
Esok harinya, setelah Konferensi face peluncuran belanja online wajah baru usai, Aditia kembali ke ruangannya dan melihat desain Inayah. Aditia tersenyum.
"Sepertinya aku punya cara mendekatimu kembali, Inayah."
Aditia keluar dari ruangannya. Teo segera berdiri dan bertanya, "Tuan akan keluar? Tuan akan ke mana?"
"Kau sekertarisku. Bagaimana bisa kamu tidak tahu kemana aku akan pergi. Kau harusnya tahu semua jadwalku." Aditia terus melangkah dengan tangannya sebelah kanan di masukkan dalam saku celana dan Teo mengikutinya dengan membawa tas kerja miliknya.
"Hari ini jam 3 sore, Tuan ada pertemuan di sebuah restoran dengan putri direktur Tuan Suharman," kata Teo yang terus mengikuti langkah direkturnya.
"lantas, kenapa kamu menanyakan kemana aku akan pergi?"
"Hanya sekadar basa basi, Tuan." Teo menutup mulutnya.
Aditia berhenti dan berbalik badan melihat Teo.
"Maaf, Tuan. Sepertinya tuan terlihat lelah hari ini."
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Teo."
Teo hanya tersenyum dan melihat kembali Aditia berlalu dan segera mengejarnya. langkah kaki jenjang Aditia membuat Teo engap mengejarnya.
Teo segera membukakan pintu mobil untuk tuannya. Sepanjang perjalanan, Aditia terus teringat dengan Inayah.
"Teo, lewat pondok Al-hikmah."
"Tapi, tuan. Kita akan segera menemui putri direktur Tuan Suharman."
"Dia bisa menunggu, kan? Jangan membantah perintahku." ujar Aditia.
Teo hanya menuruti keinginan Tuannya dan segera mengalihkan pembicaraan.
"Tuan, aku punya kabar baik," ujar Teo menatap Aditia lewat pantulan kaca spion.
Aditia yang duduk di kursi belakang mengangkat kepalanya dan menyimpan ponselnya.
__ADS_1
"Kabar apa yang kamu dapat?" tanya Aditia serius.
"Nomor ponsel Nona Inayah sudah saya kantongi, Tuan. Aku mendapatkan nomornya dari Nona Asifa."
Aditia tersenyum penuh kemenangan. 'Inayah, aku akan berjuang merebut hatimu.'
"Tuan, kita sudah sampai di depan pintu gerbang Pondok Al-hikmah. Apakah tuan akan masuk menemui, Nona."
"Jaga mulutmu, Teo. Tidak semudah itu untuk mendekati Inayah sekarang. Andai bisa hilang ingatan kembali, agar bisa dekat Inayah, aku mau," ujar Aditia. Netranya tertuju pada seorang wanita dari jarak jauh.
"Tuan, bukankah itu Nona inayah?" tunjuk Teo.
"Aku juga melihatnya, Teo. turunkan jari telunjukmu."
Teo tersenyum melihat tingkah direkturnya senyum sendiri. Di kantor direkturnya tidak pernah terlihat senyumnya seakan senyum itu hanya untuk Seseorang.
"Teo, Mengapa aku merasa takut. Aku takut akan kembali kehilangannya."
"Baiknya Tuan menemui Nona segera. Jangan menunda banyak waktu, tuan."
"Bukan seperti itu, Tuan. hanya saja aku memberi saran."
Kembali Aditia melihat Inayah dari jarak jauh.
"Teo, cari alasannya agar aku bisa mendekati Inayah."
"Tuan, kenapa harus aku?" tanya Teo.
"Jangan membantah, Teo."
"Baik Tuan. Akan saya cari cara. Namun aku tidak janji, Tuan."
Aditia tidak henti-hentinya terus melihat Inayah terlihat serius berbicara dengan teman sejawatnya entah apa yang mereka bahas.
***
__ADS_1
"Ustazah Inayah, sepertinya mobil silver di sana sedari tadi terparkir di depan pintu gerbang. Apakah satpam Pak Tamin ada di sana?" tunjuk Ustadzah Ana.
Inayah menoleh, Dan benar saja, terlihat mobil silver parkir tepat di depan pintu gerbang.
"Jika itu tamu kita, tidak mungkin berhenti hanya sampai di pintu gerbang. Iya kan?" jelas Inayah.
"Lantas, siapa mobil itu. apa jangan-jangan... Mobil yang sedang mengintai santri kita. Jangan-jangan mereka mencari korban," tebak Ustadz Ana.
"Hus! Itu tidak mungkin. Jauhkan, jauhkan. Jangan sampai hal itu terjadi di pondok kita," ujar Inayah yang berdiri dari tempatnya menuju pintu gerbang untuk memastikan.
Melihat Inayah menuju ke arah mobil. Aditia pun meminta segera untuk meninggalkan tempat tersebut.
"Tuan tidak ingin menemui, Nona?"
"Aku tidak punya alasan, Teo. apa kata Inayah nantinya," ujar Aditia.
Sementara Inayah, Cukup heran siapa pemilik mobil tersebut. Inayah teringat dengan mobil Aditia.
"Apa Dia? Tapi, jika dirinya. Apa urusannya dia kesini?"pikir Inayah dan melihat Pak Tamin sebagai satpam pondok al hikmah tengah sibuk bermain HP.
Inayah mendekat dan memangil pak Tamin. Namun, tidak dihiraukan karena dirinya terlalu sibuk dengan ponselnya.
"Pak Tamin, lagi santai, ya?"
"Iya. lagi gak ada kerjaan." jawab pak Tamin belum menyadari kehadiran Inayah di belakangnya sedang melihat dirinya bermain game sepak bola.
"Pak Tamin belum cetak gol, ya. sepertinya Pak Tamin akan kalah, deh."
"Akun tidak akan kalah." ujar pak Tamin yang baru sadar siapa pemilik suara tersebut. Sontak saja Pak Tamin kaget dan malu sendiri kedapatan bermain saat kerja."
"lain kali jangan di ulangi, pak. saat bekerja tolong serius. kita tidak pernah sadar akan ada bahaya mengintai."
Maaf Author hanya bisa UP dikit dulu. Lagi ada tugas, nih. Sebagai panitia semester bulan depan
😄😄😄 terimakasih banyak atas dukungan dan support dari kalian hingga Sampai saat ini.
__ADS_1
Love you pembaca setia author. 🥰🥰🥰😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍 jangan lupa like, komen, beri vote dan ulasan untuk buku ini, ya.