
"Adit, ini Husna. Sekolah di sebuah pondok Al-Hikmah," Ibu Hanum memperkenalkan Husna pada Aditia yang disambut wajah menghanyutkan bagi Husna. Dan Husna segera menundukkan wajahnya.
Sontak Aditia menatap Gadis berkerudung itu yang sedari tadi menundukkan pandangannya. Husna juga tidak percaya siapa pria yang akan di jodohkan padanya. Husna ingat siapa pria didepannya. Hari itu, Husna tidak sengaja mendengar percakapan Inayah, sebagai gurunya dengan pria di depannya.
Husna akui dalam hati, Aditia pria tampan yang mampu membuat lawan jenisnya berbohong jika tidak akan jatuh hati pada pandangan pertama. Namun, Husna sadar diri. Aditia tidaklah pantas untuknya.
"Maaf, saya tidak bisa melanjutkan perjodohan ini," kata Aditia yang melihat ke arah Husna. Tentu membuat Ibu Hanum terlihat kecewa.
Ibu Karmila dan Pak bambang, selaku orang tua Husna hanya saling menatap.
"Maafkan saya tante, Om. Lebih baik saya jujur dari sekarang. Jangan sampai setelah pernikahan aku tidak bisa menjadi suami sesuai pengharapan Husna. Saya ingin menikah atas pilihan saya sendiri dan tanpa ada paksaan."
Husna tersenyum getir. Ada rasa bahagia juga sedih. Semua bercampur menjadi satu.
"Aku tidak mungkin menikahi gadis yang masih berada di bawah umur. umurmu berapa?" tanya Aditia pada Husna.
"Saya... usiaku sekarang 18 tahun dan tahun depan masuk 19 tahun," ujar Husna.
Aditia tersenyum dan berkata, "susah aki tebak. Maafkan aku, Husna. lanjutkan sekolahmu, gapai mimpimu. Aku yakin, suatu hari nanti kamu akan menemukan jodohmu jauh lebih baik. Aku bisa melihat dari matamu, ada sebuah mimpi yang tersimpan di sana. Apa kamu punya pilihan pria lain?" tanya Aditia lagi.
Ibu Hanum tidak menyangka Aditia, putranya begitu mudahnya menanyakan hal itu pada Husna.
Husna menoleh kearah kedua orang tuanya.
"Katakanlah! Saya kira Ayah dan Ibumu akan mengerti. Aku paham di usiamu," pinta Aditia agar Husna mau terbuka.
Husna begitu kagum dengan Aditia. Husna merasa memiliki kakak laki-laki yang memahaminya.
"Aku... tidak memiliki pria atau pun ... akan tetapi, aku mengaguminya karena akhlaknya yang mulia dan karena pembawaannya," jujur Husna mengingat salah satu ustadz yang sering masuk mengajar di kelasnya.
Aditia tersenyum dan mengerti masa puber diusia Husna dan kembali berkata, "Tidak mengapa kau Mengaguminya yang penting masih dalam hal wajar."
Tuan Subari sedari tadi kagum sendiri dengan keberanian putranya berfikir secara rasional dan mengambil keputusan yang menurutnya benar.
__ADS_1
"Husna, jika boleh aki jujur, aku menolak perjodohan ini bukan tanpa alsan. Jadi, sekali lagi, Husna. Maafkan aku. dan seluruh keluarga, saya minta maaf. Saya kira pertemuan saya dan Husna sudah selesai. Saya harus pergi. Saya masih ada urusan."
"Aditia! tunggu!" cegah Ibu Hanum ketika Aditia akan berlalu. Ibu Hanum menghampiri Aditia.
"Apa lagi, ibu. Aku sudah memenuhi keinginan Ibu. Aku tidak mengatakan jika aku menemuinya aku akan setuju, kan? Bukankah Ibu mengatakan, jika aku hanya akan menemuinya? Ibu, tolong pahami aku. Kenapa Ibu yang aku kenal dulu seperti ini? Kenapa, Ibu? Apa Ibu yang akan menggantikan sifat Ayah yang dulu?"
Ibu Hanum terdiam mencerna setiap kata dan kalimat yang Aditia utarakan.
"Jujur ibu, degan sifat dan sikap ibu seperti ini, Ini mengingatkan aku di masa yang dulu. Harusnya aku bahagia sekarang, karena ayah sudah berubah. Namun, mengapa Ibu yang justru seakan menggantikan sifat ayah. Katakan Ibu?"
"Agar kamu bisa mengubur perasaanmu pada Inayah, Adit. Ibu hanya tidak ingin kamu seperti ini."
"Ibu, jodoh ada yang atur. Kenapa Ibu takut. Jika memang garis takdirku di takdirkan untuk tidak menikah, apa boleh buat. Bila masanya sudah tiba, tanpa Ibu minta semua akan terjadi sama halnya dengan maut, Ibu," jelas Aditia.
"Apa yang Ibu takutkan lagi. bukankah Inayah sudah bersuami. Inayah sudah bahagia, Ibu."
Mendengar Aditia berkata seperti itu, Tuan Subari hanya menatap putranya berharap suatu hari nanti dengan waktu yang tepat akan aditia mengetahui semuanya. Namun, Tuan Subari tidak yakin dengan prediksinya.
Ibu Hanum hanya diam dan menyadari kesalahannya yang selalu memaksakan keinginannya pada putranya.
Sebelum menemui Adam, Aditia pun menuju sebuah mesjid untuk magrib.
***
Adam yang kebetulan baru saja pulang dari rumah sakit malam itu sangat terkejut dengan kedatangan Aditia bersama ibunya yang tampak serius berbincang.
Melihat Adam datang, Aditia berdiri dari tempat duduknya dengan wajah yang merah menyala. Terlihat bibir Aditia gemetar dan tidak mampu berkata-kata.
"Mengapa kamu melakukan ini, Adam? Kenapa!"
"Karena aku tahu, Inayah akan bahagia bila bersamamu."
"Darimana kamu tahu dia bahagia atau tidaknya? katakan, Adam! pria yang harusnya melindungi seorang wanita, dan kamu menyakitinya. kamu keterlaluan!" teriak Aditia dengan mata Aditia yang merah. begitu pun Adam.
__ADS_1
"Iya. Aku keterlaluan dan itu benar adanya. Karena sudah berdusta dengannya. Dan aku menyesal, karena dramaku hingga Aba Abdullah pergi untuk selamanya dan itu adalah merupakan penyesalan terberat dan terbesar seumur hidup yang aku perbuat, Adit!" teriak Adam dengan rasa sesal teramat dalam.
Keputusan Adam dengan membuat drama telah menikah dengan karin. semua bohong. Dan mengatakan tidak mencintai Inayah. Semua dia lakukan setelah mengetahui siapa wanita yang dicintai Aditia, sahabatnya. Semua informasi dia dapat dari penelusurannya. dan bukan juga tanpa alsan, Adam sebenarnya mengidap sebuah penyakit mematikan yaitu sebuah kanker otak.
"Bagaimana bisa kamu menyembunyikan semua masalah dan penyakitmu dari Inayah satu tahun ini, Adam? Dan bagaimana bisa kamu mengambil keputusan yang salah padahal kamu tahu? mengapa, Adam! mengapa!" teriak Aditia sangat kecewa dengan Adam yang tangan Aditia berpegangan di bahu Adam dan kepala Aditia bersandar di lengannya sendiri.
Dan Adam juga menangis sama seperti Aditia. Mereka tidak sadar Inayah mendengar semua. Inayah datang karena permintaan Ibu Zahra mengajaknya makan malam. Namun Ibu Zahra tidak mengira kedatangan Aditia. Dan Adam yang cepat kembali.
"Apa maksudnya semua ini?"
Suara Inayah mengundang Aditia dan Adam sontak kaget tidak percaya. Bagaimana Inayah bisa ada di sana berdiri. Tampak mata indah itu menjatuhkan lara hingga penutup wajahnya terlihat basah.
"Katakan padaku, Mas Adam. jelaskan padaku. apa yang aku dengar itu, benar? Lalu, mengapa kamu membohongiku, Mas. kenapa? jawab, Mas!" suara inayah yang frustasi mengetahui fakta sesungguhnya.
"Inayah, Maafkan Mas. Semua ini aku lakukan karena aku ingin kalianβ"
"Bahagia maksudmu, begitu? pernikahan yang sakral, dan kamu merusaknya dengan drama yang kamu buat, Mas. Disaat aku benar-benar sudah mengambil keputusan dan kamu, Mas, menghancurkan semuanya! Harusnya aku tidak mendengar semua ini, Mas. Aku benci, ini!" teriak Inayah meluapkan kembali kekecewaannya yang kesekian kalinya.
"Dan kenapa penyakit sebesar itu, kamu sembunyikan dariku saat aku masih berstatus sebagai istrimu, Mas!" Inayah terduduk di sofa dengan tubuh melemah yang membuat Adit segera berlari menimang tubuh Inayah yang hampir tergeletak di lantai.
Dan Adam yang berfikir keras memegang kepalanya.
"Adam!" pekik Ibu Zahra melihat Adam tidak sadarkan diri yang kini tubuh Adam sudah tergeletak di lantai.
Tuan Danu yang baru datang segera berlari melihat Istrinya terus menepuk wajah putranya. Dan Aditia segera mengambil tindakan dengan menelpon ambulans.
"Adam, bangun, nak!" teriak Ibu Zahra.
Dan Adita terus menepuk wajah Inayah yang juga tidak sadarkan diri.
"Inayah, sadarlah! Inayah, jangan membuatmu takut. Inayah, bangun Inayah. Buka matamu, Inayah. Buka!
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Beri vote dong, likenya, Komentar, serta masukkan daftar favorit biar dapat info up terbarunya. Mana semangat buat Author? π€©π€©π€©ππππ Mana hadiah buat Author?