Menemukan Hatiku Yang Hilang

Menemukan Hatiku Yang Hilang
Bab 41. Tentang Rasa


__ADS_3

Aditia termenung di ruangannya setelah Inayah tiba-tiba menolak kontrak kerjanya. Aditia yakin ada suatu hal yang di sembunyikan Inayah.


"Teo, cari tahu apa masalah yang di hadapi Inayah. Cari tahu juga keadaan pondok Al-hikmah."


"Baik Tuan."


"Cari tahu sekarang!"


"Tapi Tuan, pagi ini kita akan ada rapat dengan para pemegang saham."


"Kenapa tidak bilang dari tadi."


"Ini aku datang tujuannya untuk menyampaikan itu, Tuan," protes Teo.


"Kamu bisa saja mengelak." Aditia berdiri dari tempatnya.


Aditia dan Teo menuju ruang meeting semua sudah menunggu sang direktur.


Usia rapat, Aditia dan Teo menuju ke kafe dan melihat Alina bersama Asifa.


"Bukankah itu Alina dan Sifa?" tanya Aditia.


"Benar, Tuan."


"Dekati Asifa."


"Maksud, Tuan?" Teo bingung dan tidak mengerti.


"Teo, Sifa dan Inayah ada hubungan apa?"


"Saudara, Tuan," jawab Teo masih bingung.


"Jangan salah paham. Aku memintamu mendekati Asifa bukan mendekati dengan maksud ... Namun, jika memang kamu ada perasaan dengannya tidak masalah," kata Aditia apa adanya.


"Tuan, saya sudah punya pacar."


"Cari info Inayah lewat Sifa," kata Aditia melihat kearah Alina dan Asifa sedang menikmati waktu istirahat mereka.


"Aku mengerti, Tuan."


***


Inayah duduk termenung di ruangannya. Ustadzah Ana datang dan melihat Inayah tampak tidak baik saja.


"Ustazah Inayah, ada apa?"


"Aku hanya memikirkan panti asuhan Ummi Humairah yang terancam akan di gusur. Apa yang harus aku lakukan?" Inayah pun menceritakan semuanya.


"Lantas, mengapa tidak menerima kerja kontrak itu. Anak santri disini masih bisa kami atasi," Saran Ustadzah Ana.


"Aku baru sadar, jika Aku tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja. Apa lagi almarhum Aba sudah berpesan pada kami untuk selalu menjaga pondok ini dengan semampu kami. Aku tidak bisa membagi waktuku."


"Lantas, apa yang akan Ustadzah Inayah lakukan?"


"Aku hanya bisa berharap suatu hari ada solusi terbaik untuk masalah ini."


***


Inayah pulang dan singgah di supermarket. Di supermarket kembali Inayah bertemu dengan Ibu Hanum bersama seorang wanita entah siapa.


"Inayah?"


Inayah menoleh dan melihat Ibu Hanum bersama wanita yang menurut Inayah wanita itu sangat cantik.


Inayah memuji wanita yang ada di samping Ibu Hanum serdang tersenyum ke arahnya. Terlihat Ibu Hanum dan gadis itu begitu akrab.


"Bagaimana kabarmu, Inayah?" tanya Ibu Hanum.


"Alhamdulillah. Aku baik, nyonya. Anda sendiri bagaimana?"

__ADS_1


"Baik. Aku sangat baik. Seperti yang kamu lihat sekarang ini."


"Kebetulan kamu di sini, Inayah. Bagaimana kalau sore ini kita bersantai? kamu tidak sibuk, kan?"


"Maaf Nyonya, tapi sepertinya saya tidak bisa," Inayah menolak ajakan Ibu Hanum.


"Aku mohon Inayah. Ini sebagai ucapan terimakasih."


"Maksud nyonya?" tanya Inayah heran.


"Berkat buku yang kamu berikan pada Alina, Alina banyak berubah," kata Ibu Hanum dengan seorang gadis di dekat ibu Hanum. Sedari tadi gadis itu menatap Inayah.


"Jangan tolak permintaan saya kali ini," Ibu Hanum terlihat penuh harap.


"Baiklah," Inayah akhirnya menyetujui permintaan Ibu Hanum sebagian bentuk Inayah menghargai Ibu Hanum. bukan tanpa alasan. Keluarga Tuan Subari merupakan salah satu donatur Pondok Al-Hikmah.


"Oiya, perkenalkan Ini Ziya."


"Hai, Aku Ziya. Senang berkenalan denganmu." Ziya mengulurkan tangannya.


Inayah dengan senang hati menyambut uluran tangan Ziya. "Hai, aku Inayah."


"Ziya ini calon tunangan Aditia." kata Ibu Hanum tersenyum.


Mendengar kata calon tunangan, entah mengapa Inayah merasa ada yang aneh dengan dirinya. Ada apa dengannya?


"Inayah?" tegur Ibu Hanum melihat Inayah termenung.


"Iya, Nyonya."


"Biarkan mobilmu di sini. Nanti supirku akan mengantarnya ke rumahmu. Bagaimana?"


"Sebaiknya tidak usah, Nyonya," tolak Inayah.


"Ya sudah. Yang mana baiknya," Jawab Ibu Hanum.


"Aku akan ikut Inayah saja," ujar Ziya melihat ke arah Ibu Hanum.


"Baiklah."


"Maaf sebelumnya. Jika aku lancang padamu. Apa sebelumnya kamu dan Aditia pernah dekat?"


Inayah tersenyum dan berkata, "Aku dan Aditia tidak pernah dekat. Kami hanya mengenal begitu saja."


"Benarkah? Apa kamu tidak pernah memiliki perasaan padanya?" Tanya Ziya yang terus ingin tahu tentang Inayah. Ziya cukup penasaran dengan Inayah.


"Baiklah. Aku tidak akan bertanya." Ziya kembali diam. Namun, rasa penasaran akhirnya Ziya kembali membuka obrolan berikutnya.


"Menurutmu, Aditia seperti bagaimana orangnya?"


"Anda lucu, Nona. Kenapa anda menanyakan kepada saya. Bukankah Aditia dan Nona tidak lama lagi akan bertunangan? Seharusnya sebagai calon tunangannya, Anda harusnya bisa lebih tahu tentang dirinya."


"Aku dan Aditia belum saling mengenal." Senyum Ziya ke arah Inayah.


"Anda harusnya bisa mengenal calon tunangan anda sendiri." ujar Inayah.


"Kami saling mengenal sejak kecil."


Aditia orangnya perhatian." Ziya melihat kearah Inayah yang sedang serius mengemudi.


"Lalu, mengapa Anda menceritakan dengan saya?" Inayah tidak mengerti. Mengapa dirinya harus marah.


Dan Ziya kembali tersenyum. "Aku yakin. Kamu memiliki perasaan yang sama dengan Aditia."


"Nona, sebaiknya kita tidak usah bahas ini." Inayah sudah tidak bisa mengendalikan perasaanya. Inayah tidak paham mengapa hatinya sakit.


"Baiklah."


Tiba di sebuah restoran, Ibu Hanum sudah menunggunya. Inayah dan Ziya menuju di mana Ibu Hanum sendang duduk.

__ADS_1


Ibu Hanum tersenyum kearah Inayah dan Ziya.


"Inayah mau pesan apa?"


"Aku ikut saja, Nyonya."


"Baiklah," kata Ibu Hanum. Lalu, memesan makanan sebelumnya yang sudah dipesan olehnya.


"Tante, Apa Aditia akan kemari?" tanya Ziya.


"Dia sedang dalam perjalanan," timpal Ibu Hanum.


Inayah diam dan berperan dalam hatinya. Apa maksud Ibu Hanum mengajaknya di tempat ini? Apakah Ibu Hanum mengundangnya untuk menjadi saksi hubungan Aditia dan Ziya?


Inayah tersenyum dalam hatinya.


Dan benar saja. Beberapa menit kemudian, tampaklah Aditia. Aditia juga terkejut Inayah juga ada di tempat yang sama.


Sebelumya Aditia benar-benar kembali frustasi dengan Ibu Hanum yang tidak ada hentinya mencarikannya pasangan hidup. entah sudah berapa wanita yang di bawah ibunya untuk di jodohkan untuknya.


Dan hal yang paling di benci oleh Aditia, tidak bisa menolak keinginan ibunya. Ziya merupakan keluarga jauh dari Ibu Hanum dan merupakan teman kecil Aditia sendiri.


"Inayah? Kamu di sini?" Tanya Aditia melihat ke arah ibu Hanum. Seakan tatapan itu meminta penjelasan.


"Duduklah Adit, di samping Ziya,"


Aditia benar-benar tidak mengerti dengan ibunya. Sementara Inayah sendiri tampak terlihat gusar.


Aditia terus menatap Inayah. Ibu Hanum melihat ketegangan segera mencairkan suasana.


"Tadi ibu ketemu dengan Inayah di supermarket dan mengajaknya bersantai di sini sebagai bentuk ucapan terimakasih ibu pada Inayah. Dengan buku yang diberikan Inayah pada Alina."


"Lalu, mengapa Ibu memanggilku kemari? Apa maksud Ibu?" protes Aditia.


"Tidak ada maksud apa-apa. Bukankah kamu dan Ziya tidak akan lama lagi bertunangan. Jadi setelah ini. Ajakah Ziya mencari cincin."


Inayah semakin tidak mengerti dengan Ibu Hanum apa maksudnya?


"Maaf nyonya, saya harus pergi. Seharusnya saya tidak di sini," ujar Inayah.


Inayah berdiri dari tempat duduknya. Namun, segera Aditia menghalangi jalan Inayah.


"Inayah, Jangan salah paham dengan hal ini. Aku juga tidak tahu tentang ini. Ini semua rencana Ibu."


"Tidak ada urusannya denganku tentang hal ini. Aku memang tidak seharusnya di sini."


dibalik cadar itu. Inayah sebisa mungkin untuk terlihat baik-baik saja. sulit untuk mengakui. Inayah sejak dulu menghindari Aditia. karena perasaan itu yang ditakutkan akan kembali.


"Inayah, dengarkan aku." Aditia terus mengejar Inayah hingga di tempat parkir.


"Kak Aditia, tidak seharusnya kamu seperti ini. Orang tuamu memilihkan yang terbaik. Jangan kecewakan dia."


"Aku harus melakukan seperti yang pernah kamu lakukan dan berusaha untuk membuka hatiku untuk orang yang aku tidak cintai, begitu? Tidak, Inayah. Aku tidak akan pernah melakukan hal yang sama. Aku ingin hidup bersama orang yang aku cintai. Dan itu adalah kamu, Inayah."


"Stop, Kak. Kita berbeda. Dan aku bukanlah pilihan yang pantas untukmu."


"Kenapa tidak pantas? Apakah karena statusmu yang sebagai seorang janda? Aku muak dengan kata status, Inayah. Yang aku ingin katakan. Aku mencintaimu, Inayah."


"Harus berapa kali aku katakan padamu, kak. Tidak mungkin kau dan aku bersama. Selain aku janda. Orang tuamu sudah memilihkan pasangan untukmu. Jangan kecewakan Ibumu."


"Aku tidak peduli dengan Semua itu, Inayah."


Inayah membuka pintu mobilnya. Aditia kembali berujar tepat di belakang Inayah.


"Menikahlah denganku Inayah. Hari ini kau menolakku, aku tidak akan pernah menikah seumur hidupku."


Inayah berbalik. Keduanya saling menatap dengan jarak sekitar Satu meter.


"Jangan menyiksa dirimu karena aku, Kak Aditia. Dan jangan katakan hal itu."

__ADS_1


"Maka dari itu, terimalah lamaranku, Inayah."


Maaf, ya. baru Up. Author sedikit ada kesibukan. Terimakasih sudah mau bersabar. 🥰🥰🥰🥰🥰🙏🙏


__ADS_2