
"Katakan padaku, ayah. Apa sebenarnya terjadi pada Marina hari itu?"
"Mengapa kamu ingin membahas kembali wanita itu, Adit? Kau sudah bahagia dengan Inayah."
"Justru itu, ayah. Aku ingin hidup bahagia bersama anak-anak aku dan istriku tanpa ada gangguan masa laluku. Aku ingin menuntaskan semua masa laluku. Aku tidak ingin masa laluku akan berdampak pada keturunanku. Jadi, tolong jelaskan semuanya biar jelas, ayah. Jangan ada yang ayah rahasiakan dariku sedikitpun." Aku duduk di sofa terlihat penuh penyesalan.
Inayah ikut duduk dan menggenggam tanganku. Aku bisa melihat istriku, Inayah sangat peduli keadaanku yang terpuruk. wanita yang sudah mengajarkan aku sebuah cinta yang sesungguhnya, mengajarkan aku bagaimana menghadapi hidup ini. Dia wanita yang sangat aku pertahankan sekarang, saat bersamanya aku menemukan kembali hatiku yang telah lama hilang. Aku akui di wanita istimewa. Bundanya Rayyan.
"Mas, ingat sebisa kamu tahan emosi. Semua ada jalan keluarnya." Inayah mengusap lembut bahuku. Aku merasakan ketulusannya.
Aku kembali mengarahkan pandanganku pada ayah. Aku bisa melihat orang tua itu. Aku yakin dia juga menyesal atas semua masa lalunya. Dari peristiwa ayah, Aku tidak ingin Rayyan bernasib sama denganku. Anak-anakku harus hidup bahagia. Jangan karena masa laluku merusak kebahagiaan mereka.
"Maafkan ayah sekali lagi, Nak. Karena ayahmu ini, engkau sampai harus melewati banyaknya masalah. Aku berterimakasih padamu, Inayah. Hadirnya dalam kehidupan kami seakan membawa sebuah cahaya di dalam istana ini. Aku akan menjelaskan dan tidak akan menyembunyikan sesuatu pun."
Ayah terlihat akan buka mulut dan berkata,
"Hari itu ayah menemukan Marina bersama seorang pria di sebuah apartemen yang kamu berikan padanya. Lalu, sebulan kemudian, Marina hamil dan akan menikah denganmu. Aku menemui mantan kekasihnya dan meminta untuk mencegah pernikahanmu. Dengan cara aku mengancam ayah Marina." Ayah terlihat mengatur dan menghembuskan napas panjang.
"Usai batalnya pernikahan kalian hari itu, Aku kembali menemui Marina dan kekasihnya. Aku meminta Marina pergi sejauh mungkin bahkan aku sudah mentransfer uang di rekeningnya. Namun, setelah gagalnya pernikahan kamu dengannya, ayah Marina geram dan akan menu*** ayah dari belakang, akan tetapi Ayah menghindar dan memasukkan Ayah Marina dalam sel tahanan. Dan ibunya meninggal karena peristiwa itu." Ayah diam menatapku.
Aku benar-benar tidak menyangka dengan semua peristiwa yang terjadi di belakangku.
"Teruskan ayah." Ujarku. Inayah terus mendampingiku.
"Marina berteriak-teriak ke arahku hari itu dan menuduhku sebagai pembunuh. Akan tetapi, dia tidak bisa berbuat apa-apa karena aku memegang bukti tentang percobaan pemb*** terhadap ayah. berita yang aku dengar setelahnya, kekasihnya meninggalkan dirinya."
Aku hanya terdiam mendengar cerita ayah setelahnya. Inayah sangat paham akan perasaanku.
"Mas, itu bukan salahmu. Justru itu kesalahannya sendiri. kau pria setia. Akan tetapi, Marina ternyata mengkhianati cintamu. Tidak ada yang menginginkan hal buruk, akan tetapi kita harus bisa memilih jalan yang mana akan kita tempuh. Bisa saja hari itu Marina kalang kabut menghadapi sebuah masalah hingga dia menempuh jalan yang salah. dan pada akhirnya cinta jalan tidak bersatu. Dari cerita ayah, Ada hikmah bisa dipetik. Bagaimana jika setelah menikah kamu bru tahu kebenarannya."
"Tujuan utama Marina menikah denganmu bukan karena cinta, Adit. melainkan karena materi."
"Mengapa ayah tahu?" tanyaku.
Ayah berdiri dan membuka sebuah laci dan mengambil sebuah rekaman.
__ADS_1
"Bukalah rekaman itu. Kamu akan melihat bagaimana Marina dibelakang kamu. Sebenarnya dari pengalaman Marina, Ayah kembali menentang kamu dengan Amira hari itu. Ayah takut Amira sama perempuan seperti Marina. Maafkan ayahmu ini."
Ini kali pertamanya aku melihat ayah terlihat lemah. Selama ini aku pikir ayah yang sangar, tegas, tidak bisa mengeluarkan air mata. ternyata aku salah. Kini aku melihat air mata itu juga.
"Dan masalah pribadi Ayah, Ayah sudah menyelesaikan masalah Ayah sendiri." lanjutnya.
Kini aku paham Alasan Ayah sesungguhnya mengapa Ayah hari itu kembali menentang hubungan aku dan Amira. Intinya dari peristiwa itu aku dipertemukan dengan wanita seperti Inayah. Kupikir hari itu karena status Amira.
"Jaga istrimu dengan baik. Dia wanita yang benar-benar ikhlas menerima segala kekuranganmu, Adit." Ayah menepuk bahuku dan meniggalkan aku dan Inayah.
Aku langsung memeluk istriku, Inayah. "Terimakasih, Sayang."
"Mas, aku juga wanita sama seperti yang lainnya."
"Tidak. Kau berbeda Inayah." Aku semakin memeluk istriku. Istriku mengajarkan aku menjalani hidup dengan caranya. ketika shalat lima waktuku belum sempurna dia menjadi penyempurna."
"Mas, Aku tidak bernapas?"
Aku kembali meregangkan pelukan itu dan beralih ke tempat favorit yang berwarna merah jambu itu. Aku meletakkan penutup wajahnya hinga dia memukul dadaku karena kembali aku membuatnya tidak bisa bernapas.
"Mas, apa kamu akan pergi ke pesta?" tanyanya setelah usai romantis itu.
"Bila memaksa seperti ini aku tidak bisa menolak. Aku akan menemani suamiku." Inayah menatapku sambil ku pasang kembali penutup wajahnya.
"Mas turunkan aku! Bagaimana bisa kamu mau menggendong aku keluar seperti ini. Ayah, ibu dan semua orang akan melihatnya. Turunkan, Mas Adit!"
"Diamlah. Nikmati saja." Aku bisa melihat wajah terkejut Inayah saat aku menggendongnya secara tiba-tiba. Dia sangat terlihat malu.
Dan benar saja, Ibu melihat kami. Aku tidak peduli.
"Adit, kenapa Inayah! suara terkejut ibu mengira menantunya kenapa-napa. "Adit, Dasar anak ini! Ada apa dengan menantuku!
"Menantu kamu akan melaksanakan rutinitasnya, Ibu."
"Rutinitas apa, Adit! jelaskan pada ibu!" teriak Ibu. Aku hanya tertawa hingga ibu kesal.
__ADS_1
"Nyonya, biasalah, Tuan muda." Senyum Bibi Sumi melihat kami.
Aku masih bisa mendengar omelan Ibu. Aku terus mengangkat tubuh Inayah tidak peduli teriakannya Ibu yang bersama Bibi Sumi entah apa yang merek kerjakan.
"Mas, aku sangat malu dengan ibu!Rutinitas apa yang kamu maksud, Mas." Aku tertawa mendengar ocehan Inayah.
"Jangan katakan... "
Ucapan Inayah terpotong ketika Alina melihat kami.
"Kak, ada apa dengan kak Inayah?" Alina ikut terkejut melihat kami.
Aku tidak peduli lagi pertanyaan Alina. Alina terlihat kesal karena aku tidak memberinya jawaban.
"Turunkan, Mas."
"Baiklah, Tuan putri." Aku menurunkan istriku. Dia memukul dadamu dengan lembut dan aku meriahnya dan memeluknya kembali.
"Kau masih datang tamu?" tanyaku dan Inayah mengangguk.
"Aku berubah pikiran. baiknya kamu di rumah. aku akan menguras dengan wanita itu. Jika memang benar dia Marina aku tahu seperti apa Marina."
Aku bisa melihat Wajah Inayah. "Apa kau cemburu?"
"Selesaikan urusanmu dengannya, Mas." Inayah menyiapkan pakaianku.
***
Malam tiba, sebelum menemui wanita itu aku memenuhi undangan. Berlanjut menuju sebuah hotel dan menelpon nomor yang ada.
Aku mengikuti petunjuknya hingga aku menemukan kamar hotel yang di maksud.
"Aku di luar."
Cukup lama aku menunggu. Aku tidak tahu apakah Kamar ini benar atau tidak. Siapa sebenarnya wanita itu. Apa maunya? Pintu hotel itu terbuka. Aku terkejut melihat siapa wanita itu.
__ADS_1
***
TERUS BERIKAN DUKUNGANNYA BUAT AUTHOR. ✍️✍️✍️