Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 101. Mencintaimu


__ADS_3

"Kau tidak mungkin pergi meninggalkanku, Inayah. Mengapa kau pergi, Inayah! Kenapa!" Teriak Aditia melihat wajah cantik kekasih halalnya sudah di tutupi kain putih.


"Jangan bercanda seperti ini, Inayah. Bangunlah! Kau lihat Putri kita. Dia begitu cantik dan mirip denganmu. Dan aku mirip Rayyan, kan. Itu katamu. Sayang, bangunlah, Inayah, bangun!" teriak Aditia lagi dan lagi.


Sementara Ibu Fatimah dan lainnya hanya bisa dalam isak tangis melihat sekujur tubuh Inayah tidak lagi bergerak.


"Inayah, Jangan seperti ini kau tidak boleh pergi dariku. Kembalilah Inayah!"


Tuan Subari dan Ibu Hanum serta lainnya tidak bisa berbuat apa-apa. Ibu Fatimah mendekat menatap wajah putrinya.


"Nak, Mungkin bagi kami ini terlalu cepat. Ternyata Allah sangat mencintaimu. Kau berjuang melahirkan putrimu dengan seluruh tenagamu. Ibu yakin surga adalah tempatmu."


Mendengar Ibu mertua mengucapkan kata Itu, Aditia tidak sanggup mendengarnya dan kembali memeluk Inayah yang sudah terbujur kaku.


Rayyan datang bersama Bibi Sumi dan ikut memeluk Inayah. "Bunda! bangun bunda! Mengapa Bunda pergi! Katakan pada Rayyan, apa yang Rayyan harus lakukan bunda?!"


Aditia langsung memeluk putranya. Rayyan terus memberontak.


"Lepaskan, Rayyan! Bunda kembali! Kau tidak boleh pergi meninggalkan Rayyan, Bunda aku sudah melakukan semua yang bunda ajarkan. Bunda, bangun!" teriak Rayyan yang berada dalam dekapan Aditia.


Rayyan melepaskan diri dan memeluk Inayah. Aditia yang tidak sanggup melihat dan menyaksikan, hal itu dirinya pun keluar dari ruangan itu dan memukul kembali dinding rumah sakit.


"Aku tidak becus jadi suami untukmu, Inayah! bagaimana bisa aku tidak tahu semuanya. Mengapa kau begitu pintar menyembunyikan semua dariku! Mengapa? Mengapa, Inayah!"


"Tidak ada gunanya kau menyalahkan dirimu, Adit. Ini sudah menjadi ketentuan."


"Ayah, apa salahku?!"


"Tidak ada. Kendalikan dirimu! Sadarlah." Tuan Subari berusaha menenangkan Aditia.


Terlihat Aditia begitu frustasi dengan mata terlihat merah.


"Tidak ada gunanya kau menyalakan takdir. Ayah paham perasaanmu. Akan tetapi, bukan berarti kau harus terus menyalahkan dirimu. Tidak."


Aku akan mengurus jenazahnya menantuku dan membawanya pulang ke rumah.


"Tidak! Inayah masih hidup!" tentang Aditia yang sudah berusaha mengendalikan dirinya. Dirinya begitu menyesali ketika dirinya kembali mengingat semua momen indah bersama Inayah.


Aditia kembali masuk di ruangan Inayah Sebelumnya berharap Inayah tersenyum menyambutnya seperti biasanya. Namun, hal masih sama.


"Mengapa kau membiarkan aku seperti ini Inayah, mengapa? Jangan pergi! Jangan Biarkan aku kehilanganmu, Inayah!"


Petugas medis datang dan akan membawa Inayah. Lagi-lagi Aditia mencegahnya.


"Istriku masih hidup! Ini salah kalian. Kalian tidak melakukan yang terbaik untuk Inayahku!"


Raka menahan tubuh Aditia dan memberinya satu tamparan agar Aditia menyadari bahwa Inayah sudah tidak ada.


Dan Rayyan sendiri, Berada dalam pelukan Amira. Amira memeluk Rayyan dengan Habibi di sampingnya.


"Walau kau mengeluarkan seluruh suaramu, Inayah tidak akan pernah kembali. Bahkan kau tidak bisa mengembalikan dia jika sang pemilik roh yang sudah berkata. Kita manusia biasa. Hanya menerima segala ketetapannya. Sadarlah! Bukan hanya dirimu yang kehilangan dan terpukul. Kau lihat orang tua di sana!" Tunjuk Raka ke arah Ibu Fatimah yang diam seribu bahasa.


"Dia wanita yang sudah melahirkan istrimu dari rahimnya. Apa kamu pikir dia tidak kehilangan? Mungkin dia lebih merasa kehilangan dari dirimu. Apakah air matanya keluar? Kita tidak pernah bisa gambarkan rada sakitnya di hati orang tua itu. Jadi, Kendalikan dirimu, Adit. biarkan para medis menyelesaikan tugasnya." Raka melepaskan Aditia.

__ADS_1


Inayah pun di bawah pulang kerumahnya. yaitu di rumah mereka di jalan M. Rumah yang begitu banyak memberikan kenangan.


Aditia masuk kamarnya dan menatap Foto Inayah. Jika seorang pria tidak pernah meneteskan air mata, kini, Aditia berhasil mengeluarkan air matanya sambil memeluk foto Inayah yang sedang tersenyum begitu manis. Bahkan kalung yang diberikan Inayah dalam genggamannya. Keluar dari kamar, Aditia menyaksikan sendiri bagaimana Inayah diurus dan dimandikan.


Kembali Kedua mata itu mengeluarkan lara dengan pilu.


Kembali menyelimuti kepiluan hati seorang Aditia saat sang belahan jiwa selesai di mandikan dan dikafani.


"Adit, Sadarlah. Jangan seperti ini. pergilah ikut salatkan istrimu. Rayyan sudah bergabung di sana. kau harus kuat. Lihatlah Kanaya di sampingmu." Ibu Hanum ikut meneteskan air mata melihat bayi kecil yang tahu apa-apa tidur pulas.


Aditia kembali menoleh melihat putri mereka. Usai mensalatkan jenazahnya, Aditia kembali berteriak untuk tidak dibawah jenazah Inayah.


"Inayah! Jangan kalian bawah dia! Kembalikan dia!" teriak Aditia.


"Inayah! Aku mencintaimu. Kembalilah untukku!"


-


-


"Mas, bangunlah! Mas Aditia?!" Inayah membangun Aditia Yang terlihat berkeringat dengan hebat. sedari tadi Inayah mendengar semua apa yang Aditia katakan.


Aditia bangun dan langsung memeriksa kondisi Inayah.


"Mas, sadarlah. Apa yang kamu lakukan? Lihatlah ada banyak orang dan lainnya di sini. Ini kita masih di rumah sakit." Inayah mencoba menyadarkan Aditia.


Sebelumnya Aditia tidur pulas setelah usai proses persalinan sudah rampung dimana sebelumnya proses persalinan Inayah memang cukup menegangkan. Semua tentang penyakit Inayah ternyata hanya halusinasi Aditia dalam mimpinya.


"Iya, aku tahu. Suamiku sangat mencintaiku. Aku juga mencintaimu, Mas." keduanya saling menatap.


"Woi! Kami disini. Apa kalian mau melakukan pertunjukan disitu?" Alina menyahut dan Teo terkekeh mendengar penuturan Istrinya.


Semua keluarga besar itu tertawa. Ibu Hanum, Raka, Amira dan Ibu Fatimah serta Sifa dan Zaki pun ikut tertawa.


Rayyan datang membawa buket bunga besar bersama Ibu Hanum dan dan Tuan Subari.


"Wow, Bunga untuk siapa tuh?" Aditia begitu kagum dengan putranya.


"Buat hatiku yang pernah hilang, Bunda tercinta." ledek Rayyan yang sudah mendengar kisah Ayah dan ibunya.


"Karena ayah tidak membawa bunga biar aku mewakili untukmu." ujar Rayyan lagi mengundang tawa.


"Enak saja mewakili. Aku juga bisa beli," sahut Aditia tidak mau kalah dari putranya dan mengambil bunga rumah sakit dan memberikan pada Inayah.


Inayah menolak membuat Rayyan tertawa.


"Ayang, kenapa ditolak?"


"Mas, itu bunga rumah sakit. tidak kah. bukan mas punya." Inayah tersenyum dan memeluk Aditia.


Inayah menerima bunga dari putranya Rayyan dengan senyum.


"Terimakasih anaknya Bunda. Aku mencintai kalian." Inayah memeluk Rayyan. Dan Aditia pun merangkul mereka.

__ADS_1


Seorang suster datang membawa Baby Kanaya dan memberikan pada Inayah. Inayah pun menyambut kedatangannya. Kembali Adhitia merangkul keluarga kecilnya dengan Bahagia.


"Aku mencintai kalian. Kalian adalah pelengkap dalam kebahagiaanku. Terimakasih, Sayang untuk semuanya.


"Ucapan Yang sama, Mas."


Zaki maju dengan Sifa dan memberikan ucapan selamat pada Aditia dan Inayah atas lahirnya anak kedua mereka. Begitu pun Inayah dan Aditia memberikan ucapan selamat pada pasangan Zaki dan Sifa yang sudah melahirkan anak kembar.


"Sepertinya, Aku lebih unggul, Tuan Aditia. Anda tahu kenapa? Sifa langsung melahirkan dua anak untuk saya," puji Zaki memanasi Aditia.


"Baiklah, kali ini anggaplah aku kalah. Namun, tidak hari berikutnya."


Kembali ruangan Inap Inayah ramai dengan suara tawa mereka atas lelucon dari Aditia tidak mau kalah.


***


Tepat umur Kanaya satu tahun, Aditia dan Inayah merayakan hari lahir Kanaya dan Rayyan yang kebetulan sama. Bahagia tiada tara.


Teo pun dan Alina terlihat begitu bahagia. Senyum diwajahnya Alina terus menghias. Begitu pun pasang Sifa dan Zaki. Dimana Zaki sebelumnya juga sudah berbaikan dengan nenek Sofia.


"Besok kita dobel date?. bagaimana? Aditia mengajak pasangan Zaki dan Teo.


"Tenang saja. Anak-anak kita titip masing-masing pada neneknya." Tawa Aditia yang membuat Ibu Hanum geleng kepala.


"Dasar anak ini. Ibu dijadikan baby siter kalau begitu," canda Ibu Hanum dengan Tuan Subari disampingnya tertawa.


"Bagaimana sekarang, Ibu. Apa Ibu sudah puas punya banyak cucu? bila perlu aku kan kembali program cucu buat Ibu.".


"Mas," tegur Inayah pada Aditia suaminya


"Benar, Sayang. Kita program lagi, Yuk!"


"Mas," tegur Inayah takut suaminya tambah panjang melanturnya.


"Aku hanya bercanda, Sayang. Jika mengingat kau melahirkan, aku rasanya tidak ingin lagi kau hamil.


"Lalu, ini apa, Mas?" Inayah memberikan kado untuk Aditia.


Apa ini, Sayang? Kenapa aku yang diberi kado? Harusnya, Kan Rayyan dan Kanaya. Bukan aku."


"Bukalah!" pinta Inayah.


Semua orang penasaran dengan kado untuk Aditia.


"Sayang, kamu hamil lagi!"


Aditia memukul jidatnya.


...END.......


TERIMAKASIH ATAS SEMUA DUKUNGANNYA BUAT AUTHOR. SALAM SEHAT SEMUA. 🙏🙏🙏🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗😘😘😘😘😘😘😊😘😘😘😘😘😘🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰


Jodoh seseorang tidak ada yang pernah tahu. Seberapapun kamu menghindarinya, jika dia memang jodoh yang Allah sudah gariskan, maka dialah jodohmu. Allah selalu memberikan yang terbaik, bukan berdasarkan keinginanmu. 🥰🥰🥰🤭

__ADS_1


__ADS_2