
Kupacu MClarent hitam ....
Sampai arah angin membawaku ke sebuah tempat yang menjadi saksi pertemuan pertamaku dengan Inayah.
Semilir angin sepoi-sepoi menyapu. Seperti biasa rasa itu selalu saja tiba, kurasa, lengan semu menepuk pundakku entah oleh rindu atau sesuatu yang sudah berlalu.
Ketika apa-apa tentang pekarangan itu mengerjap, aku selalu mengerti mengapa aku berada di sini. Menunggumu, sampai suatu masa akan bertemu. Meski sampai setengah abad semesta mencari, setelah cahaya pergi. Sebab, Tuhan selalu merangkum kenangan dengan teramat baik lewat air mata, lewat hujan, serta lewat sepi yang tak berakhir.
Aku tidak tahu. Sampai kapan aku berharap terus padamu, Inayah. Saat pertama kali bertemu, dirimu selalu hadir dalam hatiku. Waktu berjalan bersama bayangmu, inginnya selalu dekat denganmu. Apa ini perpisahan inayah! katakan padaku Inayah!
Pandanganku lurus ke depan. Suara ombak seakan berteriak ke arahku. Ingin meraih kembali cintamu menjadi kenyataan. Saat diriku dalam siksaan cinta, dirimu melenggang pergi tanpa pernah memikirkanku, Inayah.
Untuk apa berlari dalam kelam? Sedang kabut pun tak mau menyibak. Biarlah semua berlalu, mimpi pun aku tak ingin. Meski rindu ini tercipta untukmu.
Adakah di hatimu terbesit satu harapan untuk berjanji selamanya bersamaku? Andai dirimu berada disini untuk membuka kembali jalan cinta. Ada rasa rindu di sana yang mengisi relung hati. Adakah rindu di hatimu seperti yang kurasakan?
Kutahu kau mencintaiku saat kulihat binar matamu bersinar saat menatapku, teduh dan hangat. Kutahu kaulah tempatku bersandar dan berlindung.
Aku dengar bisikan angin sampaikan pesanmu padaku. Aku rasakan tetesan embun sebagai lambang kasih sayangmu. Kulihat pelangi hati sebagai gambaran cintamu padaku. Kurasakan ketulusan, kejujuran, dan kesetiaanmu padaku.
__ADS_1
Kini aku menyadari bila dirimu kau sangat sayang padaku. Tapi semua terasa menjadi tiada indah tanpa dirimu. Kan kujaga semua yang pernah kau berikan padaku, Inayah.
Malam tiba aku sampai di rumah. Ibu menatapku. Kutahu mereka sudah bisa menebak kekecewaan yang kembali menerpaku.
"Kita bisa membatalkan semuanya," ujar ayah.
"Apa yang ayah akan lakukan? Menentang lamaran itu? Sekalipun harta ayah habis, Inayah tidak akan pernah melakukan itu. Dia wanita kuat yang rela mementingkan kebahagiaan keluarganya di bandingkan kebahagiaannya sendiri. Jika Inayah mampu dan bisa, Maka aku pun bisa."
"Adit, kau seorang pria. Kau jangan lemah seperti ini, Adit!" teriak ayah memberiku dukungan kali ini.
Aku berbalik menatap wajah ayah. Aku datang padanya dan kembali berkata, "Aku akan berkorban untuk nya. Dengan lebih banyak mendekati sang pemilik Hati. Mungkin selama ini aku terlalu jauh darinya."
"Apa itu artinya kau akan menyerah?" tanya ayah lagi.
"Adit, ini bukan dirimu!" Ayah mungkin heran dengan sikapku.
"Inilah diriku, Ayah." lalu aku menoleh ke arah ibu yang telah melahirkan aku. ku lihat raut wajah sedih di sana. "Ibu, Jangan khawatirkan aku. Aku baik saja. Kebahagiaan Inayah adalah kebahagiaanku."
Aku meninggalkan mereka dan masuk dalam kamar. Semenjak hari itu, Aku putuskan untuk tidak bertemu dengan Inayah. Kebahagiaan Inayah adalah yang terpenting bagiku.
__ADS_1
...****************...
Aku tidak pernah menyangka terjebak dalam sebuah perasaan yang begitu menyakitkan. Walau sulit mengendalikan akal saat hati berbicara, semampu aku untuk bisa. Keluargaku adalah segalanya.
"Inayah, lalu apa keputusanmu? Kau akan menolaknya?" tanya Kak Raka. "Inayah, cinta suamimu akan lebih besar dari pada cinta yang tidak halal."
Aku hanya terdiam mendengar Kak Raka menceramahiku. Hingga pada akhirnya aku angkat bicara.
"Tenang saja, Kak. Aku akan mengubur dalam perasaan itu. perasaan tidak halal ini," ungkapku meyakinkan kak Raka.
"Baguslah. lantas kapan keputusan ini akan kamu utarakan pada aba."
"Urus saja pertemuannya, kak. Aku ikut saja."
Aku melihat ke arah kak Amira. Kak Amira terlihat tidak enak hati padaku.
"Jangan merasa tidak enak hati, kak. Jika aku di posisimu, mungkin aku juga merasakan trauma yang sama."
Kak Amira memelukku dan berkata, "Sama dengan dirimu, dek. Maafkan aku. karena aku kamu dan—"
__ADS_1
"Tidak, kak. Kak Aditia mungkin memang bukan jodohku."
Sebisa Author memberikan yang terbaik. Terimakasih wahai pembaca setiaku. jangan lupa tinggalkan komentar untuk Author dong. ☺☺☺😍