyan mengantuk. Eits, tapi, aku mau ayah dan ibu temani aku cuci muka dan sikat gigi. Aku tidak mau terima alasan. Ayo ayah, Bunda!
***
__ADS_1
Sifa sendiri rasa degdegan akan permintaan Zaki. Kini keduanya pinda ke rumah Zaki. Sifa baru sadar melihat rumah Inayah yang sudah di beli oleh Zaki ternyata kamar yang dulu pernah ditempatinya sangat berhadapan langsung dengan kamar utama Zaki.
"Waktu aku bermalam di sebelah, pernah gak ya... aku buka hijab dan gorden itu tidak tertutup?" gumam Sifa. karena rumah itu hanya disekat oleh sebuah pohon rindang.
"Pernah." bisik Zaki mencium aroma Sifa.
"Sejak kapan Tuan di belakangku? seperti hantu saja. muncul tiba-tiba." Sifa hendak pergi dari tempatnya dan langsung di tarik oleh Zaki.
"Kita akan melakukannya di sini," bisik Zaki.
"Apaan, Sih." Sifa mencoba merilekskan dirinya karena jarak mereka begitu dekat.
"Kenapa wajahmu memerah, ha? Apa jantungmu juga berdebar?" Zaki ingin melihat Reaksi Sifa.
"Lepaskan. Kalau pun jantungku berdebar bukan berarti itu debaran karena sebuah ikatan antara aku dan anda, Tuan. Anda tidak akan pernah paham tentang hal itu."
ketukan pintu kamar terdengar. Zaki menoleh. Melihat pakaian Sifa, Zaki meminta Sifa tetap di tempat.
"Kenapa, Martin?"
"Tuan, Nona Yolanda kembali memberontak. Dan nyonya besar meminta Tuan menuju kediaman."
"Baiklah. Aku akan segera ke sana."
Zaki menutup pintu dan Sifa menatapnya.
"Apa yang terjadi? Apa perlu aku ikut? Jangan katakan aku di sini sendiri. Aku tidak mau."
Sifa mendorong tubuh Zaki. Sebenarnya perasaan itu terkadang muncul dalam diri Sifa, Namun. mengingat prinsip Zaki, Sifa tidak akan bisa berharap lebih.
Zaki menatap kepergian Sifa penuh makna. Namun, Zaki tidak yakin.
***
"Pergi! kembalikan anakku! Kau mengambilnya." teriak Yolanda.
"Apa yang terjadi?!" Zaki datang dan melihat Yolanda sangat menyedihkan. "Apa kalian sudah bosan tidak mampu merawatnya!" teriak Zaki pada semua orang yang ada.
"kembalikan anakku! Yolanda terus berteriak-teriak.
Zaki langsung memeluk Yolanda mencoba menenangkannya. Terlihat Sifa begitu iba.
" Aku janji padamu, aku akan mengembalikan anakmu." Zaki mengusap pungung Yolanda.
"Dia mengambil anakku. Dia mengambil. Anakku!" Yolanda terisak. "anakku, jangan ambil anakku!" Yolanda terus berteriak yang membuat Sifa ikut meneteskan air mata.
"Aku mencoba menyembunyikan bonekanya. Agar Yolanda tidak larut dalam kesedihannya. Namun ternyata, aku salah," sahut nenek Sofia.
__ADS_1
"Apa sebenarnya mau nenek? Tidakkah bisa nenek bersabar. Setelah nenek mendapatkan nanti, penuhi janji nenek."
"Zaki, aku nenekmu. Tidaklah bisa kamu berhenti membahas masalah itu?!"
"Aku tidak akan pernah berhenti membahasnya. Sebelum nenek menceritakan semua kebenarannya. Bahkan Masa mudaku aku habiskan untuk bekerja di perusahaan nenek, lalu apa ini? Nenek seperti hanya memperalat aku hingga aku... "
Zaki menatap Sifa. "Aku melakukan hal yang harusnya tidak aku lakukan!"
"Cukup, Zaki! Cukup!" bentak Nenek Sofia.
Yolanda semakin mengamuk. Sifa mencoba menenangkan Yolanda. Namun, tiba-tiba saja tangan Yolanda begitu kuat mendorong tubuh Sifa. Hingga tubuh Sifa terbentur di tembok dan Asifa hampir terpelanting.
"Sifa!" teriak Zaki menahan tubuh Sifa segera. "Cari di mana bonekanya?!" perintah Zaki pada semua pekerja di sana.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Zaki pada Sifa dan mengangkat tubuh Sifa menjauh dari Yolanda.
Sifa menatap Zaki. Lalu, Zaki menurunkan tubuh sifa di sofa.
"Ambilkan kotak obat. Cepat!" perintah Zaki pada para pekerja perempuan di sana yang terlihat panik melihat kening Sifa mengeluarkan darah.
"Tuan, Aku tidak mengapa. sudahlah aku baik-baik saja."
"Kalau kamu sakit aku yang repot. sudahlah. Diam saja!" Zaki mulai mengobati luka Sifa dengan sangat hati-hati.
Usai mengobati luka Sifa. Zaki meminta Sifa untuk duluan tidur.
"Pergilah tidur! Aku akan menemui Yolanda."
"Apa Yolanda baik-baik saja?"
"Sepertinya dia tidak baik saja. Bonekanya di buang nenek."
"Apa tidak bisa dibelikan yang baru?" tanya Sifa mengeluarkan pendapatnya. Dipikiran Sifa boneka seperti itu banyak dijual.
Zaki tersenyum dan berkata. "Mungkin bisa saja. Namun, kamu tidak tahu betapa pentingnya boneka itu. Ada aroma tersendiri dengan boneka itu yang tidak ada di jual di manapun."
"Maaf, aku tidak tahu," sahut Sifa.
"Tidak apa-apa." Zaki menoleh ke arah Sifa.
"Aku... akan membantumu. Sesuai kontrak kita," ujar Sifa sebelum pergi meninggalkan Zaki.
Zaki menetap kepergian Sifa. hingga Sifa tidak terlihat olehnya.
Di kamar Sifa menunggu Zaki. Dirinya sudah siap apa pun yang terjadi. Sudah jam 11 malam, Akan tetapi Zaki belum juga datang. Hingga pada akhirnya Sifa tertidur.
Zaki masuk kamarnya dan menemuka Sifa memakai baju yang berikan hari itu. sebisa mungkin Zaki menahannya melihat wanita sempurna di depannya.
__ADS_1
"Apa aku salah menjebakmu dalam pernikahan ini, Sifa?" Zaki mengambil sebuah Foto dan menatap Sifa.
"Maafkan aku. Aku telah salah mencintai seseorang. Kupikir dulu, kamu adalah Inayah." gumam Zaki.