Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 15. Pertemuan Tidak Terduga


__ADS_3

"Maaf." Kata Aditia. Begitu wanita tersebut menoleh Aditia terlihat sangat terkejut. Adita seperti mengenal wanita di balik cadar itu.


Inayah Segera memutus kontak mata dengan Aditia. Inayah hanya menganggukkan kepalanya dan melewati Aditia tanpa sekata pun


Semenjak Inayah memutuskan untuk menerima lamaran Adam, Inayah memutuskan untuk memakai cadar. sejak dari dulu keinginan itu ada.


"Tunggu!" Aditia mengejar Inayah.


Sebenarnya Aditia merasa tidak asing degan gadis bercadar terebut. "Nona, Kunci mobilmu jatuh."


Inayah menerima kunci mobil miliknya dan menganggukkan kepalanya sebagai tanda terimakasih.


"Apa benar kau Inayah?"


Langkah Inayah terhenti.


"Aku yakin, kamu Inayah."


Inayah masih bungkam di tempat. langkah kaki Aditia semakin mendekat.


"Walau kau menutupi seluruh tubuhmu dengan kain, inayah. Aku tetap bisa mengenalimu. Kerena—"


"Tidak ada yang perlu kita bahas lagi, kak. Aku harus pergi."

__ADS_1


"Apa kamu sakit?" tanya Aditia lagi. Namun Inayah tetap tidak menjawab. kedatangan Inayah berkunjung di rumah sakit tersebut tidak lain untuk menjenguk sahabatnya yang sakit.


"Inayah, Aku tidak akan pernah bisa melupakan dirimu."


Inayah menoleh sebentar, lalu meninggalkan tempatnya. Sementara Aditia terus menatap kepergian Inayah hingga Inayah tidak terlihat lagi olehnya.


"kamu benar-benar berubah Inayah. kamu lebih banyak diam," gumam Aditia dan juga kembali menuju mobilnya terparkir.


Cukup lama Aditia termenung di dalam mobilnya mengingat pertemuannya dengan Inayah dalam keadaan berbeda.


"Mengapa aku terasa sesak seperti ini, Inayah. Ya Allah, Mengapa engkau mempertemukan aku dengan Seorang wanita yang bernama Inayah setelah kamu mengecewakan aku dengan Amira. Apakah ini ujian lagi untukku?"


Aditia pun mulai menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan rumah sakit tersebut. Ketika sampai di rumah, Aditia menemukan ibu Hanum yang sedari tadi menunggunya.


Aditia tanpa berujar melewati ibu Hanum dan masuk kamarnya merenungi kembali pertemuannya dengan Inayah.


Malam tiba, kedua keluarga kembali bertemu untuk mendengar jawaban Inayah. Adam sangat berharap jawaban inayah kali ini bukan jawaban mengecewakan untuknya.


Penampilan Inayah menggunakan cadar membuat keluarga Adam cukup terkejut.


"Maaf, jika kali ini penampilan Inayah sedikit berbeda," Ujar Ibu Fatima selaku ibu Inayah.


"Kalau begitu mari kita dengar jawaban dari nak Inayah," kata Aba Abdullah. "Inayah, berikan jawabanmu, nak."

__ADS_1


Inayah mengangkat kepalanya. "Bismillah. Aku... menerima kak Adam sebagai imanku. Kuakui aku wanita masih banyak kekurangan. dan masih butuh bimbingan."


"Alhamdulillah," serempak keluarga dari Adam mengucap syukur.


Betapa bahagianya Adam malam itu hingga sampai di rumahnya matanya tidak mampu di pejamkan olehnya.


Esok harinya, Adam bertemu Aditia sepulang kerja di sebuah kafe. Adam menceritakan pada Aditia jika wanita yang di lamar olehnya telah menerimanya dan siap mejadi istrinya.


"Selamat bro. Aku turut bahagia mendengar kabar ini." Aditia tersenyum dan menepuk bahu Adam. "lalu, kapan kalian akan menikah?"


"InsyaAllah. Akan aku kabari," ujar Adam sambil menikmati kopi hangatnya.


"Kamu sendiri bagaimana? aku dengar kamu akan ke Amerika. Apa itu benar?"


Aditia terdiam sejenak dan berkata, "Ya, begitulah. Setidaknya aku bisa sedikit merilekskan otakku di sana."


"Lalu, apa itu artinya kau tidak hadir di hari pernikahanku?"


"Entahlah. Jika pun aku tidak hadir, Sampaikan salamku pada istrimu," kata Aditia.


"Baiklah. Tetapi, berjanjilah padaku. sepulang dari Amerika kunjungi aku."


"Tentu saja. Aku pasti akan menemuimu," kata Aditia lagi dan melihat Adam begitu bahagia. "Kamu terlihat begitu bahagia hari ini?"

__ADS_1


"Tanpa aku jawab, kamu pasti sudah tahu perasaanku sekarang."


"Sudah tidak sabaran pastinya. pak dokter." ledek Aditia pada Adam.


__ADS_2