
Sifa masuk ke kamarnya dan mencari keberadaan Zaki.
"Kamu sedang mencari aku?" bisik Zaki yang entah dari mana?"
"Siapa yang mencarimu. kepedean. Sana keluar dulu! Giliran aku berganti." usir Sifa.
"Berganti saja. Aku di sini." kata Zaki begitu santai dan mengambil salah satu buku yang ada di rak buku.
"Tidak mungkin aku berganti dan Tuan ada di sini. Bagaimana ceritanya?" Kesal Sifa mengambil buku dari tangan Zaki.
"Ayo, keluar dulu!" paksa Sifa.
Zaki menatap Sifa. Sifa mulai gelisah Zaki mengumbar senyum. Zaki berdiri hingga wajah keduanya hampir bertemu.
"Kenapa wajahmu merah? Apa kau mulai menyukaiku."
"Suka bukan berarti cinta, kan?" Sifa mundur dan Zaki kembali menarik pinggang Sifa
"Lepaskan!"
"Bukankah berawal dari suka dan berubah menjadi cinta?" goda Zaki. sembari masih merangkul Sifa.
"Aku tidak akan pernah berharap hal itu karena sejak awal kita sudah buat perjanjian," ujar Sifa.
"Ok. kita lihat saja nanti."
"Tuan, Tuan tidak pernah mengerti makna sebuah cinta yang sesungguhnya, Tuan. Tidak akan pernah!" Sifa melepaskan diri dari Zaki.
"Tuan, aku akan berganti. Silahkan keluar dulu." usir Sifa lagi.
"Kenapa mesti malu jika aku melihatnya. Bukankah kita sudah halal? Bahkan jika aku...."
"Aku tahu, Tuan. Namun, bukankah pernikahan ini hanyalah sebuah pernikahan kontrak? Aku hanya belum terbiasa kamu disini dan aku akan berganti. Apa aku salah bila aku meminta waktu?"
"Aku akan menutup mataku."
Sifa mengambil pakaiannya dan terpaksa berganti di kamar mandi yang sempit.
Zaki menatap dirinya di cermin.
"Sungguh ribet urusan wanita. Entah apa maunya," gumam Zaki.
Sore tiba, Sifa dan Zaki pamit. Sifa memeluk erat Ummi Humairah, lalu beralih memeluk Ibu Fatimah. Dan Inayah langsung memeluk Sifa.
"Jangan anggap ini perpisahan, dek. Ummi akan baik-baik saja."
Sifa tak dapat menahan air matanya yang sedari tertahan olehnya. tangis itu pun pecah.
"Sifa, Ingat pesan aba dulu. ketika wanita sudah bersuami itu artinya, tanggung jawab orang tua sudah menjadi sepenuhnya tanggung jawab suaminya. Kakak tidak perlu mengingatkan lagi. kamu sudah paham," kata Raka.
Sifa semakin terisak. "Ummi, aku tidak tahu seperti apa pernikahanku." Batin Sifa.
__ADS_1
"Tuan Zaki, tolong jaga adik aku yang sekarang sudah berpindah menjadi tanggung jawab, tuan," pesan Inayah.
Zaki hanya mengangguk dan menarik koper Sifa untuk dimasukkan ke dalam mobil.
"Ummi, Kami pamit."
"Nak Zaki, Sifa mutiara kami. Jangan pernah memukulnya ketika dirinya berbuat salah, tapi ajarkan dia. Perlakukan dia dengan baik. Sebagaimana nak Zaki memperlakukan baik kedua orang tuanya," ujar Ummi Humairah.
Zaki terdiam. Sejujurnya dalam hidupnya, Zaki tidak pernah tahu seperti apa wajah ibu dan ayahnya. Aditia bisa melihat ada yang tampak disembunyikan Zaki ketika Ummi Humairah menyebut kata IBU.
Sifa pun menoleh kembali ketiak akan Zaki membukakan pintu mobil untuknya.
"Jaga dirimu baik-baik, dek." kembali Inayah berujar.
Sifa pun masuk mobil kemudian pintu mobil ditutup oleh Zaki. Setelahnya, Zaki menyusul setelah kembai pamit membawa Sifa.
"Mas, baiknya kita di sini dulu untuk beberapa hari. Tidak apa-apa, kan?" ujar Inayah meminta persetujuan pada Aditia untuk tinggal sementara menemani Ummi Humairah.
"Baiklah. Ayo boy kita masuk di dalam." Aditia langsung mengangkat tubuh Rayyan.
Ketika akan masuk rumah, Amira muncul dan hampir menabrak. Amira.
"Kau tidak apa-apa?"
"Tidak. Aku tidak apa-apa. Aku hanya mencari habibi. Di mana habibi?"
"Sepertinya habibi masih diluar bersama ayahnya." kata aditia pada Amira.
"Kakak ipar, kenapa kau terlihat tidak ingin menatap mataku. Apa aku masih punya salah?"
"Tidak ada. Aku... tidak apa-apa.
Inayah melihat interaksi keduanya. Inayah mengerti. Wajar saja jika Amira terlihat tidak biasa dengan Aditia, Suaminya.
"Ayah, ayah punya salah apa sama Bundanya kak Habibi" Rayyan melihat orang dewasa di depannya tampak tak biasa.
"Tidak sayang. Ayah hanya bercanda pada Bunda Amira." Inayah membubarkan kecanggungan Amira terhadap Aditia. Dan Rayyan turun dari gendongan Aditia.
Amira yang melipir hampir saja terjatuh karena Habibi datang sambil berlari dan menabraknya. untung Aditia secepat kilat menahan tubuhnya. Adegan itu btw jadi tepat didepan mata Inayah dan Raka.
"Jagan salah paham. Amira sedikit jatuh."
"Iya, kak." timpal Inayah menoleh ke arah Raka. lalu, mendahului Aditia masuk kamar.
Semua terlihat serba salah. Aditia menyusul inayah dan meraih bunga di atas lemari satu yang tangkai.
"Buat kamu." Aditia memberikan bunga pada Inayah yang kini berdiri di depan mereka kamar.
"Kamu marah?" tanya Aditia masih bunga di tangannya.
"Siapa yang marah. tidak ada."
__ADS_1
"Lalu, mengapa Istriku tidak mengambil bungaku?"
"karena aku tahu bunga ini bunga sogokan, kan? Juga, bunga ini bunga Ummi, kan?" senyum Inayah meningkatkan tangannya dileher Aditia.
"Kok tahu?"
"Tahulah. kenapa? Suamiku ingin menyogok dengan bunga ini agar aku tidak marah?" Inayah menatap Aditia. tatapan itu dibalas oleh Aditia.
"Kau cemburu?" Aditia menyelipkan anak rambut Inayah.
"Kalau sudah tahu, kenapa bertanya? Jelaslah aku cemburu. biar Bagaimana pun, Kak Amira pernah ada di sini. Siapa tidak cemburu melihat adegan romantis tadi." jujur Inayah tidak ingin munafik sambil menunjuk dada suaminya.
"Amira sudah tidak ada disini. yang ada hanya namamu, Inayah, percayalah. Kau istriku, ibu dari anakku Rayyan. Apa yang terjadi tadi hanya tidak sengaja."
"Kau paham, Mas. Namun, aku tidak bisa tidak mencemburui dirimu."
"Itu artinya, istriku sangat mencintai suaminya."
"Ya, jelaslah. Aku sangat mencintai suamiku," ucap Inayah memeluk Aditia.
"Aku sangat bahagia bila istriku begitu menaruh rasa cemburu terhadapku."
Mata Inayah membulat penuh begitu Aditia memperlakukan dirinya begitu romantis. Hingga napas keduanya terlihat terengah.
dengan pelan kembali adegan itu terjadi. Untungnya pintu kamar terkunci. ketukan pintu membuat adegan romantis itu terhenti.
"Ayah, ibu! buka!"
Aditia membukakan pintu kamar pada Rayyan.
"Heo boy! ganggu saja kamu." canda Aditia pada putranya.
"Ayah, siapa yang menganggu. Justru ayahlah pengangguran.
"Pengangguran?"
Rayyan tertawa melihat Aditia bingung.
"Ibu, bolehkah aku ikut Bunda Amira ke rumahnya? Aku akan tidur di sana bersama kak Habibi di kamarnya." lapor Rayyan untuk pergi ke rumah Amira bermalam.
"Pergilah, boy. biar Helly tidak ada yang ganggu."
"Helly? siapa Helly, Ayah?"
"Mas, kenapa sih suka sekali memberi ucapan yang membingungkan Rayyan?"
"yang penting Rayyan tidak rewel di sana." Inayah mensejajarkan tubuh Rayyan.
"Aditia melihat kedua tangannya sambil melihat interaksi anak ibu tersebut. Aditia terlihat bahagia melihat anak dan Ibu di depannya sedang berbincang.
"Ayah, Rayyan pamit, ya. Ayah jangan nakal."
__ADS_1
"Woi, Boy! Harusnya ayah yang bilang seperti itu. Jangan buat kacau rumah di sana.