
Alina membulatkan matanya ketika Teo meledeknya. Hingga beberapa menit kemudian Arjuna tiba dengan pesanan Alina.
"Selamat menikmati, Nona. Ada lagi yang nona pesan?"
Alina tersenyum renyah dengan hasil masakan Arjuna. Namun, Alina sedikit curiga. Apakah benar itu masakan Arjuna atau bukan. Akan tetapi Alina tidak membahasnya lagi.
Melihat Alina diam. Arjuna kembali ke tempatnya. Begitu Alina akan menyahut, Arjuna sudah tidak ada di depannya. Matanya terus mencari Arjuna.
Teo berdeham. "Nona, Tuan Arga sudah datang," bisik Teo melihat klien yang ditunggu sudah datang.
Pembahasan mereka terus berlanjut. Arjuna dari jarak jauh memperhatikan Alina terlihat serius berbicara dengan kolega bisnisnya yang masih terlihat mudah.
***
Jika Alina yang sedang berbunga dengan Sosok Arjuna, berbeda dengan Inayah yang kini berada di tepi pantai. Tidak ada sosok pria yang dirindukan olehnya selain Aditia, suaminya. Begitupun dengan Aditia yang kini berada di balik jeruji besi.
"Inayah, bagaimana kabarmu, Sayang. hingga hari ini? Ya Allah, mengapa kau menyiksaku dengan perasaan seperti ini?" Aditia tidak hentinya terus mengucap doa.
Tidak terasa masa hukuman yang dijalaninya sudah memasuki bulan pertama. Bulan pertama serasa sudah satu tahun berpisah dengan Istrinya, Inayah."
Sebuah panggilan untuknya tiba-tiba mengagetkan Aditia. Ibu Hanum dan Tuan Subari datang membesuknya.
"Ibu, ayah?" Aditia menemui mereka dengan baju tahanan di pakainnya. Penampilan yang sudah begitu berbeda. Bagaimana perasaan, jika seandainya Inayah yang melihat langsung penampilannya.
Ibu Hanum sebagai ibu dari Aditia meneteskan air mata. Tidak menyangka akan seperti sekarang keadaan sang putra kebanggaannya.
"Adit, katakan yang sebenarnya apa yang terjadi hari itu antara kamu dan Amira. Mengapa naluri Ibu mengatakan jika sesungguhnya tidak sesuai dengan apa yang di katakan Amira."
Tuan Subari menatap manik mata putranya hingga mengalihkan pembicaraan mereka.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Tuan Subari menepuk bahu putranya.
"Seperti yang ayah lihat. Aku merindukan seseorang," ujar Aditia.
"Aku membawakan obat untukmu."
"Obat? aku tidak sakit, Tuan Subari."
"Kau sakit rindu, kan?" ledek Tuan Subari dengan maksud menghibur putranya.
"Tidak perlu ditanya jika ayah sudah tahu." Aditia melihat ponsel yang diberikan oleh ayahnya.
Sebenarnya, Tuan Subari bisa saja melakukan segala cara. Namun, Aditia tidak ingin hal tersebut. Dia ingin berjalan apa adanya menjalani hukumannya. Dengan hukuman yang di jalani Aditia bisa membuat pihak korban bernapas lega begitu pun juga dengan aditia sendiri. Rasa bersalahnya pada Amira dan Raka membuatnya bisa hidup lebih tenang.
"Mengapa ayah memberikan ponsel pada saya?" Aditia menerima ponsel itu.
"Bukankah ini ponsel saya? mengapa bisa ponsel ini sama ayah?"
"Bibi Sumi yang memberikannya padaku. Kata Bibi Sumi di situ kamu bisa melihat aktivitas Ianyah selama ini."
"Apa bertemu dengan Inayah sebelum kemari?"
"Kami tidak bertemu dengannya. Sebelum kami kemari, Ianyah masih di kamar mandi. Dia belum tahu kedatangan kami."
"Untungnya dia tidak tahu ayah dan Ibu kemarin." Aditia terdiam.
Aditia melihat Inayah lewat CCTV yang terhubung langsung dengan ponsel miliknya.
"Inyah." Aditia mengeusap wajah istrinya lewat layar. Mengapa kamu terlihat kurus, Inayah?" gumam Aditia. terlihat bening putih di sudut matanya.
"Mengapa kamu melarang Inayah kemari, Adit?" itu tidak adil untuk Inayah," ujar Ibu Hanum yang bisa melihat betapa rindunya Aditia menatap wajah istrinya lewat ponsel.
__ADS_1
"Telepon dia, sekarang!" sahut Ibu Hanum lagi."
"Tidak, Bu. Aku akan semakin merindukannya jika aku mendegar suaranya. Dan ponsel ini. Bawalah pulang." Aditia mematikan ponselnya. Seakan hatinya marah melihat wajah yang dirindukannya, akan tetapi tidak bisa digapai olehnya.
"Ini ujian untukku, Ibu. Aku akan berjuang melawan perasaan ini."
Ibu Hanum seakan marah dengan keputusan putranya. kembali berujar. "Apa sih alasan kamu melarang Inayah kemari?"
"Tidak ada alasan ibu. Aku hanya tidak ingin melihatnya bersedih dengan keadaan dan kondisisku yang sekarang."
Ibu Hanum dan Tuan Subari sangat mengerti kondisi Aditia.
Tiba-tiba Aditia merasa tidak enak pada bagian kepalanya. Ibu Hanum sedikit cemas.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Aku hanya merasa sedikit pusing dan ras mual."
"Apa kau sudah sarapan?"
"Sudah Ibu," jawab Aditia lagi. Hingga waktu besuk pun habis. Ibu Hanum dan Tuan Subari pamit pulang.
***
Sementara Inayah sendiri terlihat menutup hidungnya mencium aroma masakan Bibi Sumi yang memuatnya ingin mual. "Aneh." pikir Inayah.
"Nona, Nona baik-baik saja?"
"Bibi, Bibi sedang masak apa? kenapa aromanya tercium aneh?"
"Nona, saya sedang menggoreng ikan gurame seperti biasanya," sahut Bibi Sumi penuh curiga. "Apa nona sedang hamil?"
Inayah langsung diam dan menoleh pada Bibi Sumi. "Hamil" kata Ianyah. Dirinya tidak tahu apa harus bahagia atau bersedih jika dirinya benar-benar hamil.
"Siapa yang hamil, Bibi?" sahut seseorang dan memberi Salam.
Ibu Fatimah Raka dan Amira serta Ummi Humairah datang.
"Ibu?" terikak Inayah begitu bahagia melihat keluarga yang dirindukan olehnya datang di villa.
"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Ibu Fatimah dan Ummi Humairah yang bergantian memeluk Inayah.
"Alhamdulillah ibu, Ummi. Aku baik saja."
Amira memeluk Inayah dan berkata, "Maafkan aku, Inayah."
Inayah diam seribu bahasa. Ada sesuatu yang megganjalnya dengan persaksian Amira pada suaminya hari itu.
"Aku baik, Kak. Kaka sediri bagaimana kabarnya? Apa Habibi tidak rewel?" tanya Inayah mengalihkan perhatiannya sendiri.
Inayah menoleh melihat Raka yang tengah menggendong Habibi yang kini umurnya baru masuk 3 bulan.
Inayah mendekat ke arah Habibi yang tengah di gendong oleh Raka. Ibu Fatimah menyahut." Apa benar kamu hamil, Nak?"
"Ah, itu hanya tebakan Ibu Sumi, Ibu," kata Inayah yang akan menggendong Habibi, akan tetapi tiba-tiba perutnya sangat mual dan berlari menuju kamar mandi.
Ibu Fatimah dan Ummi Humairah saling menatap.
"Apa benar Ianyah hamil?" terka Ummi Humairah.
"Entahlah. Semoga saja ini kabar baik," timpal Inj Fatimah melihat putrinya berlari begitu cepat menuju kamarnya.
__ADS_1
"Kenapa kalian begitu cemas. Bukankah Inayah punya suami? Semoga saja ini kabar bahagia," kata Raka dengan wajah yang tidak di mengerti. Raka juga sebenarnya tidak tega dengan Ianyah. Namun, semua harus ia lakukan demi keadilan untuk Amira.
Ibu Fatimah sama dengan Inayah, apa harus bahagia atau tidak, jika seandainya Inayah benar-benar hamil. Apa mungkin Inayah mampu menghadapinya sementara tidak ada Aditia di sampingnya.
Inayah terus mual dan memuntahkan semua isi perutnya. Ibu Fatimah menyusul Inayah.
"Syang, kamu baik-baik saja?"
Mendengar kata SAYANG Inayah menoleh dan melihat Ibu Fatimah. Inayah langsung memeluk ibunya. Inayah benar-benar merindukan suaminya, Aditia.
'Mas, Aku merindukanmu.' batin Inayah.
"Ibu, jika aku benar hamil apa aku mampu melewati semua ini? Aku merindukannya, Ibu. Aku ingin dia di sisiku."
Ibu Fatimah mengajak Inayah keluar dari kamar mandi dan meminta Inayah duduk di atas kasur. Amira mendengar semua percakapan antara anak dan ibu itu.
"Nak, bersabarlah. Semoga kamu dan Aditia kembali bersama."
"Ibu, aku benci keadaanku sekarang. Aku benci orang itu. Dulu aku tidak pernah selemah ini. Katakan padaku, Ibu, apa yang harus aku lakukan?"
"Perbanyak mendekatkan diri, Nak. istighfar." Ibu Fatimah mengelus lembut punggung Inayah.
Inayah menatap Ibunya. Lalu beralih melihat foto Aditia suaminya. Inayah mengelus lembut perutnya yang masih belum diketahui kepastiannya. Tiba-tiba perut Inayah kembali terasa akan mual.
"Baiknya kamu memeriksakan diri, Nak."
"Dari tempat ini cukup jauh perkotaan, Bu."
"Ibu akan menemanimu." ujar Ibu Fatimah.
"Andai bisa aku berandai-andai, Alangkah inginnya aku dalam keadaan seprti ini, suamiku ada di sisiku, Ibu. Di saat seprti ini aku ingin minta lebih perhatian darinya. Namun, mengapa mas Adit menelpon pun tidak, Ibu. Aku benci semua ini, Ibu!"
Amira terus mendengar percakapan mereka. Amira terdiam di balik dinding kayu kamar yang sedang terbuka pintu kamar Inayah. Sementara Ummi Humairah sedang membantu Bibi Sumi memasak, dan Raka tengah menidurkan putranya karena Amira sebelumnya Izin untuk melihat keadaan Inayah.
'Mengapa aku sejahat ini padamu, Inayah. Ada apa denganku?' batin Amira yang melihat anak ibu itu saling mengasihi.
Amira mengingat kembali perlakuan Aditia pada Inayah begitu romantis saat Aditia dan Inayah datang berkunjung di rumah Ibu mertua.
Kembali pada Inayah, sejak dari tadi Inayah terus mual. Ibu Fatimah panik sendiri melihat putrinya terus memuntahkan isi perutnya. Amira masuk dan memberikan minyak kayu putih.
"Baiknya Inayah di bawah ke rumah sakit, Ibu. Bukankankah penjaga villa ini ada? aku akan hubungi supir pribadinya meminta mereka datang kemari."
Belum sempat Amira keluar dari kamar Inayah, Ibu Hanum dan Tuan Subari tiba dari melihat Aditia.
"Kenapa kamu, Sayang?" tanya Ibu Hanum melihat Inayah terlihat pucat."
Ibu Hanum pun menjelaskan kronologisnya.
"Apa?" Ibu Hanum tekejut bercampur bahagia. Selama ini dirinya sangat menginginkan seorang cucu.
Amira bisa melihat raut wajah wanita yang hampir mejadi Ibu mertuanya. Ianyah benar-benar beruntung.
'Ya Allah, Ada apa denganku?'batin Amira.
Amira pun kembali berujar pada Ibu Hanum. "Nyonya, baiknya Inayah segera di bawah ke rumah sakit."
"Biklah. Aku akan menelpon supir pribadi Aditia dulu." Ibu Hanum pun menelpon seseorang. Tidak bisa di pungkiri, Ibu Hanum berharap Inayah benar-benar Hamil.
***
☺☺Apakah inyah hamil? Dan ada apa denganmu Amira? Apa kamu punya pikiran merebut Aditia dari Inayah?
__ADS_1
Mana hadiahnya buat Author. Tinggalkan jejak setelah baca tiap bab, Ya. Kerena itu sangat membatu Author. bersedekahlah buat Author ☺☺ Beri bunga mawar, atau kopinya dong. 😍😍😍