
"Dokter! teriak Aditia melihat keringat Inayah bercucuran.
"Sayang, bertahanlah."
Sekali lagi Aditia memencet bel darurat.
"Mas, Aku sepertinya ingin mela... hir... kan," kata Inayah yang terbata karena rasa sakit itu kembali melanda. Seakan seluruh tubuhnya gemetar.
"Dokter, cepat! Istriku sudah ingin melahirkan!" panggil Aditia kepada para suster lewat panggilan darurat.
Selang beberapa waktu para medis datang ke kamar inap inayah dan mereka begitu terkejut melihat Inayah sudah mengejan.
Para suster terlihat kalang kabut. Bagaimana tidak bad pasien yang di tempati Inayah belum di beri alas.
"Sayang kamu harus kuat. Aku yakin semua akan baik-baik saja!"
Inayah hanya menatap suaminya. Sambil terus mengejan. Kedua lututnya Inayah ditekuk dengan tangan kanannya berpegangan di baju kemeja Aditia, Sementara para petugas medis lainnya terlihat sibuk mengambil bagian masing-masing.
Melihat kondisi Inayah, Dokter Alea pun memerintahkan Inayah segera dibawah ke ruang bersalin dan Aditia pun mengikuti Inayah dengan ponsel sudah melekat di telinganya untuk memberi kabar pada semua keluarga.
"Ayo, ibu, sedikit lagi! Ayo Nona Inayah, dorong!" Pinta dokter Alea. Yang tidak jelas memanggil Inayah. Kadang nyonya, Nona, atau ibu.
"Tarik napasnya ibu, lalu hembuskan, ya, dorong!" Pinta dokter Alea lagi yang ikut tegang berharap pasien bisa melakukannya.
"Mas, aku tidak kuat..."
"Sayang, tenangkan dirimu. Ayo, sayang, teruslah berjihad." Aditia mengecup kening Inayah. Aditia berharap penyakit itu keluar bersamaan dengan bayi dilahirkan Inayah.
Sebelumnya, Penyakit itu sudah ada sebelum Inayah hamil dan terdeteksi setelah kehamilan Inayah sudah masuk beberapa bulan dan Inayah tetap mempertahankan calon anak kedua mereka.
"Iya Nona, lagi!" Dokter Alea terus memberikan semangat pada Inayah dan didampingi oleh suster May dan beberapa tenaga medis lainnya. Dengan penuh semangat Dokter Alea kembali memberi perintah dengan lembut. "Ayo, ibu! Sedikit lagi. Iya ... sedikit lagi ... Terus ibu, terus. Dorong! Ayo, ibu! Lagi ... Bismillah. Ayo ibu, dorong! ALHAMDULILLAH."
Tangis bayi memecahkan ruang itu pada akhirnya. Seorang bayi perempuan terlihat begitu bersih melihat dunia. Jika matahari bersinar selama seribu tahun, itu tidak akan pernah bisa mengalahkan kehangatan dan kegembiraan yang dirasakan oleh Utami dan Sarmin.
"Cukup, sayang. Jihad-mu selesai. Tarik napas-mu dan tenangkan dirimu. Lihatlah putri kita, sudah lahir. Kamu wanita hebat yang tak bisa aku gantikan posisimu sampai kapan pun. Hal yang tak bisa aku lakukan sebagai laki-laki," Bisik Aditia.
"Putri kita Kanaya Putri." lanjut Inayah dan Inayah menyambutnya tersenyum.
Aditia dan Inayah begitu bahagia. Kelahiran putri mereka sangat melengkapi kebahagiaan itu. Tidak lagi merasakan rasa sakit itu. Sekejap rasa sakit yang tidak bisa di gambarkan itu hilang entang kemana. Tergantikan dengan rasa haru. "Subhanallah." Bahwa, kuasa-Nya itu menyadarkan mereka. Berulang kali Inayah menyiratkan sebuah senyum. Tidak peduli lagi apa yang di lakukan suster padanya. Keduanya saling menatap. Tubuh dibersihkan dengan air. Jiwa dibersihkan dengan air mata. Akal dibersihkan dengan pengetahuan. Dan jiwa dibersihkan dengan cinta.
__ADS_1
Bulir bening jatuh seketika. Menyadari, betapa besar perjuangan seorang ibu melahirkan. Tak ada yang perlu kamu takutkan. Melahirkan, adalah kodrat setiap wanita.
Seorang ibu hamil dan bersalin juga dikatakan 'akan mendapatkan pahala 70 tahun salat dan juga puasa. Selain itu, setiap rasa sakit dalam setiap urat sarafnya, akan digantikan oleh Allah SWT dengan mengaruniakan 1 pahala haji.
Namun, Kebahagiaan itu redup ketika Inayah tiba-tiba terjadi komplikasi pasca setelah melahirkan. Pendarahan hebat terjadi.
"Suster, mengapa istri saya! Dokter!
Seketika Dokter yang menangani Inayah tidak menyangka hal buruk terjadi. Aditia diminta untuk keluar dan Inayah segera ditangani.
"Maaf, Tuan. Ibu Inayah akan kami bawah ke ruang tindakan.
"Sayang, Kuatkan dirimu!" Teriak Aditia melihat Inayah dibawah pergi dari hadapannya.
"Dokter! tangani istri saya! saya siap membayar berapa pun! Selamatkan dia!" teriak Aditia.
"Jangan gagal menangani! Selamatkan Inayahku, Dokter! Teriak Aditia lagi sambil mengejar rombongan yang membawah Inayah menuju ruang tindakan.
"Kuatkan dirimu, Adit!" sahut Raka.
"Bagaimana aku tenang dalam keadaan seperti ini. Katakan padaku!"
Ibu Fatima hanya bisa meneteskan air mata dengan Sifa memeluknya dan Ummi Humairah pun larut dalam kesedihan. Ummi Humairah berharap Inayah terselamatkan.
Sifa yang baru satu hari setelah melahirkan di rumah sakit yang sama datang melihat kondisi Inayah setelah mendapat kabar buruk.
Semua keluarga Aditia datang. dan terlihat Aditia sepeti pria tidak terurus.
"Apa yang terjadi, Nak?" Sahut Ibu Hanum yang masih terlihat terengah.
Namun Aditia hanya diam. Sementara ibu Fatima yang sedari tadi diam seribu bahasa dengan air mata berlinang dan tersirat doa untuk putri tercintanya, Inayah.
"Katakan padaku Ibunya Inayah, apa yang terjadi pada menantuku?"
tanya Ibu Hanum.
"Adit, di mana Inayah? Raka mengapa kalian ada di sini?" kembali pertanyaan datang Tuan Subari dan Alina serta Teo menyimak.
Raka pun menceritakan semua yang membuat Ibu Hanum tidak percaya. Terlihat petugas medis secara tadi keluar masuk dari ruang tindakan dengan langkah begitu cepat.
__ADS_1
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?"
"Maaf, kami belum menjawabnya. Berdoalah agar semua baik-baik saja."
"Dokter, katakan padaku kau pastikan Inayahku kembali padaku!" Teriak Aditia lagi yang masih mengejar dokter Hera yang ikut terlibat.
"Adit, Cukup! Biarkan dokter bekerja dan jangan menghalanginya. Sadarlah! Yakinlah jika semua akan baik saja!" Raka meminta Aditia untuk tenang padahal dalam diri Raka, dirinya begitu sangat khawatir dengan kondisi adiknya, Inayah.
"Aku tidak bisa tenang melihat Inayah di dalam dalam keadaan terbaring tidak berdaya. Aku menyaksikan sendiri bagaimana darah itu keluar dengan hebatnya. jika mengingat hal itu, aku rasa ingin gila!"
"Istighfar, Adit! Semua terjadi atas izinnya. Kita tidak pernah tahu apa rencana Allah untuknya. Yang harus kita lakukan sekarang adalah berdoa."
Aditia terduduk dengan lemah. Lalu, berdiri dan tangannya bertumpu di tembok.
Semua keluarga duduk di ruang tunggu.
Amira menggenggam tangan Raka yang terasa dingin. "Mas. Kamu baik saja?" bisik Amira pada Raka.
Raka mengangguk. Terlihat dirinya menahan air mata.
"Jangan dibendung air mata itu Mas, keluarkan saja." Bisik Amira.
Raka berbalik dan memeluk Amira. Sementara Aditia sedari tadi menyandarkan kepalanya di tembok dengan mata terliat merah.
"Inayah bertahanlah!"
"Adit, tenangkan dirimu!" Tuan Subari menepuk bahu putranya.
Aditia menoleh dan memeluk Tuan Subari. Pelukan Itu mengingatkan Aditia waktu masih kecil. Tuan Subari pun tahu jika Aditia benar-benar sudah dalam keadaan terpuruk.
"Ayah, Katakan padaku, aku harus bagaimana? jika mengingat kebersamaan bersama Inayah, semuanya indah ayah. Dia wanitaku yang tangguh. Untuk saat ini, andai dokter meminta salah satu org aku aku donorkan untuknya aku akan melakukannya."
Dokter keluar dan Aditia langsung melemparkan pertanyaan. Semua keluarga berdiri dari tempat duduknya.
"Bagaiamana istri saya, Dokter?" Melihat dokter yang ditanya diam kembali Aditia bersuara. "Dokter, mengapa kamu diam? jawab!"
Aditia langsung menyelip masuk ke ruang tindakan.
"Inayah!"
__ADS_1
✍️✍️✍️Maaf, Author baru up disebabkan ada kegiatan beberapa hari ini. Terus ikuti cerita Aditia hingga END. 🙏🙏