Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
PENGUMUMAN NOVEL BARU


__ADS_3

Assalamu'alaikum, kak semua. akan hadir novel baru aku. Dengan tema kali ini MENIKAH DENGAN BRONDONG



SEKILAS CUPLIKANNYA, YA...


😍😍😍 Dukung terus Author, ya kak....


"Yuna, kamu sudah cukup umur untuk membina rumah tangga, nak. Apa kata orang-orang nanti jika kamu belum menikah," ujar Ibu Yuna bernama Ibu Lusia.


"Ibu, bisa tidak, sih. Tidak usah bahas dulu masalah nikah. Yuna masih mau bebas, ibu. Ya?" kata Yuna yang sudah bosan mendengar permintaan ibunya setiap waktu.


"Yuna, Sampai kapan kamu seperti ini, nak? Lihatlah seumuran kamu. Sudah banyak yang menikah dan bahkan di antara mereka sudah ada yang memiliki anak. Kamu juga sudah Guru PNS. Apa lagi yang kamu cari?" Ujar Ibu Lusia sekali lagi.


Yuna menarik napas dan menghentikan pekerjaannya yang tengah mengisi nilai rapor siswa. kerena esok paginya sudah akan dibagikan rapor tersebut dan rencananya juga akan ikut kemping bersama siswa dan guru lainnya sebagai acara refreshing setelah semester dan rapor akan di bagikan ditempat kemping tersebut.


"Ibu, Yuna itu masih mau menikmati masa muda Yuna. Yuna masih mau berkarir. Yuna belum siap." Yuna memainkan pulpennya sambil duduk di depan meja belajar. Terlihat jelas Yuna masih terlihat pusing karena pengisian RDM belum selesai.


"Kapan kamu siapnya, Yuna?"


"Ya... nanti, kalau Yuna sudah siap, Ibu." Yuna kembali menatap ibunya dengan sedikit curiga." Jangan katakan, Ibu lagi menjodoh-jodohkan Yuna. Yuna tidak mau, Ibu!"


Penolakan Yuna membuat Ibu lusia tidak tahu lagi caranya bagiamana membujuk Yuna. Melihat ibunya keluar dari kamar, Yuna beranjak dari tempat duduknya.


Membuka sebuah laci dan terdapat di sana sebuah Foto seorang pria. Foto itu merupakan foto seorang pria yang pernah mengisi hati Yuna sebelumnya. Namun, karena sebuah penghianatan kekasihnya, Yuna meminta putus dan meninggalkan pria tersebut. Hingga sekarang, Yuna tidak tahu bagaimana kabar pria tersebut yang merupakan cinta pertama Yuna saat duduk di bangku SMA dulu.


"Ah... baiknya aku ke sekolah." ujar Yuna yang memang ada kegiatan lembur untuk pengisian RDM di sekolah tempatnya mengajar, SMA Bakti.


***

__ADS_1


Di lain tempat, Tuan Hermawan sangat pusing dengan panggilan guru BK setiap bulan ke sekolah SMA Taruna dengan Kasus putranya, Biansyah.


Kasus sama yang kembali terjadi. Biansyah kembali membuat onar yaitu terjadi perkelahian dengan adik kelasnya hanya gara-gara seorang wanita.


"Bian, Apa belum cukup dengan semua fasilitas yang kami berikan dan kamu membalasnya seperti begini, ha?! Kapan kamu dewasanya?!" bentak Tuan Hermawan pada putranya itu di depan guru BK.


Sikap Tuan Hermawan itu yang Bian tidak suka. Dirinya selalu dianggap anak yang tidak pernah dewasa.


"Kamu benar-benar tidak bisa ayah banggakan! Kamu sangat berbeda dengan dengan kakak kamu. Rian."


"Ayah, cukup. Ini di sekolah." bisik Nyonya Sukma pada suaminya.


"Urus anakmu itu. Ayah benar-benar pusing!" Tuan Hermawan pamit setelah mendapat surat peringatan untuk Bian.


***


Tiba di rumah, Tuan Hermawan kembali melanjutkan amarah dan kekecewaannya ke pada Biansyah saat Rian sudah tiba di rumah dari tempat kerja.


"Cukup, ayah! Aku memang tidak bisa seperti kak Rian! Kak Rian selalu menjadi anak kebanggaan ayah!" Bian ikut tersulut emosi selalu di pojokkan dan di bandingkan dengan saudaranya. Hal tersebut sangat menyakiti perasaannya.


"Anak ayah memang hanya Kak Rian." Bian menatap saudaranya. "Apa pun yang aku lakukan tidak ada nilainya di mata ayah!" Ucap Bian dengan rasa kecewa pada Ayahnya.


"Apa katamu? Nilai apa yang mau ayah nilai darimu, tukang onar, balapan, iya?! Tuan Hermawan semakin terpancing.


"Dek, sudah." Rian meminta Agar adiknya Bian berhenti untuk tidak menimpali perkataan Ayahnya.


Bian menepis tangan Rian dengan kasar yang memegang bahunya dan melenggang pergi hendak masuk kamarnya. Namun ternyata, Tuan Hermawan salah paham.


"Mau kemana kamu? ayah belum berhenti bicara denganmu, Bian!"

__ADS_1


"Apa lagi yang ayah mau bicarakan padaku. Bukankah lebih baik pada akhirnya aku pergi?" jawab Bian lagi.


"Oh... jadi kamu mau pergi dari rumah ini? Ok. Silahkan!" Tuan Hermawan semakin salah paham.


"Ayah, sudah dong!" Ibu Sukma berusaha menenangkan suaminya, sementara Rian berusaha menenangkan adiknya.


"Baiklah kalau kamu mau pergi dari rumah ini. Silahkan. Ambil sana pakaian kamu! Dan anggaplah kamu sudah tidak punya keluarga!" Emosi Tuan Hermawan semakin jadi.


"Ayah mengusir saya. Ok! Ayah memang tidak pernah menganggap saya sebagai anakmu!" Bian tersulut emosi.


"Bian, cukup!" Rian ikut memarahi adiknya.


"Oh, Kak Rian juga ikut menyalahkan aku, begitu? Kak, kakak memang selalu menjadi anak emas ayah. Sejak dulu hingga sekarang. Kenapa sekaligus ibu tidak menyalahkan aku?" Bian menepis kembali tangan Saudaranya yang berusaha menenangkan dirinya.


Ibu lusia semakin menangis melihat Tiga pria di depannya terus bertengkar.


"Rian, bukan seperti itu maksud kakak. Kak hanya.... "


"Stop, Kak! Tidak usah mengelak. Aku sadar diri, kok. Aku anak tidak berguna di keluarga ini!" Biansyah langsung masuk kamarnya dan mengambil semua Barang-barangnya.


"Bian, jangan pergi, nak! Ibu tidak bisa berpisah darimu!" Teriak Ibu Sukma menghentikan Bian untuk tidak pergi meninggalkan rumah.


"Jangan halangi dia, Ibu. Biarkan saja dia pergi kemana tujuan hidupnya. Anak tidak bisa di untung!" bentak Tuan Hermawan lagi.


"Rian, kejar adikmu! Ibu tidak bisa jauh darinya. cepat!" Ibu Sukma tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis di tempatnya.


Rian segera menyusul Bian. Namun, Bian sudah menancap gas motor Yamaha YZF-R15


meninggalkan pekarangan rumah. Motor Yamaha berwarna merah

__ADS_1


itu sudah membawa Bian entah kemana?


__ADS_2