
Alina sibuk di ruangannya sebagai direktur. Pekerjaan sangat membosankan bagi Alina. Belum lagi meeting dan lain sebagainya.
di tambah lagi permintaan Ibu Hanum. Sungguh hal yang benar-benar membosankan.
Teo minta cuti entah ada urusan apa. Alina tidak tahu.
"Kak Adit, kapan kamu kembali di tempat ini? Kembalilah."
Tuan Subari tiba-tiba datang dan melemparkan sebuah dokumen di depan Alina yang membuat Alina cukup terkejut.
"Alina, apa kamu membaca sebelum kamu menandatangani?!"
"Maksud ayah?" Alina sepintas berdiri dari kursi kebesarannya melihat ayahnya marah besar padanya.
"Baca itu. perusahaan mengalami kerugian lima puluh persen atas kecerobohanmu. Bagaimana bisa kamu tidak membaca sebelum tanda tangan, Alina?!"
"Ayah, ini hanya lima puluh persen dan ayah marah besar seperti ini padaku! Sejak kak Aditia memintaku menjadi direktur aku sudah katakan aku tidak bisa, ayah! Dalam rapat saja semua pemegang saham tidak setuju aku yang menjadi direktur. karena aku seorang wanita, ayah. Mereka tidak menghargai kerja kerasku, ayah! aku lelah, Ayah!"
"Justru harusnya ayah bisa mencari cara bagaimana kak Adit kembali kemari!"
"Stop, Alina! Kenapa kamu mengungkit sampai di sana, Aditia memberimu tangung jawab karena dia percaya padamu! jangan pernah ungkit masalah kakak kamu di sini. Bagaimana jika orang tahu tentangnya, hah! perusahaan ini akan hancur dan akan berdampak. Camkan itu! Harusnya kamu memperlihatkan pada mereka jika kamu bisa, Alina!" geram Tuan Subari.
"Ayah dan ibu sama saja! Selalu mementingkan urusan kalian tanpa harus tahu perasaanku. Aku ini seorang wanita ayah!"
"Seorang wanita tidak mesti kamu tidak bisa menangani perusahaan, Alina. Tidak usah ayah kamu pikir, tapi Aditia, kakak kamu yuang kamu pikirkan. Bagaimana usaha keras kakak kamu yang sudah kembali memajukan perusahaan ini setelah beberapa tahun lalu pernah hampir bangkrut, Alina. ingat itu!" Tuan Subari keluar dari ruangan Alina dengan wajah sangar.
Alina terduduk di kursi kebesarannya melihat dokumen yang ditandatangani olehnya. Bagaimana bisa dirinya benar-benar ceroboh. Selama ini dirinya bekerja memang Teo lah yang diminta membaca setiap dokumen dan dirinya tinggal tanda tangan.
Sifa datang dan melihat Alina mengacak-acak ruangannya karena frustasi.
"Alina, stop, Alina! Jangan menyalahkan dirimu seperti ini!" sifa begitu terkejut melihat ruangan Alina berantakan.
"Bagaimana aku tidak menyalahkan diriku, Asifa. Aku sudah mengecewakan ayah dan mengecewakan Kak Aditia. Dia pasti akan kecewa denganku jika saja Kak Aditia tahu hal ini, Asifa! Aku benci semua ini!"
Asifa memungut semua dokumen yang berjatuhan di lantai dan merapikan kembali ruangan Alina yang kini tengah duduk memijit kepalanya.
"Kita akan cari cara untuk mengembalikan kerugian perusahaan ini. Kita akan kerja keras dengan tim. Bukankah hasil desain tas terbaru minggu lalu sudah banyak yang memesan. Kenapa tidak kita sekaligus memproduksi dengan model pakaian anak muda terkini," saran Sifa dan Alina diam seribu bahasa.
"Kenapa?" tanya Asifa lagi.
Alina terisak. Alina memeluk sahabatnya itu yang membuat Alina semakin terisak. Alina menceritakan bagaimana Ibu Hanum juga memintanya mencari calon suami.
__ADS_1
"Bisa saja itu hanya candaan ibu kamu, Alina."
"Ibu kalau berkata selalu serius, Sifa. Bagaimana jika itu benar-benar terjadi? Apa aku harus menikah dengan orang yang tidak aku cintai? Aku ingin menikah sekali dalam seumur hidup aku."
"Apa kau mencintai seseorang?" tanya Sifa.
"Aku hanya mengaguminya."
"Apa dia mengenalmu?" tanya Asifa lagi.
"Dia bekerja di bagian restoran di hotel Garuda. Namanya Arjuna," jelas Amina
Sifa mengangkat kepalanya mendengar nama yang cukup familiar. "Arjuna?" ulang Asifa melihat Foto di layar ponsel Alina.
"Iya. Dia telah membuatku tidak bisa tidur setiap waktu, Sifa. Dan aku rencana memberinya sebuah tawaran." Alina pun menceritakan semua pada Asifa.
"Aku mengerti perasaanmu. Namun, kamu juga harus berjanji untuk memajukan perusahaan. Buktikan pada mereka kalau perusahaan ini akan bisa sukses di tanganmu." Asifa mantap Alina.
Melihat Alina tenang. Sifa pun keluar dari ruangan Alina.
***
Di ruangannya, Sifa termenung. Sebenarnya Arjuna dan Asifa merupakan teman satu pondok dulu dan Arjuna pernah mengungkapkan perasaan pada Asifa hari itu lewat sebuah catatan kecil waktu masih sama-sama duduk di bangku aliah sederajat dengan SMA.
Bahkan Arjuna mencurahkan semua masalahnya pada Sifa hari itu. Asifa tidak mengerti mengapa Arjuna hari itu tiba-tiba bercerita padanya.
"Aku akan melupakanmu, Arjuna." Asifa bergumam dan memilih pulang setelah semua pekerjaan kantor selesai
***
"Ummi, mau kemana?" tanya Sifa tiba di rumah sore itu dan mendapati Ummi Humairah bersiap-siap.
"Kami akan kembali mengunjungi kakak kamu, Sifa. Tidak lama lagi Inayah akan melahirkan. Juga Inayah akan pindah, di rumah barunya, Sayang."
"Alhamdulillah kalau begitu, Ummi. ikut bahagia mendengarnya. Semoga kak Inayah bisa melewati semuanya."
'Ada sesuatu yang kalian tidak ketahui, sifa. begitu juga dengan Inayah.'
***
Di sebuah restoran, Alina menemui Arjuna. Arjuna pun masuk di ruangan Alina dengan Ibu Mala di samping Alina sebagai kepala restoran di hotel tersebut.
__ADS_1
"Kenapa Nona memanggil saya."
"Aku punya tawaran untukmu. Dan ini bisa membantumu dan keluarga. Asalkan kamu memenuhi permintaanku."
"Apa itu, Nona?" tanya Arjuna lagi.
"Menikahlah denganku. Aku akan membantu pengobatan ayahmu dan kuliah adikmu. Bukankah ayahmu membutuhkan dana untuk operasi secepat ini?" tawar Alina.
"Dari mana Nona tahu hal ini. masalah operasi ayahku aku tidak pernah menceritakan pada siapa pun."
"Kamu tidak perlu tahu dari mana aku mengetahui tentangmu."
"Maaf, Nona. Aku tidak bisa menerima tawaranmu," tolak Arjuna. Arjuna berbalik untuk keluar dari rungan Alina.
"Pikirkan dengan baik. Keselamatan ayahmu ada di tanganmu!" suara Alina memenuhi ruangan.
"Aku masih bisa menyelesaikan urusan keluargaku tanpa menerima tawaran anda, Nona." Arjuna merasa Alina terlalu angkuh. Arjuna ingin menikah tetapi pada wanita yang dicintai olehnya.
Selama ini Arjuna memang mengagumi Alina karena ketangguhan Alina. Seorang wanita yang terlihat begitu penuh semangat. itu satu poin Alina di mata Arjuna.
"Pikirkan baik-baik tawaranku." ulang Alina melihat punggung Arjuna yang membelakanginya.
Arjuna keluar dari ruangan itu dan Alina terus mengikuti pandangan hingga Arjuna tidak lagi terlihat setelah pintu ruangan Alina tertutup.
"Aku sudah menjatuhkan harga diriku sebagian wanita, Ibu Mala. Aku benar-benar sudah hilang akal melakukan ini." ujar Alina pada Ibu Mala yang mendampinginya.
"Apa nona begitu menaruh hati pada anak muda itu."
"Menurut Ibu Mala?"
Ibu Mala tersenyum. "Saya bisa melihatnya, Nona."
"Cukup aku wanita seperti ini. Aku tidak berharap ada yang sama sepertiku tidak memiliki rasa malu. Aku tidak ingin memendam perasaanku, Ibu Mala. Namun mungkin caraku yang salah."
"Jika nona dan Arjuna jodoh ada saja caranya hingga hati itu bisa bersatu. Semua perjalanan seseorang dalam menemukan hatinya hingga menjadi satu berbeda-beda, Nona."
Alina terdiam. Sementara Arjuna yang usai melayani para pengunjung restoran di hotel itu termenung.
"Apa dia pikir pernikahan ini permainan? Bagaimana bisa begitu mudahnya mengajak pria menikah dengannya." Arjuna marah pada dirinya sendiri. Lalu, teringat dengan Sifa.
"Mengapa aku berharap terus padamu, Sifa."
__ADS_1
Arjuna kembali melanjutkan tugas-tugasnya sebelum kembali beristirahat dan menjenguk ayahnya di rumah sakit.