
Assalamu'alaikum, 🙂🙂 jangan lupa tinggalkan komentarnya, ya, kak. Terimakasih.🙏🙏🙏
****
"Kemanakah Aku bersandar? Aku siap dalam segala hal. Ya Allah, Satu permintaanku untuk saat ini, kuat aku. Mampukan aku. Saat ini, aku hanya butuh pelukanmu, Ya Allah. Ya Allah, Ikhlaskan aku, sabarkan aku."
Inayah meletakkan sajadahnya dengan Kitab Alquran yang sedari tadi direngkuh olehnya. "Aku berjuang karena-Mu, Ya Allah. Aku berjalan Bersama-Mu, Ya Allah. Jika ini ujian sebagai pengantar menuju surga-Mu, Lapangkanlah dadaku."
Isak tangis Inayah melihat bantal Adam tidak pernah terisi. Bahkan ada rasa ingin memeluk suami sendiri. Ada rasa untuk bisa bersama mengarungi bahtera rumah tangga. Namun, semua hanya keinginan saja. Salahkah jika aku berharap kamu bisa berbuat adil, Mas?
Inayah menatap foto Adam. Hanya saat malam pertama, Adam dan Inayah saling memadu kasih. Ketika cinta Inayah mulai tumbuh justru Adam menyiram dengan kekecewaan.
"Apakah aku istri haram disentuh, Mas?" gumam Inayah seorang diri dikamar yang Inayah anggap merupakan kamar pengantin mereka. Inayah memeluk foto pernikahan mereka.
ucapan Adam sangat menyakitkan malam sebelumnya saat Inayah kembali menyiapkan diri untuk sang suami. Namun, justru Adam berkata, 'Setiap akau ingin menyentuhmu, Inayah, mengapa wajah Karin yang ada. Maafkan aku, Inayah, aku tidak bisa melakukan ini.'
'Cobalah untuk menatapku, Mas.'
'Inayah, saat aku melamarmu, kupikir kau bisa menggantikan Karin dalam hatiku, tenyata kau hanya membuatku semakin merindukan dia.'
"Kenapa, Mas! Kenapa kau menyakitiku, Mas." Inayah melempar foto pernikahan itu hingga kaca bingkai itu hancur belur.
Terlalu menyakitkan mengingat kembali.
"Apa salahku, Ya Rab. Katakan padaku. Apakah dia yang pantas untuk kau cintai, Mas Adam."
Puas dalam kesedihannya, Inayah seperti biasa menyiapkan sarapan pagi untuk Adam. Dan lagi-lagi Adam meminta maaf untuk tidak ikut sarapan karena ada pertemuan penting di rumah sakit.
"Setidaknya, kamu hargai masakanku, Mas."
Adam berhenti dan menoleh melihat nasi goreng di atas meja tersaji.
"Jika tidak memiliki selera makan, setidaknya ambillah sebutir nasi itu. Semoga sebutir nasi itu bisa mengganjal perut suamiku." Inayah mengambil sebutir nasi dan menyuapi Adam.
Menatap Adam sebentar, dan mengambil tasnya, Inayah mendahului Adam meninggalkan rumah setelah pamit.
Adam menghentikan Inayah. Inayah menoleh dan berkata, "Mungkin saat ini aku masih bisa bertahan, Mas.
Inayah berlalu setelah satu kalimat terlontar. Masuk dalam mobil, Inayah menepis semua rasa yang ada dan mencoba untuk kuat. Adam datang dan mengetuk pintu mobil Inayah. Namun, Inayah sudah terlalu lelah dengan permainan Adam.
__ADS_1
Sepulang dari pondok, Inayah menghubungi Adam lewat percakapan telepon. Setelah pamit melalui percakapan telepon, Inayah berangkat ke rumah mertua dan berlanjut ke rumah kedua orang tuanya untuk melihat kondisi abanya.
Tidak menyangka, tepat lampu merah sebuah mobil mogok hingga perjalanan Inayah terhenti.
"Siapa mobil di depan? Apa yang terjadi?" Rasa penasaran membuat Inayah turun dari mobilnya."
Inayah terkejut melihat siapa pemilik mobil. Ternyata Ibu Hanum. Inayah tidak tahu harus berkata apa. Ketika Inayah akan kembali ke mobilnya, Ibu Hanum keluar dari dalam mobil dan mengejar Inayah.
Inayah begtu terkejut saat Ibu Hanum ikut masuk dalam mobilnya. "Antar aku menuju kantor suamiku. Aku tidak punya pilihan lain. Suamiku akan rapat dan dokumen ini harus sampai sebelum rapat dimulai." Netra Ibu Hanum lurus ke depan.
Inayah menoleh melihat Ibu Hanum. Inayah hanya bisa berkata, "Baiklah. Aku akan mengantar nyonya sebagai bentuk kemanusiaan."
"Terimakasih." Ibu Hanum terus menatap Inayah.
Sepanjang perjalanan Inayah diam. bangi Inayah tidak ada yang perlu dipertanyakan. Namun, beda dengan Ibu Hanum. Ibu Hanum penasaran dengan Inayah.
"Bagaimana kabarmu, Inayah?" hampir satu tahun kita kembali bertemu. Bukankah bulan depan sudah masuk bulan November. itu artinya pernikahanmu sudah cukup lama.
Inayah paham maksud arah pembicaraan Ibu Hanum. Inayah tersenyum apa yang dikatakan oleh Ibu Hanum. Inayah melirik perutnya sebentar dan tersenyum kecewa.
"Sepertinya kamu tidak baik-baik saja, Inayah."
Ibu Hanum kembali tersenyum dan tidak berkomentar lagi.
"Apakah kamu tidak menanyakan kabarku, Inayah?" tanya Ibu Hanum. "lalu, bagaimana kabarmu?"
"Alhamdulillah, seperti yang Anda lihat, Nyonya. Aku baik-baik saja."
Ibu Hanum tersenyum. Dan kembali berujar, "Aku akan mengundangmu hari resepsi putraku."
"InsyaAllah, Nyonya," jawab Inayah dengan serius. Apa pedulinya lagi. Inayah turut bahagia mendengar Aditia sudah menikah.
Dalam diri Ibu Hanum, ingin rasanya mengorek tentang masalah Inayah. Apakah sudah memiliki anak atau bagaimana. Ibu Hanum sedikit ingin tahu. Ibu Hanum baru ingat, jika Alina dekat dengan Asifa, adik tiri Inayah.
"Inayah, bolehkah aku meminta kamu mengajariku mengaji?"
"Maaf nyonya, Bukan aku tidak mau hanya saja, aku sangat sibuk. Jika nyonya membutuhkan guru, aku punya teman bisa mengajarkan."
"Tapi, aku ingin kamu yang mengajariku. Jika saja kamu tidak sibuk."
__ADS_1
Tidak terasa mobil Inayah sampai di sebuah perusahaan menjulang tinggi.
"Nyonya, anda sudah sampai."
Ibu Hanum menoleh. "Hubungi aku jika kamu siap menjadi guru mengajiku. Bukan hanya aku yang membutuhkan bimbingan. Ada beberapa teman ingin ikut belajar mengaji.
"Terimakasih sebelumnya," ucap Ibu Hanum dan melenggang pergi.
Kembali Inayah melanjutkan perjalanannya menuju rumah orangtuanya.
***
Sesampainya di sana, Adam sudah duduk di depan Abanya. Inayah cukup heran kedatangan Adam. Ibu Fatimah dan Ummi humaira terlihat sedih menatap Inayah. Sementara Aba Abdullah terlihat diam dengan wajah merah padam dan Adam tertunduk dengan Raka di depannya sedang duduk.
"Usaikan pernikahan tidak sehat ini." kata Aba Abdullah membuat Inayah terkejut.
"Adam datang kemari dan memulangkan kamu pada Aba, nak. Aba menerima kamu dengan tangan terbuka. Semoga Allah meridhoi kalian," Aba Abdullah tidak sanggup menatap wajah sedih Inayah.
Aba Abdullah berdiri meninggalkan tempatnya. Inayah bisa melihat bagaimana raut wajah pria paruh baya itu.
Inayah terdiam di tempat. Tatapan begitu tajam ke arah Adam. "Inikah tujuanmu menikahiku, Mas? Apa salahku? kamu tega Mempermainkan aku dan menyakiti perasaanku, Mas?bukan hanya itu. kalau kamu tidak menginginkan pernikahan ini, kenapa Mas Adam melakukannya?"
Seketika bulir bening Inayah jatuh begitu saja hingga penutup wajahnya basah. Raka berdiri dan memeluk Inayah yang sedang terisak.
"Ini yang terbaik antara aku dan kamu, Inayah. Maafkan aku."
Tubuh Inayah seketika melemah dan pada akhirnya tidak sadarkan diri. Semua panik melihat kondisi Inayah.
"Inayah!" teriak Adam yang hendak meraih tubuh Inayah.
"Lepaskan tanganmu! jangan sentuh adikku! hubungan kamu dan Inayah sekarang sudah tidak ada." Raka mengangkat tubuh Inayah masuk kamarnya.
"Apa lagi yang kamu harapkan. keluar dari rumahku!" Raka mengusir Adam setelah Raka keluar dari kamar Inayah.
"Akun hanya ingin tahu kondisinya."
"Tidak ada yang perlu lagi kamu cemaskan. Inayah memiliki keluarga yang mencintainya. Urus sendiri urusanmu bersama istri barumu. Semoga kau bahagia atas Keputusanmu, Adam. Dan aku ingatkan, jangan kembali lagi mengejar cinta Inayah setelah suatu hari rasa sesal itu datang."
Terimakasih atas kesetiaannya membaca karya Author. Jangan lupa tinggalkan komentar, like dan juga, jangan lupa masukkan dalam daftar favorit. Biar dapat informasi up terbaru Menemukan Hatiku Yang Hilang. 😍😍😍😍☺☺☺☺ Terimakasih. Salam Author.
__ADS_1
Yuk Follow IG Author, Anihijab15